Showing posts with label jalan-jalan. Show all posts
Showing posts with label jalan-jalan. Show all posts

Bangkok dan Bunga

Image hosted by Webshots.com

"Wow, kota ini penuh dengan bunga!" Itu salah satu kesan saya mengenai kota Bangkok, saat pertama kali menyusuri jalan-jalannya di awal Maret tahun ini.

Bunga, bunga, bunga.... Di sepanjang jalan yang saya lalui, saya melihat banyak sekali pohon peneduh dengan kerumun bunga merah muda pucat. Memenuhi kota. Cantik. Bahkan di pelataran parkir tempat saya menginap, kaki saya melangkah di antara serpihan gugur bunga yang sama. Pepohonan berbunga itu, di mata saya sekilas terlihat seperti bungur atau (mungkin) sakura. Entahlah, saya tidak tahu banyak tentang tanaman.

Saat itu, saya sempat bertanya pada An - rekan kerja saya di Thailand (ya, saya pergi untuk urusan kerja) – apa nama bunga yang mendominasi pemandangan di kota Bangkok itu. Ternyata dia juga tidak tahu, "I don’t know, I just call it sakura," katanya sambil tertawa. Hehehe... ternyata dia sama saja dengan saya, gak ngerti tanaman.

Image hosted by Webshots.com Selain kerumun bunga merah muda, saat itu Bangkok juga dipercantik oleh pepohonan dengan juntaian bunga berwarna kuning. Kali ini An bisa menjawab, "We call it King’s Flower. Warna kuning itu, warnanya raja. Orang-orang menganggap pohon ini sebagai pohon keberuntungan. Jadi banyak yang menanamnya di halaman tempat usahanya. Seperti di restoran ini."

---

Bangkok memang penuh bunga, dan sepertinya bunga memang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Thailand.

Image hosted by Webshots.com Selain tanaman peneduh jalan yang berbunga, kita bisa melihat bunga-bunga hias di berbagai sudut kota. Penjual berbagai bentuk bunga -- bunga hidup, bunga potong, bunga tabur, roncean bunga -- juga mudah ditemui di mana-mana. Roncean bunga (phuang malai) bahkan dijual dengan cara diasongkan di pinggir-pinggir jalan.

Bahkan... bunga pun bisa jadi penganan. Dalam satu perjalanan ke tempat wisata di pinggir kota Bangkok, saya sempat mencicipi berbagai jenis bunga goreng! Yup... digoreng seperti tempura. Frangipani goreng, bougenville goreng, asoka goreng, blue-butterfly-pea goreng, dan... lain-lain yang saya lupa atau tidak tahu namanya. Rasanya? Yang saya ingat, bougenville terasa getir. Sementara blue-butterfly-pea terasa agak manis.

---

Dalam perjalanan ke-dua ke Bangkok, September lalu, dalam hati saya berharap akan disambut oleh kerumun bunga yang sama. Hahaha, saya harus kecewa. Saya lupa. Ternyata seperti 'flamboyan saya', pohon-pohon berbunga ini pun punya musimnya sendiri. (Dan sekarang, Oktober, adalah musim flamboyan! Beberapa batang flamboyan di sepanjang perjalanan saya ke kantor mulai berbunga. Senangnya :p )




Dari hasil pencarian di internet (hey, penasaran!), akhirnya saya dapatkan nama bunga merah muda tersebut. Tabebuia rosea atau Chompu phanthip (chompu= pink, Thai). Pohon bunga tropis yang sebenarnya berasal dari Brazil, memiliki bunga berbentuk terompet dengan bebeberapa varian warna. Tanaman ini ternyata salah satu bagian dari proyek penanaman pohon di kota Bangkok.

Sedangkan King’s Flower adalah Cassia fistula. Pohon berbunga kuning keemasan ini memang sudah disahkan menjadi salah satu simbol kerajaan Thailand. Bahkan sejak 1987, dicanangkan proyek penanaman sembilan juta batang pohon ini di seluruh Thailand dan ditargetkan selesai pada tahun 2007 mendatang. Wow…


Btw, baru ngeh, blog saya ternyata kemarin ultah ke-4. Hehehe...

Cerita Perjalanan: Kuala Lumpur

Dari mana ya mulai ceritanya?

Hmm… Semua ini berawal di sekitar akhir tahun 2005, ketika seorang teman bercerita tentang sebuah promosi yang diadakan oleh maskapai penerbangan ini. Saya tergoda. Suami saat itu bilang, “Kenapa kamu gak pergi sendiri aja?” (maksudnya: tanpa Obin dan dirinya, gitu). Ay, ay… saya gak begitu kaget sih sama sarannya ini. Tapi supaya lebih yakin lagi, saya masih nanya,
Bener, nih? Rela?
- Iya
Ridho?
- Iya. Ridho. Beneran. (sambil ketawa)
Jadi akhirnya saya pun booking tiket murah itu (Jkt-KL-Bkk-KL-Jkt, total sekitar 800 ribu rupiah), dengan jadwal yang sama dengan rencana teman saya. Sedikit gambling, soalnya masih lama banget gitu lho, dan kondisinya tiket itu tidak bisa dibatalkan atau dialihkan.

September 2006. Akhirnya berangkatlah kami. Rombongan terdiri dari delapan orang. Delapan? Yup. Saya sendiri, ex-teman sekantor saya, N, dengan ibunya, budenya, dan adiknya; dan teman lain, E, dengan ibunya dan budenya. Hehehe, karena semuanya perempuan, sudah dapat diduga belanja-belanji akan masuk dalam agenda. Hahaha.

Kuala Lumpur . Terus terang, KL awalnya bukanlah tujuan kami. Cuma maskapai ini tidak punya penerbangan langsung Jkt – Bkk. Jadi harus mampir ke KL dulu.

Image hosted by Webshots.comDi KL kami hanya dua malam, menginap di sebuah hotel di kawasan Bukit Bintang – Pudu. Ini hotel, menurut opa-opa yang jaga, umurnya sudah 30 tahun. Hotelnya hihihi… sangat sekedarnya, dengan lobi yang berantakan dan lift yang berbunyi-bunyi seram. Hahaha... maklum, kami cari yang muraaah tapi strategis. Yang penting tempat tidur dan kamar mandi lumayan bersih. Dan saya dapet bonus tambahan, view dari jendela kamar saya lumayan keren. Bisa lihat KL Tower dan puncak Menara Petronas.

Image hosted by Webshots.comSampai di KL sudah menjelang malam. Tapi pukul 7 pm-nya KL masih terang benderang. Malam itu kami jalan kaki ke kawasan China Town (Petaling Street). Mampir makan malam di semacam area food-court di pinggir jalan. Saya nyoba kerang bakar dan nasi lemak. Ah, ya nasi lemak ini kayaknya makanan nasionalnya Malaysia. Di mana-mana ada nasi lemak: di pinggir jalan, di terminal bis, di airport, di atas pesawat, di mana-mana lah. Sayang saya lupa foto. Semacam nasi uduk kali ya, disajikan (nampaknya) selalu bersama ikan teri goreng, telur rebus, rendang, dan sambal.

Image hosted by Webshots.comPetaling Street itu adalah kawasan pasar tempat jual barang-barang murah dan tersedia juga barang-barang tiruan gitu. Menurut saya sih biasa aja. Barang-barangnya kayak Mangga Dua aja. Souvenir yang ada di sini juga standar banget. Palingan gantungan kunci, hiasan meja, atau asbak bergambar Petronas. Kaos T-shirt, walaupun ada beberapa yang menarik gambarnya, kualitas bahannya gak bagus. Ada sih beberapa dagangan yang menarik hati -- untuk di foto dan dicicipi -- seperti penjual berangan panggang. Rasanya, saya bilang sih kayak hmmm… makan biji nangka atau duren gitu… hihihi.

Balik pulang ke hotel, para ibu dan bude memutuskan istirahat, sedangkan yang muda-muda -- saya masih muda, lho! -- memutuskan jalan lagi. Jalan kaki terus!!! Kali ini menelusuri Jalan Bukit Bintang dan terusssss lagiiii kemana kaki membawa, hehehe. Enak jalan kaki di KL. Trotoarnya besar-besar dan nyaman. Kesan sekilas saya KL memang bersih, rapi, dan teratur. Selain itu dimana-mana masih bertebaran bendera Malaysia, karena mereka memang baru aja ulang tahun. Dum.. dumm.. dumm.. jalan terus, sambil foto-foto, memotret objek, menjadi objek, jalan sampe kaki super pegel. Dan lewat tengah malam, akhirnya menyerah pada… ‘taksi!’ :p

Image hosted by Webshots.comHari kedua di KL, pagi-pagi udah siap-siap pergi lagi. Tujuan: Menara Kembar Petronas. Nyobain monorail -nya KL, terus nyambung lagi dengan LRT Kelana Jaya, turun di KLCC, tepat di bawah Petronas. Nice. Menikmati naik kendaraan-kendaraan cepat ini (tentu) disertai dengan menghela napas… membadingkan dengan… ahh, sudahlah :p Di Petronas, potret-potret-potret lagi. Gak bisa naik ke jembatannya (sky bridge), karena kuota pengunjung di hari itu udah penuh. Lihat-lihat sebentar ke dalam, ke Suria KLCC, kompleks mall di dasar Petronas Tower.

Image hosted by Webshots.comTujuan berikutnya adalah: Genting Highland , sebuah kawasan wisata (mall, theme park, casino, hotel, dll) di puncak gunung, sekitar 40 km dari KL. Caranya, naik LRT ke Terminal Putra. Lalu dari sini beli tiket terusan: Bus dan Sky Way ke Genting, pulang-pergi, termasuk main gratis di Outdoor Themepark-nya atau free-buffet di sebuah restoran di Genting (optional). Tiket terusan ini relatif murah (26 RM – untuk weekdays). Jadi dari terminal Putra itu, kami naik bis ke Gombak, dari gombak naik Skyway Cable Car ke Genting. Wiiihhh… skyway-nya cukup impresif: melintas di atas hutan hujan tropis, menembus kabut.

Image hosted by Webshots.comSampai di Genting, para ibu dan bude memilih memakai tiketnya untuk makan. They’re happy with the food :). Saya milih main dong. Outdoor ThemePark-nya Genting gak terlalu istimewa sih, kalau saya bilang. Lebih bagus Dufan. Cuma memang Genting punya beberapa wahana yang gak dipunyai Dufan. Selain itu di Genting dingiiinnn…brrr… gak panas menyengat.

Image hosted by Webshots.comGak banyak wahana yang saya coba, soalnya kami sudah pesan bus balik ke KL yang sore, jadi waktunya gak banyak. Langsung pilih beberapa permainan yang seru, yang belum pernah dicoba. Pertama Space Shot (turbo drop), dihempas dari ketinggian sekitar 56 meter. Wowww…! Lalu Flying Coaster, kayak roller coaster tapi dalam posisi berbaring jadi serasa superman lagi terbang gitu. Udah lama banget nih gak naik permainan yang bikin jantung serasa mau copot kayak gini… hehehe… Asik juga.

Indoor ThemePark juga biasa, kayak di Bandung Supermall aja. Cuma di Genting ada Snow World dan Sky Venture. Tiket terusan saya gak termasuk indoor theme park ini. Saya gak terlalu pengen lihat Snow World, pengennya Sky Venture, sky-diving simulator. Pengen banget ngerasain terbang!!! Hiks sayang, pas saya ke sana (sampai usaha 2x), ditutup sementara karena hujan. Memang gak jodoh. :(

Di Genting, saya juga sempat lihat-lihat ke dalam kasino. Wah… saya gak ada yang ngerti gimana cara mainnya. Lihat orang-orang yang pada main judi itu: takjub. Mata merah, muka kusut, tapi tetap terus pasang taruhan lagi, lagi, lagi…

Image hosted by Webshots.comSelesai dari Genting, balik lagi ke KLCC. Potret-potret Petronas di waktu malam. Keren. Cuma ya karena hanya dengan kamera digital biasa, kurang memuaskan hasilnya. Gak bisa nangkap keseluruhan menara, dan hasilnya sering goyang karena gak pakai tripod.



Image hosted by Webshots.comHari ke-tiga, saya cuma menghabiskan waktu di airport. Dari hotel naik taksi ke KL Center, lalu naik bis ke airport. Rombongan teman-teman dapat tiket penerbangan yang siang. Sementara penerbangan saya di sore hari. Cuacanya jelek. Penerbangan siang sempat tertunda sekitar 1,5 jam. Untung yang saya relatif on-time. Di pesawat, sengaja saya cari tempat duduk di belakang sayap, dan menghabiskan waktu dua jam dengan memotret perubahan awan dan warna langit. Dan membaca buku. Terbang menuju Bangkok…

Catatan tambahan:
  • Terlalu sering makan nasi lemak, membuat ekskresi saya kurang beres. Hehehe.
  • Sejak Maret 2006 kalau naik penerbangan murah ini ke KL, kita ternyata tidak akan mendarat di KLIA (Kuala Lumpur International Airport), bandara yang konon -- soalnya belum lihat sendiri :( -- super megah, lebih keren dari Changi. Mendaratnya di LCC (Low Cost Carrier) Terminal – halah namanya aja udah low cost hehehe – sekitar 20 km dari KLIA.
  • Air mineral di KL lebih mahal dari di Indonesia. Harga untuk 0,5 liter air (beli di 7eleven), kalo gak salah sekitar 2 RM (kurang lebih 5000 rupiah). Sekilas, harga-harga barang di KL kayaknya memang agak lebih mahal dari di Jakarta.
  • Apa lagi ya?? Entar ditambahin lagi deh kalo inget.



selamat menunaikan ibadah puasa
maafkan kesalahan-kesalahan saya, ya

Kolase Perjalanan

kuala lumpur & genting highland
bangkok

Klik, untuk memperbesar gambar.
Cerita... menyusul ya, kalau sempat :p

Kembali

Hai, udah balik nih. Bagaimana liburannya? Rasanya hmm.. campur-campur.

Menyenangkan sekali melihat hal-hal baru. Menghirup aroma kota yang berbeda. Menelusuri jalan-jalan yang asing. Memandang kerlip lampu yang tak sama. Berpas-pasan dengan wajah-wajah yang tak dikenal. Mendengar percakapan yang tidak dimengerti. Mengecap rasa yang tak biasa.

Ada beberapa rencana yang gak kesampaian sih, karena berbagai hal. Bikin penasaran dan gak puas. Sempat juga ketipu-ketipu dikit, hehehe.. hey, tapi malah menambah pengalaman, kan?

Senangnya juga, Obin dan Ayah baik-baik aja di rumah. Jadi hati rasanya tenang. Tiap telpon ke rumah, suara Obin tetap riang. He's really a big boy now. :)

Anyway, thanks untuk semua yang udah komen di posting sebelumnya. Ya, Atta, ini berkaitan dengan tiket murah yang saya beli hampir setahun yang lalu... ;)

* foto-foto menyusul

Mom's Days Out

Uhm... Saya mau nanya, nih...

Jadi gini ceritanya, ada seorang ibu. Ceritanya dia bakalan pergi liburan, nih. Sendiri. Seminggu. Ibu itu punya anak yang masih balita. Apa? Oh, bukan. Dia bukan full-time mom. Dia kerja, kok. Full time. Senin sampai Jumat. Selain week-end, tiap hari ketemu anaknya paling satu-dua jam, pagi-pagi. Kalau malem, seringnya anaknya udah bobok. Gitu.

Nah, pertanyaan saya gini nih, "Ibu itu egois gak sih?"


Silakan dijawab. Gak usah sungkan-sungkan. Sementara itu, saya pergi dulu ya!!!! Sampai ketemu lagi.... :)



----

PS (buat Ayah dan Obin):
Ayah sama Obin, jangan sering-sering berantem ya, selama Bunda gak ada... hihihi... :p

Ketika Bergerak

domba
pohon pisang
lelaki mencangkul
tiga tumpuk kayu bakar
sawah kosong basah
sepeda
bendera putih
tanah merah
gerombolan merpati terbang
lembu ekornya mengayun


ouch, kereta ini berlari lebih cepat dari pada kemampuanku untuk mencerna apa yang aku lihat

pohon berjajar
tiga lelaki di atas bukit
sawah
kebun singkong
asap merang
becak
lampu jalan menyala
tambak
di mana-mana tambak... luas...
sawah lagi. luas sekali


ah, rasanya seperti anak kecil, untuk pertama kalinya melihat segala sesuatu

payung rubuh di pinggir tambak
atap biru
para-para
stasiun kecil
kebun tebu
tanah merah
lengkung kabel telepon... turun... naik...
alang-alang
lapangan bola
sekawanan domba berusaha naik undakan


di atas kereta yang berjalan, tak mudah menulis. aku bahkan nyaris tak bisa membaca tulisan tanganku sendiri

sawah yang baru ditanami padi
tanah pekuburan
pohon cemara
domba makan rumput
bunga flamboyan merah


kereta berhenti, kurasa kusudahkan saja eksperimen isengku kali ini. menyenangkan juga rasanya :)


* disalin dari selembar coretan yang terselip di dalam tas, ditulis di atas kereta jakarta-bandung beberapa bulan yang lalu

Pasar Malam 2

Ini foto-foto pasar malam kemarin. Untuk baca keterangannya, silahkan arahkan cursor pada fotonya.


namanya juga pasar, banyak yang jualan macam-macam, dari baju, vcd, mainan, alat-alat tukang. segala ada, deh. para penjual ini rupanya ikutan keliling juga.kincir angin atau bianglala gaya pasar malam. dijalankan dengan tenaga listrik dari diesel. karena kecil, putarannya lumayan cepat. lumayan bikin saya mual :pobin, ditemenin mbak tini, seneng banget naik pesawat. pesawat mainan ini sudah bertenaga diesel.

komidi putar a la pasar malam. lihat laki-laki yang berdiri di sisi kiri? ia adalah salah satu 'tenaga pendorong' mainan ini.rumah hantu. gak sempat lihat dalamnya karena keburu tutup.kelana, tertulis di loket tiket komidi putar. itu adalah nama rombongan hiburan keliling ini. harga tiket masing-masing permainan, Rp 2500,-

kerak telor. hm.... sedap...apa sih namanya permainan ini? kalau di dufan, namanya ontang-anting. cuma yang di pasar malam ini, diputar dan diayun dengan tenaga manusia.untuk naik, harus pakai tangga yang dipegangi oleh mas-mas penjaga.

pemandangan pasar malam, dilihat dari atas bianglala.obin dan om-om penjaga komidi putar

Pasar Malam

Tempat kami tinggal, berada di pinggiran selatan Jakarta. Tinggal di pinggiran, membuat kami cukup beruntung, masih bisa mengecap hal-hal yang mungkin sudah tidak ditemukan di belahan lain Jakarta yang lebih 'kota'. Salah satu di antaranya adalah Pasar Malam.

Pasar Malam ini adalah sekelompok penyelenggara hiburan yang secara berkala berkeliling dari satu tempat ke tempat lain. Mereka biasanya memanfaatkan lapangan bola, kebun kosong, atau pelataran parkir stasiun kereta-api; seperti yang mereka lakukan di dekat tempat kami tinggal.

Sudah lama saya memendam keinginan untuk pergi ke Pasar Malam ini. Namun, biasa deh, saya terlalu malas. Hingga beberapa waktu yang lalu, ketika saya melihat rombongan ini kembali mampir di stasiun kereta dekat rumah... pagi-pagi sedang membongkar peralatan dan membangun tenda-tenda mereka... bulatlah tekad saya untuk mengunjunginya segera...

(foto-foto pasar malam, menyusul... )

Tak Banyak Cerita Kali Ini

Hmm… mudik kali ini tak banyak cerita. Tak banyak hal baru yang kami lakukan. Bahkan tak banyak hal berarti yang kami lakukan kali ini. Hmmm… tunggu dulu. Membaca kembali kalimat saya di atas, membuat saya berpikir. Kenapa? Kenapa saya bisa berpikir seperti itu? Ups… apakah saya mulai menganggap mudik, peristiwa yang baru saya alami hm... empat tahun terakhir ini, tak lagi menarik? Ah… sebegitu cepatnya kah hal-hal jadi terasa biasa?

Tunggu… tunggu dulu. Hmm… mudik kali ini…

Seperti tahun lalu, kali ini pun sudah tidak ada ketupat menanti kami. Benar-benar tak heran, karena kami baru mudik beberapa hari setelah hari raya. Perjalanan nyaris normal, menemui kemacetan hanya pada arus yang berlawanan dengan kami.

Mudik kali ini, masih juga mengajak Obin berkunjung ke rumah mbah itu, mbah ini, pakde-bude, dan paklik-bulik. Hanya saja, kali ini sudah tidak ada lagi kunjungan ke Mbah Buyut.

Mudik kali ini, masih menyempatkan makan nasi soto panas di stasiun tua. Masih juga di pagi hari sebelum sikat gigi. Masih juga makan bakso terenak sejagat versi suami ;). Masih juga menyempatkan makan paklay dari rumah makan yang terhebat di kota kelahiran suami – yang saya akui memang makanannya enak-enak.

Mudik kali ini, tak seperti pulang kampung beberapa bulan yang lalu, tak ada acara main-main di hijaunya sawah. Sawah-sawah sudah dipanen sejak sebelum lebaran, tapi belum kembali ditanami. Tak ada acara main-main air semata kaki di sungai berbatu. Sungai-sungai sudah dipenuhi air kecoklatan yang menderas oleh hujan.

Mudik kali ini, kami lebih senang bermalas-malasan di rumah. Tidur-tiduran saja. Terkadang duduk di teras, menonton hujan bersama. Atau main kembang-api bersama. (Main kembang-api, walau tetap istimewa buat saya dan Obin, bukan lagi hal baru. Tapi ini lain lagi ceritanya.)

Oh… ada kok hal yang baru! Mudik kali ini, Obin untuk pertama kalinya melihat kunang-kunang! Yang asli dan hidup! Saat itu kami duduk-duduk di teras karena listrik padam. Tak banyak memang kunang-kunangnya. Hanya ada beberapa ekor berkelip-kelip dan berterbangan di perdu kebun sebelah dan juga di teras rumah. Tak juga lama, karena kelipnya perlahan hilang ketika hujan turun dan menderas. Tapi Obin senang. Dan saya lebih senang lagi… :)

Mudik kali ini memang tak banyak cerita. Tak banyak hal baru yang terjadi. Namun tak juga berarti mudik kali ini tak lagi berkesan.

Kisah Dua Jembatan: Waktu Tidak Berhenti



Saat itu sore hari. Sekitar pukul empat. Kami sudah berkendara sepanjang hari. Pagi masih gelap ketika kami meninggalkan Jakarta. Kami terus berkendara. Sesekali berhenti untuk hal-hal yang penting saja.

Saat itu sore hari. Sekitar pukul empat. Ketika tiba-tiba ia berkata, “Lihat jembatan itu. Mau berhenti dulu sebentar?”

Aku sejenak berpikir. Jarak yang masih harus ditempuh cukup jauh, dan aku ingin kami bisa tiba di tempat tujuan sebelum hari kembali gelap. Maka jawabku, “Gak usah, ah!” Tak mempedulikan perkataanku, ia melambatkan laju mobil ketika kami melewati jembatan itu. Saat itu sore hari. Sekitar pukul empat. Kami pun berhenti di situ.

Ada dua buah jembatan yang membentang di atas sebuah sungai. Sebuah jembatan tua berdampingan bersisian dengan sebuah jembatan baru yang kokoh. Yang satu tampak lebih ringkih, yang lain tampak kokoh gagah. Yang satu sudah bolong melompong, yang lain masih halus mulus. Yang satu sudah coklat mengkusam oleh waktu, yang satu masih kelabu betonnya baru. Keduanya membentang berdampingan bersisian di atas sebuah sungai, Serayu katanya.

Kami bertiga – aku, ia, dan anak kami – lalu berjalan di atas jembatan yang sudah berwarna suram. Angin segera mempermainkan helai-helai rambutku. Anak kami berjalan sambil melompat-lompat riang, menarik-narik tangan hendak melihat segala sesuatu. Lubang di jembatan, pagar besi, sungai yang mengering, truk yang sedang mandi di kejauhan. Ketika itu pun aku sudah tahu, aku sudah sangat memaafkan ketidak-peduliannya atas jawabku tadi. Aku sangat berterimakasih malah.

Tak lama, kami kembali berkendara. Kukatakan terima-kasihku kepadanya. Ia pun mengaku, “Ketika melihat jembatan itu, aku tiba-tiba teringat sebuah tulisan yang belum lama kubaca. Tentang orang-orang yang selalu ikut berlari bersama waktu. Tak ada waktu untuk menikmati hal-hal kecil yang dilaluinya. Ingat itu, tiba-tiba aku ingin berhenti di jembatan tadi.”

***

Benar, Sayang… Waktu terus berlari. Dua jembatan yang berdampingan bersisian di atas Sungai Serayu itu adalah bukti. Waktu terus bergerak. Jembatan lama akan melapuk oleh waktu. Tergantikan yang baru. Karena waktu tidak membeku. Waktu tidak berhenti. Tapi, kita bisa sejenak berhenti. Menikmati waktu.

Tak Ada Buah Tangan



Maaf… tak ada buah-tangan kubawakan. Yang ada hanya potongan kenangan…

Tentang ayah bocah bergandeng tangan menelusuri jalan pematang di hari petang. “Lihat jalannya ada lima lagi”, kata sang bocah… “Kemana kita? Ke sana! Ya, ke sana!” “Bunda, hati-hati, jalannya putus!” ... Mendengar suara batang-batang padi. Desirnya tertiup angin. Capung merah menyelinap di hijaunya padi. Daun berkelopak empat. Jejak kaki di lumpur. Kepik dan ular...

Tentang stasiun kereta lama sepi nyaris tak terpakai. Di pagi hari belum mandi. Nasi soto panas sungguh nikmat. Semangkuk? Tak akan cukup. Naik ke puncak gundukan batu kerikil. Menonton satu gerbong kereta penumpang ditarik lokomotif kecil. Ada ayah dan bocah lain yang juga ikut menikmati pagi. Sang ayah memegang erat sang bocah duduk di muka lokomotif, untuk ikut lokomotif berputar. Mungkin buat sang bocah itu adalah petualangannya terhebat hari itu...

Tentang pasar pagi di dekat sungai. Pasar yang cantik buatku. Kios-kios terbuka. Gang-gang lebar tak beratap. Tak ada sumpek. Lagipula pasar sepi. Sudah kesiangan datangnya. Para penjual mengobrol santai. Membeli gula aren. Terdengar cerita pasar akan ditutup. Oh, sungguh sayang...

Tentang sungai kering musim kemarau di bawah jembatan. Alirnya jernih semata kaki. Memantul cahaya pagi pada riaknya. Batu-batu kecil bulat berlumut. Ikan-ikan kecil berenang-renang di ceruk air. Jernih yang sejenak keruh terpijak kaki. Gelak riang bocah berlari-lari mencipratkan air. Membasah badannya telanjang dan celananya tergulung selutut...

Maaf… tak ada buah-tangan kubawakan. Yang ada hanya potongan kenangan…

KERAMIK: Sebuah Mimpi Lama

Belajar membuat keramik, bergelut dengan tanah liat, lalu menjadikannya sebuah kegiatan sehari-hari atau sekedar hobi yang menyenangkan; itu adalah salah satu mimpi lama saya. Nyaris terlupakan, tapi ternyata tak pernah benar-benar terlupakan... Saya dulu pernah berhayal, di sudut pekarangan rumah saya kelak akan ada sebuah studio kecil tempat saya berkarya. Sebuah studio yang sederhana saja tapi dilengkapi dengan sebuah tungku pembakar. Saya akan mengisi hari-hari saya di sana. Saya akan pergi ke sana bila hati sedang senang. Saya juga akan pergi ke sana bila hati sedang gelisah.

Hmm… sebuah mimpi dari masa sekitar tiga belas tahun yang silam. Tak sepenuhnya terkubur memang. Saya ingat terkadang mimpi ini bersinggungan kembali dengan kehidupan saya. Kuliah bertetangga dengan fakultas yang memiliki jurusan keramik; sebenarnya waktu itu saya bisa saja mengambil mata kuliah pilihan keramik. Bertugas menjaga pembukaan sebuah galeri dan pameran keramik, berkenalan dengan seseorang yang bergelut dengan keramik, tetap tidak membuat saya bergerak untuk mencoba merealisasikan mimpi itu. Merasa-rasa diri terlalu sibuk, takut entah karena apa; mungkin itu semua ada di balik kemalasan dan keengganan saya.

***

Sekitar tiga tahun yang lalu mimpi itu seakan melambai lagi dari balik sebuah artikel di surat kabar. Adalah Rumah Tanah Baru milik keramikus F Widayanto, ternyata tak terlalu jauh letaknya dari kediaman saya. Tertulis di artikel tersebut, rumah galeri dan studio itu dibuka untuk umum setiap hari Sabtu dan Minggu. Katanya, bahkan kita bisa ikut bermain tanah liat di sana!!!

Maka saat itu, dengan perut besar mengandung Obin sekian bulan, saya ditemani sang suami ke sana. Kata suami, “Ada yang lagi ngidam main tanah liat nih. Bahaya kalo gak diturutin maunya.” Hehehe… Thanks a lot, yang!

Maka saya pun ikut bermain tanah liat di sana. Dengan membayar sekian rupiah, saya mendapat sebongkah tanah liat yang lebih besar sedikit dari bola tenis. Selama dua jam lebih, dengan teknik yang paling mudah – yaitu teknik cetak – saya menghasilkan sebuah cawan kecil berbentuk daun bunga kamboja dengan lebah mungil di sudutnya dan sekeping keramik persegi empat yang sedianya akan saya jadikan sebuah jam meja. Dua minggu kemudian ‘hasil karya’ saya sudah selesai diwarnai, dibakar, sudah bisa diambil dan dibawa pulang. Dan saya senang sekali…

Selama tiga tahun terakhir ini, Rumah Tanah Baru ini telah beberapa kali saya kunjungi kembali. Sekedar untuk menikmati suasananya yang nyaman, sudut-sudutnya yang teduh dan artistik, dan duduk-duduk ngobrol di sebuah jineng favorit. Atau untuk duduk di kedai kecilnya yang akrab, makan nasi campur istimewa dengan sambal tomat hijau yang segar dan tumis jantung pisang, dengan peralatan makan dari keramik yang artistik. Atau untuk sekedar mengajak Obin jalan-jalan, melihat kolam ikan dengan air yang memancur dari patung keramik berbentuk kura-kura dan kodok, melihat bebek di kandangnya, dan berkenalan dengan Aom, Asoy, dan Ndut -- anjing-anjing yang setia menjaga Rumah Tanah Baru. Atau untuk mengajak keponakan -- dan Shanty (hai!!!) -- bermain keramik di sana, sebagai alasan untuk ikutan main keramik lagi… :)

Saya benar-benar sungguh senaaang sekali… Tapi ternyata saya masih belum cukup puas :-)

Oleh-Oleh Mudik Lebaran

SKETSA-SKETSA

Setiap menjelang hari raya yang fitri, sepasang suami-istri yang sudah lanjut usia menunggu kedatangan ke-delapan putri dan seorang putranya yang sudah dewasa. Pada hari-hari itu rumah mereka yang kecil di desa akan sesak dengan sembilan orang anak, sembilan menantu, dan sembilan-belas orang cucu. Mereka akan meminggirkan kursi-kursi dan menggelar tikar serta kasur untuk tidur di ruang dalam rumah joglo berhalaman rumput itu. Di setiap hari raya ke-dua, sebuah ritual tahunan keluarga dijalankan. Seluruh anak, menantu, dan cucu akan bergiliran sungkem kepada sepasang suami-istri sepuh itu. Ritual lalu diakhiri dengan pemberian nasihat oleh sang bapak tua, yang menurut cerita tak jarang diikuti dengan sedu-sedan tertahan anak-anaknya. Pada hari itu, pintu rumah beratap joglo berhalaman rumput itu sejenak kan tertutup bagi orang-orang yang hendak bertandang. Demi sebuah ritual tahunan keluarga.

***

Di tempat lain di kota kecil yang sama, seorang lelaki tua hidup sendiri. Istrinya sudah lama berpulang terlebih dahulu, sementara takdir tidak memberinya keturunan. Hari-hari dijalaninya dengan rutinitas mengurus sendiri keperluannya dan juga rumahnya yang kosong. Bagi lelaki tua itu kegembiraan hari raya adalah saat ia menerima kunjungan anak angkatnya dan 'cucu'nya yang tinggal di kota besar. Sebuah kegembiraan yang walau hanya beberapa hari saja, tetap sangat berarti bagi dirinya.

***

Seorang lelaki muda setiap tahun selalu menyempatkan kembali ke rumah orang tuanya, tak jauh dari rumah lelaki tua yang hidup sendiri itu. Tak ada acara khusus di sana. Tak ada sajian khusus untuk menyambut kedatangannya. Namun tetap saja selalu ada panggilan untuk kembali. Kembali ke rumah yang kini makin terasa kosong setelah ditinggalkan satu-persatu penghuninya. Hanya tertinggal kedua orang-tuanya yang baru seja memasuki usia pensiun.

Tak ada acara khusus di sana. Tapi tetap saja suatu panggilan seakan membisikinya untuk selalu kembali. Panggilan yang kemudian menggapai-gapainya semakin kuat setelah hadir sosok-sosok baru dalam hidupnya. Kini baginya, kata pulang makin bermakna: sebuah bakti pada orang-tua, sebuah ikatan yang kan slalu diperbaharui simpulnya, sebuah potret diri yang kan ditunjukkan kepada belahan-jiwanya, dan kisah-kisah lama yang kan didongengkan pada buah-hatinya.


CERMIN

Setiap orang butuh suatu ritual. Suatu peristiwa yang dinanti-nanti walaupun telah berulang sekian kali, sekian lama. Seperti minum secangkir kopi tiap pagi, seperti memandang hujan kesorean dari balik jendela kamar, seperti apel pacar di malam minggu, seperti merenung sendiri di gelap malam tahun-baru, seperti takbiran bersama kawan-kawan kecil di malam lebaran... seperti pulang kampung di waktu lebaran.

Setiap orang butuh suatu ritual. Suatu peristiwa yang akan tetap dikenang, bahkan bila ritual itu sudah lama tidak dilakukan. Seperti harumnya aroma kopi di pagi hari, seperti aroma tanah basah sehabis hujan, seperti harum shampo di rambut mantan pacar di sabtu sore yang cerah, seperti derik pijar kembang api di ranting pohon mangga di malam tahun-baru, seperti suara petasan di malam lebaran... seperti binar-binar kaca di mata mbah-putri saat melepas kepergian sang cucu sehabis mudik lebaran.

Setiap orang butuh suatu ritual dengan caranya tersendiri. Dan aku mulai menyukai ritual baruku: mengajak Obin mudik lebaran ke rumah mbah di 'desa'.


---

Walaupun sudah sangat lewat momennya, saya ingin mengucapkan: "Mohon maaf lahir batin" pada teman-teman semua. Sekali lagi MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN.

Negeri di Atas Awan

Aku pergi ke timur, menyongsong matahari yang belum lama berangkat dari peraduan. Langit terlihat biru dari dalam sini (adakah benar biru, ataukah kaca jendela ini yang membiaskan biru?). Matahari masih jauh rendah dari sepenggalah, sinarnya membiaskan langit biru muda yang cantik di sepanjang horison. Makin ke atas makin tua birunya. Di antara gradasi birunya, semburat sutra putih yang halus menghampar seperti kabut tipis.

Di atasku, helai-helai cirrus berarak, seperti lapisan kapas tipis yang berlari melewatiku. Nun jauh tampak lembar-lembar pita putih dibentangkan, terkadang meliuk, di sepanjang cakrawala. Di bawah sana, daratan kadang tak tampak, tertutup lapisan dan gumpalan kapas putih yang lembut. Seperti sebuah padang salju di negeri yang sangat jauh dari katulistiwa bumi ini. Terkadang puncak-puncak gunung menyembul di tengah kerumun mega, seperti begitu saja muncul dari ketiadaan, di tengah-tengah ketiadaan. Menggoda imaji kanakku akan sebuah negeri di atas awan.

Lihat! Di padang putih sana ada segerombolan domba putih sedang digembalakan. Domba-domba cumulus berbaris rapi, seakan tahu padang ini cukup luas untuk mereka semua. Kini kutinggalkan padang putih dan domba putih, kumasuki sebuah negeri kabut. Langit masih biru di atasku, namun di seluruh sudut horison hanya kabut putih yang tampak. Putih, tipis, luas, penuh.

Perlahan daratan menyeruak di balik kabut. Sebuah suara tanda -- perintah untuk mengenakan sabuk pengaman -- mengusik satu jam perjalanan imajiku. Sudah saatnya kutinggalkan negeri di atas awanku. Mendarat kini aku di dataran realitas yang menyengat ini :)

Baru kali ini gw naik pesawat dengan penumpang cuma 4 orang saja! Hehehe... seru gila! Serasa naik pesawat pribadi ;)

Finding 'Nemo'

klik di sini

Week-end kemarin, seperti yang udah gw ceritain sebelumnya, gw pergi ke Pantara Islands (note: pulaunya memang lebih dari satu: Pantara Barat dan Pantara Timur), di Kepulauan Seribu. Gw pergi bareng sekitar 30 orang teman se-departemen, dalam rangka pembubaran departemen. Gak bakal ada yang nyangka deh kalo kami berlibur dalam rangka 'farewell'. Soalnya semuanya terlihat ceriya-ceriya aja, seakan-akan memang udah gak sabar nunggu bubar (emberr :p).

Pulaunya lumayan cakep, gak rugi deh naik kapal sampai 2 jam. Yang paling asik, lautnya jernih banget. Ikan-ikan kelihatan gitu dari dermaganya. Coba deh klik foto di atas, untuk lihat image yang lebih jelas. Nah, persis kayak gitu yang kelihatan. Uhhh, pokoknya dari awal nyampe gw udah gak sabar untuk nyebur.

Yang paling berkesan buat gw ya acara snorklingnya. Ini pertama kali gw snorkling dan gw sukaaaa!!!! Wah pokoknya gak puas-puas deh gw nyebur dan 'main-main' sama ikan-ikan yang cantik itu. Juga pergi ke tempat yang lebih ke tengah dan agak lebih dalam buat ngelihat bunga-bunga karang. Di tempat ini, mungkin bunga karangnya gak terlalu banyak ragamnya. Tapi gitu aja gw udah demen banget. Apalagi pas nemu 'Nemo', si ikan badut, yang berenang-renang menyelip di antara anemon laut, dan bisa diraih tangan!!! Wiihh... serasa 'Finding Nemo' beneran deh....

Errr... sekarang rasanya gw jadi pengen snorkling lagi, pengen lihat taman laut-taman laut yang lain. Kayak apa ya???

Planetarium Report

Akhirnya kesampaian juga cita-cita saya untuk ke planetarium lagi. Thanks buat teman-teman yang sudah bersedia menemani :-)

The Gathering
Sabtu, 8 Februari 03, siang, satu-persatu calon penonton planetarium bermunculan. Di halaman parkir TIM, saya bertemu my sister, yang ternyata jadi terinspirasi untuk membawa 3 keponakan saya menonton. Kemudian saya bertemu dengan Detta, Erly, Rhe dan dua temannya. Setelah membeli tiket sebentar, kemudian kami bergabung dengan Okke dan Irini yang sedang menunggu satu orang temannya di pintu masuk.

Okke.. hihi... bener tampang lu galak. Kalo dikau gak cengar-cengir duluan, pasti gue gak berani negur ... Detta, gimana, u'r hubby curiga gak? hihi.. naughty lady.. ngakunya ke salon...

The Show
He he he... kayaknya kita salah milih hari deh. Ruangan lobby planetarium, tempat kami menunggu pertunjukkan, sudah penuh dengan rombongan anak-anak SD dengan seragam pramuka. Tidak lama kemudian datang lagi satu rombongan anak SMP dengan seragam batiknya. Huhuy.. buat neng Nita, rugi gak jadi datang. Kalau datang kan Nita bisa bernostalgia dengan kisah romantis jaman SMP dulu...hihihi

Jam 2 siang, tangga untuk naik ke ruang pertunjukkan di atas dibuka. Malas berdesak-desakkan dengan anak-anak itu, kami berlambat-lambat naiknya... dan keapesan pun dimulai. Sampai di dalam ruangan... hallooo .. kok tempat duduknya udah penuh semua....???? Wahhh curang mereka jual tiketnya lebih dari kapasitas tempat duduk seharusnya. Akhirnya kita pun duduk di kursi tambahan dari plastik dan selama pertunjukkan pun terpaksa duduk mendongak. Huhuhu.. leher jadi pegel deh..

Did I ever say that you can get the tranquility feeling, the peace of mind, etc.. etc...there? Ho ho ho, sorry guys, you can't got those feeling yesterday :-). Sebaliknya pertunjukkan kemarin terasa meriah sekali, dengan riuh-rendah suara anak-anak sekolah itu dan beberapa kali tepuk-tangan massal selama pertunjukkan. Berbeda sekali dengan pengalaman terakhir saya ke sana beberapa tahun yang lalu, sepi dan adem. Kali ini saya menganggap pertunjukkannya terasa lama, padahal dulu saya merasa waktu pertujukkannya kurang. Entah apa karena memang lebih panjang waktunya, atau karena tempat duduknya dan suasananya yang kurang nyaman, atau karena pertujunjukkannya sendiri yang kurang asyik. Satu lagi yang menggangu.. huhuhu.. itu lho naratornya. Mungkin karena banyak penontonnya, dia jadi semangat melucu, namun sayangnya kurang lucu. Terus terang sih, saya pribadi lebih senang bila porsi latar belakang musiknya lebih banyak daripada ceramah ilmiahnya.

Pertunjukkan kali ini bertajuk Penjelajah Kecil di Tata Surya, seingat saya berbeda dengan yang pernah saya tonton sebelumnya. Kali ini terasa penekanannya yaitu pada benda-benda 'kecil' yang menjelajah tata surya, seperti meteor, komet, dan asteroid. Mereka adalah benda-benda 'kecil' di angkasa luar yang bila dalam pergerakannya (periodik ataupun anomali) bersinggungan dan gagal dihancurkan oleh atmosfir bumi kita, bisa saja menenggelamkan satu benua. Untuk sejenak waktu saya jadi merasa begitu kecil di tengah jagad ini.

Saya juga sangat menikmati gambaran mengenai hujan meteor. Hujan meteor itu bagus ya? Pantas saja ia menjadi inspirasi film-film romantis seperti Meteor Garden dan Meteor Rain :-) Hujan meteor ini seperti 'bintang jatuh', tapi banyak jumlahnya dan arah datangnya seolah dari satu titik. Hmm... kira-kira seperti percikan kembang api. I wished I can see the real meteor rain someday.

O ya satu hal lagi saya selalu terkagum-kagum dengan orang-orang jaman dulu (bangsa Yunani etc). Mereka kok bisa-bisanya ya menciptakan gambaran rasi-rasi bintang itu. Dengan imajinasi mereka bisa merangkai titik-titik bintang yang berserakan itu menjadi berbagai figur, kalajengking, dewa yang memegang busur, dewi menuang air, dsb, dsb. Buat saya menghayal dan menamai bentuk-bentuk awan adalah hal yang sangat mudah. Tapi untuk bisa memperoleh suatu figur dari serakan beribu bintang-bintang, itu benar-benar pekerjaan seorang penghayal ulung!!!

Akhirnya, pertunjukkan kemarin gak sepenuhnya bikin kesal. Cukup memuaskan dahaga saya untuk memandang langit penuh bintang. Adapula spot-spot yang cukup menyenangkan selain meteor rain itu, misalnya ketika hanya musik yang melatari langit penuh bintang (sayangnya yang seperti ini singkat sekali). Atau ketika langit disimulaikan 'bergerak' sehingga saya merasa makin kecil dan tidak ada apa-apanya dibanding semesta yang seakan-akan bergerak itu. Namun saya mencatat, bila saya ke planetarium lagi, saya tidak akan memilih hari Sabtu, Minggu, atau hari libur lainnya. And I will bring my own music :-)

After the Show
Setelah pertunjukkan selesai, kami bertemu dengan Ollie dan Erwin, yang terlambat datang. Foto-foto sebentar. Sorry, fotonya menyusul ya, gue lagi ada kesulitan mengupload, karena dirumah sekarang lagi gak bisa online. Detta gak lama kemudian pamit. Buru-buru amet, Dett ;-) Akhirnya diputuskan untuk ngobrol-ngobrol sebentar (sambil menemani saya makan siang.. maaf laper banget). Chat.. chit.. chut.. chat.. chit.. chut.. ngobrol ngalor ngidul. Ngobrolin tentang blog-blog lain pasti dong jadi topik utama. Dan ternyata ketahuan bahwa Erly itu satu esde sama Erwin (what a small world?). Okke dan teman-temannya lalu diculik oleh Tresia, untuk melanjutkan acara mereka di tempat lain. Gak lama kemudian rombongan kecil 'planetarium' ini pun bubar.

Thank you guys... nice to meet you all....

UPDATE: Baca juga report oleh Ollie dan Irini . Juga oleh Okke dan Detta :-)

Ke Planetarium Bareng, Yuk!


Setelah berbincang dan 'berbincang' dengan beberapa bloggerian, akhirnya gue beranikan diri untuk mengajak siapa yang mau, bersedia, punya waktu, punya kesempatan untuk nonton bintang bareng di Planetarium.
pada
hari Sabtu
tanggal 25 Januari 03
jadwal pertunjukkan 14.00 wib
waktu berkumpul sekitar 1 jam sebelum pertunjukkan 13.00 wib
tempat berkumpul di depan toko buku Bang Yose Rizal
dan bayar sendiri-sendiri lha ya...


Gue pilih Sabtu jam 2 siang, karena menurut gue ini waktu yang paling memungkinkan untuk banyak orang. Soalnya kan ada yang gak bisa bolos dari kantor pas hari kerja (gue.. he...he..), ada yang siap-siap mau ngepel eh ngapel kalau Sabtu sore, dan hari Minggu pasti untuk keluarga dong ya...

***

Oke... yang berminat ikut diharap daftar melalui comment box gue
(silahkan penuhi-penuhin deh comment box gue...hehe)
morningdew, rhea, weedee, grizz, cest-lavie, hayuk daftar!!!!
erly, kali ini serius: mau ikutan nonton gak???
khusus untuk erly nanti nonton awan, burung aja.. :-P
slesta, okke, enda, nita, ninit, aprian mau ikut juga??? boleh.... :-)
yang lain juga boleh kok....

Jadwal lengkap dan keterangan lain bisa dilihat di sini

ditunggu ya!
tiada kesan tanpa kehadiran anda :-P

oya.. kalo ada saran-saran lain juga masih dipertimbangkan



update on 3.30 pm:
sorry... waktunya masih perlu dibahas nih...
silahkan maunya yang mana nih???
sabtu tanggal 18 jan, 25 jan, atau 1 feb?
atau ada saran lain?? jamnya yang perlu diubah?
atau hari minggu aja? please...



So this is my new posting,
and there will be no other posting until we visit the planetarium :-P

Tempat Paling Indah

inspired by this lady


Jakarta is tense, Jakarta is a city of some ten million inhabitants, Jakarta is an incongruous mixture of gleaming tower blocks, Jakarta is unable to deal with all its garbage, Jakarta is a really crowded city, Jakarta is running; those are what googlism says about Jakarta.

But there's a very beautiful place there...
somewhere at the heart of Jakarta...
do you know that place?


Dulu waktu masih kecil rasanya pernah ke tempat itu, namun tidak ingat pasti, uhm..mungkin juga belum pernah. Sometimes dreams and realities bewildered. Kunjungan 'kembali' ke tempat itu, adalah sekitar 4 tahun yang lalu, ikut menemani bocah-bocah. Setelah itu sepertinya telah ada dua kali lagi kunjungan 'kembali'.

Tempat terindah itu benar-benar memukau. Rasanya benar-benar seperti sebuah oase di tengah hingar-bingarnya kehidupan Jakarta. Ketika kita berada di sana, kita akan lupa bahwa kita berada di kota padat ini. There you can feel the tranquility, serenity... There for a while you can get a peace of mind... Do you know that place?

Waktu sekitar satu jam di tempat itu terasa begitu singkat. Rasanya ingin meminjam tempat itu seharian penuh untuk beristirahat, mengisi hari dengan angan dan imajinasi. Rasanya ingin pergi ke sana untuk mengantar tidur malam: berbaring, memandang langitnya, memandang bintang-bintangnya, berhayal, dan kemudian jatuh tertidur lelap. ehmm... nyamannya.... do you already find a clue??

Tempat itu adalah tempat terindah yang termurah...hanya tiga ribu lima ratus rupiah saja :-).

Dew, actually a day before new year,
when our office unexpectedly sent us home half day,
I went to that place.
I thought it's time to spoil my self.
Silly me, the show was still three hours later.
Instead, I bought my self a book,
at a little book store around the corner.

After Mudik

Akhirnya saya bisa juga mencuri sedikit waktu untuk menulis kembali di blog ini. Kembali dari mudik, semua hal menjadi jauh lebih menyibukkan. Pekerjaan di kantor yang tertunda menggunung, ditambah lagi order-order baru sudah menanti untuk dilihat. Di rumah pun, tanpa bantuan pengasuh Obin yang minta istirahat panjang (alias berhenti), otomatis waktu luang untuk santai ngeblog jadi tidak ada. Belum lagi kondisi fisik Obin yang sedang turun, membuat ia sedikit rewel. Ujung-ujungnya, akhirnya saya juga sempat tumbang.

Tapi semua itu gak membuat saya menyesali pergi mudik kemarin. Mudik kemarin berarti 10 hari penuh saya bersama Obin, mengurus sendiri segala keperluannya (tentu dibantu suami), sesuatu hal yang langka. Mudik buat saya juga berarti mengenali lingkungan yang membesarkan suami saya, tempat ia bermain dulu, sekolahnya, dsb. Mudik kemarin juga merupakan kesempatan memperkenalkan hal-hal baru pada Obin, yang mungkin tidak akan didapatkannya di Jakarta: berjalan telanjang kaki di halaman rumput, melihat sawah, melihat bebek sungguhan yang mencari cacing di sawah, melemparkan daun-daun ke aliran sungai, memegang domba, melihat ombak di pantai, bermain pasir, dan masih banyak yang lain lagi....

bintang terang berjalan di pematang

UPDATED on 3:30 pm

Jadi inget lagu ini deh:

kemarin paman datang
pamanku dari desa
dibawakannya rambutan pisang
dan sayur mayur segala rupa
bercrita paman tentang ternaknya
berkembang biak semua...

padaku paman berjanji
mengajak libur di desa
hatiku riang tidak terkira
terbayang sudah aku di sana
mandi di sungai
turun ke sawah
menggiring ternak ke kandang...


Dulu, setiap kali mendengar atau mendendangkan lagu ini, saya selalu bertanya-tanya, bagaimana rasanya 'libur di desa'... Saya bersyukur... akhirnya Obin punya 'desa' untuk dia kunjungi.