Sapardi Djoko Damono (Lagi???)

Sebuah Sejarah

Sejak saya menulis mengenai musikalisasi puisi Sapardi Djoko Damono (SDD) beberapa waktu yang lalu, saya telah mendapat beberapa email yang menanyakan hal tersebut dan beberapa pesan di tagboard/ comment box yang menanyakan keberadaan kasetnya. Sampai saat ini pun, referral di sitemeter blog ini menunjukkan cukup banyak pengunjung yang nyasar ke sini, berasal dari pencarian kata kunci Sapardi Djoko Damono.

Kebetulan, Nana Soebi, salah seorang penyanyi musikalisasi puisi ini, pernah menuliskan email yang menjelaskan mengenai sejarah kaset tersebut. Berikut penjelasannya:

Ini mungkin bisa sedikit jadi latar belakang kaset yang tanpa setahu kami ternyata cukup dihebohkan sampai sekarang itu.

Awalnya adalah sebuah kerja keroyokan di tahun 1987 dan 1988 untuk sebuah "tugas" yang diberikan ke FSUI dari Menteri Pendidikan & Kebudayaan waktu itu, Fuad Hasan, untuk lebih memasyarakatkan sastra khususnya di kalangan pelajar dan mahasiswa. Namanya Bulan Apresiasi Sastra, dan salah satu "produk"nya adalah sekoleksi musikalisasi puisi beberapa penyair yang diedarkan untuk kalangan sangat terbatas saja. Tahun 1990, Sapardi Djoko Damono, yang senang musik dan pandai main gitar juga, kepingin puisinya bisa dimusikalisasi. Jadilah the notorious
Hujan Bulan Juni itu. Peredarannya juga terbatas sekali karena sebagai kaset musik barang itu tidak masuk jalur label industri musik Indonesia (sekarang sih istilahnya "indie"). Kalau ada yang pernah lihat kloter pertamanya dulu, cover kasetnya berbeda dengan yang kloter produksi ulang yang membaregi munculnya album kedua Hujan Dalam Komposisi. Album kedua itu sendiri muncul setelah pentas di TIM itu, kebetulan juga karena ada lagu-lagu baru yang sayang kalau gak didokumentasikan.

Penerbit Grasindo tahun itu juga menelurkan buku kumpulan puisi Hujan Bulan Juni. Sebetulnya judulnya bukan itu, tapi menurut editornya, judul puisi yang itulah yang lebih menjual... karena sudah banyak orang tahu kaset pertama kami. Puisi-puisi yang ada di buku itu sebagian besar diambil dari kumpulan puisi SDD yang sudah dibukukan, sebagian lagi belum, sebagian lagi baru. Dari sekian buku, memang buku itulah yang paling dimintai. Mungkin karena puisinya banyak. Padahal penyairnya sendiri gak senang kumpulan yang berisi terlalu banyak puisi.

Sementara itu, personel pendukung kedua kaset lama tercerai-berai, karena urusan hidup masing-masing. Setelah pada lulus, kami jarang ketemu. Tahun 1996 itu saja sudah merupakan satu reuni tersendiri bagi kami. Dan tidak lagi ketemu sampai tahun lalu. Ari dan Reda sebetulnya masih sesekali nyanyi, itu pun kalau salah satu tidak sibuk. Aku suka bikin kesal mereka berdua karena sempat ogah nyanyi. Yang lain sama sekali No. Sampai akhirnya, gak tau ujung pangkalnya apa, aku dan Reda sepakat kami mesti nyanyi lagi. Secara serius, dan itu berarti album baru. Mungkin juga buat terakhir kalinya, karena meski tidak terkena osteoporosis, sekarang saja kalau kelamaan nyanyi hidung jadi sakit. Tapiiii... kelamaan gak nyanyi malah hatinya yang sakit... So, terbitlah terang di masing-masing kepala tua ini, kenapa nggak bener-bener bikin sesuatu. Terakhir terakhir deh... gak apa-apa.

Sementara itu, dari hasil rumpi dua nenek, kok terkumpul banyak facts bahwa kaset-kaset lama itu sangat disuka. Dan masih sangat dicari. Seorang teman pernah memergoki segerombol anak kampus mau naik gunung di satu terminal di Jember, menyanyikan lagu-lagu kami. Seorang pakar manajemen menyitir salah satu lagu di seminarnya yang bergengsi.
Aku Ingin sendiri, setelah dijadikan lagu tema Cinta Dalam Sepotong Rotinya Garin, makin gak terkendali. Selain dihiaskan di kartu-kartu undangan perkawinan, di Bandung dan Yogya dijembreng-jembreng dalam T-shirt. Satu event lomba musikalisasi puisi di salah satu kampus besar Indonesia menjadikan lagu itu sebagai lagu wajibnya. Garin lalu pakai lagi dua lagu di film tivinya, Rembulan di Ujung Dahan, 2002 kemarin. Belum beberapa sinetron yang tanpa seizin SDD menampilkan bintangnya sedang menyanyikan lagu-lagu itu.

Belum juga yang secara langsung menagih ke masing-masing dari kami, mau beli kaset, atau minta izin meng-copy, atau bahkan sampai marah-marah karena kami ini bego-bego bener jadi manusia...

---

Kami senang, lebih karena bisa jadi kita semua memang butuh banyak alternatif untuk membuat hidup ini terasa lebih manis. Kami senang puisi (bukan cuma karya SDD yang notabene sudah seperti bapak kami sendiri itu), kami senang menyanyi, meski bukan cuma musikalisasi puisi tapi sekarang jadi lebih senang lagi karena lagu-lagu itu ternyata disukai. Seingat kami sih, susah-susah gampang juga bikin lagu-lagu itu, karena kadang SDD sendiri gak berkenan. Entah cara menggalnya salah, entah aransemennya gak cocok. Kami semua berangkat dari kampus, dengan gaya bermusik jaman itu, mainly pake gitar dan betul-betul mengandalkan vokal. Tapi pada dasarnya, SDD itu sangat membebaskan kami untuk berekspresi dan gak kepingin turut campur dalam proses kreatif setiap lagu.

oleh Nana Soebi


To Morning Dew : Can we call this a guest -blogging? ^__^

1 comment:

Anonymous said...

BUKU BARU

Judul : Manusia Ulang-Alik, Biografi Umar Kayam
Penulis : Ahmad Nashih Luthfi
Kata Pengantar : Prof. Dr. Bakdi Soemanto
Penerbit : Eja Publisher Yogyakarta bekerjasama dengan
Sajogyo Inside Bogor
Jumlah Halaman : xxvii + 186 hlm
Jenis kertas dan ukuran buku : HVS 70 gram, 14 x 21 cm.
Harga : Rp. 29.000,-

Kompas, Minggu, 03 Juni 2007
Kehidupan Seorang "Multikulturalis"
Umar Kayam, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, adalah sosok manusia "multikulturalis", seorang akademisi, birokrat, seniman, sastrawan, budayawan, dan juga penikmat makanan. Sebagai ilmuwan yang seniman (atau sebaliknya), Umar Kayam telah memaknainya sebagai sisi kemanunggalan yang harus direfleksikan dalam lintas disiplin ilmu. Seperti yang selalu ditekankannya bahwa penting bagi seorang sarjana memiliki wawasan "vertikal" yang merupakan refleksi dari masing- masing ilmu, dan wawasan "horizontal" sebagai wawasan yang mendudukkan relevansi bidangnya dengan disiplin ilmu lain sehingga tidak terkotak-kotak. Pejalan budaya atau cultural commuter adalah istilah yang dipakainya untuk menjelaskan lebih jauh, bagaimana orang bergerak secara ulang-alik, dari tradisionalitas ke modernitas, dari desa ke kota, serta dari berbagai komunitas dan kebudayaan.
Buku ini mengulas kehidupan Umar Kayam yang berlatar belakang keluarga priayi yang dikemas dengan metode dalam penelitian sejarah, yaitu biografi.
Tiga bab pertama menggambarkan fase kehidupannya dari masa kanak-kanak hingga memasuki mahasiswa yang telah menampakkan jiwa esoterismenya. Benih-benih pemikiran Umar Kayam dalam kesenian dan kebudayaan dapat dilacak mulai tahap ini. Karyanya yang menonjol, seperti Seribu Kunang-Kunang di Manhattan, Sri Sumarah, Bawuk, serta novelnya yang terakhir, Para Priyayi, mencerminkan penghargaan terhadap pluralisme, lintas ideologi, lintas agama, maupun etnik. (DEW/Litbang Kompas)




Jurnal Nasional, Minggu V, Juni 2007
Jalan Menikung Umar Kayam
Umar Kayam salah seorang intelektual gemintang yang pernah dimiliki Indonesia digambarkan nyaris utuh dalam buku ini.
Kekayaan Umar Kayam terletak pada kemampuannya untuk mendudukkan persoalan pada proporsinya. Dengan demikian pemecahan masalah apapun bentuk dan kesulitannya akan mudah diselesaikan. Agaknya sikap itu pula yang membuatnya jadi buruan para calon doktor untuk menjadikannya pembimbing. Sebagai seorang guru besar yang membimbing calon doktor, ia tidak terlalu memikirkan urusan formal. Ia tak peduli dengan kesalahan titik, koma, atau ejaan, karena menurutnya hal itu bukanlah urusan calon doktor, tapi tukang ketik.
Sebagai sebuah biografi ternyata buku ini menggambarkan sosok Kayam dalam lingkaran cerita kehidupan yang terlampau luas. Namun upaya serius dari penulis untuk mendekati gambaran utuh dari sosok Umar Kayam tampak dari sekian banyak orang-orang terdekat mendiang Umar Kayam yang diwawancarainya. Hal itu juga terlihat dari begitu banyaknya karya Umar Kayam yang dijadikan referensi sebagai jalan menelaah pemikiran Umar Kayam. (Bonnie Triyana)

Tempo, 3 Juni 2007
Priyayi Yang Menikung Jalan
Buku yang memberikan gambaran tentang priyayi yang sanggup mempopuliskan kepriyayiannya. Biografi Umar Kayam yang cukup kaya. Inilah buku yang menarik dibaca. Manusia Ulang Alik: Biografi Umar Kayam tidak kering, juga tidak romantik—sebagaimana umumnya buku biografi di sini. Ia memberikan gambaran umum sekaligus kejutan-kejutan detail dalam pembahasan yang obyektif.
Secara historiografis buku ini sangat menarik. Penulisnya dengan lihai menjaring historical consciousness melalui penekanan pada Umar Kayam on aware of becoming and not only being. Kekayaan detail, sebagai syarat utama sebuah biografi, tampak dari narasumber yang dipakainya, mulai dari istri, saudara, hingga koleganya seperti S.M. Ardan dan Prof. Dr. Rachmat Djoko Pradopo.
Tampak, penulis mendekati tokohnya dengan teori dasar Freud, childhood is the father of man. Dengan kerangka berfikir ini, akar kebudayaan sang tokoh bisa dilacak dan dinilai dari masa kecilnya. Kepriyayian yang mewarnai masa kecilnya justru menjadi semacam epiphany, turning points moments, atau momen krisi bagi kehidupan pribadinya begitu ia menyaksikan perubahan dunia yang sedemikian cepat dan menuntut sikap adaptif. Dengan begitu ia manjadi priyayi yang kritis untuk kemudian memilih menikung jalan: mempopuliskan priyayi.
Karya ini sebagaimana buku sejarah pada umumnya memang masih menyisakan banyak pertanyaan, sebuah tanda yang sebenarnya sangat baik. (M. Yuanda Zara)

www.umarkayam.org
Sebuah Buku yang Mak Nyus
“Manusia Ulang Alik” demikian buku ini memberikan label untuk Umar Kayam. Sebuah ekspresi apresiatif segala hal tentang Umar Kayam. Sudah barang tentu, setelah melakukan proses panjang: penelusuran koran-koran berdebu, keliping, analisis berbagai karya, hingga wawancara. Demi sebuah pelajaran tentang hidup dari sosok pria kelahiran Ngawi yang bernamakan Umar Kayam.
Umar Kayam adalah sastrawan, namun juga sosiolog. Lebih tepatnya sosiolog yang sastrawan, dan sastrawan yang sosiolog. Dia adalah orang Jawa, sebagaimana orang Jawa yang lain, harmonitas lebih utama dari nyawa. Namun, Umar Kayam, bukanlah sekedar orang Jawa, dia hafal betul nama-nama kota: entah yang di pinggiran Jakarta atau di USA. Dari Ciputat hingga Chicago, dari Solo hingga Sanfransisco. Dari Kalibening hingga California
Sebagai sastrawan, karya-karyanya telah banyak dikenal. Banyak muatan yang terselip di sela-sela deretan huruf dalam novel-novelnya. Tentu, semua kenal dengan Clifford Geertz, orang yang paling bertanggung jawab atas trikotomi masyarakat Jawa: Santri, Abangan, dan Priyayi. Dan Umar Kayam larut dalam masyarakat Jawa yang dikategorikan oleh Geertz. Sebagai orang dalam, konon Umar Kayam, merasa keberatan dengan narasi ciptaan Geertz atas dunia priyayi: wilayah dimana mungkin dia masuk di dalamnya. Lalu Umar Kayam menginterupsinya, bukan dengan memarah-marahi tulisan Geertz, tapi menyajikan sebuah cerita/ novel. Dengan gaya tutur yang dapat disebut baru, membiarkan aktor-aktor dalam novelnya bercerita mengalir menarasikan hidupnya sendiri. Novel Para Priyayi, adalah semacam jawaban, semacam interupsi, mungkin ketidaksetujuan atas simplifikasi masyarakat Jawa yang ditorehkan Geertz. Demikian salah satu cara Umar Kayam ber-sastra sekaligus berdebat akademik.
Buku ini merupakan sebuah biografi, sebagaimana kebanyakan biografi, unsur-unsur apresiasi, kekaguman dan semangat moralitas berhasil mendahului proses penulisan. Penyajian sejarah masih sangat standard, kehidupan unik yang ditempuh dengan motede “nakal”: demoralisasi sejarah, belum nampak kuat dalam buku ini. Kehidupan keseharian seperti: cara berpakaian, cara makan, spritualitas, tak tampak. Demikian pula, buku ini sepi dari sesuatu yang unik dari Sang Umar Kayam sehingga dia menjadi disukai atau dibenci orang. Sesuatu yang remeh temeh yang semestinya bila ditelusuri dan dianalisis akan menemukan kedalaman Umar Kayam yang utuh, tidak pula tampil dari buku ini. Di sinilah kadang Luthfi melupakan apa yang telah dideklarasikan sebelumnya.
Namun apapun itu, Luthfi tetap masih bagus. Bukankah buku ini adalah hanya sebuah skripsi. Menulis skripsi terkadang jauh lebih sulit dari pada desertasi. Manakala seseorang hendak menulis sebuah skripsi yang bagus, dengan “gagasan yang besar”, dan ide-ide baru seringkali yang ditemukan adalah tidak ditemukan dosen pembimbing. Atau biasanya Pak Dosen akan bilang “Nak, kamu ini masih S1, tidak usah menulis yang besar-besar, pikirkanlah ide-idemu itu untuk jenjang studimu selanjutnya”. Jika sudah demikian, siapapun itu pasti akan merasa lemas, hingga kesimpulan pun akan dipungut: skripsi yang baik adalah skripsi yang jadi”.
Buku ini merupakan kompromi, antara berbagai kendala dan ketidakmampuan dan keharusan untuk menulis. Sekalipun begitu, apa yang dikerjakan oleh Luthfi tidak bisa dikategorikan sebagai pilihan “skripsi yang baik adalah skripsi yang sudah jadi”, namun jauh lebih dari itu, apa yang dilakukan oleh Luthfi tetap mak nyus untuk dibaca.
Terlepas dari semuanya, ada satu hal yang membuat buku ini sangat menarik dan penting. Yaitu ditulis oleh seseorang yang berlatar belakang pesntren. Jika memang Geertz benar dengan trikotomi: priyayi, abangan dan santri, masing-masing mempunyai batas dan kosmologi berbeda-beda. Maka buku ini juga marupakan ekspresi ziarah kebudayaan dimana masyarakat Jawa saling mempelajari antara satu dengan yang lain. Dan buku ini merupakan wujud bagaimana santri membaca priyayi. Lantas masihkah trikotomi itu dapat dipertahankan lagi? (Slamet Tohari)

Seputar Indonesia, 9 September 2007
Mengenal Umar Kayam Lebih Dekat
Biografi adalah suatu hasil dari pengakomodasian kehidupan (secara pasrsial) seorang tokoh, mulai kepribadian, karier, karya, hingga seluk beluk keluarganya. Menulis sebuah biografi tak semudah membalkan telapak tangan, sebab banyak aturan yang ditaati, seperti harus menjadpat izin keluarga sang tokoh, harus bisa menjadi tokoh itu, dan harus bisa bersikap obuektif. Dengan kata lain, sang penulis dituntut untuk sepenuhnya menjadi sosok atau tokoh yang sedang ia tulis.
Namun, kesulitan itu tidak berlaku bagi Ahmad Nashih Luthfi, yang kini berprofesi sebagai staf akademik di Jurusan Sejarah UGM. Ia mampu mengakomodasi seputar kehidupan Umar Kayam dengan begitu apik dan cerdas.
Lewat sebuah buku Manusia Ulang alik : Biografi Umar Kayam, yang diambil dari skripsinya, penulis dengan begitu cekatan mengulas warna-warni kehidupan Umar Kayam sekaligus menyajikan data-data konkrti yang utuh, guna menunjang kevalidan dan kebasahan suatu karya ilmiah. Kendati buku ini tidak terlalu tebal seperti biografi pada umumnya, justru para pembaca budimana akan menemukan keunikan tersendiri dari apa yang disajikannya.
Umar Kayam adalah sosok yang demokratis serta inklusif terhadap siapapun dan dalam persoalan apapun. Selain itu, Umar Kayam juga dikenal sebagai sosok sastrawan dan budayawan. Karyanya meliputi cerpen, novel, esai-esai kebudayaan, khususnya kebudayaan Jawa. Karya-karya fiksinya dianggap mempunyai makna baru dalam dunia kesusastraan. Ia dikelompokkan sebagai sastrawan angkatan 50 (1950-1970). Angakatan dengan corak atau kekhasan berupa penceritaan yang kukuh, tanpa banyak disertai pandangan-pandangan pribadi.
Keberanian penulis untuk menguak keberadaan Umar Kayam, lewat karya-karyanya yang kritis baik yang berupa cerpen, novel, sekaligus esainya seolah menjadi bumbu tersendiri dalam buku ini. (Ari Siswanto)

“Umar Kayam adalah sosok yang tidak pernah basi dibicarakan. Sebab, ia adalah sosok yang memancarkan cahaya dari berbagai sudut. Ia ibarat sebuah prisma. Orang bilang, Umar Kayam adalah seorang demokratis. Ya, memang. Tapi ada kalanya, Umar Kayam sangat chossy, pilih-pilih dalam pergaulan......Sebab bagaimanapun, Umar Kayam adalah seorang manusia. Jika orang ingin menemukan gambaran Umar Kayam secara utuh, orang akan segera melihat sisi gemerlapnya dan sisi gelapnya. Seperti dikatakan Ernest Ghoocy. Sisi gelap itu ibaratnya l’ombre alias bayangan. Oleh karena itu, menulis biografi yang benar-benar bisa bermanfaat adalah jika di sana juga ada tinjauan kritis dari penulisnya. Dalam buku karangan A. N. Luthfi ini, tinjauan kritis dimaksudkan tersedia.”
“Startegi penulis buku ini yang menggunakan teori dasar Freud, the childhood is the father of a man sangat kena. Terutama jika orang kemudian membaca novel Para Priyayi jilid pertama. Novel yang boleh dikatakan sebuah konstruksi munculnya ambtenaarisme di Indonesia, akan lebih mudah dan lebih nikmat dikunyah karena uraian masa kecil Umar Kayam dalam buku ini. Juga, sikap dan pandangan dunianya yang mengutamakan kebersamaan, terfahami dengan jelas karena informasi masa kecil.”
Prof. Dr. Bakdi Soemanto

“Dengan penerbitan buku ini, Sains ingin menggarisbawahi capaian pemikiran Umar Kayam yang melakukan lintas ilmu dan bahkan ilmu dengan seni. [...] ini merupakan sebuah peringatan keras atas kecenderungan kompartementialisasi ilmu sosial dan humaniora yang berkembang di Indonesia dewasa ini. Dalam konteks pembangunan, bila istilah ini masih dapat digunakan, pemikiran Umar Kayam untuk memfokuskan pada “aspek manusia” atau “kebudayaan” sebagai agensi melebihi pembangunan fisik, masih sangat relevan untuk ditekankan di tengah-tengah masyarakat, perbincangan akademis, maupun pembahasan di lingkungan pengambil kebijakan.”
“Penulis buku ini dengan jeli menangkap pesan Umar Kayam kepada kita, terutama pengelola negara ini bahwa “kekuasaan dibangun untuk dapat mensejahterakan rakyat…namun yang terjadi, kekuasaan diperebutkan untuk dapat mengatur sumber-sumber pendapatan, sehingga terjadi royokan, rebutan. Kalau sudah rebutan, maka yang brutal yang ‘menang’. Ini yang harus kita waspadai, harus kita jaga agar kekuasaan itu bisa diatur bersama-sama dengan baik…”. Selanjutnya, “……kekuasaan yang telah semakin besar dan kuat, tak lagi memikirkan kebudayaan….padahal kebudayaan adalah kehidupan masyarakat, kebudayaan adalah ‘buatan’nya orang banyak. Kekuasaan pada kenyataannya (di negeri kita ini) adalah semata-mata untuk mengatur sumber-sumber pendapatan”. Inilah point-point penting yang ditemukan oleh penulis buku ini. “
Sajogyo Inside, Bogor

Buku ini membahas mulai dari kehidupan masa kecil Umar Kayam di Ngawi, Mangkunegaran Solo dalam nuansa keluarga, priyayi, masa mahasiswa, perannya sebagai Dirjen Radio, Televisi, dan Film, dll. ulasan tentang pemikiran keilmuan, kesenian dan kebudayaan, sampai dengan paparan mengenai bagaimana komunitas Umar Kayam mengenang dan mewacanakannya kembali setelah wafatnya.


Dapatkan di toko-toko buku terdekat.
Pemesanan bisa menghubungi:
• Eja Publisher: telp. 0274-7019945, eja_publisher@yahoo.co.id
• Sajogyo Institute: telp. 0251-374048, ys-sains@sajogyo-inside.org
• Anna Mariana: 081802541715, ava_gillian@yahoo.com atau sarahwulan_bia@yahoo.com