“Yang, kunci pintunya dong…”



Aku merasa seperti si Bibi Tutup Pintu di majalah Bobo saja, yang selalu berteriak “Tutup pintu!” pada setiap anggota keluarga kelinci yang lupa menutup pintu. Setiap saat, suamiku harus lagi dan lagi diingatkan agar menekan tombol central lock untuk mengunci pintu mobil yang kami kendarai.

Setiap kali mobil melaju keluar dari pekarangan, aku harus selalu merapalkan mantra ini, “Kunci pintu dong…”. Pernah juga aku pura-pura lupa, sekedar ingin tahu apakah ia akan ingat sendiri bila tidak aku ingatkan. Ternyata tidak. Yang ada malah aku yang jadi ikutan lupa.

Tak jarang aku jadi merasa kesal. “Pintunya dong, sayang…! Kok mesti diingetin terus, sih!”, kataku sambil cemberut. Atau kalau lagi kumat mau mens, bisa jadi merepet lebih panjang, “Kunci pintu dong! Ini kan Jakarta. Bukan Bandung. Tiba-tiba bisa aja ada yang buka pintu pas kita di perempatan lampu merah! Kan bahaya!”

Tadinya aku berharap kebiasaan mengunci pintu ini akan tumbuh dengan sendirinya ketika kami sudah punya momongan. Ya, kan ceritanya sudah harus merasa lebih bertanggung-jawab. Tapi ternyata tidak tuh… tetap saja peran si Bibi Tutup Pintu harus terus aku jalani. Aku curiga juga, jangan-jangan ia sebenarnya ‘menikmati’ omelanku itu. Huh!

***

Anak kami kini sudah hampir tiga tahun usianya. Di mobil, kini ia senang duduk sendiri di kursi belakang. Mengunci pintu mobil kini jadi semakin penting. Karena, walaupun sudah mengerti bahayanya bermain-main dengan handle pintu mobil, terkadang tangannya masih terlalu ‘gatal’ untuk menarik-memencet-menekan segala sesuatu yang menurutnya bisa dimainkan. Lalu apakah hal ini membawa suatu perubahan?

Tidak. Tidak ada yang berubah. Suamiku tetap selalu lupa menekan tombol pengunci otomatis pintu mobil. Dan aku tetap selalu menjadi si Bibi Tutup Pintu yang bertugas mengingatkan.

Ah… tidak, aku salah. Ternyata ada kok yang berubah… Dulu aku mengatakan, “Kunci pintunya dong…” dengan hati kesal. Kini aku mengatakannya sambil mengulum senyum di hati…