Alhamdulillah, Telah Lahir Kembali : Sekolah Alam Indonesia

Mulai hari ini
Jumat, 24 Juli 2009
Kelahiran baru hadir di dunia

Sekolah alam yang pertama berdiri di Indonesia
Kini dengan segala kerendahan hati
Mengukuhkan eksistensi baru
Dengan brand dan logo baru
Di awal tahun ajaran yang baru

Sekolah Alam Ciganjur yang dulu
Kini mengubah dirinya menjadi
SEKOLAH ALAM INDONESIA

Tetap berbasis komunitas
Tetap tanpa pemilik tunggal
Tetap tanpa orientasi laba dalam pengelolaannya

Tetap berfokus pada anak semata
Menjadikan mereka Khalifah pengemban amanah Allah Ta'ala
Menjadikan mereka penebar manfaat di bumi tercinta
Dengan segenap bintang terang di diri mereka
Dengan potensi terbaik yang mereka punya

Sekarang, detik ini juga
Telah lahir kembali : SEKOLAH ALAM INDONESIA...



Note by: Lyra (Tim Branding SAI)

Her Story (3)

Apakah itu? Tembang, lagu, senandung? Mendengung di rongga kepalanya akhir-akhir ini. Menyelusup di bilik benaknya. Ketika senyap mengepung sendirinya di antara bising kota. Ketika riuh kepala mengalahkan heningnya kelam.

Itu semacam lagu. Ataukah mantra? Ah, tak penting nama. Itu penyerta dongeng kecilnya dulu. Ketika ibunya bercerita sebelum tidur. Ia tak ingat adakah elusan di kepala menyertainya? Mungkin itu usapan pelan di punggungnya. Tapi ia ingat sekilas cerita itu. Ia ingat tinggi rendah nada lagunya. Ia ingat sebait lirik asing yang dulu tak begitu dimengertinya.

Ingatkah kau? Itu kisah tentang seorang gadis kecil yang tersesat di dalam rimba. Dirindunya sang bunda. Gadis kecil pun bersenandung. Atau meratap? Memanggil seekor elang yang terbang. Meminta dibawa pulang ke pangkuan bunda.

Elang sikak, elang segonggong
Gonggong aku ke rumah induk
Kagek ku upah jago sikok

Elang sikak, elang segonggong
Gonggong aku ke rumah induk
Kagek ku upah jago sikok


Benarkah itu? Mungkin ia tak ingat kata-kata yang sebenarnya. Tapi gaung senandung kian kerap menyambangi. Menyisakan tanya. Apa dan mengapa.

Her Story (2)

Beruntunglah perempuan yang dapat mencintai ibunya dengan mudah. Yang tetap menyukai ibunya walaupun ia telah beranjak dewasa. Yang dapat menceritakan segala kisah pada ibunya tanpa harus merasa takut salah ucap. Yang dapat mencium pipi putih ibunya tanpa harus merasa rikuh. Yang tak harus menahan diri untuk tak berkata tajam, setiap kali sang ibu berbicara padanya. Yang dapat dengan mudahnya mengucap, “I love you, Bu!”

Beruntunglah mereka.