Showing posts with label jakarta. Show all posts
Showing posts with label jakarta. Show all posts

Kupu-kupu Pagi

Pagi hari. Terang. Langit biru cerah, gak biasa. Di jalan, pemandangan yang biasa: Manusia yang (maunya) bergegas kerja. Wajah-wajah masih setengah mengantuk, membisu di balik kaca mobil. Motor-motor berdengung seperti sekawanan tawon. Suara klakson tak sabar. Biasa. Klise.

Tapi di suatu pagi yang terang dan tidak biasa, coba naikkan pandanganmu sejenak. Sekitar dua meter di atas barisan kendaraan di jalan. Agak ke tepi. Di antara hijau pepohonan. Ah, ya... mungkin dirimu tak seberuntung aku. Sepenggal jalan yang kulalui tiap pagi masih menyisakan deretan pepohonan yang ya... cukuplah. Ya, jadi jika dirimu masih cukup beruntung, cobalah mendongak sedikit pada ranting dan daun yang menaungi pingiran jalan. Berbahaya? Dalam gerak yang merayap seperti itu, rasanya sih cukup aman.

Nah, di suatu pagi dengan langit biru cerah, coba naikkan sudut matamu sejenak. Jika kau seberuntung aku, maka di sana kau akan melihat hal yang luar biasa. Ternyata ada keriuhan lain di atas sana. Kau akan melihat buanyaaak kupu-kupu berterbangan.

Sekawan kupu-kupu kecil bersayap kuning pucat terbang beriringan mengitari sebatang angsana. Dari pucuk yang satu ke pucuk yang lain. Dari ranting ke ranting. Dari pohon ke pohon. Kupu-kupu di hampir setiap batang pohon yang berbunga malu-malu tak pamer. Ada sepasang kupu-kupu bersayap hijau kebiruan yang cantik berkejaran di pucuk glodongan. Kupu-kupu kuning terang melayang merendah. Haha... kupu-kupu hitam terbang menyeberang jalan. Kupu-kupu kuning terang hinggap sejenak di helm kuning :)

Pagi yang menyenangkan. Bukan pagi yang biasa, pasti...

(catatan yang tertunda dari seminggu yang lalu)

Jalan Bercabang Dua

"Di dekat rumahku ada jalan yang lucu," katanya padaku tiba-tiba di tengah-tengah kebisuan kami. Lalu ia pun bercerita.

Ada persimpangan di jalur yang dilewatinya setiap pagi. Simpang jalan yang lucu. Sebuah jalur searah untuk tiga mobil kemudian memecah menjadi dua buah jalan yang lebih kecil, seperti huruf Y. Kita sebut saja kedua jalan yang lebih kecil itu, jalan baru dan jalan lama. Kedua jalan tersebut terbentang bersisian, berjarak sekitar seratus meter dan dipisahkan oleh deretan bangunan. Lucunya, setelah sekitar satu kilometer, ujung kedua jalan itu akan kembali bertemu. Dan di antara deretan-deretan bangunan yang memisahkan kedua jalan tersebut, kadang masih ada tanah lapang yang kosong, sehingga para pelaju di salah satu jalan bisa memandang ke jalan yang satunya lagi untuk membandingkan tingkat kemacetan. Hanya saja jarak masih terlalu jauh, sehingga sulit untuk bisa saling melambai tangan.

Tahun lalu, dan selama bertahun-tahun sebelumnya, ia selalu melewati jalan yang di sebelah kiri, yaitu jalan yang lama. Tentu saja, karena dulu jalan yang baru belum ada. Ketika itu, jalan yang lama selalu padat sewaktu ia melewatinya di pagi hari. Kendaraan harus lewat dengan tersendat-sendat. Kini, ia selalu memilih yang baru. Namanya juga baru, jalannya terasa lebih mulus untuk melaju. Padahal ia tahu, kedua jalan toh berakhir di satu ujung yang sama.

---

"Suatu hari, mendadak aku ingin mengambil jalan lama di sebelah kiri," jelasnya padaku.

Impulsif saja, katanya. Mungkin kangen suasananya, ia mencoba memberi penjelasan yang lebih rasional (atau malah gak rasional, ya?). Ia kangen orang-orang yang ada di sisi jalan yang itu. Di situ, katanya lagi, ada sebuah bangunan sekolah dasar. Ada bapak-bapak tua bertubuh kecil -- lengkap dengan papan rambu-rambu, topi, dan peluit -- bertugas tiap pagi menghentikan kendaraan sejenak untuk menyeberangkan anak-anak sekolah. Ada rumah sangat-sangat besar dengan pagar tinggi dan papan di gerbang bertuliskan: hati-hati banyak anak-anak. Ia bilang, kata orang-orang -- karena ia belum pernah melihat sendiri -- rumah itu adalah milik seorang kaya pemurah yang punya banyak sekali anak asuh. Lalu ada lagi sebuah rumah bergaya tahun tujuh puluhan berhalaman luas, dengan seekor anjing yang berlari-lari di sana. Yah, pokoknya ia mendadak kangen dengan semua itu. Terutama anak-anak sekolah dan bapak tua penyeberang jalan itu, tegasnya lagi.

"Tapi hidup itu lucu. Benar kata orang-orang itu. Hidup memang sungguh lucu," ia berkata sambil tersenyum samar dengan pandangan yang menerawang.

"Kau tahu apa yang lalu terjadi?" tanyanya kemudian yang tentu saja aku jawab dengan tatapan mana-aku-tahu-ya-kamu-kasih-tahu-dong.

Belum juga sampai separuh jalan, tiba-tiba ada pengendara motor yang melambai padanya dan memberi tahu bahwa ban mobilnya bocor. Yup, bocor blas, katanya. Ada dua buah paku menancap di ban kiri belakang kendaraannya. Paku yang sengaja disebar, terbuat dari jari-jari payung yang diruncingkan. Ranjau-ranjau yang sudah menemukan korbannya.

---

"Hidup itu lucu, kan?" Entah itu tanya atau pernyataaan yang minta dukungan.

Aku manggut-manggut. Iya. Hidup itu memang lucu. Selucu jalan bercabang dua di dekat rumahnya. Jalan yang, mau tak mau, harus dipilihnya jika ingin terus. Ia tak pernah tahu apa yang akan ditemuinya di cabang pilihannya. Pun ketika ia telah akrab dengan kedua jalan itu. Pun ketika ia tahu bahwa keduanya akan berujung pada satu muara yang tak beda.

"Kau tahu apa yang lebih lucu lagi?" tanyanya kembali yang -- sekali lagi -- tentu kujawab dengan tatapan mana-aku-tahu-ya-kamu-kasih-tahu-dong.

"Setelah ban gembos, aku baru sadar, kalau ternyata hari itu sekolah sudah libur. Tak ada anak-anak sekolah dan si bapak tua penyeberang jalan."

Setelah Liburan Panjang

Selasa pagi. Waktunya kembali bekerja. Bangun pagi dengan happy, mood gw lagi bagus. Libur panjang kemarin sangat menyenangkan. Main pasir dan ombak, berkejaran bertiga di sepanjang pantai, memandang wajah kecil yang ceria... ah... :)

Di jalan. Hari pertama kembali bekerja. Macet. Gak heran, deh. Semua orang kembali sibuk. Macet banget. Gak masalah. Soalnya mood gw lagi bagus.

Lihat di luar! Rumput-rumput di pembatas jalan mulai menguning. Kering. Tapi kemarau punya keindahannya sendiri. Ini saat daun-daun coklat melepas satu-satu dari ujung ranting. Lihat mereka terbang melayang pelan? Menari bersama angin. Mengapung di udara. Meliuk. Mengambang. Lalu jatuh perlahan di atas jalan.

Macet luar bisa. Sudah dua jam berkendara, belum separuh perjalanan dilewati. Tapi mood gw lagi bagus. Jadi, santai aja, ya. Toh, apa sih yang gw kejar?

Eh, kenapa motor di seberang jalan itu? Kok tiba-tiba oleng dan terbalik? Sebuah motor lain melambat dan pengendaranya turun membantu. Seseorang dari pelataran bangunan juga ikut menolong. Untunglah, sepertinya semua baik-baik saja. Dan ya, mood gw lagi bagus.

Hey, itu bukan daun, yang melayang-layang di atas mobil di depan. Itu kupu-kupu hitam putih. Sayapnya tidak mengepak. Hanya membentang, mengapung di atas angin. Gak heran gw sempat salah sangka. Tuh, kan. Kupu-kupu itu sedang pura-pura jadi daun gugur :p. Mengepak sesekali untuk terbang naik, lalu kembali mengambang di udara, mengikuti geliat-geliut angin.

Wow, sudah tiga jam. Masih di sini-sini aja. Hey, tapi mood gw lagi bagus. Itu papan pengumuman berwarna kuning, yang bertuliskan "maaf-perjalanan-anda-terganggu-ada-pekerjaan-busway", gak boleh merusak mood gw.

Baca, baca buku lagi aja, deh. Toh jalan merayap kayak siput. Baca buku tebal yang sudah beberapa hari nongkrong di mobil. Buku cerita pendek-pendek tentang dunia yang bijak dan indah. Tumben nih, bisa selesai sampai tiga bab sekaligus.

Hmmm... mesin mobil makin panas. Pendingin udara harus dimatikan sesekali, supaya suhu mesin kembali normal. Udara di luar (dan di dalam) terasa semakin bikin gerah. Keringat mulai membasahi ketiak. Untung deh tadi gak pake baju tebal. Hahaha, ya, mood gw masih bagus, kok.

Tiga setengah jam lebih. Akhirnya sampai di perempatan jalan itu. Oh ternyata, kalau jam segini, Nano dan Pepen sudah tidak ada. Mungkin mereka mangkal di tempat lain yang lebih strategis.

Empat jam. Akhirnya sampai juga. "Hey, harusnya elo udah nyampe Bandung, tuh!" Tawa menderai, "iya nih... eh, sebentar lagi udah waktunya makan siang, ya?" Untung mood gw lagi bagus...

Sore ini...

Hampir pukul enam sore. Sepi. Benar-benar sepi. Semua sudah pulang. Ditemani secangkir kopi.

Meja berantakan. Sudah waktunya sedikit dirapikan. Walau akan kembali berantakan dalam waktu dua hari. Ah, nanti-nanti saja, deh...

Di luar, Jakarta badai. Hujan deras. Langit hitam. Meretak oleh kilat.

Suara. Derung komputer. AC. Klakson mobil tak sabar di kejauhan. Gemuruh langit.

Benar-benar hampir pukul enam sore. Lampu dan dingin udara akan padam. Pilihan. Segera berkemas dan bergabung dengan barisan kendaraan. Atau menunggu sejenak dengan ditemani remang lampu meja.

Aih, besok long week-end lagi...

Pasar Malam 2

Ini foto-foto pasar malam kemarin. Untuk baca keterangannya, silahkan arahkan cursor pada fotonya.


namanya juga pasar, banyak yang jualan macam-macam, dari baju, vcd, mainan, alat-alat tukang. segala ada, deh. para penjual ini rupanya ikutan keliling juga.kincir angin atau bianglala gaya pasar malam. dijalankan dengan tenaga listrik dari diesel. karena kecil, putarannya lumayan cepat. lumayan bikin saya mual :pobin, ditemenin mbak tini, seneng banget naik pesawat. pesawat mainan ini sudah bertenaga diesel.

komidi putar a la pasar malam. lihat laki-laki yang berdiri di sisi kiri? ia adalah salah satu 'tenaga pendorong' mainan ini.rumah hantu. gak sempat lihat dalamnya karena keburu tutup.kelana, tertulis di loket tiket komidi putar. itu adalah nama rombongan hiburan keliling ini. harga tiket masing-masing permainan, Rp 2500,-

kerak telor. hm.... sedap...apa sih namanya permainan ini? kalau di dufan, namanya ontang-anting. cuma yang di pasar malam ini, diputar dan diayun dengan tenaga manusia.untuk naik, harus pakai tangga yang dipegangi oleh mas-mas penjaga.

pemandangan pasar malam, dilihat dari atas bianglala.obin dan om-om penjaga komidi putar

Pasar Malam

Tempat kami tinggal, berada di pinggiran selatan Jakarta. Tinggal di pinggiran, membuat kami cukup beruntung, masih bisa mengecap hal-hal yang mungkin sudah tidak ditemukan di belahan lain Jakarta yang lebih 'kota'. Salah satu di antaranya adalah Pasar Malam.

Pasar Malam ini adalah sekelompok penyelenggara hiburan yang secara berkala berkeliling dari satu tempat ke tempat lain. Mereka biasanya memanfaatkan lapangan bola, kebun kosong, atau pelataran parkir stasiun kereta-api; seperti yang mereka lakukan di dekat tempat kami tinggal.

Sudah lama saya memendam keinginan untuk pergi ke Pasar Malam ini. Namun, biasa deh, saya terlalu malas. Hingga beberapa waktu yang lalu, ketika saya melihat rombongan ini kembali mampir di stasiun kereta dekat rumah... pagi-pagi sedang membongkar peralatan dan membangun tenda-tenda mereka... bulatlah tekad saya untuk mengunjunginya segera...

(foto-foto pasar malam, menyusul... )

Dari Suatu Pagi

Pagi. Terlambat bangun. Bergegas. Mengantuk.

Jalan sungguh padat. Ada anak laki-laki berseragam sekolah menggandeng sepedanya diseberangkan sang ayah. Sampai di seberang, tepukan di bahu, lambaian tangan, sepeda dikayuh pergi.

Menguap.

Jalan sungguh padat. Berjejalan kendaraan di persimpangan jalan. Ada laki-laki pembawa arang. Mengayuh sepeda terselubung bungkusan arang, terjepit di antara mesin berderu penghasil asap.

Menguap.

Jalan sungguh padat. Tak ada percakapan menarik dengan teman seperjalanan. Sama-sama bosan.

Menguap.

Jalan sungguh padat. Membaca lembar-lembar yang masih harus dibaca. Mengingat-ingat apa yang perlu diingat. Mereka-reka apa yang akan direka.

Menguap.

Jalan sungguh padat. Satu setengah jam. Akhirnya... sampai juga.

*Cuma selingan dari suatu pagi yang biasa.

Andai tidak ada kendaraan bermotor...

Beberapa hari yang lalu seorang teman mengemail gw, menyampaikan woro-woro acara Car Free Day. Hi, you ;). Katanya, hari Minggu ini, 21 September 2003, sepanjang Jl. Sudirman – Thamrin – Jakarta, akan ditutup bagi kendaraan bermotor, kecuali kendaraan umum. Di ruas jalan itu, akan diadakan berbagai kegiatan: aerobik, sepeda santai, pentas musik, bazaar, lomba gambar & berbagai permainan untuk anak, sepak bola jalanan dan lain-lain. Menurut informasi, acara ini dalam rangka Hari Tanpa Kendaraan Bermotor Sedunia (World Car Free Day) dan tujuannya antara lain untuk menyadarkan masyarakat Jakarta bahwa kondisi udara di kotanya sudah sangat mengkhawatirkan -- terutama disebabkan oleh asap knalpot kendaraan bermotor.

Hm… jadi mikir. Udah berapa tahun gw hidup di kota ini? Sekitar dua pertiga dari hidup gw, bisa dibilang. Berarti sekitar 20 tahun. Dulu, waktu gw belum berani nyetir sendiri, kemana-mana gw naik kendaraan umum. Salah satu hal yang paling gw sebelin dari naik kendaraan umum ini, selain desak-desakkannya, adalah polusinya. Kalo gw naik kendaraan umum kan berarti gw harus nunggu dulu di halte, atau di pinggir jalan. Kadang harus jalan dulu, harus nyebrang jalan, dsb. Untuk itu, gw gak akan bisa menghindar dari yang namanya asap knalpot. Duh tuh asap knalpot… gak tahan banget deh gw…

Karena suatu hal yang bikin gw kepepet, akhirnya gw berani juga nyetir mobil. Sejak saat itu, good bye deh tuh bis, patas, dan kereta jabotabek. Bye-bye asap knalpot… Biar pun kaki pegel nginjek kopling-rem terus, gw lebih rela deh. Cuma ironisnya, dengan gw bawa mobil sendiri, berarti gw juga udah menjadi penyumbang asap knalpot seperti yang lainnya… Kok jadi lingkaran setan sih… *sigh*

Balik ke Hari Tanpa Kendaraan Bermotor ini, ya sepertinya kita memang harus terus diingatkan, bahwa kita perlu memperhatikan kualitas udara yang toh kita juga yang menghirupnya. Seandainya car free day ini tidak hanya terjadi satu hari saja, ah betapa senangnya…

---

Car Free Day. Meriahkan acaranya. Tinggalkan mobil dan motor anda di rumah! Gunakan kendaraan umum atau sepeda untuk bergabung ke Bundaran HI. Kapan lagi bisa bermain-main di jalan raya, bersepeda, bermain skateboard, bermain layangan, seperti halnya di masa kecil dulu, ketika jalan raya belum sepadat sekarang ini. Klik di sini untuk tahu detailnya.

Catatan Senja



di setiap paruh senja yang sama
di belah jalan yang itu juga
selalu aku bersesimpang
dengan sekawanan burung terbang

aku dan burung terbang
sama-sama pulang
ke sarang

Suatu Sore di Jakarta

Seorang lelaki, dalam perjalanan pulang dari kantornya. Rumahnya di selatan Jakarta. Tiap sore ia hanya perlu mengendarai mobilnya sejauh dua puluh tujuh kilometer. Namun perjalanan itu akan menghabiskan waktunya paling tidak satu setengah jam. Kepadatan lalu lintas sudah menjadi hal yang biasa di kota ini. Penat telah jadi rutinitas. Sebuah rutinitas yang melelahkan.

Pikiran lelaki itu menerawang. Hari ini amat melelahkan. Hari ini bawahannya telah membuat kesalahan yang cukup fatal. Sepanjang hari ini harus ia habiskan untuk membereskan masalah itu saja. Pukul enam tiga puluh dua, lelaki itu telah meninggalkan kantor. Saat ini, dilihatnya jam tangannya telah menunjukkan pukul tujuh tepat. Pikirannya menerawang kembali. Terbayang olehnya wajah anak lelakinya. Betapa sudah lama ia tidak bermain bersama anaknya. Pasti saat ini anaknya sedang dininabobokkan oleh istrinya di kamar. Pasti ketika ia sampai di rumah kelak, anaknya telah pulas tertidur. Terbayang oleh lelaki itu tatapan istrinya sesampainya di rumah. Walaupun istrinya akan menyapa dengan ramah, ia selalu merasa dapat menangkap sirat tatapan mata istrinya. Tatapan mata yang seakan setengah menyalahkan dirinya dan setengah lagi memohon agar ia dapat meluangkan waktu lebih banyak untuk keluarga. Sesuatu yang ia pun sangat menginginkannya.

Lelaki itu tiba-tiba tersadar dari lamunannya. Disadarinya kaca mobil mulai terlihat kabur, dipenuhi oleh butir-butir halus air hujan. Cahaya lampu mobil dari arah yang berlawanan menjadi lebih menyilaukan. Ah, sial! Dinyalakannya wiper mobilnya. Dalam hati ia masih mengumpat hujan yang turun. Hujan berarti perjalanan pulangnya akan jauh lebih lama lagi. Ia tidak habis pikir kenapa hujan gerimis saja dapat menambah kemacetan di kota ini sedemikian rupa.

Mobilnya berjalan makin enggan, sesekali bahkan terpaksa berhenti bergerak sama sekali. Hey, mengapa truk di depan tidak juga jalan, sadarnya. Sementara kendaraan-kendaraan di lajur kirinya sudah mulai berjalan lagi. Hey, kenapa sih? Dibunyikannya klakson mobil karena tidak sabar. Namun truk itu tidak bergeming sedikit pun. Sial! Mogok mungkin? Dilihatnya jarak antara mobilnya dan truk itu sudah terlajur rapat. Dilihatnya pula dari kaca spion, mobil sedan di belakangnya juga berjarak sangat dekat. Damn!! Tidak mungkin lagi untuk pindah jalur. Dilihatnya lagi truk di depannya. Di atas bak truk yang tidak berisi barang tersebut, berdiri tiga orang laki-laki, mungkin kenek atau buruh. Tiga lelaki itu berdiri merapat ke sisi kiri bak sambil melihat ke pinggir jalan. Seseorang di antara mereka berseru dan menunjuk pada sesuatu di pinggir jalan itu.

Lelaki di dalam mobil itu makin geram. Kembali dibunyikannya klakson mobilnya. Heh, kalau truk kalian mogok, kenapa kalian tidak segera turun dan melakukan sesuatu? Hampir saja ia membuka kaca jendela, untuk memaki, ketika dilihatnya seorang lelaki berlari ke arah truk dan segera dibantu naik oleh lelaki yang di atas truk. Lelaki yang berlari itu membawa bungkusan kecil yang kemudian dibagi-bagikannya kepada teman-temannya. Apa yang mereka lakukan? Lelaki di dalam mobil itu terpana.

Truk itu pun kemudian berjalan lagi. Dan rasa kesal lelaki di mobil itu memuncak, menyadari bahwa ia harus berhenti karena menunggu seorang kenek truk yang membeli sesuatu di warung pinggir jalan. Shit!! Sambil kembali menyetir diamatinya para kenek truk itu membuka bungkusan kecil yang dilihatnya tadi. Apa itu? Apa yang mereka beli? Apa yang membuatku harus menunggu? Namun apa yang kemudian dilihatnya membuatnya semakin terpana.

Ia melihat empat orang kenek berdiri di atas bak truk yang kosong.
Ia melihat empat orang kenek membuka baju kaos mereka,
kemudian bertelanjang dada.
Ia melihat empat orang lelaki sedang mandi hujan sambil mencuci rambut mereka.
Ya, ia melihat empat orang lelaki dewasa,
di atas truk kosong yang berjalan di bawah curahan air hujan,
sedang b e r k e r a m a s dengan gembira.

Lelaki di dalam mobil itu tertegun. Terpana. Ternganga.
Tak lama kemarahannya pun sirna. Hilang. Lenyap.
Seperti busa-busa shampo yang hanyut diguyur air hujan yang semakin deras.

PELANGI

Sore hari, di sebuah jalanan padat di Jakarta, hujan turun rintik. Sementara matahari sore masih bersinar terang. Ah... bukankah di saat-saat seperti ini, alam menghadiahkan pemandangan indahnya buat kita? Saat butir-butir air membiaskan spektrum-spektrum cahaya, merangkai membentuk lengkungan warna-warni alam.

Pelangi? Di manakah pelangi? Ingin aku melihat pelangi lagi setelah entah kapan terakhir menyaksikannya. Di manakah pelanginya? Seharusnya ia ada di sebelah kiri jalan ini, karena matahari ada di kanan. Namun di mana bersembunyinya di antara gedung-gedung kaca ini?

***

Berbicara tentang pelangi, kuingat seseorang pernah meminta padaku:

Buatkan aku dua lukisan cat air. Satu lukisan warna-warni pelangi. Satu lagi lukisan kusamnya campuran seluruh warna. Akan kupajang keduanya berdampingan. Ini untuk selalu mengingatkanku bahwa hidup bagaikan warna-warni sekotak cat air. Kita yang menentukan bagaimana lukisan dari warna-warni itu. Kalau kita menata warna-warni tersebut dengan baik, akan tercipta indahnya pelangi. Kalau kita mengkacaukannya, mencampur-adukkan semua, yang ada hanyalah warna suram kecoklatan.


***

Ah, pelangi. Kuingin lihat pelangi...

Matahari mulai menghilang. Aku masih di jalanan yang sama, dengan kemacetan yang sama. (9 April 2003)

Jamur

Kadang-kadang hal kecil yang tidak berarti bisa membuat saya merasa begitu gembira. Terkadang saya sampai terkagum-kagum, saya dengan mudahnya bisa gembira oleh hal-hal aneh ataupun biasa yang tidak ada artinya.

seperti halnya beberapa hari yang lalu,
di suatu sore hari di Jakarta,
sebatang jamur
bisa membuat saya merasa gembira....


Sore itu dalam perjalanan pulang menuju rumah, hujan turun dari langit Jakarta. Suatu sore hari yang penuh sesak di jalan Rasuna Said. Kendaraan pun tersendat-sendat bergerak perlahan. Dengan kendaraan yang maju dengan enggan itu, saya pun terpaksa harus menikmati apapun pemandangan yang ada. Rintik-rintik hujan, wiper mobil yang berderik-derik, pejalan kaki yang berlari-lari kecil menyeberang jalan, pengendara lain yang jika saya beruntung terkadang cukup menyenangkan untuk dilirik, tanaman yang ada di pembatas jalan, semuanya. Terkadang pula di saat seperti itu, melamun merupakan pilihan yang lebih menyenangkan.

Maka di sore itu, di tengah-tengah lamunan, tak sengaja terlihat oleh saya sebatang jamur yang tumbuh di sela-sela rumput pembatas jalan. Sebuah jamur berbentuk payung. Ya, jamur berbentuk payung. Bukan jamur berbentuk kuping, atau jamur yang berbentuk abstrak yang menempel di kayu, atau jamur-jamur lain yang saya tidak pernah tahu namanya. Tepatnya bukan hanya sebatang. Kira-kira ada empat batang jamur payung, tumbuh di suatu sudut di sela-sela rumput pembatas jalan Rasuna Said. Payungnya pun belum lagi mengembang, warnanya putih kecoklat-coklatan, tumbuh segar di bawah siraman hujan sore hari itu. Sejenak teringat akan lagu yang sering saya nyanyikan untuk putra tersayang ketika menikmati hujan bersama ... seperti jamur yang tumbuh subur disirami hujan rintik-rintik...

Tidak bisa saya jelaskan mengapa jamur itu membuat saya merasa gembira sore itu. Tidak bisa saya jelaskan kenapa. Yang jelas sepanjang sisa perjalanan, saya gembira. Macet dan penat tidak lagi terasa.

sebatang jamur
sengaja saya tulis
agar suatu saat nanti saya akan ingat
terkadang hal-hal kecil yang tidak berarti
bisa membuat saya merasa begitu gembira.


... and you, what's small thing that makes you happy lately?

Planetarium Report

Akhirnya kesampaian juga cita-cita saya untuk ke planetarium lagi. Thanks buat teman-teman yang sudah bersedia menemani :-)

The Gathering
Sabtu, 8 Februari 03, siang, satu-persatu calon penonton planetarium bermunculan. Di halaman parkir TIM, saya bertemu my sister, yang ternyata jadi terinspirasi untuk membawa 3 keponakan saya menonton. Kemudian saya bertemu dengan Detta, Erly, Rhe dan dua temannya. Setelah membeli tiket sebentar, kemudian kami bergabung dengan Okke dan Irini yang sedang menunggu satu orang temannya di pintu masuk.

Okke.. hihi... bener tampang lu galak. Kalo dikau gak cengar-cengir duluan, pasti gue gak berani negur ... Detta, gimana, u'r hubby curiga gak? hihi.. naughty lady.. ngakunya ke salon...

The Show
He he he... kayaknya kita salah milih hari deh. Ruangan lobby planetarium, tempat kami menunggu pertunjukkan, sudah penuh dengan rombongan anak-anak SD dengan seragam pramuka. Tidak lama kemudian datang lagi satu rombongan anak SMP dengan seragam batiknya. Huhuy.. buat neng Nita, rugi gak jadi datang. Kalau datang kan Nita bisa bernostalgia dengan kisah romantis jaman SMP dulu...hihihi

Jam 2 siang, tangga untuk naik ke ruang pertunjukkan di atas dibuka. Malas berdesak-desakkan dengan anak-anak itu, kami berlambat-lambat naiknya... dan keapesan pun dimulai. Sampai di dalam ruangan... hallooo .. kok tempat duduknya udah penuh semua....???? Wahhh curang mereka jual tiketnya lebih dari kapasitas tempat duduk seharusnya. Akhirnya kita pun duduk di kursi tambahan dari plastik dan selama pertunjukkan pun terpaksa duduk mendongak. Huhuhu.. leher jadi pegel deh..

Did I ever say that you can get the tranquility feeling, the peace of mind, etc.. etc...there? Ho ho ho, sorry guys, you can't got those feeling yesterday :-). Sebaliknya pertunjukkan kemarin terasa meriah sekali, dengan riuh-rendah suara anak-anak sekolah itu dan beberapa kali tepuk-tangan massal selama pertunjukkan. Berbeda sekali dengan pengalaman terakhir saya ke sana beberapa tahun yang lalu, sepi dan adem. Kali ini saya menganggap pertunjukkannya terasa lama, padahal dulu saya merasa waktu pertujukkannya kurang. Entah apa karena memang lebih panjang waktunya, atau karena tempat duduknya dan suasananya yang kurang nyaman, atau karena pertujunjukkannya sendiri yang kurang asyik. Satu lagi yang menggangu.. huhuhu.. itu lho naratornya. Mungkin karena banyak penontonnya, dia jadi semangat melucu, namun sayangnya kurang lucu. Terus terang sih, saya pribadi lebih senang bila porsi latar belakang musiknya lebih banyak daripada ceramah ilmiahnya.

Pertunjukkan kali ini bertajuk Penjelajah Kecil di Tata Surya, seingat saya berbeda dengan yang pernah saya tonton sebelumnya. Kali ini terasa penekanannya yaitu pada benda-benda 'kecil' yang menjelajah tata surya, seperti meteor, komet, dan asteroid. Mereka adalah benda-benda 'kecil' di angkasa luar yang bila dalam pergerakannya (periodik ataupun anomali) bersinggungan dan gagal dihancurkan oleh atmosfir bumi kita, bisa saja menenggelamkan satu benua. Untuk sejenak waktu saya jadi merasa begitu kecil di tengah jagad ini.

Saya juga sangat menikmati gambaran mengenai hujan meteor. Hujan meteor itu bagus ya? Pantas saja ia menjadi inspirasi film-film romantis seperti Meteor Garden dan Meteor Rain :-) Hujan meteor ini seperti 'bintang jatuh', tapi banyak jumlahnya dan arah datangnya seolah dari satu titik. Hmm... kira-kira seperti percikan kembang api. I wished I can see the real meteor rain someday.

O ya satu hal lagi saya selalu terkagum-kagum dengan orang-orang jaman dulu (bangsa Yunani etc). Mereka kok bisa-bisanya ya menciptakan gambaran rasi-rasi bintang itu. Dengan imajinasi mereka bisa merangkai titik-titik bintang yang berserakan itu menjadi berbagai figur, kalajengking, dewa yang memegang busur, dewi menuang air, dsb, dsb. Buat saya menghayal dan menamai bentuk-bentuk awan adalah hal yang sangat mudah. Tapi untuk bisa memperoleh suatu figur dari serakan beribu bintang-bintang, itu benar-benar pekerjaan seorang penghayal ulung!!!

Akhirnya, pertunjukkan kemarin gak sepenuhnya bikin kesal. Cukup memuaskan dahaga saya untuk memandang langit penuh bintang. Adapula spot-spot yang cukup menyenangkan selain meteor rain itu, misalnya ketika hanya musik yang melatari langit penuh bintang (sayangnya yang seperti ini singkat sekali). Atau ketika langit disimulaikan 'bergerak' sehingga saya merasa makin kecil dan tidak ada apa-apanya dibanding semesta yang seakan-akan bergerak itu. Namun saya mencatat, bila saya ke planetarium lagi, saya tidak akan memilih hari Sabtu, Minggu, atau hari libur lainnya. And I will bring my own music :-)

After the Show
Setelah pertunjukkan selesai, kami bertemu dengan Ollie dan Erwin, yang terlambat datang. Foto-foto sebentar. Sorry, fotonya menyusul ya, gue lagi ada kesulitan mengupload, karena dirumah sekarang lagi gak bisa online. Detta gak lama kemudian pamit. Buru-buru amet, Dett ;-) Akhirnya diputuskan untuk ngobrol-ngobrol sebentar (sambil menemani saya makan siang.. maaf laper banget). Chat.. chit.. chut.. chat.. chit.. chut.. ngobrol ngalor ngidul. Ngobrolin tentang blog-blog lain pasti dong jadi topik utama. Dan ternyata ketahuan bahwa Erly itu satu esde sama Erwin (what a small world?). Okke dan teman-temannya lalu diculik oleh Tresia, untuk melanjutkan acara mereka di tempat lain. Gak lama kemudian rombongan kecil 'planetarium' ini pun bubar.

Thank you guys... nice to meet you all....

UPDATE: Baca juga report oleh Ollie dan Irini . Juga oleh Okke dan Detta :-)

Ke Planetarium Bareng, Yuk!

hihihi.. berasa dejavu gak sih???
tapi yang kali ini, mudah-mudahan jadi beneran, kalo gak ada halangan.



yuk mari nonton bintang bareng di Planetarium
pada
hari Sabtu
tanggal 8 Februari 03
jadwal pertunjukkan 14.00 wib
waktu berkumpul sekitar 1 jam sebelum pertunjukkan (13.00 wib)
tempat berkumpul di depan toko buku Bang Yose Rizal
dan bayar sendiri-sendiri lha ya...

...

panitianya: gue, rhea, dan erly (ya kan???)
bintang tamu: okke
yang lain yang mau ikut
silahkan daftar di comment box atau email gue ya!
boleh ajak temen, sodara, suami, anak, istri,
tetangga seRT, sekampung silahkan...
(mudah-mudahan semua bisa dapet tiketnya hi..hi...)


Alamat:

PLANETARIUM DAN OBSERVATORIUM JAKARTA
Taman Ismail Marzuki
Jl. Cikini Raya 73 Jakarta Pusat

Ke Planetarium Bareng, Yuk!


Setelah berbincang dan 'berbincang' dengan beberapa bloggerian, akhirnya gue beranikan diri untuk mengajak siapa yang mau, bersedia, punya waktu, punya kesempatan untuk nonton bintang bareng di Planetarium.
pada
hari Sabtu
tanggal 25 Januari 03
jadwal pertunjukkan 14.00 wib
waktu berkumpul sekitar 1 jam sebelum pertunjukkan 13.00 wib
tempat berkumpul di depan toko buku Bang Yose Rizal
dan bayar sendiri-sendiri lha ya...


Gue pilih Sabtu jam 2 siang, karena menurut gue ini waktu yang paling memungkinkan untuk banyak orang. Soalnya kan ada yang gak bisa bolos dari kantor pas hari kerja (gue.. he...he..), ada yang siap-siap mau ngepel eh ngapel kalau Sabtu sore, dan hari Minggu pasti untuk keluarga dong ya...

***

Oke... yang berminat ikut diharap daftar melalui comment box gue
(silahkan penuhi-penuhin deh comment box gue...hehe)
morningdew, rhea, weedee, grizz, cest-lavie, hayuk daftar!!!!
erly, kali ini serius: mau ikutan nonton gak???
khusus untuk erly nanti nonton awan, burung aja.. :-P
slesta, okke, enda, nita, ninit, aprian mau ikut juga??? boleh.... :-)
yang lain juga boleh kok....

Jadwal lengkap dan keterangan lain bisa dilihat di sini

ditunggu ya!
tiada kesan tanpa kehadiran anda :-P

oya.. kalo ada saran-saran lain juga masih dipertimbangkan



update on 3.30 pm:
sorry... waktunya masih perlu dibahas nih...
silahkan maunya yang mana nih???
sabtu tanggal 18 jan, 25 jan, atau 1 feb?
atau ada saran lain?? jamnya yang perlu diubah?
atau hari minggu aja? please...



So this is my new posting,
and there will be no other posting until we visit the planetarium :-P

Tempat Paling Indah

inspired by this lady


Jakarta is tense, Jakarta is a city of some ten million inhabitants, Jakarta is an incongruous mixture of gleaming tower blocks, Jakarta is unable to deal with all its garbage, Jakarta is a really crowded city, Jakarta is running; those are what googlism says about Jakarta.

But there's a very beautiful place there...
somewhere at the heart of Jakarta...
do you know that place?


Dulu waktu masih kecil rasanya pernah ke tempat itu, namun tidak ingat pasti, uhm..mungkin juga belum pernah. Sometimes dreams and realities bewildered. Kunjungan 'kembali' ke tempat itu, adalah sekitar 4 tahun yang lalu, ikut menemani bocah-bocah. Setelah itu sepertinya telah ada dua kali lagi kunjungan 'kembali'.

Tempat terindah itu benar-benar memukau. Rasanya benar-benar seperti sebuah oase di tengah hingar-bingarnya kehidupan Jakarta. Ketika kita berada di sana, kita akan lupa bahwa kita berada di kota padat ini. There you can feel the tranquility, serenity... There for a while you can get a peace of mind... Do you know that place?

Waktu sekitar satu jam di tempat itu terasa begitu singkat. Rasanya ingin meminjam tempat itu seharian penuh untuk beristirahat, mengisi hari dengan angan dan imajinasi. Rasanya ingin pergi ke sana untuk mengantar tidur malam: berbaring, memandang langitnya, memandang bintang-bintangnya, berhayal, dan kemudian jatuh tertidur lelap. ehmm... nyamannya.... do you already find a clue??

Tempat itu adalah tempat terindah yang termurah...hanya tiga ribu lima ratus rupiah saja :-).

Dew, actually a day before new year,
when our office unexpectedly sent us home half day,
I went to that place.
I thought it's time to spoil my self.
Silly me, the show was still three hours later.
Instead, I bought my self a book,
at a little book store around the corner.

Wajah Nan Akrab, Tak Dikenal

Saya termasuk dari sejumlah besar manusia-manusia Jakarta yang tenggelam dalam kehidupan yang begitu rutin. Pagi hari berbondong-bondong meninggalkan rumah, berdesak-desakan di jalan, di kendaraan umum, di stasiun, di terminal, menuju tempat mencari nafkah. Di sore hari kembali berdesak-desakan kembali ke rumah masing-masing.

Hidup rutin kita, manusia Jakarta, secara tidak sengaja saling bersinggungan. Lucunya kita tidak saling mengenal. Namun rutinitas dari hari kehari, dari bulan ke bulan, tahun ke tahun, membuat kita dapat mengenali wajah-wajah tertentu yang kemudian jadi terasa begitu akrab - namun tetap tak dikenal.

Buat saya, wajah ini adalah wajah si Ibu tukang sapu di perempatan Mampang. Di pagi hari, saat saya berpas-pasan dengannya biasanya adalah saatnya ia sudah menyapu seperempat dari bagiannya. Si ibu berperawakan agak gemuk pendek ini, hanya kulit wajahnya yang hitam saja yang terlihat. Seluruh tubuhnya tertutup seragamnya yang biru muda ditambah kerudung, helm kerja, dan sepatu bot, untuk melindunginya dari sengatan matahari dan debu jalan. Sesekali tampak giginya yang putih, menyembul di antara senyum senangnya pada kendaraan yang melambatkan diri untuk memberinya sesuatu, terkadang uang terkadang makanan. Hmm... ternyata bukan saya seorang saja yang merasa 'akrab' dengan si Ibu tukang sapu.

Wajah-wajah ini terkadang juga sedemikian akrabnya, sehingga ketika mereka tiba-tiba tidak hadir dalam rutinitas kita, kita merasa kehilangan. Di perempatan Mampang juga, biasanya ada seorang pengemis laki-laki dengan wajah yang selalu tersenyum. Ia biasanya menepuk-nepukkan tangan, tanpa bernyanyi atau berkata apa-apa, di muka jendela kendaraan beroda empat. Wajahnya menampakkan kecerdasan yang kurang, tapi senyumnya yang sangat ramah selalu dapat meluluhkan hati para pengendara untuk memberikannya sekedar seratus rupiah. Senyumnya bagi saya, seperti sebuah kesegaran di tengah kepadatan dan kekesalan. Namun, sudah beberapa tahun ini saya tidak lagi pernah melihatnya. Saya tidak tahu kemana ia pergi, atau karena apa, yah.. karena saya tidak pernah mengenalnya.
...
Bagi saya, wajah akrab ini adalah wajah si pak ogah di putaran 'kampus tercinta', tempat saya memotong jalan tiap pagi hari. Wajah ini juga saya temui di sore hari, pada wajah si pengemis laki-laki cilik yang sekarang tengah beranjak remaja, di perempatan super macet TB Simatupang. Wajah ini adalah wajah si penjual "apa-saja-tergantung-musim" yang agak gondrong di sekitar perempatan Kuningan - Gatot Subroto, di sore hari. Juga wajah si pengamen wanita dengan gitarnya di Kuningan, yang sekarang sudah mulai banyak juniornya.

Wajah-wajah itu demikian akrabnya buat saya... tapi saya tidak pernah mengenal mereka...

UPDATED on Thursday, 21 Nov 02, morning ---------------------

Pagi ini saya, seperti biasa terlambat lagi berangkat dari rumah. Ketika sampai di perempatan Mampang, seperti biasa saya mengambil jalur paling kanan, menunggu lampu hijau nyala kembali. Mobil ke dua di depan saya melambai memangil si Ibu tukang sapu. Si ibu mendekat dan tersenyum seperti biasanya. Saya juga ikutan senyum sendiri... dan hey.. si Ibu berjalan ke arah saya, melihat saya tersenyum, ia membalas senyuman saya.. begitu ramah!! Gosh... suddenly I felt today is gonna be very bright for me...

Dan saya mendadak inget sepotong dari lagu Accidently Kelly Street dari Frente:
accidently kelly street
where friends and strangers sometimes meet...
accidently kelly street
i never thought life could be so sweet...

Googlism

Googlism.com will find out what Google.com thinks of you, your friends or anything!

I just find out another amazing thing on Google. It's called Googlism. Let's check!

Who am I ? Who is Ninoy?
(wah.. ternyata semuanya tentang ninoy aquino)
ninoy is a looming giant in our struggle for freedom and democracy
ninoy is my hero
ninoy is in perfect happiness in heaven
ninoy is typical kapampangan always in a hurry
ninoy is a political blasphemy
ninoy is about to rise from the grave to give you and kris the boot
ninoy is enough for me
ninoy is led by goverment officials through airport lounge and waiting plane to the us
ninoy is still correct even unto this day
ninoy is still alive
ninoy is a graduate of university of the philippines college of fine arts and he started out in advertising
ninoy is a big insult to aquino's martyrdom

what google think about jakarta
(Ternyata Jakarta ngetop juga di google....ada lebih dari 80 entry untuk jakarta, gue pilih beberapa aja yang menarik)
jakarta is high on octane
jakarta is a mean
jakarta is safe
jakarta is tense
jakarta is a city of some ten million inhabitants
jakarta is a true melting pot of culinary tastes
jakarta is a city of contrasts; the traditional and the modern
jakarta is the capital and largest city of the southeast asian nation of indonesia
jakarta is not different from cities all over the globe
jakarta is a city of many facets and each facet is as much fascinating as is the other
jakarta is capital of indonesia provide with various problem including wild animal accumulated problem
jakarta is going to be ready for the corrs fans
jakarta is 20 hours 20 minutes and to bali is 22 hours 15 minutes
jakarta is an incongruous mixture of gleaming tower blocks
jakarta is unable to deal with all its garbage
jakarta is convenient
jakarta is an apache umbrella project that includes 3 subprojects related to jsp and servlet technology
jakarta is the most expensive city in indonesia
jakarta is home to many multinational
jakarta is an architect
jakarta is facing more and more headache for parking
jakarta is a city that has learned tolerance like few others in asia
jakarta is running
jakarta is a black and white city
jakarta is mortally wounded

Sayangnya nama panjang gue Kurniati Rahmadini gak ada di google. Hiks