Showing posts with label hidup. Show all posts
Showing posts with label hidup. Show all posts

Kupu-kupu Pagi

Pagi hari. Terang. Langit biru cerah, gak biasa. Di jalan, pemandangan yang biasa: Manusia yang (maunya) bergegas kerja. Wajah-wajah masih setengah mengantuk, membisu di balik kaca mobil. Motor-motor berdengung seperti sekawanan tawon. Suara klakson tak sabar. Biasa. Klise.

Tapi di suatu pagi yang terang dan tidak biasa, coba naikkan pandanganmu sejenak. Sekitar dua meter di atas barisan kendaraan di jalan. Agak ke tepi. Di antara hijau pepohonan. Ah, ya... mungkin dirimu tak seberuntung aku. Sepenggal jalan yang kulalui tiap pagi masih menyisakan deretan pepohonan yang ya... cukuplah. Ya, jadi jika dirimu masih cukup beruntung, cobalah mendongak sedikit pada ranting dan daun yang menaungi pingiran jalan. Berbahaya? Dalam gerak yang merayap seperti itu, rasanya sih cukup aman.

Nah, di suatu pagi dengan langit biru cerah, coba naikkan sudut matamu sejenak. Jika kau seberuntung aku, maka di sana kau akan melihat hal yang luar biasa. Ternyata ada keriuhan lain di atas sana. Kau akan melihat buanyaaak kupu-kupu berterbangan.

Sekawan kupu-kupu kecil bersayap kuning pucat terbang beriringan mengitari sebatang angsana. Dari pucuk yang satu ke pucuk yang lain. Dari ranting ke ranting. Dari pohon ke pohon. Kupu-kupu di hampir setiap batang pohon yang berbunga malu-malu tak pamer. Ada sepasang kupu-kupu bersayap hijau kebiruan yang cantik berkejaran di pucuk glodongan. Kupu-kupu kuning terang melayang merendah. Haha... kupu-kupu hitam terbang menyeberang jalan. Kupu-kupu kuning terang hinggap sejenak di helm kuning :)

Pagi yang menyenangkan. Bukan pagi yang biasa, pasti...

(catatan yang tertunda dari seminggu yang lalu)

Jarak Waktu

Kemana pun ia pergi dibawanya sebundel surat-surat yang masih tersimpan dalam sampul putihnya. Surat-surat yang tidak untuk dibaca saat ini. Karena di masing-masing sampul telah tertera tanggal-tanggal di masa depan. Momen-momen yang tepat untuk membukanya. Untuk membacanya. Kelak. Nanti.
Apa yang terlintas di pikiranmu ketika membaca sekelumit cerita di atas?

Jalan Bercabang Dua

"Di dekat rumahku ada jalan yang lucu," katanya padaku tiba-tiba di tengah-tengah kebisuan kami. Lalu ia pun bercerita.

Ada persimpangan di jalur yang dilewatinya setiap pagi. Simpang jalan yang lucu. Sebuah jalur searah untuk tiga mobil kemudian memecah menjadi dua buah jalan yang lebih kecil, seperti huruf Y. Kita sebut saja kedua jalan yang lebih kecil itu, jalan baru dan jalan lama. Kedua jalan tersebut terbentang bersisian, berjarak sekitar seratus meter dan dipisahkan oleh deretan bangunan. Lucunya, setelah sekitar satu kilometer, ujung kedua jalan itu akan kembali bertemu. Dan di antara deretan-deretan bangunan yang memisahkan kedua jalan tersebut, kadang masih ada tanah lapang yang kosong, sehingga para pelaju di salah satu jalan bisa memandang ke jalan yang satunya lagi untuk membandingkan tingkat kemacetan. Hanya saja jarak masih terlalu jauh, sehingga sulit untuk bisa saling melambai tangan.

Tahun lalu, dan selama bertahun-tahun sebelumnya, ia selalu melewati jalan yang di sebelah kiri, yaitu jalan yang lama. Tentu saja, karena dulu jalan yang baru belum ada. Ketika itu, jalan yang lama selalu padat sewaktu ia melewatinya di pagi hari. Kendaraan harus lewat dengan tersendat-sendat. Kini, ia selalu memilih yang baru. Namanya juga baru, jalannya terasa lebih mulus untuk melaju. Padahal ia tahu, kedua jalan toh berakhir di satu ujung yang sama.

---

"Suatu hari, mendadak aku ingin mengambil jalan lama di sebelah kiri," jelasnya padaku.

Impulsif saja, katanya. Mungkin kangen suasananya, ia mencoba memberi penjelasan yang lebih rasional (atau malah gak rasional, ya?). Ia kangen orang-orang yang ada di sisi jalan yang itu. Di situ, katanya lagi, ada sebuah bangunan sekolah dasar. Ada bapak-bapak tua bertubuh kecil -- lengkap dengan papan rambu-rambu, topi, dan peluit -- bertugas tiap pagi menghentikan kendaraan sejenak untuk menyeberangkan anak-anak sekolah. Ada rumah sangat-sangat besar dengan pagar tinggi dan papan di gerbang bertuliskan: hati-hati banyak anak-anak. Ia bilang, kata orang-orang -- karena ia belum pernah melihat sendiri -- rumah itu adalah milik seorang kaya pemurah yang punya banyak sekali anak asuh. Lalu ada lagi sebuah rumah bergaya tahun tujuh puluhan berhalaman luas, dengan seekor anjing yang berlari-lari di sana. Yah, pokoknya ia mendadak kangen dengan semua itu. Terutama anak-anak sekolah dan bapak tua penyeberang jalan itu, tegasnya lagi.

"Tapi hidup itu lucu. Benar kata orang-orang itu. Hidup memang sungguh lucu," ia berkata sambil tersenyum samar dengan pandangan yang menerawang.

"Kau tahu apa yang lalu terjadi?" tanyanya kemudian yang tentu saja aku jawab dengan tatapan mana-aku-tahu-ya-kamu-kasih-tahu-dong.

Belum juga sampai separuh jalan, tiba-tiba ada pengendara motor yang melambai padanya dan memberi tahu bahwa ban mobilnya bocor. Yup, bocor blas, katanya. Ada dua buah paku menancap di ban kiri belakang kendaraannya. Paku yang sengaja disebar, terbuat dari jari-jari payung yang diruncingkan. Ranjau-ranjau yang sudah menemukan korbannya.

---

"Hidup itu lucu, kan?" Entah itu tanya atau pernyataaan yang minta dukungan.

Aku manggut-manggut. Iya. Hidup itu memang lucu. Selucu jalan bercabang dua di dekat rumahnya. Jalan yang, mau tak mau, harus dipilihnya jika ingin terus. Ia tak pernah tahu apa yang akan ditemuinya di cabang pilihannya. Pun ketika ia telah akrab dengan kedua jalan itu. Pun ketika ia tahu bahwa keduanya akan berujung pada satu muara yang tak beda.

"Kau tahu apa yang lebih lucu lagi?" tanyanya kembali yang -- sekali lagi -- tentu kujawab dengan tatapan mana-aku-tahu-ya-kamu-kasih-tahu-dong.

"Setelah ban gembos, aku baru sadar, kalau ternyata hari itu sekolah sudah libur. Tak ada anak-anak sekolah dan si bapak tua penyeberang jalan."

Hujan Semalam

Mari kita rayakan hujan. Butir-butiran segar yang turun menyiram bumi. Setelah sekian lama kering menguningkan rumput-rumput, meluruhkan daun-daun, menggunduli ranting-ranting. Setelah beberapa mendung tapi tak hujan.

Semalam hujan luruh menderas selepas magrib. Mengharumi tanah. Menguar aroma basah. Angin menggoyang cabang-cabang kencang. Daun-daun, ranting-ranting menari bersama.

Mari kita rayakan hujan. Duduklah sebentar di teras bersamaku. Kita menyanyi berdua. Lagu kesukaan kita, yang sudah lama tak kita dendangkan. Ayo kita bersimpuh di beranda. Menghitung kodok-kodok yang bermunculan dan berlompatan di pekarangan. Mendengar bunyi air yang turun dari ujung talang. Membiarkan wajah menyegar disapa angin yang basah.

Mari kita rayakan hujan. Bersama daun-daun. Ranting-ranting. Pohon-pohon. Rumput-rumput. Kodok-kodok. Tanah basah. Desau angin. Bersama kita melisan syukur.

Mengambang dan Berayun

Terbaring malas di kamar. Kala itu pagi. Selembar koran di tanganmu. Kau baca. Lalu mulailah kalimat-kalimat bergulir di udara. Dialog. Monolog. Antara hakikat dan syariat.

Di luar jendela, ada layang-layang tersangkut di ujung atap. Menggantung pada sejengkal benang. Kertas putihnya terkoyak. Tinggal buluh rangka dan sisa sobekan, berayun-ayun dicanda angin kemarau.

Melengkung sudut bibirmu. Suara menyublim dalam ruang. Mengambang. Hakikat dan syariat hilang dalam angin. Hanya ada layang-layang robek berayun-ayun di depan matamu.

Mengingat Lupa

Terkadang kita -- mungkin secara tak sadar -- kerap menghindar dari sepenggal ingatan tertentu. Melupa. Menafikan segala yang membangkitkan kenangan atas serentang masa yang ingin dilupa. Meletakkan sebuah album foto di bagian lemari yang sukar dijangkau dan membiarkannya berdebu. Menghilangkan nama sebuah kota dari peta kehidupan. Menutup telinga atas sebuah topik percakapan. Memalingkan wajah atas episode tertentu pada sebuah film. Melompati dua atau tiga paragraf dari sebuah novel yang sedang dibaca.

Atau... menekan tombol 'stop' secara reflek, setiap kali rekaman fragmen tertentu dari masa lalu berputar. ‘Berhentilah, cukup sampai di situ saja.’

---

Mengenang kota itu, dua puluh tahun silam, awalnya membawa rasa hangat di hatinya. Teman-teman kecil, sekolah berdinding papan tak berpagar di dekat ‘rawa’, kepala sekolah berkulit legam yang bersahaja, guru baru yang membuka mata, permainan di hijau tanah lapang, perkemahan sabtu minggu, bukit di belakang sekolah, jajanan di rumah seberang, bulir-bulir kuning akasia, sepokok bambu di sudut jalan, rumput jarum menusuk kaus kaki, sungai kecil berjembatan kayu…

Lalu ia akan terkenang rumahnya dulu. Rumah besar itu, pekarangan yang sungguh lapang, segala pohon jambu di halaman belakang, kandang ayam, sumur timba tak terpakai, seekor anjing menandak gembira, bermain monopoli dan menang, kamar-kamar kosong, ruang tidur luas untuk dirinya sendiri….

Lalu...


STOP! Sampai di situ saja. Karena melarut berarti... rasa getir di kerongkongan, butir bening di sudut mata, dan rasa bersalah yang -- ia tahu -- semestinya tak ada.

---

Sekitar sepuluh tahun yang lalu, di atas pintu keluar sebuah supermaket di suatu kota, ada sebilah papan (biru?) bertuliskan kata mutiara. Hiasan yang tak menyolok mata, tak menuntut perhatian khalayak, namun tetap ganjil untuk sebuah supermarket. Aku sendiri tak kan pernah memperhatikannya, apabila seseorang tak menunjukkannya padaku.

Kalau tak salah begini, bunyinya:

Happiness, it's nothing more than a good health and a poor memory.

Hmm… begitukah? Dan sekarang, masih adakah tulisan itu di sana?

Setelah Liburan Panjang

Selasa pagi. Waktunya kembali bekerja. Bangun pagi dengan happy, mood gw lagi bagus. Libur panjang kemarin sangat menyenangkan. Main pasir dan ombak, berkejaran bertiga di sepanjang pantai, memandang wajah kecil yang ceria... ah... :)

Di jalan. Hari pertama kembali bekerja. Macet. Gak heran, deh. Semua orang kembali sibuk. Macet banget. Gak masalah. Soalnya mood gw lagi bagus.

Lihat di luar! Rumput-rumput di pembatas jalan mulai menguning. Kering. Tapi kemarau punya keindahannya sendiri. Ini saat daun-daun coklat melepas satu-satu dari ujung ranting. Lihat mereka terbang melayang pelan? Menari bersama angin. Mengapung di udara. Meliuk. Mengambang. Lalu jatuh perlahan di atas jalan.

Macet luar bisa. Sudah dua jam berkendara, belum separuh perjalanan dilewati. Tapi mood gw lagi bagus. Jadi, santai aja, ya. Toh, apa sih yang gw kejar?

Eh, kenapa motor di seberang jalan itu? Kok tiba-tiba oleng dan terbalik? Sebuah motor lain melambat dan pengendaranya turun membantu. Seseorang dari pelataran bangunan juga ikut menolong. Untunglah, sepertinya semua baik-baik saja. Dan ya, mood gw lagi bagus.

Hey, itu bukan daun, yang melayang-layang di atas mobil di depan. Itu kupu-kupu hitam putih. Sayapnya tidak mengepak. Hanya membentang, mengapung di atas angin. Gak heran gw sempat salah sangka. Tuh, kan. Kupu-kupu itu sedang pura-pura jadi daun gugur :p. Mengepak sesekali untuk terbang naik, lalu kembali mengambang di udara, mengikuti geliat-geliut angin.

Wow, sudah tiga jam. Masih di sini-sini aja. Hey, tapi mood gw lagi bagus. Itu papan pengumuman berwarna kuning, yang bertuliskan "maaf-perjalanan-anda-terganggu-ada-pekerjaan-busway", gak boleh merusak mood gw.

Baca, baca buku lagi aja, deh. Toh jalan merayap kayak siput. Baca buku tebal yang sudah beberapa hari nongkrong di mobil. Buku cerita pendek-pendek tentang dunia yang bijak dan indah. Tumben nih, bisa selesai sampai tiga bab sekaligus.

Hmmm... mesin mobil makin panas. Pendingin udara harus dimatikan sesekali, supaya suhu mesin kembali normal. Udara di luar (dan di dalam) terasa semakin bikin gerah. Keringat mulai membasahi ketiak. Untung deh tadi gak pake baju tebal. Hahaha, ya, mood gw masih bagus, kok.

Tiga setengah jam lebih. Akhirnya sampai di perempatan jalan itu. Oh ternyata, kalau jam segini, Nano dan Pepen sudah tidak ada. Mungkin mereka mangkal di tempat lain yang lebih strategis.

Empat jam. Akhirnya sampai juga. "Hey, harusnya elo udah nyampe Bandung, tuh!" Tawa menderai, "iya nih... eh, sebentar lagi udah waktunya makan siang, ya?" Untung mood gw lagi bagus...

Sepenggal Ritual Pagi

Pertama kali ia tersenyum menyapa dari balik kaca mobil, saya tak mengenalinya. Awalnya saya pikir ia sekedar menawarkan majalah. Namun ia tetap tersenyum lebar dan mengangguk, walaupun secara reflek saya sudah melambaikan telapak tangan tanda tidak berminat. Sekian detik diperlukan sampai akhirnya saya menyadarinya. Ah... dia. Pantas saja. Yang saya kenali bukan dirinya di sini dan di sore hari yang meremang. Biasanya, yang saya tahu, dia di sudut sana dan di pagi hari. Buat saya dia bukan sekelumit wajah yang familiar, tapi sebagai sosok dalam sepenggal ruang dan waktu yang eksak: pukul delapan pagi di perempatan lampu merah itu.

Saya balas mengangguk dan tertawa. Lalu melaju lagi karena sudah saatnya bergerak.

Saya masih terkejut karena dia masih mengenali saya: satu dari ratusan (ribuan?) kendaraan yang lewat jalan itu setiap harinya. Ya, kami memang pernah punya satu cerita yang mengaitkan kami. Tapi tetap saja saya tak menyangka dia masih akan mengenali saya, di antara ratusan kendaraan yang melewatinya tanpa membeli barang dagangannya karena memang tak memerlukannya.

Sampai kini tiap pagi saya masih melewati perempatan lampu merah itu, sekitar pukul delapan pagi. Hampir setiap pagi saya akan melihat dirinya dan seorang temannya yang lain di sana. Lalu kami akan saling tertawa dan mengangkat tangan menyapa dari balik kaca jendela. Begitu saja. Hampir tiap pagi. Rasanya memang ada yang kurang. Saya masih tidak tahu namanya dan nama temannya.

---

Beberapa waktu yang lalu, setelah sekian bulan ritual itu berlalu, saya menurunkan kaca jendela ketika kendaraan terhenti oleh lampu bertanda merah. Bertanya padanya, "Mas namanya siapa?" Ia menggumamkan namanya tak jelas. "Siapa?" tanya saya lagi. "Saya, Nano." "Kalau Mas yang satu lagi itu siapa?" "Pepen." Saya tersenyum dan mengangguk sekali lagi, sebelum akhirnya kembali melaju.

Sore ini...

Hampir pukul enam sore. Sepi. Benar-benar sepi. Semua sudah pulang. Ditemani secangkir kopi.

Meja berantakan. Sudah waktunya sedikit dirapikan. Walau akan kembali berantakan dalam waktu dua hari. Ah, nanti-nanti saja, deh...

Di luar, Jakarta badai. Hujan deras. Langit hitam. Meretak oleh kilat.

Suara. Derung komputer. AC. Klakson mobil tak sabar di kejauhan. Gemuruh langit.

Benar-benar hampir pukul enam sore. Lampu dan dingin udara akan padam. Pilihan. Segera berkemas dan bergabung dengan barisan kendaraan. Atau menunggu sejenak dengan ditemani remang lampu meja.

Aih, besok long week-end lagi...

sungai, jembatan, dan gerbang

Akan kuceritakan sebuah dongeng...

ada seseorang yang tinggal di tepi sebuah sungai yang lebar. keinginan terbesarnya adalah untuk pergi menyeberangi sungai, melihat dengan mata kepalanya sendiri sisi lain dari sungai yang ia telah kenal sejak ia lahir.

ada sebuah jembatan yang menyeberangi sungai itu. namun pada jembatan itu ada sebuah gerbang. gerbang itu tidak dijaga oleh siapa pun. tidak juga memiliki kunci atau palang perintang. namun gerbang itu tak pernah terbuka untuk dirinya. ya, ia pernah melihat gerbang itu terbuka, dan beberapa orang telah melewatinya, dari ke dua sisinya.

ia sendiri, telah beberapa kali mencoba dan gagal. gerbang itu tak pernah bisa dibuka olehnya, bahkan dengan mendorongnya, mencongkelnya, dan berbagai usaha paksa lainnya. tidak bisa juga ia mencoba menyelinap ketika orang lain melaluinya.

setelah beberapa kali mencoba dan gagal, ia mulai melupakannya. terkadang ia benar-benar lupa akan keinginannya itu. namun kadang ia teringat kembali dan menghabiskan waktu luangnya untuk duduk di tepi sungai. memandangi jembatan sambil berharap gerbang penutupnya akan terbuka untuk dirinya.

suatu hari, ia kembali teringat keinginannya itu, namun dilihatnya gerbang tidak juga terbuka untuknya. ia memicingkan mata, berusaha memandang ke seberang sungai. keinginannya sangat besar. ia putuskan akan menyeberangi sungai dengan segala upaya. bila gerbang tidak juga terbuka dan jembatan itu tak bisa dilaluinya, ia akan mencari jalan lain. ia putuskan untuk berjalan menyusuri sungai mencari cara lain untuk menyeberanginya. mungkin saja nanti akan kutemukan jembatan yang lain atau mungkin sebuah sampan, pikirnya. ia pun mulai melangkah.

belum jauh ia melangkah menyusuri sungai, didengarnya suara gerbang berderik. ia menoleh. dilihatnya pintu gerbang yang menutup jembatan itu terbuka. tak ada orang lain di dekat situ. hanya ada dirinya sendiri....


Telah kuceritakan sebuah dongeng. Setiap orang mungkin akan 'membaca' dengan caranya sendiri. Seperti juga 'membaca' makna sebuah peristiwa.

Lingkaran



Minggu lalu kami berdua mengajak Obin menghadiri acara ulang tahun putra teman kami. Di sana, saya bertemu beberapa teman lama. Masing-masing telah membawa putra-putri mereka. Terasa lucu. Beberapa belas tahun lalu, kami hanyalah remaja-remaja berseragam putih abu-abu. Saat itu sungguh tidak terbayangkan bahwa belasan tahun mendatang kami semua akan menjadi orang-tua yang mengantar anaknya menghadiri ulang tahun anak teman...

Sambil menyaksikan anak-anak kecil itu bermain bola-bola atau balon, saya tidak bisa tidak jadi berpikir... how time flies... (klise, hehehe).

Dalam perjalanan pulang, masih dengan rasa takjub yang agak aneh, saya jadi teringat percakapan selintas dengan seorang teman yang lain. Kali ini tidak terjadi belasan tahun yang lalu. Hanya sekitar sepuluh tahun yang lalu...

---

Teman: Kenapa sih, semua orang harus hidup dalam pola yang begitu-begitu aja.

Gimana?

Teman: Ya, begitu... lahir, gede harus sekolah, kuliah, kerja, kawin, punya anak, dst..

*saya diam, menunggu kemana arah pembicaraan selanjutnya*

Teman: Kepikiran gak sih, kalau hidup itu mungkin gak mesti seperti itu?

Saya saat itu pun, tidak terlalu punya jiwa "ingin menentang segala kemapanan". Setidaknya dalam tingkatan yang jauh lebih rendah dari teman saya itu. Jadi saya tidak menjawab pertanyaan (atau pernyataan) -nya. Sebenarnya sih juga karena saya tidak tahu apa jawabannya.

---

Dalam perjalanan pulang dari acara ulang tahun anak seorang teman, saya jadi teringat percakapan itu. Sekarang saya tahu apa jawabannya. Setidaknya jawaban yang saya percaya berlaku untuk diri saya sendiri.

Saya... hanyalah setetes air yang tunduk pada siklusnya. Demi berlangsungnya kehidupan. Demi keberadaan dirinya sendiri.

Sebuah titik yang tunduk pada lingkaran kehidupan.

Sendirian

"Mbak, kok tahan sih pulang-pergi nyetir sendiri gitu."

Saya mengernyit bingung, "Maksudnya? Capek?"

"Kan sepi, Mbak. Gak ada temen ngobrol. Berjam-jam gitu. Saya sih gak betah."

***

Orang beda-beda ya?

Saya suka berkendara sendiri. Capek? Memang, mau gimana lagi. Kesal karena macet? Kalau macetnya masih standar-standar aja, udah gak bikin kesal lagi. Masak sih mau kesal tiap hari? Rugi sendiri kan?

Tapi baru kali ini saya dengar komentar, "Apa gak sepi?" Hihihi... gak tuh... Sumpah deh, gak pernah kepikiran begitu sama sekali. Saya suka sepi, ternyata. Saya suka sepinya berkendara sendiri. Sempat, saya punya rekan seperjalanan. Tapi rekan perjalanan yang suka mengeluhkan kemacetan di-sepanjang-jalan-yang-memang-macet-gak-bisa-diapa-apain-lagi? Sepuluh kali lebih baik, sendirian aja.

Berkendara sendirian? Saya bisa banget baca buku (kayaknya saya gak sendirian soal baca buku sambil nyetir di Jakarta, beberapa kali saya lihat pengendara di sebelah saya, juga membaca). Pengen suara-suara? Setel musik atau radio. Kalau lagi gak ingin baca atau dengar suara-suara, ya bengong aja, sendiri.


***

Belum lama ini saya naik kereta lagi ke Bandung. Sendiri. Kapan ya terakhir naik kereta ke Bandung sendirian? Sudah lama juga rasanya. Ternyata ngangenin juga nih naik kereta sendirian ke Bandung. Tiga jam-an. Rasanya waktunya pas gitu untuk bengong sendiri, sambil kadang baca buku, sambil kadang lihat lembah dan sawah dari jendela, sambil kadang ketiduran sebentar.

Dulu, waktu masih jaman kuliah di Bandung, ide-ide untuk tugas-tugas seringnya kepepet muncul di kereta. Draft makalah juga seringnya ditulis di kereta. Sekarang? Keinginan untuk menulis topik gak penting ini di blog, munculnya juga di perjalanan dengan kereta kemarin.

Damn, saya ternyata suka jalan sendiri. (Mungkin sepanjang saya gak nyasar atau lost in translation). :)

Perpisahan

Ketika sebuah perpisahan terjadi, siapakah yang lebih merasa sedih, yang ditinggalkan atau kah yang pergi meninggalkan? Ah, masih perlukah kesedihan? Bukankah memang tak ada satu pun yang abadi?

Ketika seseorang pergi untuk mengejar mimpi, masih perlukah air mata? Bukankah kepergian itu untuk kebahagiaan?

Ah... bagaimana pun air mata kadang mampu menyihir detik-detik perpisahan: menghapus debu kesal yang ada selama perjalanan bersama, menyegarkan daun kenangan, meneteskan embun doa dan asa untuk bahagia.

Untuk mereka yang pergi: Ia yang kini telah pergi ke barat untuk membangun kembali sebuah negeri yang luluh lantak. Ia yang kini telah kembali ke rumah, pada anak-anaknya. Dan ia yang telah bertahun-tahun bersama kami, yang hari ini akan meninggalkan kami untuk membentuk keluarga kecilnya sendiri.

Untuk mereka yang pergi: semoga bahagia...

Kubus



Ini 'kubus'ku. Sudah hampir lima bulan. Sampai saat ini aku suka kubus ini: hal-hal yang keluar-masuk ke dalam kubus ini, juga orang-orang yang berlalu-lalang di dalam dan luarnya. Banyak hal baru yang menarik bagiku, keluar-masuk kubus ini, walau kadang membuat sedikit pusing dan hati berdebar-debar. Orang-orang yang berkeliaran, juga sangat menarik. Muda, gembira, bersemangat, santai, ramah, ramai, walau kadang rumpi, berisik, dan berkonflik.

Dulu sekali, aku sering bertanya-tanya, bagaimana sih rasanya menyukai sebuah kubus? Karena kubusku dulu, tak kusuka. Kini aku kembali bertanya-tanya, akankah aku masih menyukai kubusku kini, kelak? Esok, lusa, sebulan, atau setahun lagi?

Aku suka kubus ini. Namun kadang, seperti saat ini di dalam kubus yang menyenangkan ini, aku sedikit merasa takut. Aku takut terkurung di dalamnya.

...

Hidup mengajari aku untuk tak lagi percaya pada cinta. Bukan, bukan lalu aku menjadi pahit dan menistakan indahnya kepak sayap cinta. Tapi cinta, kini kutahu, bisa sekejap menjelma bulu-bulu yang berterbangan: ringan, melayang, hilang...

Tapi, Tuhan, sekali lagi memperlihatkan kemahakuasan-Nya. Entah apa rencana-Nya, kali ini.

...

Lihatlah kupu-kupu itu. Sayapnya indah, bukan?

Aku jadi teringat seorang pencinta kupu-kupu. Ia tinggal di daerah pegunungan yang sejuk. Pekarangan rumahnya luas, dipenuhi dengan segala jenis tanaman yang disukai kupu-kupu. Rumahnya dipenuhi oleh kupu-kupu. Kupu-kupu hidup, kupu-kupu yang diawetkan, gambar kupu-kupu, kupu-kupu batu, ulat kupu-kupu, kepompong kupu-kupu. Serba kupu-kupu.

...

Mengetik. Mengetik apa saja. Sudah lama sekali rasanya tidak mengetikkan kalimat-kalimat kosong ataupun setengah kosong atau setengah isi. Mengetik. Mengetik saja. Apa yang terlintas. Tak ada yang terlintas. Hanya ingin mengetik. Menumpahkan kekosongan. Hingga kembali terisi.

Tulis. Tulis saja. Penuhi halaman putih ini dengan huruf-huruf. Menjelma bunyi. Entah rima entah mantra, semoga saja makna.

...

Argh... kosong kosong kosong. Isi isi isi... Hi hi hi... Seperti ketika bermain ular naga dulu. Ular naga panjangnya bukan kepalang, berjalan-jalan selalu kian kemari. Umpan yang lezat itulah yang dicari. Inilah dia yang terbelakang.... kosong kosong kosong isi isi isi...

Dari Suatu Pagi

Pagi. Terlambat bangun. Bergegas. Mengantuk.

Jalan sungguh padat. Ada anak laki-laki berseragam sekolah menggandeng sepedanya diseberangkan sang ayah. Sampai di seberang, tepukan di bahu, lambaian tangan, sepeda dikayuh pergi.

Menguap.

Jalan sungguh padat. Berjejalan kendaraan di persimpangan jalan. Ada laki-laki pembawa arang. Mengayuh sepeda terselubung bungkusan arang, terjepit di antara mesin berderu penghasil asap.

Menguap.

Jalan sungguh padat. Tak ada percakapan menarik dengan teman seperjalanan. Sama-sama bosan.

Menguap.

Jalan sungguh padat. Membaca lembar-lembar yang masih harus dibaca. Mengingat-ingat apa yang perlu diingat. Mereka-reka apa yang akan direka.

Menguap.

Jalan sungguh padat. Satu setengah jam. Akhirnya... sampai juga.

*Cuma selingan dari suatu pagi yang biasa.

Dua Bocah Bergandeng Tangan

Pada suatu siang menjelang sore, seorang bocah laki-laki bermain sendiri di sebuah taman kota. Berlari secepat kilat menuruni tanah yang cukup terjal. Melompati perdu. Berbaring di rumput menatap langit. Mungkin berhayal jadi burung terbang. Atau mungkin pula sekedar bosan. Sudah sangat sering ia bermain di sana. Ia sudah hapal setiap tanjakan, turunan, celah perdu, pagar, kolam, rumput, debu, dan batu. Sore masih panjang. Orang masih ramai berlalu lalang. Sang ayah masih menjaja minuman ringan di depan taman.

Pada suatu siang yang sama di taman kota yang itu juga, seorang bocah laki-laki kecil lain baru tiba bersama ayah dan bundanya. Ia mulai bosan berada di dalam kendaran yang tersendat berjalan. Ia juga selalu suka halaman rumput yang luas. Karenanya ia pun segera berlari kecil menuruni taman. Menghambur ke arah rumput yang hijau. Meninggalkan ayah-bundanya.

maka dua bocah pun bertemu...

Awalnya ragu. Lalu mulai bersama berlari. Bertukar kata. Menaiki taman, tidak lewat tangga. Yang satu secepat kilat. Yang satu lagi riang tersendat-sendat, tidak terbiasa. Lalu turun kembali. Berlari melintasi rumput. Melompati perdu. Meloncati batu-batu. Yang satu bernyanyi dan menari-nari. Yang satu mengamati. Naik lagi lewat jalan memutar. Bergantian memanjat tonggak marmer yang menjelma jadi mainan seluncuran. Saling membacakan huruf-huruf di bawah tugu. Kelelahan, duduk minum bersama.

suatu sore
dua bocah bergandeng tangan
mendaki jalan setapak di taman
celoteh riang


* Untuk Aldi, teman baru Obin. Bertemu di Taman Ganesha, Bandung. Semoga suatu hari nanti bisa main bersama lagi.

Tentang Anak dan Soal Manusia Mendarat di Bulan



“Bunda, ayo baca cerita ini!” seru Obin sambil memegang salah satu buku favoritnya. Sebuah buku tipis tentang alam semesta.

“Ayo, Bunda! Baca!”

Maka mulailah saya membacakannya. Tentang bumi yang berputar, matahari di langit, siang dan malam, cahaya bulan. Kadang saya membaca kata demi kata yang tertera di sana. Kadang, kalau sedang malas, saya memilih untuk menceritakan dengan kata-kata sendiri saja. Dan Obin selalu saja siap menyela, dengan tanya, “Bunda, tanda panah ini apa?” (Obin, entah kenapa selalu tertarik pada ‘tanda panah’ yang ditemuinya di mana saja: di buku, di jalan, di mana-mana.)

“Oh, itu arah cahaya matahari! Yang ini, sinar matahari ke bumi, jadinya bumi di sebelah sini siang. Kalau yang ini, sinar matahari ke bulan, lalu dipantulkan bulan ke bumi. Jadi bumi yang sebelah sini, malam, tapi bisa lihat sinar yang dipantulkan bulan.” Saya menjelaskan sambil menunjuk-nunjuk gambar di buku.

Lalu kami akan sampai di halaman buku yang bercerita tentang penelitian dan pendaratan di bulan. Lalu saya akan teringat suatu hal...

***

Beberapa tahun yang lalu (sudah cukup lama sebenarnya), marak beredar gugatan terhadap kisah pendaratan manusia di bulan ini. Saya tidak begitu peduli.

Sudah lama saya sadar bahwa, dalam beberapa hal tertentu saya cenderung apatis. Sudah lama saya tidak merasa terlalu perlu menyempatkan membaca tajuk surat kabar atau menyaksikan acara berita di televisi. Dunia silahkan berotasi dan berevolusi dalam kebisingannya sendiri, saya sudah cukup sibuk dengan dunia kecil saya saja.

Begitu pula tentang kisah manusia mendarat di bulan. Selama ini saya tak pernah tergerak untuk mencari tahu.

Tapi seorang anak ternyata mampu merubah sikapmu pada dunia.

Kini saya peduli. Kini saya ingin tahu. Karena seorang Obin yang saat ini punya cita-cita jadi astronot (entah apa lagi cita-citanya bulan depan :)). Maka saya berusaha mencari tahu. Lalu menemukan site ini, yang memuat pro dan kontra yang cukup berimbang tentang pendaratan manusia di bulan.

Tapi hehehe... saya masih bingung, nih...! Mana yang benar, sih? Ada yang bisa bantu saya?

***

Haruskah saya membacakan utuk Obin, halaman yang bercerita tentang pendaratan di bulan itu, sebagai kisah nyata? Ataukah dongeng?

Atau biarkan saja sebagaimana adanya? Biar saja ia yang mencari tahu sendiri kelak, jika ia mau. Mungkin nanti ia juga akan menjadi seperti saya, menjadi tak begitu peduli. Atau mungkin ia sendiri yang kelak akan pergi ke sana... ke bulan... :)

Gugur

Berita kematian seseorang di televisi atau koran sudah menjadi terlalu biasa. Tak kan pernah benar-benar menyentakmu... kecuali bila ternyata kau mengenalnya...

***

Ia adalah Igo... serasa tak percaya waktu tak sengaja menatap fotonya di televisi kemarin sore. Tak mengenalnya dengan dekat, tak pernah juga sekelas waktu berseragam putih-abu dulu. Tapi aku masih bisa mengenali wajahnya. Masih bisa mengingat sosoknya yang tinggi besar. Masih bisa mengenangnya sebagai teman yang pintar dan suka melucu.

Tak pernah tahu (dan juga tak sangka) ternyata setelah lulus S1 di Unbraw, ia memilih untuk berkarir di militer. Seorang teman dekatnya, di mailing-list alumni, mengatakan, Igo yang cemerlang memilih untuk berkarir di TNI dari bawah, karena idealismenya.

Selamat jalan Igo... sepanjat doa untukmu dan untuk keluargamu.

Keibuan



Menurutmu, apakah setiap perempuan memiliki naluri keibuan? Saya pribadi akan mengiyakan pertanyaan di atas, walaupun saya tahu kata ‘setiap perempuan’ pastinya adalah sebuah generalisasi, karena bagaimanapun perkecualian pasti ada.

Kembali pada naluri keibuan, pertanyaannya kemudian berlanjut, kapankah naluri itu muncul? Setiap perempuan mungkin akan punya jawaban yang berbeda. Saya pernah baca pengakuan seorang perempuan yang sejak kecil sudah bercita-cita menjadi ibu dan punya anak (sejak main dengan boneka?). Saya pribadi baru benar-benar merasakannya ketika saya mengandung, sejak secara sadar mengetahui ada yang hidup dalam tubuh saya. Memang pada dasarnya saya bukan tipe penyayang anak-anak, karenanya (ini berhubungan sebab-akibat gak ya?) juga bukan seseorang yang digandrungi anak-anak.

***

Masih sehubungan dengan naluri keibuan, belum lama ini saya menemukan sebuah istilah yang menarik dan baru buat saya, yaitu allomother. Tidak saya temukan artinya di wikipedia dan ensiklopedia serta kamus online lainnya. Namun dari beberapa artikel yang saya dapatkan melalui google, istilah ini kerap dipergunakan dalam penelitian mengenai perilaku binatang.

Allo, berasal dari kata Yunani, berarti ‘lain’ (other). Allomother, entah apa padanan yang tepat dalam bahasa Indonesia (ibu asuh?), diartikan sebagai individu selain ibu yang ikut mengasuh anak. Di dunia primata (juga pada gajah), salah satu tipe allomother yang umum adalah betina-betina muda dalam sebuah komunitas. Betina muda primata membantu menggendong, mencarikan makanan, menjaga bayi primata dari pemangsa dan bahaya lainnya. Betina gajah bahkan membantu sejak proses persalinan. Buat si ibu, bentuk-bentuk pengasuhan ini menguntungkan karena memberinya waktu untuk beristirahat, untuk mencari makan, bahkan untuk persiapan bereproduksi kembali :). Buat sang bayi, ini adalah bagian dari proses belajar bersosialisasi. Buat para betina muda, ini seperti sebuah latihan, kursus, persiapan diri untuk menjadi seorang ibu!

***

Kadang lucu juga bagaimana kita manusia bisa bercermin pada perilaku binatang (lho, memang di ilmu biologi, manusia digolongkan dalam ‘animal kingdom’ kan? :) ). Yah, paling tidak saya sih yang jadinya ‘bercermin’ pada kasus allomother di dunia binatang ini.

Sebagai ibu, saya saat ini sangat terbantu oleh orang-orang lain di rumah yang ikut mengasuh Obin. Dua di antaranya adalah perempuan yang belum menikah, yaitu sepupu saya dan si mbak. Obin sendiri sangat senang bermain dengan keduanya (menurut saya, terutama karena keduanya adalah tipe penyayang anak sekaligus tipe yang digandrungi anak-anak).

Lalu saya menengok ke belakang, ketika saya hamil. Ya, pada momen-momen ini lah saya mulai merasakan munculnya naluri keibuan. Jadi senang memandangi keponakan yang sedang tidur, jadi lebih sabar menghadapi keponakan yang rewel, mulai mengamati dengan tekun cara menyuapi dan memandikan, bahkan dengan suka rela mengasuh keponakan lebih dari lima menit :D.

Setelah membaca mengenai allomother, saya jadi berpikir bahwa munculnya naluri keibuan adalah sebuah proses yang mulai saya alami jauh sebelum saya mengandung. Mungkin dimulai sejak… hmmm… perkenalan saya dengan bayi pertama dalam keluarga. Karena saya tidak punya adik, bayi di sini berarti adalah keponakan pertama saya yang lahir tujuh tahun sebelum Obin…

Berikut adalah beberapa kesimpulan saya sementara ini. Pertama, menjadi ‘ibu’ adalah sebuah proses yang bisa dipelajari, juga bisa dimulai jauh sebelum seorang perempuan memiliki anak sendiri. Kedua, hadirnya seorang bayi atau anak dalam komunitas terdekat (misalnya keluarga) dapat membantu mengasah naluri keibuan ini.

Ada yang punya pemikiran atau pengalaman yang lain?