Showing posts with label pendidikan. Show all posts
Showing posts with label pendidikan. Show all posts

Membaca Laskar Pelangi, Mengenang Sepenggal Masa Kecil

Tulisan ini sebenarnya sudah mulai saya tulis beberapa bulan yang lalu. Lama menggantung, baru sempat saya selesaikan dan posting sekarang. Bahasannya jauh lebih ringkas dari rencana semula.

cover
Judul buku : Laskar Pelangi
Pengarang : Andrea Hirata
Penerbit : Bentang (2005)

Saya terlambat. Setelah beberapa kali sekilas melihat judul ini di beberapa blog, saya jadi tergoda untuk membacanya.

Short comment for this book: I like it. Alot.

Belum banyak (atau belum ada?) penulis Indonesia yang mengangkat topik sejenis ini: pengalaman masa kecil dan pendidikan.

Bukan bermaksud menyamakannya dengan karya-karya seperti Totto Chan (Tetsuko Kuroyanagi), Dua Belas Pasang Mata (novel, Sakae Tsuboi), atau Not One Less (movie, Zhang Yimou). Tentu saja berbeda. Tapi saya akui, membaca Laskar Pelangi mengingatkan saya pada karya-karya di atas: sama-sama memotret kehidupan anak-anak yang terpinggirkan (karena miskin ataupun karena ‘ berbeda’) dalam usaha untuk mendapatkan pendidikan. Tentang masa kecil yang bahagia. Juga tentang sosok guru yang luar biasa, yang mencerahkan, penuh pengorbanan, dan selalu membekas dalam ingatan anak didiknya.

---

Mungkin pendapat saya tentang Laskar Pelangi juga dipengaruhi melankoli yang sangat subjektif. Novel ini membuat saya mengenang sepenggal masa kecil saya. Lebih dari dua puluh tahun yang lalu, saya melewati sekitar tiga setengah tahun masa sekolah dasar di sebuah kota di Pulau Bangka. Pulau itu bersebelahan dengan Pulau Belitung (Belitong) -- yang menjadi setting Laskar Pelangi -- dan juga merupakan pulau penghasil timah.

Sedikit banyak saya dapat memahami ketimpangan yang terjadi antara masyarakat miskin Melayu Belitong dengan kaum penguasa pertambangan timah, seperti yang dikisahkan dalam Laskar Pelangi. Walaupun tidak semegah dan seeksklusif Sekolah PN Timah Belitong dalam novel, sekolah saya dulu adalah SD Negeri yang kebetulan berada di tengah-tengah komplek perumahan karyawan timah. Walaupun bangunan sekolah saya dulu hanya semi permanen dengan dinding separuh bata dan separuh papan -- tapi tidak juga separah SD Muhammadiyah dalam kisah Laskar Pelangi yang nyaris rubuh -- sekolah saya memang cukup makmur. Banyak murid sekolah saya adalah anak petinggi pejabat timah. Tingkat kehidupan yang lebih makmur sebanding dengan prestasi sekolah. Sekolah saya saat itu adalah salah satu SD favorit, yang menghasilkan lulusan dengan rata-rata nilai ujian tertinggi, yang sering menang lomba kecerdasan, ketangkasan dan lain-lainnya. Hampir seperti --- walau tidak seekstrim -- yang terjadi di Sekolah PN Timah Belitong dalam Laskar Pelangi. Sementara SD Muhammadiyah dalam novel, adalah sekolah yang serba miskin, dengan jumlah guru hanya dua orang termasuk kepala sekolah, dan nyaris ditutup karena jumlah murid yang tidak memenuhi kuota.

---

Ada beberapa hal yang sedikit mengganggu ketika membaca Laskar Pelangi. Kisah ini mengambi rentang waktu yang cukup panjang. Masa sebelas anggota Laskar Pelangi mengenyam pendidikan di sekolah Muhammadiyah sendiri adalah sekitar 9 tahun. Fragmen-fragmen pengalaman mereka berada di kisaran waktu ini. Namun saya merasakan penulis kurang membantu pembaca untuk mengetahui penggal waktu yang tepat untuk masing-masing fragmen. Apakah peristiwa A terjadi ketika mereka masih berusia 10 tahun, ataukah 14 tahun? Saya harus benar-benar teliti membacanya untuk membayangkan usia dan sosok anggota Laskar Pelangi ketika suatu penggal peristiwa terjadi. Selain itu ada beberapa hal kecil lainnya yang juga mengganggu. Hey, tapi semua itu tidak mengurangi rasa salut saya terhadap karya ini.

Ulasan saya tentang buku ini, mungkin kurang memberikan gambaran yang jelas. Silakan baca berbagai ulasannya yang lain di berbagai tempat atau bisa berkunjung ke blog sang penulis.

Ciganjur Festival

perbesar gambar

Hari/ Tanggal: Sabtu-Minggu/ 6-7 Mei 2006
Pukul : 8.30 - 12.30 wib

more info: Ciganjur Festival - Sekolah Alam

Keponakanku Presiden! :)



Yap, keponakanku, Luthfi, seorang presiden.
Presiden Siswa Sekolah Alam yang baru.
Dan aku adalah seorang tante yang sangat bangga pada keponakannya. :)

Liputan acara Pemilu Presiden Siswa Sekolah Alam kemarin,
insya Allah, akan dapat disaksikan pada:
Acara Nuansa Pagi RCTI,
Sabtu 16/10/04 antara pukul 05.30-06.30 pagi.


Sedangkan cerita dan foto liputan oleh Mama Luthfi,
bisa dibaca di blog Cerita Sekolah Alam.

PS.
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan
Mohon maaf lahir dan batin

Promosi: Holiday Camp Sekolah Alam Ciganjur






Noy, numpang promosi seperti biasa,he-he... utk liburan juli ini di SA ada holiday camp. Buat temen-temennya Neenoy yang punya anak atau ponakan, ada hadiah liburan yang menarik buat mereka : nyobain sekolah di SA selama 5 hari! Kegiatannya seru-seru lho! Yang tertarik silakan kirim e-mail ke saya. Thanks.

Itoy
(luthfita@cbn.net.id)



UPDATE


Mohon maaf, karena satu dan lain hal rencana kegiatan Holiday Camp di SA belum bisa dilaksanakan pada liburan sekolah Juli ini. Tapi buat yang pengen main ke Sekolah Alam, silakan datang kapan saja... ke Jl. Anda 7x (depan Kelurahan Ciganjur) atau bisa datang Sabtu, 3 Juli 2004 karena insya Allah hari itu SA bekerjasama dengan Montage World dari British Council Indonesia akan mengadakan Science Fair.

Itoy

Jadi Guru

(Bukan gue banget deh… )

Jadi guru, seingat saya tidak pernah ada dalam daftar cita-cita saya ketika kecil dulu. Tidak pernah… entah kenapa. Ketika kuliah pun tidak pernah terlintas keinginan untuk mendaftar jadi asisten dosen. Tidak pernah… terutama karena tidak pede.

Namun minggu lalu saya akhirnya sempat menjadi ‘guru’ juga. Tawaran dari my luvly sister untuk mengajar keramik di playgroup Sekolah Alam Ciganjur, tidak perlu membuat saya sampai berpikir seribu kali. Lha… kan muridnya anak-anak kecil lucu yang umurnya paling dua tahun lebih tua dari Obin. Masak sih gitu aja gak pede?

Maka jadilah saya ‘guru’ selama tiga hari, ‘mengajar’ tiga kelas playgroup, mengenalkan bentuk-bentuk geometris sederhana sambil bermain tanah liat. Anak-anak itu diperkenalkan pada tanah liat, merasakan dan mencoba membentuknya dengan teknik cetak, membuatnya jadi bentuk-bentuk lingkaran, bujur-sangkar, persegi-panjang, dan segi-tiga. Sengaja dipilih teknik cetak karena ini yang paling mudah. Namun bagi anak seumuran playgroup masih saja tetap harus dibantu untuk melakukannya. Hihihi… ternyata lumayan repot. Untung sudah diantisipasi dulu dengan memberikan ‘kursus kilat keramik’ buat bapak dan ibu guru lain, sehingga mereka bisa membantu saya.

Mengajar, harus saya akui tidak mudah, karena bukan semata proses temu-muka di ruang kelas. Ada proses lain di awal dan juga sesudahnya. Untuk ‘mengajar’ selama satu-jam-kali-tiga-hari ini saja, banyak persiapan yang harus saya lakukan. Menyiapkan bahan dan alat; satu hari penuh saya luangkan hanya untuk membuat dua puluh cetakan dari gips (soalnya bikin cetakannnya juga masih sambil belajar, makanya lama :p). Selama tiga hari, setiap selesai ‘mengajar’, saya membawa pulang dan ‘merapikan’ hasil cetakan anak-anak itu untuk memastikan hasil karya mereka tidak pecah ketika dibakar. Belum selesai sampai di situ, saya juga masih harus mewarnai dengan glasir kurang lebih dua ratus keping tanah liat kering. Belum juga selesai, kemudian saya masih harus menunggui proses pembakarannya selama sembilan jam, tidak bisa ditinggal karena harus tetap dikontrol dan dinaikkan suhunya setiap sepuluh menit. Yap, mengajar itu ternyata… *menarik napas* … memang tidak mudah dan cukup melelahkan…

Namun semua kelelahan itu rasanya terbayar…. Ketika melihat binar ingin tahu di mata-mata mungil saat saya memberi contoh. Ketika mendengar pekik-pekik kecil “Aku! Aku! Aku mau! Aku mau!”, waktu saya bertanya siapa yang mau mencoba mencetak. Ketika melihat tangan-tangan mungil bergegas memadatkan tanah liat dalam cetakan gips dan tak sabar untuk bertukar cetakan dengan temannya. Ketika mendengar celoteh-celoteh polos “Apa sih itu? Lilin ya?” atau “Ihhh… tanahnya dingin…” atau “Nanti kalau udah dibakar, bisa dimakan!”. Dan ketika sedang berjalan di halaman sekolah, tubuh-tubuh kecil yang sedang asyik bermain itu menyempatkan menyapa saya, “Bunda, terima kasih! Terima kasih, Bu! Terima kasih, ya…”. Maka terbayar sudah semua. Lunas.

SATU HARI DI SEKOLAH ALAM

Sebelum jadi terlalu basi, sekarang gw mau cerita tentang open-house Sekolah Alam, tanggal 27 September yg lalu. Ini sebenernya sih bukan cerita open-house SA, lebih tepatnya cerita satu hari main-mainnya gw dan Obin di SA. Ya, bisa dibilang piknik keluarga, deh. Soalnya selain ketemu Shanty, di sana juga gw ketemu Uwin (my big bro) sama istri dan kucrilnya, Rhea dan Raihan. Juga dipastikan ketemu Luthfi dan Rafi, kucrilnya Itoy (my sister), yang memang sekolah di sana. Apalagi namanya kalau bukan piknik keluarga, ya kan?


---

Sabtu pagi itu, gw memasuki pintu gerbang Sekolah Alam yang terbuat dari bambu bersama Obin dan si Mbak. Ini sebenarnya buka kali pertama gw menginjak Sekolah Alam, setelah mereka menempati lokasi barunya di Jalan Anda, Ciganjur, sekitar 2 tahun yang lalu. Pertama kali gw ke sini adalah Agustus lalu. Cuma saat itu gw datang malam hari, ikut nebeng anak-anak murid yg datang menginap, untuk mengamati Mars dengan teropong bintang. Waktu itu, karena gelap, tentu aja gak banyak detail SA yang bisa gw lihat. Karenanya, Sabtu pagi itu, dengan berbekal sepotong denah SA, kami siap mengeksplor semua sudut SA. Lagipula sesuai saran Itoy, gw gak perlu ikut acara penjelasan mengenai SA (soalnya untuk yg satu ini gw bisa kapan aja tanya ke dia. Gitu kan sis maksudmu?)

Alami. Kesan gw masih tetap sama seperti saat pertama kali gw melihat SA di lokasinya yang dulu. Hanya saja sekarang lahannya datar, gak ada lagi tebing curam yang memisahkan bagian penerima dengan bagian utama sekolah. Kini yang tampak adalah lapangan rumput yang cukup luas, dengan jalan setapak melintasinya, dikelilingi pepohonan dan bangunan-bangunan dari kayu. Sekolah itu juga dilengkapi dengan sebuah empang kecil, sebuah rumah ikan, beberapa petak kebun sayur yang penuh dengan cabe dan terong yang menggelantung. Ada akuarium kura-kura di dekat kebun cabe, lalu ada juga kandang kelinci, kandang ayam, dan kambing.

Rumah Pohon

Misi gw kali ini adalah melihat rumah pohon, yg ternyata gak digambar di peta itu. Setelah tanya-tanya, ternyata rumah pohon itu ada di pojok belakang sekolah. Kami melewati beberapa saung 'kelas', berupa rumah panggung yang terbuka, tanpa dinding. Masing-masing saung terdiri dari dua lantai, untuk dua kelas. Saung-saung itu ditata mengelilingi sebuah lapangan pasir yg lebih besar dari lapangan bulu-tangkis, yang rupanya selain dipergunakan sebagai area bermain pasir, juga dipergunakan sebagai teater terbuka bagi anak-anak.

Akhirnya gw ketemu juga dengan rumah pohon impian gw ;p. Wah... ternyata lebih hebat dari yg ada di angan-angan gw, soalnya bukan hanya dilengkapi tangga tali, tapi juga rumah pohonnya ada dua yang terhubung dengan sebuah jembatan tali. Wahhh... keren deh pokoknya. Tapi kok ya tinggi bener? Sekitar 7 meter (?) Nyali gw mendadak ciut. Apalagi setelah gw ngejajal naik tangga talinya... ternyata tidak semudah yg gw bayangkan. Akhirnya, gw putuskan untuk jalan-jalan lagi dulu, sambil mengumpulkan keberanian.

Singkat cerita deh, akhirnya gw balik lagi ke rumah pohon ini. Akhirnya berhasil naik dengan bantuan my big bro yg megangin tangga talinya (kalo gak dipegangin tangganya melintir melulu :p). Gw naik berdua dengan keponakan gw, Rhea, 9 th. Lihat fotonya deh, itu gw dan sang keponakan. Gak kelihatan beda jauh kan kita berdua? Ya kan?



Rumah Pare dan Panen Terong

Rumah pare ini adalah jalaran tanaman pare yang membentuk persis sebuah rumah-rumahan, orang dewasa juga bisa masuk walaupun perlu menunduk di dalamnya. Obin seneng banget ngelihatnya, dia sibuk keluar masuk, keluar masuk, dan main cilukba ama gw.

Waktu kita lagi lihat rumah pare ini, ada seorang anak yang ngomong, "Bu, mau beli terong gak? Udah waktunya dipanen. Boleh petik langsung dari pohonnya, kok." Gw lihat ke kiri-kanan, gak ada orang lain deket-deket situ. Ups, pasti 'ibu' yg di maksud itu gw... hehe... suka lupa kalo gw tuh emang udah ibu-ibu :p Akhirnya gw dan Obin, memetik terong. Yang metik gw sih, tapi Obin sibuk mondar-mandir ngasih terong hasil panennya ke si 'kakak penjual terong'. Gw geli dan sekaligus terharu waktu ngelihat anak itu sibuk mencongak berapa uang yang perlu dia kembalikan ke gw. Seorang ibu guru yang mendampingi, terlihat sabar sekali menunggu si anak sampai sukses menghitungnya sendiri. Hebat, Bu Guru! Kalo gw udah gak sabar kali ya ngasih bantuan jawaban.

Flying Fox

Sejak pagi, kita udah disuguhi atraksi kebolehan anak-anak SA ber’flying-fox, cewek maupun cowok. Mereka meluncur dengan tali dari atas pohon kelapa yg hehe.. tinggi banget menurut gw. Siangnya, dibuka kesempatan untuk umum. Wih… gw ama Shanty tadinya udah mau ikut, gak mau kalah sama anak-anak itu dong. Tapi kita berdua keasikan ngebakso dan ‘flying-fox’ nya keburu ‘ditutup’.


Seandainya

Ya, kurang lebih gitu deh satu hari di SA-nya. Kita juga nonton pertunjukan anak-anak SA; story telling, short drama, baca puisi, dll. Terus ada juga anak-anak SA yang jualan pernak-pernik hasil karya mereka, jualan kue dan sirup. Hihihi.. lucu deh lihat mereka. Masak ada bapak-bapak ngasih uang lima ribu untuk beli sirup seribu, eh uang kembaliannya dikasih lagi lima ribu. Namanya juga baru belajar ya, dek..

Obin sendiri sibuk lari-lari. Dan begitu dia lihat ada lapangan pasir, langsung napsu pengen main pasir, walaupun siangnya lumayan terik. Berasa di rumah sendiri ya, Bin?

Walaupun gw gak bisa banyak cerita tentang ‘program pendidikan’ di SA, dari cerita gw ketahuan kan kira-kira gimana kesan gw tentang SA? Kalau saja gw masih umuran TK atau SD, pasti deh gw memohon-mohon sama ortu buat di sekolahin di situ.. hehehe…

***

UPDATE

Buat yang mau tahu lebih banyak tentang Sekolah Alam, sangat dianjurkan untuk datang melihat sendiri sekolahnya.

SEKOLAH ALAM
Jl. Anda 7X, Ciganjur, Jakarta Selatan,
Indonesia Telp. +62-21-78881659


Atau bisa hubungi Ibu Yalti - Telp. +62-21-70726725

Mampir juga ke Blog Sekolah Alam yang dibuat oleh salah satu orang-tua murid.

Gajah Sirkus

Tahukah kamu bagaimana seorang pawang dapat mengendalikan dan menguasai seekor gajah yang tubuhnya berkali-lipat besarnya dari tubuh si pawang? Saya mengetahuinya dari sebuah buku novel. Sejak masih muda dan kecil, seekor calon gajah sirkus telah dibiasakan untuk diikat kakinya dengan sebuah rantai pada gelondongan kayu. Gajah kecil itu akan berusaha membebaskan diri, namun ia tidak akan mampu. Seiring berjalannya waktu, ketika gajah itu tumbuh menjadi sangat besar dan [harusnya] juga sangat kuat, kakinya hanya perlu diikat dan ditambatkan -- bahkan pada sekedar ranting -- agar tidak mencoba untuk berontak. ‘Pikiran’ gajah itu yang sudah dikendalikan, bahwa ia tidak akan bisa bebas manakala kakinya terikat.

---

Cerita tentang gajah inilah yang terlintas di benak saya ketika membaca cerita mengenai Tisa (Transisi Tisa) dari buku Sekolah Impian – sekolah yang membebaskan**. Gadis kecil ini telah duduk di kelas empat SD ketika dipindahkan dari sekolah ‘konvensional’ ke Sekolah Alam. Ia pindah bukan karena dianggap anak yang ‘bermasalah’ di sekolah lamanya, seperti kebanyakan cerita lain mengenai kepindahan ke sekolah alam di buku itu. Pada cerita tentang Tisa ini, sang adik dikisahkan telah lebih dulu mengecap SA. Tisa dipindahkan ke SA, karena orangtuanya merasa melihat hal positif pada sekolah adiknya tersebut.

Namun, orangtuanya mau tidak mau terkejut ketika kemudian melihat penolakan dari Tisa. Tiap sore orangtuanya dibombardir dengan keluhan, “Yah, mengapa Kakak harus sekolah di Sekolah Alam…? Kakak merasa tertekan, Ayah.” Di sekolah, menurut keterangan gurunya, Tisa selalu bolak-balik minta izin ke belakang, bahkan sering tidak balik ke saung-kelasnya untuk nongkrong di saung-kelas adiknya.

Rupanya waktu tiga tahun yang telah Tisa habiskan di sekolah dengan gedung, meja-kursi, dan seragam telah membuatnya justru tidak nyaman dengan segala kebebasan baru yang ada di SA -– sekolah yang menyenangkan menurut pengakuan murid dan orang tua murid umumnya. Padahal sekolah lamanya bukan sekedar ‘mengekang’ dalam pengertian atribut fisik itu saja, tapi juga mengekang ide, kreativitas, kebebasan berpikir seorang anak. Sekolah lamanya adalah sekolah konvensional yang menuntut ‘hanya satu jawaban benar, adalah salah jika kamu memilih semua jawaban’ dari pertanyaan seperti: “Budi menolong seorang ibu yang terjatuh di jalan, maka Budi adalah anak yang: a. Baik; b. Sopan; c. Suka menolong; d. Rajin”…

Bukan hanya orang tuanya yang terkejut. Saya pun terpana membaca ceritanya dan serta-merta teringat kisah gajah sirkus tersebut. Namun Tisa bukan lah ‘gajah’ pasti. Ia pun akhirnya berhasil melewati masa adaptasinya, dan menemukan kegembiraan pada hari-harinya di SA, seperti yang dirasakan adiknya.

---

Cerita Tisa tidak berkhir sama dengan cerita gajah sirkus. Mungkin juga karena belum terlalu lama ia ‘dirantai’ kebebasannya. Cuma saya jadi merinding membayangkan bagaimana jika belenggu itu berlangsung sepanjang 12 tahun dari hidup seseorang atau bahkan 17 tahun? Selama lima-ribu-seratus hari sekolah?

Menengok ke masa lalu saya, melihat diri saya kini -- yang bahkan masih juga tidak punya keberanian untuk membebaskan diri dari sistem yang saya rasa 'amat-tidak-menyenangkan'; tiba-tiba saya merasa bahwa saya lah ‘gajah sirkus’ itu.


**Buku “Sekolah Impian – sekolah yang membebaskan” adalah buku kumpulan kisah-kisah dari Sekolah Alam. Saya sebenarnya berniat terlebih dahulu menulis review buku ini, juga cerita mengenai acara open-house kemarin itu (eh … saya ketemu Shanty lo…). Tapi yang jadi duluan malah cerita yang ini. Review buku dan open-housenya menyusul deh. Tapi gak janji ya :p


UPDATE:

Bagi yang mau tahu lebih banyak tentang SA, bisa lihat brosur-brosur berikut ini:
(mohon klik kanan dan Save Target As)
- Brosur SA
- Brosur SA inside
- Green Lab SA
- Green Lab SA inside
- Peta Lokasi SA

Memori Ciganjur – Bagian 3

Oleh : Bu Septri

Tentang Hendi. Tani ternak terpadu, … tani ternak terpadu … kata-kata itu yang memenuhi kepalaku. Aku harus mencari seseorang yang mau bantu aku di pertaniannya. Orang itu harus struggle dan harus betul-betul orang lapangan. Satu dari jurusan tanah atau hortikultur, satu lagi dari landscape. Aku nggak punya teman dengan kuallifikasi seperti itu. Tapi mungkin bisa dicari di pesantren ikhwan (laki-laki) Ulil Albab di Bogor.

Akhirnya aku nembak nelpon ke pesantren tersebut. Setelah bla-bla-bla … si penerima telpon menyebutkan dua nama untukku. Hendi dan Syafir. Yak! Langsung janjian bertemu untuk survei lahan. Di mana pertama kali bertemu? Di stasiun kereta super sumpek ekonomi saja, sekalian berangkat ke Ciganjur. Aku pakai baju merah hati biar mudah dikenali. Dia datang telat 15 menit karena nyari-nyari aku dulu. Kakinya beralas sendal jepit (itu pun gede sebelah), kan mau survei lahan, kilahnya.

Hasil survei sudah bisa diduga. Lahan mengandung besi, sangat miskin hara, drainase buruk. Yaa.. intinya harus kerja keraslah, he he he. Mempekerjakan orang sekitar untuk membantu pertanian sangat sulit, minta biayanya selangit. AKhirnya Pak Hendi membawa orang-orang dari Sukabumi untuk mengolah lahan (thok). Dia sendiri selalu ikut terjun dalam setiap gawe pertanian. Yang nyangkul, buat sumur., dll. Setelah ditanami kangkung barulah giliranku untuk merawatnya. Aku nggak pernah bertemu lagi dengan Bapak satu ini sejak kebagian jatah merawat.

Kangkung lama-lama tumbuh… tahu-tahu sudah saatnya panen (tahunya juga dari Kang Hamidin, “Kalau nggak dipanen sekarang sudah ketuaan, mbak.”) Kangkung ini harus dijual, batinku. Tapi dijual kemana? Murid belum punya, guru lagi nggak ada … siapa konsumennya? Waktu itu betul-betul aku lagi sendirian. Dengan mengeraskan hati aku pinjem sepeda tetangga. Kangkung yang sudah sangat buaanyak dan sudah menjulur-julur itu kuikat di sadel belakang (boncengan), lalu “Kangkung, kangkuuung!” Aku teriak-teriak ngider kampung. Rasa malu sudah kubuang jauh-jauh, tidak kudengarkan lagi jeritannya di hatiku. Untunglah 98% kebeli orang setelah seharian ngider. Pada kacian kali ya, sama aku. Masya Allaah…

Nah, tahu-tahu setelah itu datang lamaran dari Pak Hendi (ehm). Singkat cerita lamaran diterima. Sambil nunggu hari jadi kita nggarap lahan teruuuuss. Pembibitan, tanam polibag, nyiram, ndangir, etc. etc. selalu di lahan dan disiram matahari. Tidak ada kamus dipingit, walhasil saat hari jadi, kita berdua adalah pasangan pengantin tergosong sedunia. Hihik. Tapi anak-anak muridku bisa belajar apa saja dari kebun, itu yang paling penting.

Tentang Tri Puji Hindarsih. Siapa dia? Saat bertemu pertama kali kupikir aku bertemu dengan fresh graduate dari SMA. Sungguh! Subhanallah, mbak yang satu ini emang imut. Sholihah yang mantan menwa ini lulusan ITB Geodesi, teman Sujiwo Tedjo di karawitan dulu. Panggilannya Bu Cache. Kenangan yang paling indah adalah saat kita berdua bersiteguh bahwa sekolah siap dijalankan Juli 1998. Saat itu ada yang berkomentar pada Bu Loula, itu guru gilaaaaaaa!

Bayangkan saja. Saat itu saung sekolah belum sepenuhnya jadi, tapi setidaknya kebun sudah tersedia. Tanpa diduga ada petugas IMB memaku plat merah besar bertanda BELUM ADA IMB! Nah! Repot dan berbelit-belit masalah itu. Amit-amitlah….

Akhirnya kita berkucing-kucingan. Jika ada prospek calon orang tua siswa datang, papan itu kita cabut. Jika keadaan ‘aman’, papan ditempel kembali.

Sekolah harus dijalankan seberapapun muridnya. Kelas I ada 3 murid, bu Cache yang pegang. Kelas Playgroup ada 13 murid, aku dan Pak Iman yang pegang. Walaupun hanya ada 3 murid di kelas I, tapi ketiga-tiganya agak bermasalah saat itu. Yang satu suka melempar-lempar barang, yang satu suka memaki-maki dengan kata-kata kasar, dan yang perempuan satu-satunya sudah berkali-kali pindah sekolah, karena kerjanya di kelas hanya tidur menelungkup di meja sejak bel masuk sampai bel pulang. Tapi dengan besutan bu Cache, dalam 3 bulan permasalahan mereka finished! Rahasianya tentu saja … cinta! Cinta yang sangat meluap-luap kepada anak-anak.

Bu Cache juga yang mengenalkan kita semua pada Asih. Sungguh pilihan yang sangat jitu. Asih pegang administrasi dan Asih adalah orang teramanah sedunia!! I love you.

Saya sendiri sempat out dari Sekolah Alam mengikuti suami beragri keliling Jabar. Tapi seperti janji saya pada Iman, saya akan kembali (jika masih diterima…). Ternyata setelah saya kembali, mental-mental baja itu masih ada dan pasti akan terus ada di sini. Dan kekuatan cinta itu pun terus bersinar dan meluap-luap dari semua temanku di sini. Dari semua lini, dari pak kebun, administrasi, marketing, guru-gurunya. Kita tak akan pernah berhenti belajar untuk bisa memberikan yang terbaik yang bisa kita berikan kepada calon-calon khalifah Allah di muka bumi ini. BRAVO!!
---

Tulisan di atas sekaligus sebagai undangan kepada pengunjung blog ini, terutama yang pengen tahu Sekolah Alam itu kayak apa.

Silakan datang ke Open House Sekolah Alam, 27 Sept. 2003, pukul 09.00 pagi – selesai. Alamatnya: Jalan Anda 7X (Depan Kelurahan Ciganjur).

Acaranya macem-macem. Ada Market Day, ada Outbound, juga berbagai eksibisi sains, kebun & ternak, art & craft hasil karya anak-anak PG, TK, dan SD SA. Ada rumah pohonnya juga lho… *sambil melirik Neenoy*, malah di Green Lab-nya sekarang ada rumah parenya. Nggak pernah liat rumah pare kan? Makanya, dateng… ajak anak-anak, ponakan juga boleh. (Itoy)

Memori Ciganjur – Bagian 2

Oleh : Bu Septri

Tentang Kang Hamidin. Akang ini asli Bengkulu dan bertugas sebagai ahli bangunannya. Hasil kerja tangannya luar biasa sempurna. Terasa ada yang lain jika menginjakkan kaki ke saungnya. Indah, agung. Kerjanya rapi jali. Lantai kayu dipasang female dan male, jika salah di antara kayu langsung harus dibongkar dan diperbaiki.. Begitu halus. Aku merasa dia mengerjakannya dengan sepenuh pengabdian kepada Allah, dengan dzikir-dzikirnya. Did you notice? Kayu-kayu di lantai saung berjajar rapi menghadap kiblat. Sempurna!

Kang Hamidin membawa istrinya untuk proyek pembuatan saung sekolah. Mereka sendiri hidup di bawah atap jerami. I mean it. Mereka menyandarkan 2 atap jerami membetuk atap sederhana di tanah. Duduk pun sulit di situ, hanya cukup untuk tidur. Masuknya juga merayap.

Makanannya sederhana. Mungkin khas Bengkulu. O ya, aku pernah ditawari kolak pisang, ternyata ada bawang putih di situ sebagai bumbunya. Nah, suatu hari (hari perayaan) aku melihat sisa-sisa masak daging guling. Sisa-sisa api masih ada. Surprise juga, ada apa nih? Ternyata Kang Hamidin baru baru saja mendapat rejeki nomplok!

Ada rusa nyasar ke lokasi sekolah. Rusa siapa? Masa’ dari Ragunan? Atau memang masih ada rusa di daerah sini? Rusa ini ditangkap rame-rame dengan penduduk sekitar, dan dimasak rusa guling. Dua kali peristiwa seperti ini terjadi.

Tentang Pak Iman. Aku memandangi karikatur-karikatur di dinding masjid Al Hurriyah. Karikatur-karikatur itu, Pak Iman punya. Aku belum pernah bertemu langsung, cuma mendengarkan suaranya saat finishing touch album nasyid Nuansa-nya. Aku harus dapetin dia untuk gabung di Sekolah Alam. Aku agak pesimis, tapi setidaknya aku akan coba.

Akhirnya aku bertemu dengannya di masjid, berta’auf, omong-omong di balik hijab. Kukatakan sebisaku, kukatakan maksud, kita bisa jadi diri sendiri jika kita di Sekolah Alam. Hadiah terbesar untukku hari itu saat Pak Iman bilang: Yes!

Yes! Yes! Yes! Dan aku tidak salah pilih. Sesama bungsu, sesama Virgo (apa hubungannya?) aku sayang padanya. Aku ingat ketika kita ngirit biaya pelatihan outbound dengan memakai temanku untuk melatih mountenary. Pak Iman yang pertama turun. Saat descending ± 8 m, baru teringat sang instruktur. Halo, ada carabiner yang terlupa! Tidak berbahaya sih, sebab Pak Iman sudah lincah naik turun tebing tanpa webbing dan tali. Tempaan alam sejati.

Yang selalu terngiang-ngiang di benakku saat aku pamitan mau ngikut suamiku ke Puncak. “Kau tega ninggalin aku”. Maafkan aku. Semoga kau mendengar janjiku saat itu, bahwa aku akan kembali. Sungguh.

berlanjut lagi...
Sudah lama saya diminta Neenoy, adik saya, jadi blogger tamu di sini untuk menulis tentang Sekolah Alam-Ciganjur, tempat saya menyekolahkan kedua putra saya. Tapi saking banyaknya hal yang pengen saya ceritakan, jadi bingung sendiri mulainya dari mana.

Kebetulan dalam rangka Open House Sekolah Alam yang Insya Allah (moga-moga nggak mundur lagi) bakal dilaksanakan 27 September ini, saya diserahi tugas mengumpulkan tulisan para orangtua siswa untuk dijadikan buku.

Tulisan di bawah adalah salah satu dari tulisan yang masuk. Penulisnya Bu Septri, orang tua murid yang juga salah satu guru di sekolah itu. Dengan seizin Bu Septri, tulisan ini saya kirim ke Neenoy untu ditampilkan di blog ini. Tulisan ini bercerita mengenai para pendiri Sekolah Alam (dari penggagas, guru, hingga tukang kayu) dan seputar suka-duka usaha pendiriannya. Karena cukup panjang, sesuai saran Neenoy, tulisan ini dibagi menjadi tiga bagian. (Itoy)


Memori Ciganjur – Bagian 1
Oleh : Bu Septri

Tentang Bang Lendo. “Namanya siapa?” tanya teman-temanku memastikan sekali lagi. Yang ditanya cuma nyengir. Waktu itu kami sedang kumpul-kumpul santai setelah sholat berjamaah di tempat kost. Sebenarnya mereka cuma menggoda, sebab yang mengenalkan nama Lendo berikut recruitment Sekolah Alam bernama Linda. Linda yang adik ipar abang ini menawarkan pada teman-temanku untuk bergabung dengan abangnya membuat sekolah baru. Syaratnya cuma tiga. Cinta banget sama anak-anak, dari peternakan, dan hafal Qur’an.

“Mau nggak, Sep?” tanya Linda padaku

“Aku hafal juz 30, bukan 30 juz”, jawabku.

“Nggak pa-palah, kita semua juga begitu.”

“Tapi yang peternakan cuma kamu,” teman-teman se-kost kompakan menimpali.

Jadilah aku calon guru di sebuah calon sekolah juga. Baru ada lahan sewa, calon lansekap yang indah, saung setengah jadi dalam pembangunan, tapi calon penempa khalifah-khalifah Allah yang bermutu. Amin.

Bagaimana mewujudkannya? Mulai darimana? Mulai saja dari segala pintu… nyari ahli olah lahan untuk tani ternak terpadu dan lansekap, hunting satu guru handal yang jagoan seni, pelatihan & tular ilmu dengan Uni Loula, buru-buruin Kang Hamidin untuk segera selesaikan bangunan, mulai hunting calon murid door to door, ngurus ijin sekolah juga ijin bangunan (IMB), dll. dll. dll… Tak boleh lupa … nyampulin buku perpustakaan. Siapa lagi yang akan ngerjain? Bagi-bagi tugas.

Untuk beberapa hal tertentu, jika kecapekan pulang pergi Darmaga-Ciganjur jadilah aku seorang yang ‘tidak pernah never dan selalu always’ nginep di kontrakan keluarga abangku Lendo ini. Sebuah rumah kecil kontrakan sepetak yang sudah mau muntah karena diisi barang-barang calon sekolah. Empat ruang kecil di rumah itu jadi extra full booked.

Aku, Uning, dan Khalid kecil bobok bareng bersama buku-buku yang sedang disampul. Bang Lendo tidur di ruang tidur yang lumayan luas, tapi hanya tersisa space sebesar sajadah untuk tidur, selebihnya dipenuhi barang. Karena ruang tidur itu hakikatnya adalah gudang. Tinggal tersisa dapur mungil dan kamar mandi. Di situ pun sudah ada mbak Iyah di belakang lemari esnya sebagai penyekat.

Hihi… tapi ini satu kenangan indah di antara ribuan kenangan indah bersama orang-orang pertama di Sekolah Alam yang kusayangi. Juga Abang yang untuknya akan selalu kutaruh respek dan hormat yang tinggi untuk selamanya.

“Ya mumpung masih muda, harus idealis dan membuat perubahan. Ntar kalau kita sudah tua, barulah saatnya menjadi bijaksana dan pengamat”, kata Abang saat itu.

“Septri, tani ternak terpadunya seperti Sadagori. Dua bukit tandus di Sukabumi itu telah disulap dengan siklus tani ternak terpadu tanpa pestisida kimia sedikit pun.”

Limbah sapi digunakan untuk kebun jeruk, di bawahnya ayam-ayam kampung sedang bertelur… limbah mereka digunakan untuk kolam lele. Sebagian .faeces dialirkan untuk menyirami lapangan rumput tempat makanan .ruminansia. Aliran listrik diambil dari kincir air yang dipasang di sungai. No usseless waste. Nanti anak-anak yang melakukan semuanya…. Sampai ke kemasan dan penjualan.

“Yuk Hendi, Safri, Septri… kita ke Puncak cari ide, melihat lansekap Kota Bunga. Sekolah kita harus mendapat penghargaan Aga Khan untuk lansekapnya. Indah, orisinal, memelihara lingkungan.”

Harapan itu Bang, yang menguatkan kita semua… sampai nanti. Be our best, be our self…

berlanjut...

Seperti Sekolah Totto Chan

Keponakan saya, Luthfi, sangat beruntung punya ibu (my Sis) yang pernah membaca, menyukai, dan mengangankan sebuah sekolah seperti di kisah Totto Chan. Ia juga beruntung ketika saatnya ia masuk sekolah dasar, di sini telah ada sekolah yang menyerupai sekolah Totto Chan. Luthfi, sekarang duduk di kelas tiga di Sekolah Alam, yang berlokasi di daerah Ciganjur, Depok.

Saat saya pertama kali menemani ke sana 3 tahun yang lalu, saya langsung menyukainya. Bangunan sekolahnya adalah beberapa rumah panggung dari kayu beratapkan rumbia. Tidak ada ruang kelas yang formal dengan kursi dan meja belajar, sepertinya murid-muridnya belajar sambil duduk lesehan di lantai kayu. Halaman rumput sekolah sangat luas, bahkan di belakang masjid sekolah ada sepetak sawah kecil. Sekolah ini juga dilewati sebuah sungai kecil dengan jembatan kayu yang harus dilewati murid-muridnya untuk menuju ke kelas. Ada pula sebuah tebing yang dipergunakan untuk berlatih kegiatan panjat-memanjat. Secara fisik sekolah ini cukup mewakili impian saya akan sekolah Toto Chan, dan ternyata Luthfi pun menyukainya dan tidak menginginkan pilihan sekolah yang lain.

Saya tidak terlalu mengetahui dengan detail bagaimana metode belajarnya dilakukan. Namun ada satu hal yang mengganjal yaitu sampai saat ini Sekolah Alam ini belum mengantongi izin dari Depdiknas, karena metodenya yang mungkin dinilai aneh (untuk hal ini saya selalu membesarkan hati my luvly sister, bahwa ini bukanlah hal yang terpenting). Sekolah ini pernah mencoba memadukan kurikulum mereka dengan kurikulum Depdiknas. Namun saat ini, guru bersama-sama orang tua murid, telah memutuskan untuk benar-benar menerapkan kurikulum mereka saja, yang menurut mereka merupakan yang terbaik untuk murid-murid. For the sake of the children!!

Satu hal yang saya tahu pasti saya sukai dari sekolah ini, yaitu sekolah ini tidak materialistis, tidak seperti sekolah-sekolah alternatif lain yang kini mulai menjamur di Jakarta. Sekolah Alam ini juga memberikan kesempatan untuk anak-anak di lingkungan sekitar yang tidak mampu untuk bersekolah di sini. Mereka juga sangat membatasi ekspansinya dan tidak berpromosi. Mereka sepertinya sangat sadar, ada sebuah skala optimum yang harus dijaga agar dapat mempertahankan kualitas.

Totto Chan

Salah satu buku yang selalu menjadi “all time favorite” saya adalah buku ini. Totto Chan - Gadis Kecil di tepi Jendala, begitu judulnya dalam terjemahan bahasa Indonesia. Buku ini pertama kali saya baca ketika saya masih berusia kurang lebih 14 tahun . Sejak pertama kali membaca saya sudah sangat menyukainya, lebih tepatnya saya senang memimpikan diri saya seberuntung si gadis kecil Totto Chan.

Totto Chan, sebuah kisah nyata, berkisah tentang seorang gadis kecil Jepang di masa menjelang perang dunia kedua, yang sangat beruntung. Totto Chan beruntung karena mempunyai seorang ibu yang percaya bahwa gadis kecilnya sebenarnya bukan anak nakal yang mengganggu pelajaran di kelas sehingga harus dikeluarkan dari sekolah. Totto Chan beruntung karena ibunya kemudian memasukkannya ke sebuah sekolah yang sangat unik.

Totto Chan akhirnya bersekolah di Tomoe, sebuah sekolah yang ruang kelasnya dibuat dari bekas gerbong kereta api. Di sekolah ini, murid-muridnya bisa mulai mengerjakan pelajarannya hari ini dengan apa yang disukainya terlebih dahulu. Di sekolah ini, seorang petani adalah guru, karena dialah yang paling tahu tentang tanaman dan cara berkebun. Di sekolah ini acara berjalan-jalan adalah hal yang selalu dilakukan apabila murid-murid bisa menyelesaikan seluruh pelajaran sebelum waktunya. Di sekolah ini syarat bekal makanan adalah satu macam “yang dari gunung “ dan satu macam lagi “yang dari laut”, dan murid-murid menikmati bertukar makanan sambil belajar apa yang dari gunung dan apa yang dari laut. Di sekolah ini, murid-murid dianjurkan memakai pakaian terjelek yang mereka punya, karena pakaian yang bagus akan segera menjadi kotor di sini. Di sekolah ini semua anak tidak sabar untuk kembali ke sekolah esok harinya. Hhmh.. benar-benar sebuah sekolah impian.

Totto Chan juga beruntung mempunyai seorang kepala sekolah, Bapak Kobayashi, yang sangat percaya bahwa setiap anak memiliki potensi dan bahwa cara mendidik anak yang terbaik yaitu dengan memberikan kebebasan dalam berekspresi. Ada sebuah cerita yang sangat bagus, yaitu ketika dompet kesayangan Totto terjatuh dalam sebuah septic tank. Totto kemudian memutuskan untuk mencari dompetnya itu dan menggali tumpukan kotoran di septic tank tersebut!! Pak Kobayashi, menyaksikan semua itu hanya berkomentar, “Nanti kalau sudah selesai, dirapikan kembali ya…”, tanpa memarahi atau menegur sama sekali. Totto walaupun akhirnya tidak dapat menemukan dompetnya, memenuhi janjinya untuk membereskan kotoran tersebut.

Totto Chan memang adalah anak yang unik. Dulu di sekolahnya yang lama, ia suka memanggil pengamen atau berbicara dengan burung dari balik jendela kelas ketika jam pelajaran sedang berlangsung. Dia sangat impulsive. Dia suka meloncat pada sesuatu yang dianggapnya menarik tanpa pertimbangan, bahkan ia pernah loncat ke dalam adukan semen di jalan. Namun Totto Chan anak yang baik, ia selalu membela dan membantu temannya yang lebih lemah. Sebuah pertanyaan pasti tersirat, bila ibunya dulu tidak memindahkannya ke Tomoe, akan jadi apa Totto Chan ketika dewasa? Yang jelas, Totto Chan kemudian tumbuh dewasa dengan berbekal kenangannya selama dua tahun di Tomoe – sekolah ini memang kemudian hancur oleh serangan pesawat pembom. Totto Chan dewasa adalah Tetsuko Kuroyanagi, seorang presenter televisi yang terkenal di Jepang.

*********
Buku Totto Chan ini pun pernah dibahas oleh Goenawan Mohamad, seorang penulis Indonesia yang sangat kaya dengan referensi. Saya kaget ketika membaca mengenai Totto Chan di salah satu buku kumpulan Catatan Pinggir-nya. Ketika itu saya mungkin sudah kuliah dan sudah agak melupakan cerita Totto Chan ini, karena bukunya juga sudah hilang dipinjam, tidak dikembalikan oleh entah siapa. Saya merasa sangat tersanjung buku yang sangat sukai, ternyata juga dibaca bahkan dibahas oleh penulis yang juga sangat saya kagumi.

Judul Buku: Totto Chan, Gadis Kecil di Tepi Jendela
(Totto Chan, The Little Girl at the Window)
Pengarang : Tetsuko Kuroyanagi