Aku Tari adalah Penari



Tari adalah namaku. Tari saja. Titik. Pendek. Tanpa bunga-bunga penghias. Seperti sebuah kebetulan, namaku pun cerminan aku. Aku adalah penari. Tari adalah namaku, tari adalah cintaku, adalah nafasku, adalah degup jantungku, adalah hidupku. Aku adalah tari.

Aku bisa menarikan apa saja dan aku pun lalu menarikan apa saja. Menarikan angin, menarikan gelombang, menarikan bunga, menarikan malam, menarikan batu. Menarikan suka, menarikan cinta, menarikan hasrat, menarikan resah, menarikan duka.

Aku menari di setiap tempat di setiap waktu. Aku menari di atas panggung, menari di taman, menari di jalan, menari di kamar, menari ketika makan, menari ketika mandi, menari saat tidur, menari dalam mimpi.

Setiap bunyi yang terdengar adalah irama pengiring tari bagiku. Suara gitar, suara organ, suara pita kaset berputar, suara piringan cakram, suara burung, suara air mengalir, suara klakson mobil, suara derik kipas angin berputar, suara derit kapur di papan tulis, semuanya adalah musik bagi tarianku. Ketika tak ada suara lain terdengar, maka desah nafasku, degup jantungku menjelma irama untuk tarianku.

---

Namaku Tari. Aku diberi nama oleh ibu. Ibuku mungkin sepanjang hidupnya telah bermimpi jadi penari. Namun takdir bersabda lain, maka ia hanya dapat bermimpi saja. Lalu aku lahir. Aku lahir bersama mimpinya dan lahirku menghidupkan kembali mimpinya. Ketika nama adalah asa, maka ibu menamaiku Tari. Tari saja. Titik. Pendek. Tanpa bunga-bunga penghias.

Aku dikenalkannya pada tari sejak aku bisa melambaikan tanganku di udara. Menari, menarilah, katanya dalam senandung mengiri gerak tanganku. Maka mulailah aku menari. Ketika aku dapat berdiri sendiri, ia ajari aku bagaimana mengayunkan tubuh mengikuti irama. Menari, menarilah, katanya sambil bertepuk-tangan mengiringi lenggok badanku. Sebelum belajar membaca, aku sudah lebih dulu belajar menari. Menari, menarilah, katanya berseru menyemangatiku.

Ibuku pun giat bekerja demi aku, demi mimpinya. Setiap butir keringat di tubuhnya adalah bagi diriku, bagi mimpinya. Setiap penat di urat dan sendinya adalah untuk aku, untuk mimpinya. Bahkan semburan darah dari mulutnya dan desah nafas terakhirnya, adalah karena aku, karena mimpinya. Ibuku tiada, meninggalkan aku sendiri dengan mimpinya, sebelum aku cukup dewasa untuk menghidupkan mimpi itu...

---

Namaku Tari. Aku diberi nama oleh ibu, dan ibuku adalah seekor kupu-kupu malam, yang dalam tidur lelahnya di pagi hari, selalu bermimpi menjadi penari. Ibuku adalah kupu-kupu malam yang selalu berhasrat terbang tinggi meninggalkan tamannya sambil menari. Ibuku adalah kupu-kupu malam yang kalah oleh malam dan jatuh mati. Kini, di langit sana, ia pasti terbang dengan bangga memandangku.

Aku, mimpinya, bukanlah seekor kupu-kupu malam.
Aku, Tari, adalah penari.
Aku adalah kupu-kupu penari,
menarikan tarian kupu-kupu di malam hari.

No comments: