Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

CERPEN: SEPERTI DAUN GUGUR

oleh: Rahmadini
dimuat di Majalah Sekar edisi 103/13, 20 Februari- 6 Maret 2013

seperti daun gugur
Ada selembar daun gugur terbang di atas jalanan padat yang dilalui Mira sore ini. Daun kecoklatan itu melayang pelan dihembus angin yang tak terlalu kencang. Mira tersenyum. Semua akan baik-baik saja. 
 
Mira menghela napas perlahan dan menatap selembar daun kering lain yang sedang menari di atas kendaaraan di depannya. Sungguh pemandangan yang selalu disukainya. Daun-daun yang melepaskan diri dari ujung-ujung ranting. Mereka seakan sedang menarikan tarian yang begitu cantik. Tarian kebebasan.

Ya, semua akan baik-baik saja. 

Ada test-pack yang baru saja ia beli di dalam tasnya. Tak lama lagi ia segera akan tiba di rumah dan segala kekhawatirannya akan sirna.

Semua akan baik-baik saja.
----

Ketika Gun tiba, Mira masih terbaring di tempat tidurnya. Entah sudah berapa jam ia di sana, tergolek dengan mata menerawang dalam gelap. Kedua matanya sembab dan basah. Kenapa ini bisa terjadi?

Langkah kaki Gun terdengar mendekat. Lelaki yang dicintainya.


“Yang, aku pulang. Kamu sudah tidur, ya?”

Gun membuka pintu dan menyalakan lampu. Cahaya menerangi kamar itu dan Gun merasakan ada sesuatu yang tidak biasa.

“Sudah malam begini, kenapa jendela masih terbuka?” tanya Gun heran. Dilihatnya Mira masih mengenakan pakaian kerjanya, berbaring di atas tempat tidur dengan mata merah dan rambut yang kusut. “Mir, kamu kenapa?” Gun duduk di sisi tempat tidur dan mengulurkan tangannya ke wajah Mira. “Kamu sakit, Mir?”

Mira mengerjapkan matanya yang terasa perih. Ia menggeleng. Tangannya lemah mengulurkan sebuah strip kecil berwarna putih kepada Gun.

“Apa ini?”
“Test-pack, Gun. Aku sudah terlambat dua minggu.”

Gun memandang strip putih itu. Ini adalah pertama kalinya ia melihat secara langsung benda yang dinamakan test-pack itu. Gun tidak mengerti. Ia tidak bisa mencerna apa yang telah terjadi.
“Positif, Gun. Aku hamil,” tangis Mira kembali meledak.
Gun terpana. “Bagaimana bisa, Mir?”
Mira menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu, Gun.”
----

CERPEN: DEBU CINTA

Dimuat di majalah Femina no.12, 24-30 Maret 2005
Terima kasih untuk AAA Bulan Trisna Djelantik.
Cerpen ini diinspirasi oleh pementasan Legong Asmarandana–nya.



DI SEBUAH GEDUNG PERTUNJUKAN…
Rati duduk di kursi penonton. Ia menatap ke arah panggung di depannya. Panggung itu sudah hampir siap. Layar putih telah digantungkan di belakangnya. Sebuah pintu masuk rumah Bali yang disebut angkul-angkul, dalam ukuran kecil dan berukiran khas Bali, berdiri di tengah kanan panggung, dihiasi dengan kain poleng, kain bercorak kotak-kotak hitam putih, dan bunga kamboja putih. Sebuah undak-undakan, simbol batu besar tempat bertapa, telah disulap hadir di bagian kiri panggung. Ranting meranggas menaungi batu. Pokok-pokok ranting kecil lain, dengan kamboja putih pada pucuk-pucuknya, berbaris acak melatarbelakangi panggung.

Panggung yang cantik. Sederhana namun memukau. Esok di atas panggung itu, pementasan besar tari Legong Semarandana akan digelar. Kisah terbakarnya pasangan dewa-dewi asmara, Dewa Kamanjaya dan Dewi Ratih, akan dikemas dalam rangkaian gerak tarian klasik dari Pulau Dewata.

Seusai gladi bersih yang melelahkan, Rati duduk di kursi penonton, bersandar memandang ke arah panggung. Esok di atas panggung itu, ia akan menjelma menjadi sang dewi asmara, Dewi Ratih.


ESOK HARINYA, DI BELAKANG PANGGUNG….
Rati bercermin, menatap wajahnya di kaca. Cantik kata orang. Ayu, seperti namanya, Ni Made Ayu Sekar Rati. Di cermin, ada wajah bundar dengan mata bulat yang selalu berbinar. Rambut hitam, yang panjangnya melewati bahu, kini tampak tergelung. Kerut halus mulai tampak samar di sudut-sudut mata dan bibir, suatu tanda bahwa pemiliknya kerap tersenyum, sekaligus pertanda pertambahan usia. Di cermin yang besar itu tampak wajah khas wanita Bali yang cantik di usia menjelang tiga puluh.

“Rati!”

Rati mendengar namanya dipanggil. Ia menghentikan goresan pensil alis di tangannya dan menolehkan kepala ke arah pintu, jauh di sebelah kanan. Rati melihat seorang wanita, yang wajahnya tak asing lagi, melambaikan tangan dan tersenyum padanya. Wanita itu berjalan perlahan menghampiri kursinya.

“Dewi, kau masih saja datang,” ucap Rati pada Dewi, sahabatnya ketika masih kuliah dulu.

“Aku baru hamil enam bulan, Rati. Tentu saja aku masih boleh jalan-jalan. Apalagi, malam ini. Aku tidak akan melewatkannya,” kata Dewi sambil mengamati sekitarnya. “Boleh, kan, aku duduk menunggu di sini?” tanya Dewi kemudian.

Rati mengangguk. “Boleh saja. Duduk saja di sini, di sebelahku,” ujar Rati, sambil menunjuk kursi plastik kosong di dekatnya.

“Kau datang bersama Dadi?” tanya Rati.

“Ya, pasti dong. Masa, sih, ia tega membiarkan istri dan calon anaknya berpergian sendiri,” ujar Dewi, sambil mengelus-elus perutnya yang sudah tampak besar.

“Mana dia?” tanya Rati.

“Ia menunggu di luar. Merokok. Rikuh, katanya. Kau berias sendiri, Rati?” tanya Dewi, sambil mengamati sahabatnya. Rati sudah mengenakan kain dan pakaian menarinya yang berwarna hijau keemasan. Ia juga sudah mengenakan riasan wajah, yang kini sedang dirapikannya.

“Sebenarnya, ada perias.” Rati menunjuk ke beberapa perias yang terlihat sibuk bekerja, merias para penari, baik pria maupun wanita. “Tapi aku lebih senang berdandan sendiri. Lagipula, biarlah mereka membantu anak-anak yang lain.”

Dewi melihat dan mengamati ruang belakang panggung itu. Terlihat kesibukan di sekelilingnya. Beberapa penari wanita yang belum berganti pakaian sedang didandani. Terlihat beberapa penari pria. Mereka juga ikut didandani. Beberapa penari yang telah berias, terlihat saling bantu merapikan pakaian.

“Kau yang paling senior, ya?” tanya Dewi pada Rati.

Rati berhenti berdandan sejenak, tersenyum, sambil memandang bayangan wajah sahabatnya di cermin. “Tepatnya, sih, aku termasuk yang paling tua.”

“Kau teruskan saja riasanmu itu, Rati. Aku paling senang mengamatimu saat berdandan,” ujar Dewi.

“Sudah hampir selesai, kok. Aku cuma sedang merapikan alis. Sekarang tinggal memasang bija,” Rati terus berbicara, namun tangannya tetap sibuk bekerja, menggambar bija, titik putih di tengah keningnya, di antara ke dua matanya.

“Kau masih saja cantik, Rati. Seperti dulu,” kata Dewi memuji sahabatnya.

“Kau juga cantik, calon ibu.”

“Basa-basi. Aku gembrot kayak gini, kok.”

“Dewi, aku tidak basa-basi. Kau calon ibu yang cantik. Dari jauh saja aku bisa melihat wajahmu yang kelihatan bersinar. Kau terlihat sangat cantik.”

Rati kemudian berdiri, mengambil setumpuk pernak-pernik pakaian tari. “Nah, karena kau ada di sini, kau bisa jadi asistenku untuk memakai pernak-pernik ini,” kata Rati, sambil tertawa. Rati pun lalu menunjukkan pada Dewi cara memasang semua pernak-pernik itu, dari tutup dada, hiasan pinggang, gelang lengan, hingga gelung kepala.

“Ibumu tidak datang, Rati?” tanya Dewi, sambil berdiri membantu Rati memasang penutup dada dari kulit berhias prada.

“Tidak, merepotkan sekali untuk terbang dari Bali ke Jakarta, hanya untuk menyaksikan aku menari. Aku sudah terlalu sering menari. Sudah tidak terlalu penting lagi.”

“Tapi kali ini, kan, berbeda, Rati. Ini adalah pertunjukkan besar. Kali ini kau menari di gedung kesenian yang paling terkenal di Jakarta,” bantah Dewi.

“Baginya sama saja, Dewi. Lagi pula, ia juga dulu penari. Baginya, ini bukan hal yang sangat istimewa.” Rati sejenak menghela napas. “Selain itu mungkin ia masih marah padaku. Minggu lalu aku meneleponnya, ingin mengundangnya datang ke Jakarta. Hanya saja telepon itu berakhir dengan pertengkaran,” lanjut Rati kemudian.

“Ada apa lagi?” Dewi bertanya. Tangannya sibuk memasangkan semacam gelang pada lengan Rati.

“Ia mencoba mengenalkanku pada seorang pria Bali yang lain lagi. Aku menolaknya.”

Dewi tertawa, “Kenapa kau begitu alergi dengan pria Bali?”

“Bukan begitu. Dengar, aku tidak alergi dengan pria Bali, sama sekali tidak. Aku hanya alergi pada usaha perjodohan itu.”

“Ibumu, kan, hanya ingin yang terbaik bagimu. Ia ingin agar kau bisa mendapatkan jodoh yang punya keyakinan sama denganmu. Ia ingin kau bisa melupakan Fajar. Melupakan kisah cintamu dengan Fajar, yang kau tahu sendiri, memang tak akan menuju ke mana-mana, mengingat segala perbedaan itu.”

“Ya, aku tahu. Aku pun telah berusaha, kau tahu, kan? Sudah berapa kali aku mencoba untuk berkenalan dan menjalani pendekatan dengan calon-calon ibuku itu?”

“Dua kali?” Dewi mengingat-ingat.

“Tiga kali. Apa yang aku temui? Pertama, seorang pria yang terlalu pengecut sehingga menduakan wanita. Di belakangku dan di belakang orang tuanya, ternyata ia masih terus berhubungan dengan kekasih lamanya, yang kebetulan juga beragama lain. Pria kedua, pria egois yang bodoh. Belum apa-apa ia sudah memintaku untuk meninggalkan pekerjaanku, untuk menjadi ibu rumah tangga. Aku menari pun ia tidak suka. Tolol. Baru tahu aku ada pria Bali yang tak suka melihat pasangannya menari.”

“Ya, kau sudah pernah cerita. Anom dan Karna, kan?”

Rati mengangguk. Dewi telah selesai memasang segala pernak-pernik di tubuh Rati. Rati kembali bercermin, sementara Dewi memandangi dirinya. Rati tersenyum puas, “Sekarang tinggal memasang gelung itu,” kata Rati, sambil menunjuk sebuah gelung kepala, mahkota keemasan berhias rangkaian bunga kamboja putih, yang terletak di atas meja rias.

“Tolong lagi ya, Dew.”

“Bagaimana dengan pria yang ketiga? Aku belum pernah dengar ceritanya,” tanya Dewi kembali, sembari membantu Rati memasang gelung.

“Yang ketiga, Bli Adi, sebenarnya lumayan. Lumayan tampan. Yang lebih penting, ia pintar dan enak diajak bicara. Tapi, ia mundur. Ia bilang aku terlalu sempurna. Kau dengar itu? Terlalu sempurna?! Aku tak habis pikir apa maksudnya. Tapi, sudahlah. Tak ingin aku pikirkan.”

“Kau sudah terlalu mapan, Rati. Terlalu mandiri. Pria biasanya takut pada wanita yang terlalu mapan dan mandiri,” Dewi tak segan mengutarakan pikirannya.

Rati tersenyum, “Ah, kau bicara seperti ibuku saja.”

Seorang pria yang memakai udeng di kepalanya menghampiri Rati dan memutus pembicaraan mereka. “Rati, lima belas menit lagi pertujukkan dimulai. Kau sudah siap?” tanya pria itu.

“Nggih, Bli Putu. Sedikit lagi,” jawab Rati, sambil bergegas merapikan kerumun bunga-bunga di gelung kepalanya.

“Sudah, Dewi,” ujar Rati pada Dewi kemudian, melanjutkan pembicaraan mereka. “Aku sudah lelah mencari. Sudah capai mencoba. Dua kali putus cinta, tiga kali dijodohkan, sudah sangat cukup. Kalau memang sudah takdirku untuk tidak berjodoh, aku pun sudah tidak peduli. Akan aku buktikan bahwa aku bisa hidup sendiri dan tetap bahagia.”

“Tapi, Rati, punya seseorang untuk berbagi kebahagian jauh lebih membahagiakan.”
Rati menatap sababatnya, lama. “Kau bahagia, Dewi?” tanyanya.

“Ya, sangat.”

“Syukurlah.”

Dewi tersenyum tulus pada Rati, “Akan tiba giliranmu, Rati. Percayalah. Jangan pernah putus asa.”

PANGGUNG GELAP DAN SUNYI….
Hanya ada dua cahaya temaram dari obor di samping panggung. Kesunyian panggung tiba-tiba pecah oleh alunan dinamis gending dan tabuh Bali, tanda bagi para penari untuk mulai naik ke atas pentas. Lampu panggung menyorot para penari dan sebagian lagi lampu menaburkan cahaya bintang nan cantik. Maka dimulailah jagat pentas kisah para dewa.

(Alkisah, para dewa bercengkerama di kahyangan, merayakan kedamaian surga. Bidadari pun menari penuh suka. Hingga tiba-tiba suatu huru-hara kejahatan datang mengganggu. Surga porak-poranda. Maka, bermusyawarahlah para dewa dan diputuskan untuk minta bantuan pada Dewa Siwa yang sedang bertapa. Dewa Indra pun mengutus Kamanjaya, sang dewa asmara, untuk membangunkan Siwa dalam tapa bratanya.

Kamanjaya lalu berpamitan pada Dewi Ratih, sang istri terkasih, sang belahan jiwa. Pasangan dewa-dewi yang tengah di mabuk asmara ini terpaksa berpisah. Kamanjaya lalu pergi menunaikan tugasnya. Dengan pesonanya, Kamanjaya menggoda Siwa. Siwa tidak terusik. Kamanjaya menarik busur dan anak panah pun meluncur. Tetap Siwa tidak terusik. Datang Dewi Ratih menyusul, membantu kekasihnya. Berdua, dewa-dewi asmara ini, mengeluarkan segenap kesaktian mereka. Siwa terusik. Sang Siwa meledak marah. Asap tebal menyelimutinya, Siwa menjelma angkara, Siwa menjelma Rangda.)

Suara gamelan dan tabuh riuh, menggambarkan angkara yang menyelimuti Siwa. Rati, yang menjelma menjadi Ratih, dan penari Kamanjaya meliuk-liuk menarikan perseteruan. Penari Siwa bertopeng Rangda, menarikan kemarahan.

(Siwa menjelma angkara, Siwa menjelma Rangda. Dibakar olehnya pasangan kekasih ini, Kamanjaya dan Ratih, dengan mata ketiganya, hingga hancur raga mereka menjadi debu yang bertebaran. Lalu disabdakan oleh Siwa, jiwa keduanya akan tetap abadi. Menebar debu cinta ke seisi jagat raya. Menitis pada setiap pasangan di bumi dan di surga, menyatukan kembali abadi cinta mereka.)

Malam jadi sunyi. Purnama lampu sorot di langit panggung menambah suasana sunyi. Perlahan terdengar suara tembang diiringi bunyi seruling syahdu. Menembangkan syair janji cinta Kamanjaya dan Ratih.
…dan seperti yang telah digariskan,
debu cinta telah ditebarkan,
hingga pada suatu masa pada suatu tempat,
seseorang bisa begitu saja jatuh cinta,
kepada seseorang lainnya…
Syair dan suara suling melenyap sunyi. Cahaya meremang padam. Tinggal berkas cahaya obor melatar depan panggung.

DI PELATARAN PARKIR, MALAM HARI….
“Mbok Rati pulang menyetir sendiri?” Beberapa pria penabuh gamelan yang berpapasan dengan Rati menyapa sopan. Mereka lebih muda dari Rati, karena itu menyapanya dengan panggilan Mbok.

“Nggih, sendiri saja. Selamat malam semua,” jawab Rati.

“Malam, Mbok. Hati-hati.”

“Suksma,” jawabnya berterima kasih dalam bahasa Bali.

Rati melangkah keluar menuju pelataran parkir, melangkahkan kaki dalam gelap temaram. Dalam hatinya, Rati melafalkan kembali syair janji cinta Kamanjaya dan Ratih, janji cinta mereka pada seisi jagat raya.

Air mata mulai mengembang di sudut-sudut mata Rati. Ia hapus dengan punggung tangannya, seraya mencoba menepis keraguan yang mulai muncul pada dirinya. Keraguan yang lahir atas penantian yang tak kunjung berakhir. Ia coba membungkus sisa-sisa asa yang mulai merapuh oleh waktu. Mencoba untuk bertahan. Menanti terpaan debu cinta yang telah dijanjikan,
“… seperti yang telah digariskan, debu cinta telah ditebarkan, hingga pada suatu masa, pada suatu tempat, seseorang bisa begitu saja jatuh cinta kepada seseorang lainnya…”

CERPEN: Boneka Garam

memulai blogger baru ini, hari ini.... cerita di bawah adalah cerpen pertama gue (dan satu-satunya yang selesai sampai saat ini.. he..he..), inspired by my obsession of "boneka garam' story. silahkan dibaca, boleh dikritik... uhmm... but please consider that i'm just a beginner, your critics might kill this new 'seed' :-)

BONEKA GARAM

Andini pusing. Anaknya Mita, sedang mengajukan aksi mogok. Sepanjang hari, sepulang sekolah, ia mendekam saja di dalam kamarnya. Menolak untuk pergi les biola seperti yang biasa dilakukannya setiap Selasa dan Jumat. “Mita, hayo siap-siap.. Sudah jam setengah empat, nanti kamu terlambat lesnya.” Panggil Andini sambil mengetuk kamar anaknya.

“Gak mau les, ah…! Males…!” teriak Mita dari dalam kamar.
“Kamu kan sudah tidak les Selasa kemarin. Hari ini les dong. Kalau nggak les lagi, nanti gak bisa jago, lho.”
“Mita bosen! Mita pengen berhenti aja, Ma..!”

Andini akhirnya membuka pintu kamar anaknya yang ternyata tidak dikunci. Dilihatnya Mita sedang berbaring menelungkup di tempat tidur. Tangannya sedang memegang komik Asterix kesayangannya.
“Lho Mita.. Kok tiba-tiba kamu ingin berhenti les begitu. Ada apa, sih? Cerita dong, sama Mama.” Mita diam saja, tidak menyahut.

Andini duduk di tempat tidur sambil bertanya, “Kenapa? Apa gurunya galak?” Mita berbalik menghadap ibunya dan menggeleng. “Lalu kenapa? Mita lagi gak enak badan?, tanya Andini lagi sambil meraba kening anaknya. “Nggak! Mita bosen. Abis susah banget, sih! Mita gak bisa-bisa!”
“Lho, mita gak boleh gitu dong! Mita kan memang baru tiga bulan belajar biolanya. Justru supaya cepat bisa, Mita harus rajin-rajin latihan.”
“Mama kok maksa, sih! Pokoknya Mita gak mau les lagi”
“Mama gak memaksa. Dulu kan kamu sendiri yang mau belajar biola, terus minta biola untuk hadiah ulang tahun yang kedua belas kemarin. Baru tiga bulan belajar sudah mau berhenti. Tahun lalu kamu juga ingin ikut Marching Band. Eh, baru sebentar belajar, terus bosan. Kamu gak boleh cepat menyerah begitu."
“Pokoknya Mita gak mau dipaksa-paksa. Mita mau berhenti!”, teriak Mita. Matanya sudah mulai berkaca-kaca. “Yah, sudahlah, terserah Mita…! Mama tidak akan memaksa”.

Andini akhirnya menyerah. Ia keluar dari kamar anaknya sambil menghela napas. Ia bingung menghadapi anaknya yang semata wayang ini. Mita selalu begitu. Cepat tertarik dengan suatu hal, tetapi cepat pula merasa bosan. Padahal ia merasa bahwa ia sudah memberikan kebebasan pada anaknya untuk memilih hal-hal yang disukainya. Kalau ia hendak menuruti keinginannya pribadi, tentu ia akan memaksa Mita untuk belajar tari di sanggar yang dilatihnya sendiri. Tapi ia tidak pernah memaksakan keinginannya tersebut, sejak ia lihat Mita ogah-ogahan dilatihnya.

Pusing memikirkan Mita, Andini berbaring di tempat tidurnya sendiri. Tiba-tiba ia tersenyum. Aksi mogok Mita mengingatkannya pada diri sendiri ketika ia masih sangan kecil, kira-kira baru tujuh tahun. Waktu itu ia mogok menari, dan ia menangis karena merasa dipaksa oleh ibunya. Persis seperti Mita saat ini.

***************

Pikirannya pun melayang ke peristiwa yang terjadi hampir tiga puluh tahun yang lalu. Ia ingat ketika itu, ketika ia menangis, ayahnya menyuruhnya duduk di sebelahnya dan Andini kecil pun menurut. Ayahnya kemudian berkata, “Dini, ayah punya cerita bagus. Tapi kamu harus berhenti menangis dulu”, kata ayahnya sambil mengusap airmatanya. “Mau dengar, kan?, tanya ayahnya.

Tanpa menunggu persetujuannya, ayahnya meneruskan, “Ceritanya tentang sebuah boneka yang terbuat dari garam. Nah, boneka garam ini suatu hari pergi berjalan-jalan, jauuuuh sekali, menjelajah dunia. Akhirnya ia tiba di tepi laut. Kamu sudah sering lihat laut dan kamu masih senang kan kalau kita jalan-jalan ke laut?” Andini kecil sudah berhenti menangis dan ia mengangguk. “Nah berbeda dengan si boneka garam, ia belum pernah lihat laut. Baginya laut itu pemandangan baru yang luar biasa. Ia sangat terpesona dengan laut yang begitu luas dan biru, dengan ombak yang bergerak-gerak ke tepi pantai. Baginya laut berbeda dengan segala sesuatu yang pernah ia lihat sebelumnya.” Andini kecil mulai tertarik pada cerita ayahnya.

“Lalu dengan rasa penuh ingin tahu, si boneka garam bertanya kepada laut, ‘Siapakah kau?’ tanyanya. Mendengar pertanyaan dari boneka garam tersebut, laut tersenyum dan menjawab, ‘Masuk saja dan lihatlah sendiri!’. Kamu tahu apa yang dilakukan boneka garam itu setelah mendengar jawaban laut yang bisa bicara itu?”. Andini kecil menggeleng. "Boneka garam itu lalu menceburkan dirinya ke dalam laut. Karena ia terbuat dari garam maka ia pun larut. Semakin masuk ke dalam air ia pun semakin larut, sampai akhirnya tinggal segumpal saja, dan lama kelamaan ia benar-benar habis melarut. Tapi boneka garam itu tidak sedih, malah ia sangat bahagia. Kamu tahu kenapa ia bahagia”. Andini kecil menggeleng lagi. “Karena ia sebelumnya tidak tahu bahwa ia terbuat dari garam. Ia baru tahu hal itu setelah ia masuk dan larut ke dalam laut.”

Andini tersenyum. Betapa masih membekas diingatannya peristiwa itu. Sebenarnya pada waktu itu ia tidak langsung mengerti kaitan cerita ayahnya dengan keadaannya sendiri. Pada waktu itu ayahnya hanya mengatakan bahwa ia sebenarnya pandai menari. Pada dasarnya ia akui bahwa ia memang senang belajar menari bersama teman-temannya, dan menurut gurunya ia cukup pandai menari. Tetapi terkadang, sebagai anak kecil, ia sering merasa bosan. Ayahnya, pada waktu itu, mengumpamakan menari buat dirinya seperti laut bagi si boneka garam. Sama-sama suatu hal yang menarik dan menyenangkan. Ayahnya juga bilang, supaya ia bisa bahagia seperti boneka garam ia tidak boleh putus asa menari. Dengan cerita yang belum terlalu dimengertinya itu, ayahnya berhasil membujuknya untuk tetap menari. Setiap kali ia kembali merasa bosan, ayahnya mengingatkannya kembali dengan cerita boneka garam tersebut, “Katanya mau seperti boneka garam…”

Semakin dewasa, Andini semakin mengerti cerita ayahnya ini. Ia mengerti bahwa ia harus menemukan dirinya sendiri, dengan jalan menekuni dengan serius hal yang menarik baginya. Setelah mencoba berbagai hal baru yang menarik – menari, teater, dan sebagainya – ia menemukan bahwa saat-saat paling membahagiakannya adalah ketika ia menari. Bahkan kini, walaupun ia telah berkeluarga, menari tetaplah menjadi bagian dari hidupnya. Ah, betapa bijak ayahnya dulu.

****************

Andini kemudian bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan kembali menuju kamar Mita. Ia merasa harus membagi cerita tersebut dengan anaknya. Sesampai di kamar Mita, dilihatnya mata Mita masih merah akibat menangis. Andini pun duduk dan meraih kepala anaknya.

“Mita sayang, coba ke sini, dengar Mama sebentar. Mama tiba-tiba ingat cerita yang dulu pernah diceritakan kakekmu kepada Mama. Waktu itu Mama masih kecil sekali. Bahkan lebih kecil dari kamu. Waktu itu Mama juga sedang habis menangis karena merasa dipaksa latihan menari.” Mata Mita terbelalak tidak percaya, “Mama pernah menangis karena gak mau latihan menari?”
“Iya… Waktu itu kakekmu lalu bercerita tentang boneka garam. Kamu sudah pernah dengar?”. Mita menggeleng. “Ceritanya sih seperti dongeng saja, tapi bagus sekali. Ceritanya begini… Ada sebuah boneka yang terbuat dari garam, suatu hari ia berjalan-jalan mengelilingi dunia… jauh sekali ia berjalan…”

Bandung, 19 November 1996