oleh: Rahmadini
dimuat di Majalah Sekar edisi 103/13, 20 Februari- 6 Maret 2013
Ada selembar daun gugur terbang di atas jalanan padat yang dilalui Mira sore ini. Daun kecoklatan itu melayang pelan dihembus angin yang tak terlalu kencang. Mira tersenyum. Semua akan baik-baik saja.
Mira menghela napas perlahan dan menatap selembar daun kering lain yang sedang menari di atas kendaaraan di depannya. Sungguh pemandangan yang selalu disukainya. Daun-daun yang melepaskan diri dari ujung-ujung ranting. Mereka seakan sedang menarikan tarian yang begitu cantik. Tarian kebebasan.
Ya, semua akan baik-baik saja.
Ada test-pack yang baru saja ia beli di dalam tasnya. Tak lama lagi ia segera akan tiba di rumah dan segala kekhawatirannya akan sirna.
Semua akan baik-baik saja.
----
Ketika Gun tiba, Mira masih terbaring di tempat tidurnya. Entah sudah berapa jam ia di sana, tergolek dengan mata menerawang dalam gelap. Kedua matanya sembab dan basah. Kenapa ini bisa terjadi?
Langkah kaki Gun terdengar mendekat. Lelaki yang dicintainya.
“Yang, aku pulang. Kamu sudah tidur, ya?”
Gun membuka pintu dan menyalakan lampu. Cahaya menerangi kamar itu dan Gun merasakan ada sesuatu yang tidak biasa.
“Sudah malam begini, kenapa jendela masih terbuka?” tanya Gun heran. Dilihatnya Mira masih mengenakan pakaian kerjanya, berbaring di atas tempat tidur dengan mata merah dan rambut yang kusut. “Mir, kamu kenapa?” Gun duduk di sisi tempat tidur dan mengulurkan tangannya ke wajah Mira. “Kamu sakit, Mir?”
Mira mengerjapkan matanya yang terasa perih. Ia menggeleng. Tangannya lemah mengulurkan sebuah strip kecil berwarna putih kepada Gun.
“Apa ini?”
“Test-pack, Gun. Aku sudah terlambat dua minggu.”
Gun memandang strip putih itu. Ini adalah pertama kalinya ia melihat secara langsung benda yang dinamakan test-pack itu. Gun tidak mengerti. Ia tidak bisa mencerna apa yang telah terjadi.
“Positif, Gun. Aku hamil,” tangis Mira kembali meledak.
Gun terpana. “Bagaimana bisa, Mir?”
Mira menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu, Gun.”
----
Showing posts with label reka-kata. Show all posts
Showing posts with label reka-kata. Show all posts
Jalan Bercabang Dua
"Di dekat rumahku ada jalan yang lucu," katanya padaku tiba-tiba di tengah-tengah kebisuan kami. Lalu ia pun bercerita.
Ada persimpangan di jalur yang dilewatinya setiap pagi. Simpang jalan yang lucu. Sebuah jalur searah untuk tiga mobil kemudian memecah menjadi dua buah jalan yang lebih kecil, seperti huruf Y. Kita sebut saja kedua jalan yang lebih kecil itu, jalan baru dan jalan lama. Kedua jalan tersebut terbentang bersisian, berjarak sekitar seratus meter dan dipisahkan oleh deretan bangunan. Lucunya, setelah sekitar satu kilometer, ujung kedua jalan itu akan kembali bertemu. Dan di antara deretan-deretan bangunan yang memisahkan kedua jalan tersebut, kadang masih ada tanah lapang yang kosong, sehingga para pelaju di salah satu jalan bisa memandang ke jalan yang satunya lagi untuk membandingkan tingkat kemacetan. Hanya saja jarak masih terlalu jauh, sehingga sulit untuk bisa saling melambai tangan.
Tahun lalu, dan selama bertahun-tahun sebelumnya, ia selalu melewati jalan yang di sebelah kiri, yaitu jalan yang lama. Tentu saja, karena dulu jalan yang baru belum ada. Ketika itu, jalan yang lama selalu padat sewaktu ia melewatinya di pagi hari. Kendaraan harus lewat dengan tersendat-sendat. Kini, ia selalu memilih yang baru. Namanya juga baru, jalannya terasa lebih mulus untuk melaju. Padahal ia tahu, kedua jalan toh berakhir di satu ujung yang sama.
---
"Suatu hari, mendadak aku ingin mengambil jalan lama di sebelah kiri," jelasnya padaku.
Impulsif saja, katanya. Mungkin kangen suasananya, ia mencoba memberi penjelasan yang lebih rasional (atau malah gak rasional, ya?). Ia kangen orang-orang yang ada di sisi jalan yang itu. Di situ, katanya lagi, ada sebuah bangunan sekolah dasar. Ada bapak-bapak tua bertubuh kecil -- lengkap dengan papan rambu-rambu, topi, dan peluit -- bertugas tiap pagi menghentikan kendaraan sejenak untuk menyeberangkan anak-anak sekolah. Ada rumah sangat-sangat besar dengan pagar tinggi dan papan di gerbang bertuliskan: hati-hati banyak anak-anak. Ia bilang, kata orang-orang -- karena ia belum pernah melihat sendiri -- rumah itu adalah milik seorang kaya pemurah yang punya banyak sekali anak asuh. Lalu ada lagi sebuah rumah bergaya tahun tujuh puluhan berhalaman luas, dengan seekor anjing yang berlari-lari di sana. Yah, pokoknya ia mendadak kangen dengan semua itu. Terutama anak-anak sekolah dan bapak tua penyeberang jalan itu, tegasnya lagi.
"Tapi hidup itu lucu. Benar kata orang-orang itu. Hidup memang sungguh lucu," ia berkata sambil tersenyum samar dengan pandangan yang menerawang.
"Kau tahu apa yang lalu terjadi?" tanyanya kemudian yang tentu saja aku jawab dengan tatapan mana-aku-tahu-ya-kamu-kasih-tahu-dong.
Belum juga sampai separuh jalan, tiba-tiba ada pengendara motor yang melambai padanya dan memberi tahu bahwa ban mobilnya bocor. Yup, bocor blas, katanya. Ada dua buah paku menancap di ban kiri belakang kendaraannya. Paku yang sengaja disebar, terbuat dari jari-jari payung yang diruncingkan. Ranjau-ranjau yang sudah menemukan korbannya.
---
"Hidup itu lucu, kan?" Entah itu tanya atau pernyataaan yang minta dukungan.
Aku manggut-manggut. Iya. Hidup itu memang lucu. Selucu jalan bercabang dua di dekat rumahnya. Jalan yang, mau tak mau, harus dipilihnya jika ingin terus. Ia tak pernah tahu apa yang akan ditemuinya di cabang pilihannya. Pun ketika ia telah akrab dengan kedua jalan itu. Pun ketika ia tahu bahwa keduanya akan berujung pada satu muara yang tak beda.
"Kau tahu apa yang lebih lucu lagi?" tanyanya kembali yang -- sekali lagi -- tentu kujawab dengan tatapan mana-aku-tahu-ya-kamu-kasih-tahu-dong.
"Setelah ban gembos, aku baru sadar, kalau ternyata hari itu sekolah sudah libur. Tak ada anak-anak sekolah dan si bapak tua penyeberang jalan."
Ada persimpangan di jalur yang dilewatinya setiap pagi. Simpang jalan yang lucu. Sebuah jalur searah untuk tiga mobil kemudian memecah menjadi dua buah jalan yang lebih kecil, seperti huruf Y. Kita sebut saja kedua jalan yang lebih kecil itu, jalan baru dan jalan lama. Kedua jalan tersebut terbentang bersisian, berjarak sekitar seratus meter dan dipisahkan oleh deretan bangunan. Lucunya, setelah sekitar satu kilometer, ujung kedua jalan itu akan kembali bertemu. Dan di antara deretan-deretan bangunan yang memisahkan kedua jalan tersebut, kadang masih ada tanah lapang yang kosong, sehingga para pelaju di salah satu jalan bisa memandang ke jalan yang satunya lagi untuk membandingkan tingkat kemacetan. Hanya saja jarak masih terlalu jauh, sehingga sulit untuk bisa saling melambai tangan.
Tahun lalu, dan selama bertahun-tahun sebelumnya, ia selalu melewati jalan yang di sebelah kiri, yaitu jalan yang lama. Tentu saja, karena dulu jalan yang baru belum ada. Ketika itu, jalan yang lama selalu padat sewaktu ia melewatinya di pagi hari. Kendaraan harus lewat dengan tersendat-sendat. Kini, ia selalu memilih yang baru. Namanya juga baru, jalannya terasa lebih mulus untuk melaju. Padahal ia tahu, kedua jalan toh berakhir di satu ujung yang sama.
---
"Suatu hari, mendadak aku ingin mengambil jalan lama di sebelah kiri," jelasnya padaku.
Impulsif saja, katanya. Mungkin kangen suasananya, ia mencoba memberi penjelasan yang lebih rasional (atau malah gak rasional, ya?). Ia kangen orang-orang yang ada di sisi jalan yang itu. Di situ, katanya lagi, ada sebuah bangunan sekolah dasar. Ada bapak-bapak tua bertubuh kecil -- lengkap dengan papan rambu-rambu, topi, dan peluit -- bertugas tiap pagi menghentikan kendaraan sejenak untuk menyeberangkan anak-anak sekolah. Ada rumah sangat-sangat besar dengan pagar tinggi dan papan di gerbang bertuliskan: hati-hati banyak anak-anak. Ia bilang, kata orang-orang -- karena ia belum pernah melihat sendiri -- rumah itu adalah milik seorang kaya pemurah yang punya banyak sekali anak asuh. Lalu ada lagi sebuah rumah bergaya tahun tujuh puluhan berhalaman luas, dengan seekor anjing yang berlari-lari di sana. Yah, pokoknya ia mendadak kangen dengan semua itu. Terutama anak-anak sekolah dan bapak tua penyeberang jalan itu, tegasnya lagi.
"Tapi hidup itu lucu. Benar kata orang-orang itu. Hidup memang sungguh lucu," ia berkata sambil tersenyum samar dengan pandangan yang menerawang.
"Kau tahu apa yang lalu terjadi?" tanyanya kemudian yang tentu saja aku jawab dengan tatapan mana-aku-tahu-ya-kamu-kasih-tahu-dong.
Belum juga sampai separuh jalan, tiba-tiba ada pengendara motor yang melambai padanya dan memberi tahu bahwa ban mobilnya bocor. Yup, bocor blas, katanya. Ada dua buah paku menancap di ban kiri belakang kendaraannya. Paku yang sengaja disebar, terbuat dari jari-jari payung yang diruncingkan. Ranjau-ranjau yang sudah menemukan korbannya.
---
"Hidup itu lucu, kan?" Entah itu tanya atau pernyataaan yang minta dukungan.
Aku manggut-manggut. Iya. Hidup itu memang lucu. Selucu jalan bercabang dua di dekat rumahnya. Jalan yang, mau tak mau, harus dipilihnya jika ingin terus. Ia tak pernah tahu apa yang akan ditemuinya di cabang pilihannya. Pun ketika ia telah akrab dengan kedua jalan itu. Pun ketika ia tahu bahwa keduanya akan berujung pada satu muara yang tak beda.
"Kau tahu apa yang lebih lucu lagi?" tanyanya kembali yang -- sekali lagi -- tentu kujawab dengan tatapan mana-aku-tahu-ya-kamu-kasih-tahu-dong.
"Setelah ban gembos, aku baru sadar, kalau ternyata hari itu sekolah sudah libur. Tak ada anak-anak sekolah dan si bapak tua penyeberang jalan."
Mengambang dan Berayun
Terbaring malas di kamar. Kala itu pagi. Selembar koran di tanganmu. Kau baca. Lalu mulailah kalimat-kalimat bergulir di udara. Dialog. Monolog. Antara hakikat dan syariat.
Di luar jendela, ada layang-layang tersangkut di ujung atap. Menggantung pada sejengkal benang. Kertas putihnya terkoyak. Tinggal buluh rangka dan sisa sobekan, berayun-ayun dicanda angin kemarau.
Melengkung sudut bibirmu. Suara menyublim dalam ruang. Mengambang. Hakikat dan syariat hilang dalam angin. Hanya ada layang-layang robek berayun-ayun di depan matamu.
Di luar jendela, ada layang-layang tersangkut di ujung atap. Menggantung pada sejengkal benang. Kertas putihnya terkoyak. Tinggal buluh rangka dan sisa sobekan, berayun-ayun dicanda angin kemarau.
Melengkung sudut bibirmu. Suara menyublim dalam ruang. Mengambang. Hakikat dan syariat hilang dalam angin. Hanya ada layang-layang robek berayun-ayun di depan matamu.
Mengingat Lupa
Terkadang kita -- mungkin secara tak sadar -- kerap menghindar dari sepenggal ingatan tertentu. Melupa. Menafikan segala yang membangkitkan kenangan atas serentang masa yang ingin dilupa. Meletakkan sebuah album foto di bagian lemari yang sukar dijangkau dan membiarkannya berdebu. Menghilangkan nama sebuah kota dari peta kehidupan. Menutup telinga atas sebuah topik percakapan. Memalingkan wajah atas episode tertentu pada sebuah film. Melompati dua atau tiga paragraf dari sebuah novel yang sedang dibaca.
Atau... menekan tombol 'stop' secara reflek, setiap kali rekaman fragmen tertentu dari masa lalu berputar. ‘Berhentilah, cukup sampai di situ saja.’
---
Mengenang kota itu, dua puluh tahun silam, awalnya membawa rasa hangat di hatinya. Teman-teman kecil, sekolah berdinding papan tak berpagar di dekat ‘rawa’, kepala sekolah berkulit legam yang bersahaja, guru baru yang membuka mata, permainan di hijau tanah lapang, perkemahan sabtu minggu, bukit di belakang sekolah, jajanan di rumah seberang, bulir-bulir kuning akasia, sepokok bambu di sudut jalan, rumput jarum menusuk kaus kaki, sungai kecil berjembatan kayu…
Lalu ia akan terkenang rumahnya dulu. Rumah besar itu, pekarangan yang sungguh lapang, segala pohon jambu di halaman belakang, kandang ayam, sumur timba tak terpakai, seekor anjing menandak gembira, bermain monopoli dan menang, kamar-kamar kosong, ruang tidur luas untuk dirinya sendiri….
Lalu...
STOP! Sampai di situ saja. Karena melarut berarti... rasa getir di kerongkongan, butir bening di sudut mata, dan rasa bersalah yang -- ia tahu -- semestinya tak ada.
---
Sekitar sepuluh tahun yang lalu, di atas pintu keluar sebuah supermaket di suatu kota, ada sebilah papan (biru?) bertuliskan kata mutiara. Hiasan yang tak menyolok mata, tak menuntut perhatian khalayak, namun tetap ganjil untuk sebuah supermarket. Aku sendiri tak kan pernah memperhatikannya, apabila seseorang tak menunjukkannya padaku.
Kalau tak salah begini, bunyinya:
Atau... menekan tombol 'stop' secara reflek, setiap kali rekaman fragmen tertentu dari masa lalu berputar. ‘Berhentilah, cukup sampai di situ saja.’
---
Mengenang kota itu, dua puluh tahun silam, awalnya membawa rasa hangat di hatinya. Teman-teman kecil, sekolah berdinding papan tak berpagar di dekat ‘rawa’, kepala sekolah berkulit legam yang bersahaja, guru baru yang membuka mata, permainan di hijau tanah lapang, perkemahan sabtu minggu, bukit di belakang sekolah, jajanan di rumah seberang, bulir-bulir kuning akasia, sepokok bambu di sudut jalan, rumput jarum menusuk kaus kaki, sungai kecil berjembatan kayu…
Lalu ia akan terkenang rumahnya dulu. Rumah besar itu, pekarangan yang sungguh lapang, segala pohon jambu di halaman belakang, kandang ayam, sumur timba tak terpakai, seekor anjing menandak gembira, bermain monopoli dan menang, kamar-kamar kosong, ruang tidur luas untuk dirinya sendiri….
Lalu...
STOP! Sampai di situ saja. Karena melarut berarti... rasa getir di kerongkongan, butir bening di sudut mata, dan rasa bersalah yang -- ia tahu -- semestinya tak ada.
---
Sekitar sepuluh tahun yang lalu, di atas pintu keluar sebuah supermaket di suatu kota, ada sebilah papan (biru?) bertuliskan kata mutiara. Hiasan yang tak menyolok mata, tak menuntut perhatian khalayak, namun tetap ganjil untuk sebuah supermarket. Aku sendiri tak kan pernah memperhatikannya, apabila seseorang tak menunjukkannya padaku.
Kalau tak salah begini, bunyinya:
Happiness, it's nothing more than a good health and a poor memory.
Hmm… begitukah? Dan sekarang, masih adakah tulisan itu di sana?
Karangan Iseng
Siang-siang, dapet sms dari si Neng pemilik Alas-Kaki-Merah. Katanya, dirinya ada gawean yang menantang di sini, yakni menciptakan karangan dengan "missing letter" atawa "abjad yang hilang". Tadinya sayah males. Tapi si Eneng emang hebat, bisa meyakinkan sayah hingga terinspirasi iseng. Jadilah ini dia karangan tanpa abjad ... hm... ada deh...
Mesin Hebat Yang Bikin Nginap
Menjawab tantangan Kke agar bikin karangan iseng kayak gini. Hmm… bagaimana caranya agar hanya pakai a – e – i ? Mari-mari kita karang.
---
Cerita tentang apa ya? Cerita tentang Bintang aja deh. Bintang beberapa hari kemarin ada pengalaman pertama lagi. Menginap sendiri tidak sama Nda dan Ayah.
Hebat memang daya tarik game mesin-pintar-dengan-layar-besar-dan-papan-ketik (agar tidak mengetik istilah tenarnya, hehe). Nama game-nya adalah incredible machine. Game lawas sih. Tapi masih gres bagi Bintang. Lebih-lebih ini adalah jelmaan kegemarannya mengarang hayal tentang mesin. Biasanya sih, dia senang menggambarkannya di atas kertas saja.
“Ini mesin yang bisa meledak, Nda.” kata Bintang.
“Ayah, ini pipa air bersih, air ini akan mengalir ke pipa yang ini. Nanti akan dipancarkan ke sini.” cerita lain Bintang tentang gambar mesin ciptaannya.
Dengan kegemaran ini, bisa dibayangkan kan, bagaimana senangnya dia ketika lihat ada game “incredible machine” di tempat tinggal Kiki, anaknya kakaknya Nda (nah… :p). Setelah sepanjang hari main tapi bergiliran dan tidak senang karena hanya sebentar-sebentar mainnya, menjelang magrib Bintang masih tidak hendak balik (alah, bahasanya :p). Ayah iseng nanya, “Nginep aja, ya?”. Pikir-pikir hanya sebentar, Bintang segera meng-iya-kan. Malah Nda dan Ayah yang jadi menganga, “Bener, nih?”. “Iya, bener.”
Alhasil, malamnya Ayah dan Nda kesepian. Gak ada yang teriak-teriak, cerita-cerita, dan nyanyi, dan nangis. Ayah sampai bilang gini, “Kangen ya. Gimana kita samperin aja, Nda?”
Akhirnya gak jadi kami samperin sih. Lagian ini kan pengalaman pertamanya menginap di tempat “asing” tanpa kami. Langkah besar baginya. Meski demi bermain game, hehehe. Dan, kabar dari ipar saya, Bintang malamnya hanya terlelap sebentar. Dia begadang sampai pagi dengan alasan gak bisa lelap lagi. Padahal sih, demi main game tanpa disela ‘teman-teman’ kecilnya.
---
Yah, begini saja ceritanya si karangan hanya dengan a-e-i. Ternyata bisa. Jritt, Kke. Sayah gak kerja nih jadinya. Hehehe…
Mesin Hebat Yang Bikin Nginap
Menjawab tantangan Kke agar bikin karangan iseng kayak gini. Hmm… bagaimana caranya agar hanya pakai a – e – i ? Mari-mari kita karang.
---
Cerita tentang apa ya? Cerita tentang Bintang aja deh. Bintang beberapa hari kemarin ada pengalaman pertama lagi. Menginap sendiri tidak sama Nda dan Ayah.
Hebat memang daya tarik game mesin-pintar-dengan-layar-besar-dan-papan-ketik (agar tidak mengetik istilah tenarnya, hehe). Nama game-nya adalah incredible machine. Game lawas sih. Tapi masih gres bagi Bintang. Lebih-lebih ini adalah jelmaan kegemarannya mengarang hayal tentang mesin. Biasanya sih, dia senang menggambarkannya di atas kertas saja.
“Ini mesin yang bisa meledak, Nda.” kata Bintang.
“Ayah, ini pipa air bersih, air ini akan mengalir ke pipa yang ini. Nanti akan dipancarkan ke sini.” cerita lain Bintang tentang gambar mesin ciptaannya.
Dengan kegemaran ini, bisa dibayangkan kan, bagaimana senangnya dia ketika lihat ada game “incredible machine” di tempat tinggal Kiki, anaknya kakaknya Nda (nah… :p). Setelah sepanjang hari main tapi bergiliran dan tidak senang karena hanya sebentar-sebentar mainnya, menjelang magrib Bintang masih tidak hendak balik (alah, bahasanya :p). Ayah iseng nanya, “Nginep aja, ya?”. Pikir-pikir hanya sebentar, Bintang segera meng-iya-kan. Malah Nda dan Ayah yang jadi menganga, “Bener, nih?”. “Iya, bener.”
Alhasil, malamnya Ayah dan Nda kesepian. Gak ada yang teriak-teriak, cerita-cerita, dan nyanyi, dan nangis. Ayah sampai bilang gini, “Kangen ya. Gimana kita samperin aja, Nda?”
Akhirnya gak jadi kami samperin sih. Lagian ini kan pengalaman pertamanya menginap di tempat “asing” tanpa kami. Langkah besar baginya. Meski demi bermain game, hehehe. Dan, kabar dari ipar saya, Bintang malamnya hanya terlelap sebentar. Dia begadang sampai pagi dengan alasan gak bisa lelap lagi. Padahal sih, demi main game tanpa disela ‘teman-teman’ kecilnya.
---
Yah, begini saja ceritanya si karangan hanya dengan a-e-i. Ternyata bisa. Jritt, Kke. Sayah gak kerja nih jadinya. Hehehe…
...
Hidup mengajari aku untuk tak lagi percaya pada cinta. Bukan, bukan lalu aku menjadi pahit dan menistakan indahnya kepak sayap cinta. Tapi cinta, kini kutahu, bisa sekejap menjelma bulu-bulu yang berterbangan: ringan, melayang, hilang...
Tapi, Tuhan, sekali lagi memperlihatkan kemahakuasan-Nya. Entah apa rencana-Nya, kali ini.
...
Lihatlah kupu-kupu itu. Sayapnya indah, bukan?
Aku jadi teringat seorang pencinta kupu-kupu. Ia tinggal di daerah pegunungan yang sejuk. Pekarangan rumahnya luas, dipenuhi dengan segala jenis tanaman yang disukai kupu-kupu. Rumahnya dipenuhi oleh kupu-kupu. Kupu-kupu hidup, kupu-kupu yang diawetkan, gambar kupu-kupu, kupu-kupu batu, ulat kupu-kupu, kepompong kupu-kupu. Serba kupu-kupu.
...
Mengetik. Mengetik apa saja. Sudah lama sekali rasanya tidak mengetikkan kalimat-kalimat kosong ataupun setengah kosong atau setengah isi. Mengetik. Mengetik saja. Apa yang terlintas. Tak ada yang terlintas. Hanya ingin mengetik. Menumpahkan kekosongan. Hingga kembali terisi.
Tulis. Tulis saja. Penuhi halaman putih ini dengan huruf-huruf. Menjelma bunyi. Entah rima entah mantra, semoga saja makna.
...
Argh... kosong kosong kosong. Isi isi isi... Hi hi hi... Seperti ketika bermain ular naga dulu. Ular naga panjangnya bukan kepalang, berjalan-jalan selalu kian kemari. Umpan yang lezat itulah yang dicari. Inilah dia yang terbelakang.... kosong kosong kosong isi isi isi...
Tapi, Tuhan, sekali lagi memperlihatkan kemahakuasan-Nya. Entah apa rencana-Nya, kali ini.
...
Lihatlah kupu-kupu itu. Sayapnya indah, bukan?
Aku jadi teringat seorang pencinta kupu-kupu. Ia tinggal di daerah pegunungan yang sejuk. Pekarangan rumahnya luas, dipenuhi dengan segala jenis tanaman yang disukai kupu-kupu. Rumahnya dipenuhi oleh kupu-kupu. Kupu-kupu hidup, kupu-kupu yang diawetkan, gambar kupu-kupu, kupu-kupu batu, ulat kupu-kupu, kepompong kupu-kupu. Serba kupu-kupu.
...
Mengetik. Mengetik apa saja. Sudah lama sekali rasanya tidak mengetikkan kalimat-kalimat kosong ataupun setengah kosong atau setengah isi. Mengetik. Mengetik saja. Apa yang terlintas. Tak ada yang terlintas. Hanya ingin mengetik. Menumpahkan kekosongan. Hingga kembali terisi.
Tulis. Tulis saja. Penuhi halaman putih ini dengan huruf-huruf. Menjelma bunyi. Entah rima entah mantra, semoga saja makna.
...
Argh... kosong kosong kosong. Isi isi isi... Hi hi hi... Seperti ketika bermain ular naga dulu. Ular naga panjangnya bukan kepalang, berjalan-jalan selalu kian kemari. Umpan yang lezat itulah yang dicari. Inilah dia yang terbelakang.... kosong kosong kosong isi isi isi...
Rheia
Aku menyukai namaku, seperti ibuku juga menyukainya. Rheia. Aku menyukai bunyinya. Suara yang dihasilkan oleh bergetarnya udara di rongga mulut. Bunyi rrreeeiii yang bergetar karena gerakan lidah pada langit-langit mulut. Ibu juga menyukai bunyinya. Ini kutahu, karena dulu sekali telah beratus-ratus kali kutanyakan sebab ia menamakanku demikian. Selalu dijawabnya,
Sebab Ibu menyukainya.
Sekali waktu aku menuntut jawaban yang lebih dari itu. Ibu lalu akan menambahkan,
Rheia. Namamu itu terdengar merdu…
Lalu terkadang aku akan kembali bertanya. Apa arti namaku?
Maka Ibu akan kembali bercerita tentang bagaimana ia mendapatkan nama itu.
Namamu adalah nama seorang dokter di rumah sakit tempat kamu dilahirkan. Nama satu-satunya dokter perempuan yang ada di daftar nama dokter yang terpajang di ruang tunggu rumah sakit itu. Ibu tak ingat nama panjangnya. Tapi ibu suka sekali dengan nama depannya. Rheia. Berkali-kali Ibu mencoba mengucapkannya dengan berbagai intonasi. Bergumam, nada memanggil, bertanya, berseru… Tetap cantik. Rheia…reia... rreiyaa… Merdu bukan? Waktu kamu lahir, hanya nama itu yang muncul di benak Ibu. Maka namamu Rheia.
Aku menyukai namaku. Rheia. Makin menyukainya ketika nama itu kutemukan dalam sebuah buku yang kubaca ketika SD dulu. Buku mitologi yunani yang dipinjamkan oleh Bening.
Rheia. Rhea. Ibu. Bunda para dewa.
Sebab Ibu menyukainya.
Sekali waktu aku menuntut jawaban yang lebih dari itu. Ibu lalu akan menambahkan,
Rheia. Namamu itu terdengar merdu…
Lalu terkadang aku akan kembali bertanya. Apa arti namaku?
Maka Ibu akan kembali bercerita tentang bagaimana ia mendapatkan nama itu.
Namamu adalah nama seorang dokter di rumah sakit tempat kamu dilahirkan. Nama satu-satunya dokter perempuan yang ada di daftar nama dokter yang terpajang di ruang tunggu rumah sakit itu. Ibu tak ingat nama panjangnya. Tapi ibu suka sekali dengan nama depannya. Rheia. Berkali-kali Ibu mencoba mengucapkannya dengan berbagai intonasi. Bergumam, nada memanggil, bertanya, berseru… Tetap cantik. Rheia…reia... rreiyaa… Merdu bukan? Waktu kamu lahir, hanya nama itu yang muncul di benak Ibu. Maka namamu Rheia.
Aku menyukai namaku. Rheia. Makin menyukainya ketika nama itu kutemukan dalam sebuah buku yang kubaca ketika SD dulu. Buku mitologi yunani yang dipinjamkan oleh Bening.
Rheia. Rhea. Ibu. Bunda para dewa.
Dari sebuah laci: sepotong cerita yang belum dan entah kapan akan selesai...
CERPEN: DEBU CINTA
Dimuat di majalah Femina no.12, 24-30 Maret 2005
Terima kasih untuk AAA Bulan Trisna Djelantik.
Cerpen ini diinspirasi oleh pementasan Legong Asmarandana–nya.
DI SEBUAH GEDUNG PERTUNJUKAN…
Rati duduk di kursi penonton. Ia menatap ke arah panggung di depannya. Panggung itu sudah hampir siap. Layar putih telah digantungkan di belakangnya. Sebuah pintu masuk rumah Bali yang disebut angkul-angkul, dalam ukuran kecil dan berukiran khas Bali, berdiri di tengah kanan panggung, dihiasi dengan kain poleng, kain bercorak kotak-kotak hitam putih, dan bunga kamboja putih. Sebuah undak-undakan, simbol batu besar tempat bertapa, telah disulap hadir di bagian kiri panggung. Ranting meranggas menaungi batu. Pokok-pokok ranting kecil lain, dengan kamboja putih pada pucuk-pucuknya, berbaris acak melatarbelakangi panggung.
Panggung yang cantik. Sederhana namun memukau. Esok di atas panggung itu, pementasan besar tari Legong Semarandana akan digelar. Kisah terbakarnya pasangan dewa-dewi asmara, Dewa Kamanjaya dan Dewi Ratih, akan dikemas dalam rangkaian gerak tarian klasik dari Pulau Dewata.
Seusai gladi bersih yang melelahkan, Rati duduk di kursi penonton, bersandar memandang ke arah panggung. Esok di atas panggung itu, ia akan menjelma menjadi sang dewi asmara, Dewi Ratih.
ESOK HARINYA, DI BELAKANG PANGGUNG….
Rati bercermin, menatap wajahnya di kaca. Cantik kata orang. Ayu, seperti namanya, Ni Made Ayu Sekar Rati. Di cermin, ada wajah bundar dengan mata bulat yang selalu berbinar. Rambut hitam, yang panjangnya melewati bahu, kini tampak tergelung. Kerut halus mulai tampak samar di sudut-sudut mata dan bibir, suatu tanda bahwa pemiliknya kerap tersenyum, sekaligus pertanda pertambahan usia. Di cermin yang besar itu tampak wajah khas wanita Bali yang cantik di usia menjelang tiga puluh.
“Rati!”
Rati mendengar namanya dipanggil. Ia menghentikan goresan pensil alis di tangannya dan menolehkan kepala ke arah pintu, jauh di sebelah kanan. Rati melihat seorang wanita, yang wajahnya tak asing lagi, melambaikan tangan dan tersenyum padanya. Wanita itu berjalan perlahan menghampiri kursinya.
“Dewi, kau masih saja datang,” ucap Rati pada Dewi, sahabatnya ketika masih kuliah dulu.
“Aku baru hamil enam bulan, Rati. Tentu saja aku masih boleh jalan-jalan. Apalagi, malam ini. Aku tidak akan melewatkannya,” kata Dewi sambil mengamati sekitarnya. “Boleh, kan, aku duduk menunggu di sini?” tanya Dewi kemudian.
Rati mengangguk. “Boleh saja. Duduk saja di sini, di sebelahku,” ujar Rati, sambil menunjuk kursi plastik kosong di dekatnya.
“Kau datang bersama Dadi?” tanya Rati.
“Ya, pasti dong. Masa, sih, ia tega membiarkan istri dan calon anaknya berpergian sendiri,” ujar Dewi, sambil mengelus-elus perutnya yang sudah tampak besar.
“Mana dia?” tanya Rati.
“Ia menunggu di luar. Merokok. Rikuh, katanya. Kau berias sendiri, Rati?” tanya Dewi, sambil mengamati sahabatnya. Rati sudah mengenakan kain dan pakaian menarinya yang berwarna hijau keemasan. Ia juga sudah mengenakan riasan wajah, yang kini sedang dirapikannya.
“Sebenarnya, ada perias.” Rati menunjuk ke beberapa perias yang terlihat sibuk bekerja, merias para penari, baik pria maupun wanita. “Tapi aku lebih senang berdandan sendiri. Lagipula, biarlah mereka membantu anak-anak yang lain.”
Dewi melihat dan mengamati ruang belakang panggung itu. Terlihat kesibukan di sekelilingnya. Beberapa penari wanita yang belum berganti pakaian sedang didandani. Terlihat beberapa penari pria. Mereka juga ikut didandani. Beberapa penari yang telah berias, terlihat saling bantu merapikan pakaian.
“Kau yang paling senior, ya?” tanya Dewi pada Rati.
Rati berhenti berdandan sejenak, tersenyum, sambil memandang bayangan wajah sahabatnya di cermin. “Tepatnya, sih, aku termasuk yang paling tua.”
“Kau teruskan saja riasanmu itu, Rati. Aku paling senang mengamatimu saat berdandan,” ujar Dewi.
“Sudah hampir selesai, kok. Aku cuma sedang merapikan alis. Sekarang tinggal memasang bija,” Rati terus berbicara, namun tangannya tetap sibuk bekerja, menggambar bija, titik putih di tengah keningnya, di antara ke dua matanya.
“Kau masih saja cantik, Rati. Seperti dulu,” kata Dewi memuji sahabatnya.
“Kau juga cantik, calon ibu.”
“Basa-basi. Aku gembrot kayak gini, kok.”
“Dewi, aku tidak basa-basi. Kau calon ibu yang cantik. Dari jauh saja aku bisa melihat wajahmu yang kelihatan bersinar. Kau terlihat sangat cantik.”
Rati kemudian berdiri, mengambil setumpuk pernak-pernik pakaian tari. “Nah, karena kau ada di sini, kau bisa jadi asistenku untuk memakai pernak-pernik ini,” kata Rati, sambil tertawa. Rati pun lalu menunjukkan pada Dewi cara memasang semua pernak-pernik itu, dari tutup dada, hiasan pinggang, gelang lengan, hingga gelung kepala.
“Ibumu tidak datang, Rati?” tanya Dewi, sambil berdiri membantu Rati memasang penutup dada dari kulit berhias prada.
“Tidak, merepotkan sekali untuk terbang dari Bali ke Jakarta, hanya untuk menyaksikan aku menari. Aku sudah terlalu sering menari. Sudah tidak terlalu penting lagi.”
“Tapi kali ini, kan, berbeda, Rati. Ini adalah pertunjukkan besar. Kali ini kau menari di gedung kesenian yang paling terkenal di Jakarta,” bantah Dewi.
“Baginya sama saja, Dewi. Lagi pula, ia juga dulu penari. Baginya, ini bukan hal yang sangat istimewa.” Rati sejenak menghela napas. “Selain itu mungkin ia masih marah padaku. Minggu lalu aku meneleponnya, ingin mengundangnya datang ke Jakarta. Hanya saja telepon itu berakhir dengan pertengkaran,” lanjut Rati kemudian.
“Ada apa lagi?” Dewi bertanya. Tangannya sibuk memasangkan semacam gelang pada lengan Rati.
“Ia mencoba mengenalkanku pada seorang pria Bali yang lain lagi. Aku menolaknya.”
Dewi tertawa, “Kenapa kau begitu alergi dengan pria Bali?”
“Bukan begitu. Dengar, aku tidak alergi dengan pria Bali, sama sekali tidak. Aku hanya alergi pada usaha perjodohan itu.”
“Ibumu, kan, hanya ingin yang terbaik bagimu. Ia ingin agar kau bisa mendapatkan jodoh yang punya keyakinan sama denganmu. Ia ingin kau bisa melupakan Fajar. Melupakan kisah cintamu dengan Fajar, yang kau tahu sendiri, memang tak akan menuju ke mana-mana, mengingat segala perbedaan itu.”
“Ya, aku tahu. Aku pun telah berusaha, kau tahu, kan? Sudah berapa kali aku mencoba untuk berkenalan dan menjalani pendekatan dengan calon-calon ibuku itu?”
“Dua kali?” Dewi mengingat-ingat.
“Tiga kali. Apa yang aku temui? Pertama, seorang pria yang terlalu pengecut sehingga menduakan wanita. Di belakangku dan di belakang orang tuanya, ternyata ia masih terus berhubungan dengan kekasih lamanya, yang kebetulan juga beragama lain. Pria kedua, pria egois yang bodoh. Belum apa-apa ia sudah memintaku untuk meninggalkan pekerjaanku, untuk menjadi ibu rumah tangga. Aku menari pun ia tidak suka. Tolol. Baru tahu aku ada pria Bali yang tak suka melihat pasangannya menari.”
“Ya, kau sudah pernah cerita. Anom dan Karna, kan?”
Rati mengangguk. Dewi telah selesai memasang segala pernak-pernik di tubuh Rati. Rati kembali bercermin, sementara Dewi memandangi dirinya. Rati tersenyum puas, “Sekarang tinggal memasang gelung itu,” kata Rati, sambil menunjuk sebuah gelung kepala, mahkota keemasan berhias rangkaian bunga kamboja putih, yang terletak di atas meja rias.
“Tolong lagi ya, Dew.”
“Bagaimana dengan pria yang ketiga? Aku belum pernah dengar ceritanya,” tanya Dewi kembali, sembari membantu Rati memasang gelung.
“Yang ketiga, Bli Adi, sebenarnya lumayan. Lumayan tampan. Yang lebih penting, ia pintar dan enak diajak bicara. Tapi, ia mundur. Ia bilang aku terlalu sempurna. Kau dengar itu? Terlalu sempurna?! Aku tak habis pikir apa maksudnya. Tapi, sudahlah. Tak ingin aku pikirkan.”
“Kau sudah terlalu mapan, Rati. Terlalu mandiri. Pria biasanya takut pada wanita yang terlalu mapan dan mandiri,” Dewi tak segan mengutarakan pikirannya.
Rati tersenyum, “Ah, kau bicara seperti ibuku saja.”
Seorang pria yang memakai udeng di kepalanya menghampiri Rati dan memutus pembicaraan mereka. “Rati, lima belas menit lagi pertujukkan dimulai. Kau sudah siap?” tanya pria itu.
“Nggih, Bli Putu. Sedikit lagi,” jawab Rati, sambil bergegas merapikan kerumun bunga-bunga di gelung kepalanya.
“Sudah, Dewi,” ujar Rati pada Dewi kemudian, melanjutkan pembicaraan mereka. “Aku sudah lelah mencari. Sudah capai mencoba. Dua kali putus cinta, tiga kali dijodohkan, sudah sangat cukup. Kalau memang sudah takdirku untuk tidak berjodoh, aku pun sudah tidak peduli. Akan aku buktikan bahwa aku bisa hidup sendiri dan tetap bahagia.”
“Tapi, Rati, punya seseorang untuk berbagi kebahagian jauh lebih membahagiakan.”
Rati menatap sababatnya, lama. “Kau bahagia, Dewi?” tanyanya.
“Ya, sangat.”
“Syukurlah.”
Dewi tersenyum tulus pada Rati, “Akan tiba giliranmu, Rati. Percayalah. Jangan pernah putus asa.”
PANGGUNG GELAP DAN SUNYI….
Hanya ada dua cahaya temaram dari obor di samping panggung. Kesunyian panggung tiba-tiba pecah oleh alunan dinamis gending dan tabuh Bali, tanda bagi para penari untuk mulai naik ke atas pentas. Lampu panggung menyorot para penari dan sebagian lagi lampu menaburkan cahaya bintang nan cantik. Maka dimulailah jagat pentas kisah para dewa.
Malam jadi sunyi. Purnama lampu sorot di langit panggung menambah suasana sunyi. Perlahan terdengar suara tembang diiringi bunyi seruling syahdu. Menembangkan syair janji cinta Kamanjaya dan Ratih.
DI PELATARAN PARKIR, MALAM HARI….
“Mbok Rati pulang menyetir sendiri?” Beberapa pria penabuh gamelan yang berpapasan dengan Rati menyapa sopan. Mereka lebih muda dari Rati, karena itu menyapanya dengan panggilan Mbok.
“Nggih, sendiri saja. Selamat malam semua,” jawab Rati.
“Malam, Mbok. Hati-hati.”
“Suksma,” jawabnya berterima kasih dalam bahasa Bali.
Rati melangkah keluar menuju pelataran parkir, melangkahkan kaki dalam gelap temaram. Dalam hatinya, Rati melafalkan kembali syair janji cinta Kamanjaya dan Ratih, janji cinta mereka pada seisi jagat raya.
Air mata mulai mengembang di sudut-sudut mata Rati. Ia hapus dengan punggung tangannya, seraya mencoba menepis keraguan yang mulai muncul pada dirinya. Keraguan yang lahir atas penantian yang tak kunjung berakhir. Ia coba membungkus sisa-sisa asa yang mulai merapuh oleh waktu. Mencoba untuk bertahan. Menanti terpaan debu cinta yang telah dijanjikan,
“… seperti yang telah digariskan, debu cinta telah ditebarkan, hingga pada suatu masa, pada suatu tempat, seseorang bisa begitu saja jatuh cinta kepada seseorang lainnya…”
Terima kasih untuk AAA Bulan Trisna Djelantik.
Cerpen ini diinspirasi oleh pementasan Legong Asmarandana–nya.
DI SEBUAH GEDUNG PERTUNJUKAN…
Rati duduk di kursi penonton. Ia menatap ke arah panggung di depannya. Panggung itu sudah hampir siap. Layar putih telah digantungkan di belakangnya. Sebuah pintu masuk rumah Bali yang disebut angkul-angkul, dalam ukuran kecil dan berukiran khas Bali, berdiri di tengah kanan panggung, dihiasi dengan kain poleng, kain bercorak kotak-kotak hitam putih, dan bunga kamboja putih. Sebuah undak-undakan, simbol batu besar tempat bertapa, telah disulap hadir di bagian kiri panggung. Ranting meranggas menaungi batu. Pokok-pokok ranting kecil lain, dengan kamboja putih pada pucuk-pucuknya, berbaris acak melatarbelakangi panggung.
Panggung yang cantik. Sederhana namun memukau. Esok di atas panggung itu, pementasan besar tari Legong Semarandana akan digelar. Kisah terbakarnya pasangan dewa-dewi asmara, Dewa Kamanjaya dan Dewi Ratih, akan dikemas dalam rangkaian gerak tarian klasik dari Pulau Dewata.
Seusai gladi bersih yang melelahkan, Rati duduk di kursi penonton, bersandar memandang ke arah panggung. Esok di atas panggung itu, ia akan menjelma menjadi sang dewi asmara, Dewi Ratih.
ESOK HARINYA, DI BELAKANG PANGGUNG….
Rati bercermin, menatap wajahnya di kaca. Cantik kata orang. Ayu, seperti namanya, Ni Made Ayu Sekar Rati. Di cermin, ada wajah bundar dengan mata bulat yang selalu berbinar. Rambut hitam, yang panjangnya melewati bahu, kini tampak tergelung. Kerut halus mulai tampak samar di sudut-sudut mata dan bibir, suatu tanda bahwa pemiliknya kerap tersenyum, sekaligus pertanda pertambahan usia. Di cermin yang besar itu tampak wajah khas wanita Bali yang cantik di usia menjelang tiga puluh.
“Rati!”
Rati mendengar namanya dipanggil. Ia menghentikan goresan pensil alis di tangannya dan menolehkan kepala ke arah pintu, jauh di sebelah kanan. Rati melihat seorang wanita, yang wajahnya tak asing lagi, melambaikan tangan dan tersenyum padanya. Wanita itu berjalan perlahan menghampiri kursinya.
“Dewi, kau masih saja datang,” ucap Rati pada Dewi, sahabatnya ketika masih kuliah dulu.
“Aku baru hamil enam bulan, Rati. Tentu saja aku masih boleh jalan-jalan. Apalagi, malam ini. Aku tidak akan melewatkannya,” kata Dewi sambil mengamati sekitarnya. “Boleh, kan, aku duduk menunggu di sini?” tanya Dewi kemudian.
Rati mengangguk. “Boleh saja. Duduk saja di sini, di sebelahku,” ujar Rati, sambil menunjuk kursi plastik kosong di dekatnya.
“Kau datang bersama Dadi?” tanya Rati.
“Ya, pasti dong. Masa, sih, ia tega membiarkan istri dan calon anaknya berpergian sendiri,” ujar Dewi, sambil mengelus-elus perutnya yang sudah tampak besar.
“Mana dia?” tanya Rati.
“Ia menunggu di luar. Merokok. Rikuh, katanya. Kau berias sendiri, Rati?” tanya Dewi, sambil mengamati sahabatnya. Rati sudah mengenakan kain dan pakaian menarinya yang berwarna hijau keemasan. Ia juga sudah mengenakan riasan wajah, yang kini sedang dirapikannya.
“Sebenarnya, ada perias.” Rati menunjuk ke beberapa perias yang terlihat sibuk bekerja, merias para penari, baik pria maupun wanita. “Tapi aku lebih senang berdandan sendiri. Lagipula, biarlah mereka membantu anak-anak yang lain.”
Dewi melihat dan mengamati ruang belakang panggung itu. Terlihat kesibukan di sekelilingnya. Beberapa penari wanita yang belum berganti pakaian sedang didandani. Terlihat beberapa penari pria. Mereka juga ikut didandani. Beberapa penari yang telah berias, terlihat saling bantu merapikan pakaian.
“Kau yang paling senior, ya?” tanya Dewi pada Rati.
Rati berhenti berdandan sejenak, tersenyum, sambil memandang bayangan wajah sahabatnya di cermin. “Tepatnya, sih, aku termasuk yang paling tua.”
“Kau teruskan saja riasanmu itu, Rati. Aku paling senang mengamatimu saat berdandan,” ujar Dewi.
“Sudah hampir selesai, kok. Aku cuma sedang merapikan alis. Sekarang tinggal memasang bija,” Rati terus berbicara, namun tangannya tetap sibuk bekerja, menggambar bija, titik putih di tengah keningnya, di antara ke dua matanya.
“Kau masih saja cantik, Rati. Seperti dulu,” kata Dewi memuji sahabatnya.
“Kau juga cantik, calon ibu.”
“Basa-basi. Aku gembrot kayak gini, kok.”
“Dewi, aku tidak basa-basi. Kau calon ibu yang cantik. Dari jauh saja aku bisa melihat wajahmu yang kelihatan bersinar. Kau terlihat sangat cantik.”
Rati kemudian berdiri, mengambil setumpuk pernak-pernik pakaian tari. “Nah, karena kau ada di sini, kau bisa jadi asistenku untuk memakai pernak-pernik ini,” kata Rati, sambil tertawa. Rati pun lalu menunjukkan pada Dewi cara memasang semua pernak-pernik itu, dari tutup dada, hiasan pinggang, gelang lengan, hingga gelung kepala.
“Ibumu tidak datang, Rati?” tanya Dewi, sambil berdiri membantu Rati memasang penutup dada dari kulit berhias prada.
“Tidak, merepotkan sekali untuk terbang dari Bali ke Jakarta, hanya untuk menyaksikan aku menari. Aku sudah terlalu sering menari. Sudah tidak terlalu penting lagi.”
“Tapi kali ini, kan, berbeda, Rati. Ini adalah pertunjukkan besar. Kali ini kau menari di gedung kesenian yang paling terkenal di Jakarta,” bantah Dewi.
“Baginya sama saja, Dewi. Lagi pula, ia juga dulu penari. Baginya, ini bukan hal yang sangat istimewa.” Rati sejenak menghela napas. “Selain itu mungkin ia masih marah padaku. Minggu lalu aku meneleponnya, ingin mengundangnya datang ke Jakarta. Hanya saja telepon itu berakhir dengan pertengkaran,” lanjut Rati kemudian.
“Ada apa lagi?” Dewi bertanya. Tangannya sibuk memasangkan semacam gelang pada lengan Rati.
“Ia mencoba mengenalkanku pada seorang pria Bali yang lain lagi. Aku menolaknya.”
Dewi tertawa, “Kenapa kau begitu alergi dengan pria Bali?”
“Bukan begitu. Dengar, aku tidak alergi dengan pria Bali, sama sekali tidak. Aku hanya alergi pada usaha perjodohan itu.”
“Ibumu, kan, hanya ingin yang terbaik bagimu. Ia ingin agar kau bisa mendapatkan jodoh yang punya keyakinan sama denganmu. Ia ingin kau bisa melupakan Fajar. Melupakan kisah cintamu dengan Fajar, yang kau tahu sendiri, memang tak akan menuju ke mana-mana, mengingat segala perbedaan itu.”
“Ya, aku tahu. Aku pun telah berusaha, kau tahu, kan? Sudah berapa kali aku mencoba untuk berkenalan dan menjalani pendekatan dengan calon-calon ibuku itu?”
“Dua kali?” Dewi mengingat-ingat.
“Tiga kali. Apa yang aku temui? Pertama, seorang pria yang terlalu pengecut sehingga menduakan wanita. Di belakangku dan di belakang orang tuanya, ternyata ia masih terus berhubungan dengan kekasih lamanya, yang kebetulan juga beragama lain. Pria kedua, pria egois yang bodoh. Belum apa-apa ia sudah memintaku untuk meninggalkan pekerjaanku, untuk menjadi ibu rumah tangga. Aku menari pun ia tidak suka. Tolol. Baru tahu aku ada pria Bali yang tak suka melihat pasangannya menari.”
“Ya, kau sudah pernah cerita. Anom dan Karna, kan?”
Rati mengangguk. Dewi telah selesai memasang segala pernak-pernik di tubuh Rati. Rati kembali bercermin, sementara Dewi memandangi dirinya. Rati tersenyum puas, “Sekarang tinggal memasang gelung itu,” kata Rati, sambil menunjuk sebuah gelung kepala, mahkota keemasan berhias rangkaian bunga kamboja putih, yang terletak di atas meja rias.
“Tolong lagi ya, Dew.”
“Bagaimana dengan pria yang ketiga? Aku belum pernah dengar ceritanya,” tanya Dewi kembali, sembari membantu Rati memasang gelung.
“Yang ketiga, Bli Adi, sebenarnya lumayan. Lumayan tampan. Yang lebih penting, ia pintar dan enak diajak bicara. Tapi, ia mundur. Ia bilang aku terlalu sempurna. Kau dengar itu? Terlalu sempurna?! Aku tak habis pikir apa maksudnya. Tapi, sudahlah. Tak ingin aku pikirkan.”
“Kau sudah terlalu mapan, Rati. Terlalu mandiri. Pria biasanya takut pada wanita yang terlalu mapan dan mandiri,” Dewi tak segan mengutarakan pikirannya.
Rati tersenyum, “Ah, kau bicara seperti ibuku saja.”
Seorang pria yang memakai udeng di kepalanya menghampiri Rati dan memutus pembicaraan mereka. “Rati, lima belas menit lagi pertujukkan dimulai. Kau sudah siap?” tanya pria itu.
“Nggih, Bli Putu. Sedikit lagi,” jawab Rati, sambil bergegas merapikan kerumun bunga-bunga di gelung kepalanya.
“Sudah, Dewi,” ujar Rati pada Dewi kemudian, melanjutkan pembicaraan mereka. “Aku sudah lelah mencari. Sudah capai mencoba. Dua kali putus cinta, tiga kali dijodohkan, sudah sangat cukup. Kalau memang sudah takdirku untuk tidak berjodoh, aku pun sudah tidak peduli. Akan aku buktikan bahwa aku bisa hidup sendiri dan tetap bahagia.”
“Tapi, Rati, punya seseorang untuk berbagi kebahagian jauh lebih membahagiakan.”
Rati menatap sababatnya, lama. “Kau bahagia, Dewi?” tanyanya.
“Ya, sangat.”
“Syukurlah.”
Dewi tersenyum tulus pada Rati, “Akan tiba giliranmu, Rati. Percayalah. Jangan pernah putus asa.”
PANGGUNG GELAP DAN SUNYI….
Hanya ada dua cahaya temaram dari obor di samping panggung. Kesunyian panggung tiba-tiba pecah oleh alunan dinamis gending dan tabuh Bali, tanda bagi para penari untuk mulai naik ke atas pentas. Lampu panggung menyorot para penari dan sebagian lagi lampu menaburkan cahaya bintang nan cantik. Maka dimulailah jagat pentas kisah para dewa.
(Alkisah, para dewa bercengkerama di kahyangan, merayakan kedamaian surga. Bidadari pun menari penuh suka. Hingga tiba-tiba suatu huru-hara kejahatan datang mengganggu. Surga porak-poranda. Maka, bermusyawarahlah para dewa dan diputuskan untuk minta bantuan pada Dewa Siwa yang sedang bertapa. Dewa Indra pun mengutus Kamanjaya, sang dewa asmara, untuk membangunkan Siwa dalam tapa bratanya.
Kamanjaya lalu berpamitan pada Dewi Ratih, sang istri terkasih, sang belahan jiwa. Pasangan dewa-dewi yang tengah di mabuk asmara ini terpaksa berpisah. Kamanjaya lalu pergi menunaikan tugasnya. Dengan pesonanya, Kamanjaya menggoda Siwa. Siwa tidak terusik. Kamanjaya menarik busur dan anak panah pun meluncur. Tetap Siwa tidak terusik. Datang Dewi Ratih menyusul, membantu kekasihnya. Berdua, dewa-dewi asmara ini, mengeluarkan segenap kesaktian mereka. Siwa terusik. Sang Siwa meledak marah. Asap tebal menyelimutinya, Siwa menjelma angkara, Siwa menjelma Rangda.)
Suara gamelan dan tabuh riuh, menggambarkan angkara yang menyelimuti Siwa. Rati, yang menjelma menjadi Ratih, dan penari Kamanjaya meliuk-liuk menarikan perseteruan. Penari Siwa bertopeng Rangda, menarikan kemarahan.
(Siwa menjelma angkara, Siwa menjelma Rangda. Dibakar olehnya pasangan kekasih ini, Kamanjaya dan Ratih, dengan mata ketiganya, hingga hancur raga mereka menjadi debu yang bertebaran. Lalu disabdakan oleh Siwa, jiwa keduanya akan tetap abadi. Menebar debu cinta ke seisi jagat raya. Menitis pada setiap pasangan di bumi dan di surga, menyatukan kembali abadi cinta mereka.)
Malam jadi sunyi. Purnama lampu sorot di langit panggung menambah suasana sunyi. Perlahan terdengar suara tembang diiringi bunyi seruling syahdu. Menembangkan syair janji cinta Kamanjaya dan Ratih.
…dan seperti yang telah digariskan,Syair dan suara suling melenyap sunyi. Cahaya meremang padam. Tinggal berkas cahaya obor melatar depan panggung.
debu cinta telah ditebarkan,
hingga pada suatu masa pada suatu tempat,
seseorang bisa begitu saja jatuh cinta,
kepada seseorang lainnya…
DI PELATARAN PARKIR, MALAM HARI….
“Mbok Rati pulang menyetir sendiri?” Beberapa pria penabuh gamelan yang berpapasan dengan Rati menyapa sopan. Mereka lebih muda dari Rati, karena itu menyapanya dengan panggilan Mbok.
“Nggih, sendiri saja. Selamat malam semua,” jawab Rati.
“Malam, Mbok. Hati-hati.”
“Suksma,” jawabnya berterima kasih dalam bahasa Bali.
Rati melangkah keluar menuju pelataran parkir, melangkahkan kaki dalam gelap temaram. Dalam hatinya, Rati melafalkan kembali syair janji cinta Kamanjaya dan Ratih, janji cinta mereka pada seisi jagat raya.
Air mata mulai mengembang di sudut-sudut mata Rati. Ia hapus dengan punggung tangannya, seraya mencoba menepis keraguan yang mulai muncul pada dirinya. Keraguan yang lahir atas penantian yang tak kunjung berakhir. Ia coba membungkus sisa-sisa asa yang mulai merapuh oleh waktu. Mencoba untuk bertahan. Menanti terpaan debu cinta yang telah dijanjikan,
“… seperti yang telah digariskan, debu cinta telah ditebarkan, hingga pada suatu masa, pada suatu tempat, seseorang bisa begitu saja jatuh cinta kepada seseorang lainnya…”
Cerpen
Uh... akhirnya cerpen saya -- dikirim ke majalah femina hampir dua tahun yang lalu -- dimuat juga (femina no.12, 24-30 maret 2005). Hehehe, salah sendiri sih. Sebenarnya cerpen itu saya kirim untuk jajal ikutan lomba cerpen femina tahun 2003. Seperti biasa dibuat menjelang akhir tenggat dan hasilnya sudah diperkirakan tidak akan menang. Buat saya, waktu itu memang lebih sebagai pacu untuk menulis lebih panjang dari biasanya (mencapai syarat minimal 1500 kata aja sudah susah payah lho). Tapi hasilnya yah, lumayan ternyata. Setidaknya dapat surat pemberitahuan bahwa cerpen saya itu tetap akan dimuat. Lalu saya diminta untuk mengirimkan disket yang berisi file aslinya. Berhubung waktu itu sedang tugas di luar kota cukup lama, saya tidak bisa langsung mengirimkannya. Malah akhirnya lupa, hingga akhirnya ada telpon dari pihak majalah yang menagih kiriman. Udah gitu masih pake nawar lagi, harusnya kirim disket tapi saya maunya kirim file via email aja (repot gitu lho, mesti cari-cari disket dulu, mana disk drivenya suka ngadat lagi :p).
Dan waktu berlalu, tak ada berita tentang cerpen saya itu. Kadang kalau lagi ingat, sempat juga berniat menelpon untuk tanya kabarnya. Tapi baru niat aja, belum pernah jadi telpon juga. Sampai akhirnya kemarin, majalah feminanya telpon, memberi kabar pemuatan cerpen ini. "Iya nih, Mbak, baru dimuat sekarang. Cerpennya keselip."
Setelah majalah ada di tangan, saya baca lagi cerpen jadul itu. Hihihi... masih terasa garing seperti waktu saya kirim dulu. Banyak yang rasanya (sekarang) masih bisa saya edit lagi. Terutama di bagian ini, itu, dan juga percakapan yang rasanya (sekarang) masih terlalu formal dan baku. Editor mengubah sedikit. Judulnya dipersingkat, "Debu Cinta" saja. Lalu catatan-catatan kaki untuk bahasa Balinya tidak ditampilkan, namun diselipkan di dalam cerita.
Eh... pada beli dan baca ya... *promosi :p*. Ini kan tulisan pertama saya yang masuk majalah. Eh... gak deng. Ini tulisan kedua. Yang pertama itu sekitar dua puluh tahun yang lalu (kelas 4 atau 5 SD?), waktu 'cerpen' saya dimuat di majalah Bobo. :p
Apa Bedanya?

Minggu pagi yang cerah, kita berjalan di taman. Mengikuti jalan setapak perlahan, lenganmu menggandeng lenganku. Kita melintasi sepasang remaja yang duduk di bangku taman. Tak berniat mencuri dengar, kata-kata si gadis tertangkap olehku cukup jelas, “Apa sih bedanya cinta dan sayang?”
Kita terus berjalan pelan. Tiba-tiba kau berbisik padaku, “Apa kita dulu pernah senorak mereka tadi?”
Aku terkekeh. Ternyata kau juga mendengarnya. “Tentu. Kau lupa?”
“Tidak, aku tidak lupa kau pernah senorak itu,” katamu tersenyum menggodaku.
“Jadi menurutmu, apa sih bedanya cinta dan sayang?”
“Apakah kedua hal itu masih ada bedanya buat kita, Nek?”
Sambil tersenyum, aku merapatkan lenganku padamu.
Flash-fiction 100 kata ini seharusnya
untuk meramaikan acaranya Blogfam.
Tapi hihihi… kelupaan ngirimnya.
Ya, sudah… diposting di blog aja, dalam rangka Valentine :p
[cerita maya]

.....
Mereka memanggilku Maya. Mereka menyapaku Maya.
Mereka memanggilnya Maya. Mereka menyapa dirinya Maya. Aku jatuh cinta.
.satu.
Sudah dua tahun aku menulis jurnal di alam maya ini. Kuberi nama “cerita maya”, tertulis di bagian kiri atas halaman jurnal dengan jenis huruf verdana tebal.
[cerita maya] - aku maya bercerita
Menulis di dunia maya sungguh menyenangkan. Aku bisa bercerita tentang apa saja. Aku menulis tentang suka juga duka. Aku berkisah tentang kehidupan hingga kematian. Aku bercerita segala sesuatu tentang cinta; cinta pertama, asmara membara, hasrat meraga, luka menganga, air mata buaya.
Aku menulis tentang hujan kepagian, senja keemasan, warna pelangi, pagi berkabut, embun di rumput, sebatang jamur, daun gugur, tanah merah, bunga merekah. Aku bercerita tentang pijar kembang api, kerlip bintang, kedip kunang-kunang. Aku bercerita tentang kicau burung di pagi hari, sekawan burung terbang pulang ke sarang, dan burung gereja yang mati tersengat kawat berlistrik. Aku bercerita tentang mata kedutan, mata bintitan, bau badan, kepala bisulan, jari kapalan. Aku cerita tentang digigit anjing, disengat lebah, jari terkena ulat bulu, kaki tertusuk bulu babi. Aku bercerita tentang mendonorkan darah, memanjat atap rumah, terkurung di kamar mandi, ditilang polisi.
Ya, aku bercerita tentang apa saja. Aku sungguh-sungguh dapat bercerita tentang apa saja di jurnal maya ini.
Sudah dua tahun ia menulis jurnal di alam maya ini. Ia beri nama “cerita maya”, tertulis di bagian kiri atas halaman jurnalnya dengan jenis huruf verdana tebal.
[cerita maya] - aku maya bercerita
Membaca tulisannya di dunia maya ini sungguh menyenangkan. Ia bercerita tentang apa saja.
Ia menulis tentang hujan kepagian, senja keemasan, warna pelangi, pagi berkabut, embun di rumput, sebatang jamur, daun gugur, tanah merah, bunga merekah. Ia bercerita tentang pijar kembang api, kerlip bintang, kedip kunang-kunang di kegelapan. Ia bercerita tentang kicau burung di pagi hari, sekawan burung terbang pulang ke sarang, dan burung gereja yang mati tersengat kawat berlistrik. Ia bercerita tentang mata kedutan, mata bintitan, bau badan, kepala bisulan, jari kapalan. Ia cerita tentang digigit anjing, disengat lebah, jari terkena ulat bulu, kaki tertusuk bulu babi. Ia bercerita tentang mendonorkan darah, memanjat atap rumah, terkurung di kamar mandi, ditilang polisi.
Ya, ia bercerita tentang apa saja. Dan aku sungguh-sungguh membaca semua ceritanya tentang apa saja di jurnal mayanya ini.
.dua.
Suatu hari aku menerima sebuah email singkat darinya, seorang lelaki.
Maya,
Sungguh senang membaca jurnalmu. Aku telah
membacanya semua, dan akan selalu menunggu ceritamu yang baru.
Salam kenal, Aku lelaki
Suatu hari aku mengirim sebuah email singkat untuknya. Tak lama ia pun membalasnya. Singkat.
Hai,
Terimakasih sudah membaca semua cerita di
jurnalku. Juga terimakasih atas emailnya.
Salam, aku maya
.....
Aku maya, kau panggil aku Maya. Sudah kukatakan aku adalah maya, tapi kau sebut aku Maya. Tidak kah kau nyana?
Ia katakan ia adalah maya. Aku panggil ia Maya. Aku jatuh cinta. Ternyata ia maya. Nyata mayanya. Siapa nyana?
Lagi gak sempet nulis-nulis cerita baru.
Ini hasil bongkar-bongkar file arsip lama.
Sedianya adalah cerpen untuk ikutan
April Poject-nya Cinila.com yang lalu.
Tapi apa daya, gak pernah selesai :)
Sepenggal Mimpi Tentang Suatu Pagi
Sepenggal mimpi tentang suatu pagi datang menyelip di batas akhir lelap malam tadi. Sepenggal mimpi tanpa pelaku, mungkin hanya ada aku. Aku yang seakan sedang menatap selembar foto berwarna lembut dari suatu pagi berkabut.
Terbangun aku oleh rasa dingin yang seolah berhembus dari pagi dalam mimpi. Ada rasa ganjil di hati, seolah mengenali sekali imaji pagi ini. Pagi berkabut yang berwarna lembut. Tak ingin terjaga, kembali kukatupkan kelopak mata. Menorobos gelap di antara kedua mata, mencoba hadirkan kembali imaji pagi dari mimpi malam tadi. Mengais relung-relung memori, menerka asal sepenggal pagi yang terselip dalam mimpi.
Masih dengan mata terkatup, kembali kusimak selembar imaji berwarna lembut dari suatu pagi berkabut. Kini ada pelaku di situ. Bukan hanya aku.
(Déjà vu…, awal dari cerita yang tak selesai)
Mimpi yang tak Terengkuh
Tapi mimpi yang tak terengkuh tak kan pernah benar-benar terlupakan. Terkadang ia akan muncul kembali tak terduga ketika kita sedang mengaduk-aduk isi laci lemari dengan terburu-buru, mencari sesuatu yang terselip. Terkadang ia akan tiba-tiba timbul menyeruak ketika kita sedang menyapu dedaunan gugur di halaman. Terkadang ia tiba-tiba hadir di hadapan kita, tergantung di etalase toko barang gadaian.
Ya, mimpi yang tak terengkuh tak kan pernah benar-benar terlupakan. Ia bisa saja tiba-tiba muncul kembali. Melambaikan tangan, berbisik halus memanggil, atau berteriak keras… menggoda kita untuk kembali mencoba merengkuhnya….
Kelak, mungkin aku akan bercerita tentang salah satu mimpiku....
Ulang Tahun Ninik yang ke-10
Namaku Ninik. Aku belum lama ini ulang-tahun yang ke sepuluh. Ulang-tahunku kali ini sangat berkesan. Karena diadakan di tempat yang lain dari pada yang lain.
Tahun lalu ulang-tahunku diadakan di rumah, mengundang teman-teman dari sekolah. Tapi tahun ini, ibu memberi usul agar ulang tahunku diadakan di YPAC saja. Teman-teman tahukan apa YPAC itu? Itu singkatan dari yayasan pendidikan anak cacat. Aku sih setuju aja dengan usulnya Ibu.
Ketika hari ulang-tahunku tiba, pulang sekolah aku bersama Ibu pergi ke YPAC itu. Kami juga membawa makanan, kue-kue, minuman, dan hadiah-hadiah kecil. Sehari sebelumnya Ibu sudah menyiapkan semuanya, juga permen dan kue yang dimasukkan ke kantong-kantong plastik kecil yang dihias dengan pita. Aku juga ikut membantu menyiapkannya.
Anak-anak di YPAC itu awalnya agak malu-malu. Mereka hanya duduk di kursi yang disusun melingkar. Mereka cacatnya macam-macam, ada yang cacat kakinya dan duduk di kursi roda. Ada yang buta, ada yang bisu, tuli, dan ada juga yang kelihatan kurang pintar.
Ada seorang anak yang kelihatan berbeda. Anak itu sebaya denganku. Tapi yang aneh dari anak ini, yaitu ia tidak punya rambut sama sekali. Bukan kepalanya saja yang tidak ada rambut. Tapi ia juga tidak punya alis. Aku gak tahu kenapa, tapi kayaknya memang dari lahir ia gak punya rambut. Anak ini juga ngomongnya agak gagu, suaranya gak jelas. Mungkin dia juga bisu. Tapi anak ini kelihatan berbeda karena ia paling bersemangat di antara yang lainnya.
Lama-lama anak-anak itu mulai kelihatan tidak malu-malu lagi. Ada yang menyumbang puisi, ada yang menyumbangkan lagu untukku. Ada juga yang memimpin doa sebelum makan. Yang paling berkesan buatku yaitu waktu acara menyanyi bersama. Mereka semua menyanyikan lagu “selamat ulang-tahun” untukku. Padahal mereka banyak yang gagu. Tetapi mereka menyanyikan lagu itu dengan bersemangat sekali. Walaupun kata-kata yang mereka nyanyikan tidak jelas, tapi mereka menyanyi dengan sungguh-sungguh. Aku jadi mau menangis melihat mereka bernyanyi seperti itu.
Ibu, terimakasih ya sudah mengajakku merayakan ulang-tahun di YPAC.
Cerita ini ditulis kembali -- berdasarkan ingatan yang terbatas -- dari tulisan seorang gadis kecil bernama Ninik dua puluh tahun yang lalu. Tidak terasa waktu demikian cepat berlalu…
Antara Pertanyaan dan Pernyataan
Apakah kita harus selalu mempertanyakan?
Begitu tanyaku. [Ironisnya dengan demikian aku pun telah mempertanyakan sesuatu]
Aku harus dan wajib bertanya, kunyatakan itu sebagai suatu pernyataan pada suatu hari. Itulah sebabnya aku mempunyai akal, untuk bertanya dan mempertanyakan.
Bertanya atau tidak bertanya itu suatu pilihan, kataku suatu waktu kemudian, membuat suatu pernyataan baru. Bila aku memilih untuk bertanya, janganlah aku berpuas diri pada suatu jawaban, begitu seorang bijak mengingatkanku dengan pernyataannya. Berhati-hatilah, katanya. Karena bukan tidak mungkin jawaban yang kupercayai sebagai kebenaran, sebenarnya hanya pecahan dari kebenaran yang utuh. Dan percaya pada kepingan itu saja adalah menyesatkan.
Maka kuterus bertanya. Ku tak puas untuk terus bertanya. Karena suatu pertanyaan ternyata melahirkan jawaban yang padanya kembali bermuara pertanyan-pertanyaan lain. Terus-menerus, tak putus juga. Maka kuterus bertanya. Seperti seorang anak yg haus melontarkan pertanyaan ketimbang mendapatkan jawaban.
Aku terus bertanya, hingga akhirnya aku lelah bertanya. Akankah tiba saatnya aku berdamai dengan pertanyaan dan menerima saja 'pernyataan' ? [ah, masih juga aku bertanya] :)
Aku Tari adalah Penari
Tari adalah namaku. Tari saja. Titik. Pendek. Tanpa bunga-bunga penghias. Seperti sebuah kebetulan, namaku pun cerminan aku. Aku adalah penari. Tari adalah namaku, tari adalah cintaku, adalah nafasku, adalah degup jantungku, adalah hidupku. Aku adalah tari.
Aku bisa menarikan apa saja dan aku pun lalu menarikan apa saja. Menarikan angin, menarikan gelombang, menarikan bunga, menarikan malam, menarikan batu. Menarikan suka, menarikan cinta, menarikan hasrat, menarikan resah, menarikan duka.
Aku menari di setiap tempat di setiap waktu. Aku menari di atas panggung, menari di taman, menari di jalan, menari di kamar, menari ketika makan, menari ketika mandi, menari saat tidur, menari dalam mimpi.
Setiap bunyi yang terdengar adalah irama pengiring tari bagiku. Suara gitar, suara organ, suara pita kaset berputar, suara piringan cakram, suara burung, suara air mengalir, suara klakson mobil, suara derik kipas angin berputar, suara derit kapur di papan tulis, semuanya adalah musik bagi tarianku. Ketika tak ada suara lain terdengar, maka desah nafasku, degup jantungku menjelma irama untuk tarianku.
---
Namaku Tari. Aku diberi nama oleh ibu. Ibuku mungkin sepanjang hidupnya telah bermimpi jadi penari. Namun takdir bersabda lain, maka ia hanya dapat bermimpi saja. Lalu aku lahir. Aku lahir bersama mimpinya dan lahirku menghidupkan kembali mimpinya. Ketika nama adalah asa, maka ibu menamaiku Tari. Tari saja. Titik. Pendek. Tanpa bunga-bunga penghias.
Aku dikenalkannya pada tari sejak aku bisa melambaikan tanganku di udara. Menari, menarilah, katanya dalam senandung mengiri gerak tanganku. Maka mulailah aku menari. Ketika aku dapat berdiri sendiri, ia ajari aku bagaimana mengayunkan tubuh mengikuti irama. Menari, menarilah, katanya sambil bertepuk-tangan mengiringi lenggok badanku. Sebelum belajar membaca, aku sudah lebih dulu belajar menari. Menari, menarilah, katanya berseru menyemangatiku.
Ibuku pun giat bekerja demi aku, demi mimpinya. Setiap butir keringat di tubuhnya adalah bagi diriku, bagi mimpinya. Setiap penat di urat dan sendinya adalah untuk aku, untuk mimpinya. Bahkan semburan darah dari mulutnya dan desah nafas terakhirnya, adalah karena aku, karena mimpinya. Ibuku tiada, meninggalkan aku sendiri dengan mimpinya, sebelum aku cukup dewasa untuk menghidupkan mimpi itu...
---
Namaku Tari. Aku diberi nama oleh ibu, dan ibuku adalah seekor kupu-kupu malam, yang dalam tidur lelahnya di pagi hari, selalu bermimpi menjadi penari. Ibuku adalah kupu-kupu malam yang selalu berhasrat terbang tinggi meninggalkan tamannya sambil menari. Ibuku adalah kupu-kupu malam yang kalah oleh malam dan jatuh mati. Kini, di langit sana, ia pasti terbang dengan bangga memandangku.
Aku, mimpinya, bukanlah seekor kupu-kupu malam.
Aku, Tari, adalah penari.
Aku adalah kupu-kupu penari,
menarikan tarian kupu-kupu di malam hari.
Kanakku dalam Aku
hidup kanak dalam cela, kelak belajar ia mengutuk
hidup kanak dalam permusuhan, kelak belajar ia bertarung
hidup kanak dalam takut, kelak belajar ia hidup cemas
hidup kanak dalam cemburu, kelak belajar ia rasa iri
hidup kanak dalam dukungan, kelak belajar ia percaya diri
hidup kanak dalam berbagi, kelak belajar ia kemurahan hati
hidup kanak dalam pengakuan, kelak belajar ia bercita-cita
hidup kanak dalam penerimaan, kelak belajar ia mencinta *
---
ku berkaca. menatap kaca.
menatap paras, raut, binar, kerut, di kaca.
ku merangkai kata. berkaca pada kata.
menatap jiwa, sukma, suka, lara, dalam kata.
ku berkaca. mencari jejak kanakku dalam aku.
kanakku yang belajar menjadi aku.
kanakku yang menjelma dewasaku.
seperti apakah ia?
Ceritakan padaku tentang kunang-kunang
Ceritakan padaku tentang kunang-kunang yang berkelap-kelip di sawah dekat rumahmu dulu. Sekawanan kunang-kunang yang kau lewati setiap kali kau pulang dari mengaji di langgar. Apakah mereka bersinar menyambut kedatanganmu? Apakah setiap malam mereka bercanda gembira?
Ceritakan padaku bagaimana rasanya menatap ratusan cahaya kecil yang tersibak oleh gelap malam. Apakah mereka seakan menyihirmu? Tak berkedipkah matamu, agar tak hilang mereka dari pandanganmu? Kau tahankah napasmu, agar tak pergi mereka meninggalkanmu?
Ceritakan padaku tentang mengejar kunang-kunang bersama teman-temanmu. Kunang-kunang yang beterbangan di langit malam. Kunang-kunang yang hinggap di batang-batang padi, hinggap di dedaunan semak, dan terbang kembali. Tertawa riang kah kalian? Tergelak-gelak berlari ke sana - ke mari?
Ceritakan padaku tentang kunang-kunang yang kau tangkup dalam dua tapak kecilmu dulu. Takutkah ia? Ataukah ia malah mengajakmu bercanda, dengan genit memamerkan pesona kerlipnya?
Ceritakan padaku tentang kunang-kunang yang kau tawan dan kau bawa pulang. Kau jadikan kerlipan itu lentera penerang jalan? Hingga terang jalan pulangmu? Kau jadikan ia penerang kamarmu? Menemani tidurmu? Hiasi mimpimu?
Ceritakan padaku tentang kunang-kunang. Ceritakanlah. Ceritakan lagi.
Tidak. Ajak saja aku. Tunjukkan padaku.
[ada tempat dengan sejuta kunang-kunang. aku ingin sekali ke sana]
Siang yang tidak biasa
Pukul 14.20. Seharusnya aku ada di depan komputerku, entah melakukan kerja apa, sambil sesekali browsing internet. Tapi tidak. Sekarang aku ada di sini, menikmati semangkuk es kacang merah, mencoret-coret di atas selembar kertas, menebar pandangan ke sekeliling.
Di sekeliling: orang-orang berjalan santai, orang makan dengan santai, ngobrol dengan santai. Sepasang muda-mudi bercerita dengan santai. Tukang parkir duduk merokok dengan santai, mobil-mobil parkir dengan santai. Gerobak didorong dengan santai, sepeda bergerak dengan santai. Seorang ibu menggelar dagangan batiknya, membujuk calon pembeli dengan santai. Benarkah semua? Mungkin aku saja yang sedang senang, sehingga di mata ini semuanya terlihat bergerak dengan tenang.
Pukul 14.35. Serutan es di mangkuk sudah mulai mencair, menyisakan butir-butir kacang merah yang terendam dalam genangan air, sirup, dan susu kental manis. Kupanggil seorang anak lelaki kecil penyemir sepatu. Sedari tadi ia bolak-balik saja, menawarkan jasa tanpa hasil, namun selalu dilewatinya aku. Sementara aku sedang senang, hingga sepatu-sendal ini -- yang nyaris tidak pernah dan tidak perlu disemir -- kuserahkan padanya. Aku sedang senang, karena itu kupikir sesekali sepatu-sendalku perlu juga bermanja-manja.
Pukul 14.45. Es kacang merahku sudah hampir habis, hingga dasar mangkuknya sudah mulai terlihat. Anak lelaki kecil itu memanggilku, “sudah selesai, mbak”. Tak lama kemudian katanya lagi, “terima kasih, mbak”. Ku lihat ia pergi dengan senang, mungkin karena dilihatnya aku sangat senang.
Pukul 14.55. Semangkuk es kacang merah tandas sudah. Aku belum lagi bangkit dari dudukku. Masih melihat sekeliling sambil tersenyum. Akhirnya kuputuskan untuk pergi juga. Dengan hati senang kutinggalkan tempat ini.
Ya, aku sedang senang. Karena di sini, saat ini, aku sedang merayakan sesaat kebebasan, perlawanan, dan pembangkangan dari sebuah rutinitas :-)
Debu Cinta Kama (disadur dari kisah Kama-Rati)
Kama berkelana dengan busur dan anak panah bunga. Menggoda dewi dan dewa, memanah racun asmara. Siapa pun terkena anak panahnya, tak kan mampu mengelak dari getar dan demam asmara.
Alkisah Kama menunai tugas penting dari sang Indra. Membangunkan Siwa dari tapa brata. Kama pun menggoda Siwa dengan pesona dan anak panah bunga. Siwa murka. Dibakarnya Kama dengan mata ketiganya. Kama akhirnya hanya menjadi debu nan hampa.
Rati gundah gulana. Memohon ia pada sang Siwa, Kama kembali jadi belahan raganya. Siwa tergugah hatinya. Kama kembali ada, namun tanpa raga. Hanya sang jiwa, bertebaran abadi sebagai debu cinta. Menabur cinta yang menjiwa pada seisi jagat raya.
...dan seperti yang telah digariskan
debu cinta telah ditebarkan
hingga pada suatu ruang suatu masa
seseorang bisa begitu saja
jatuh cinta pada seseorang lainnya...
apapun makna cinta yang ada
biarlah ia memaknai dirinya
‘met tiga tahun, yang… :)
biarlah ia memaknai dirinya
‘met tiga tahun, yang… :)
Subscribe to:
Posts (Atom)
