Perpisahan

Ketika sebuah perpisahan terjadi, siapakah yang lebih merasa sedih, yang ditinggalkan atau kah yang pergi meninggalkan? Ah, masih perlukah kesedihan? Bukankah memang tak ada satu pun yang abadi?

Ketika seseorang pergi untuk mengejar mimpi, masih perlukah air mata? Bukankah kepergian itu untuk kebahagiaan?

Ah... bagaimana pun air mata kadang mampu menyihir detik-detik perpisahan: menghapus debu kesal yang ada selama perjalanan bersama, menyegarkan daun kenangan, meneteskan embun doa dan asa untuk bahagia.

Untuk mereka yang pergi: Ia yang kini telah pergi ke barat untuk membangun kembali sebuah negeri yang luluh lantak. Ia yang kini telah kembali ke rumah, pada anak-anaknya. Dan ia yang telah bertahun-tahun bersama kami, yang hari ini akan meninggalkan kami untuk membentuk keluarga kecilnya sendiri.

Untuk mereka yang pergi: semoga bahagia...

15 comments:

DIDIT said...

Isa berkata kepada muridnya, "janganlah kau merasa sedih karena perpisahan, karena disebarang sana, seseorang telah melambaikan tangan menantinya..."

Anonymous said...

ceritaku juga sama pahitnya...
akan meninggalkan teman akrabku utk membina rumahtanggaku sendiri..

namun, paling aku xsanggup hadapi bila akak itu hampir setiap saat menangis dan meratap membayangkan betapa nanti dia ditinggal keseorangan.. kerana selama lebih 4 tahun ini, kami berkongsi suka duka kehidupan bagai kakak dan adik kandung...

ntah... sakit jantung aku melihat penderitaan dia tp umurku juga sudah masuk 30 tahun.. dan sudah terlalu byk jodoh aku tolak kerana semuanya tidak dipersetujui oleh teman akrabku itu... semua lelaki jahat katanya...

??? ntah... aku jadi bengong...

antara teman akrab dan sebuah perkahwinan.. dan harga sebuah perpisahan... aku terlalu tension sekarang...

Anonymous said...

tuhan,
tenangkan hatiku, berilah aku kesabaran dlm menerima ujianmu

siwoer said...

siapa bun? pengasuhnya obin? ataukah orang laen?

well, met wiken, semoga tambah rukun sama misoa + obin ya bun :)

dy said...

Glad to read you again! Bagian yg air mata... that's so true Noy :)

Hani said...

huhuhu...

bunda, apa kabar? pengumuman nih, saya sudah beli bukunya mbak vera lho ;)

Anonymous said...

yang baca juga turut sedih bun.

Anonymous said...

kenapa kehilangan jadi menyakitkan, ya? toh sebelumnya kita juga bisa hidup tanpa itu. Mungkin karena sesuatu yang hilang itu sudah terlanjur memiliki ruang, dan kini kosong :(

--durin--

Veranita Dwiputri said...

Temen kantor ya, Noy... Buat Hani, makasih ya... Ekspedisi Lombok, insya Allah jadi tuh... soalnya udah ada yang sponsor yang nyumbang tiket pesawat pp buat anak-anak... pengen ikut tapi ortu gak boleh ikut :(

Vera

Anonymous said...

kalau kangen melanda; karena jarak yg terentang, di doakan saja. seperti saya mendoakan orang2 yang satu persatu pergi dan berjauhan.

Rintik Hujan said...

Mba'e, temanku pernah berkata bahwa pertemuan dan perpisahan adalah dua kutub dalam satu lingkaran. Jadi, bersyukurlah bila kita bisa berpisah dengan seseorang karena kita pernah bertemu dengannya.

Setiap kepergian selalu disertai janji kepulangan, bukan?

Selamat Hari Mama.

Anonymous said...

happy new year Bu

kenapa ibu ini selelu saja menuliskan sesuatu dengan indah,
i wish i could, menulis dg indah :(

Anonymous said...

ups kepencet, di atas itu aku

rani
http://susilo.typepad.com

Anonymous said...

semua yang datang pasti akan pergi kan? setidaknya ketika ia pergi ada kenangan indah yang ditinggalkan.

_Na_

Anonymous said...

Kengkadang orang benci untuk membuat sebarang kenangan sebab tak mo diingat-ingat, masalahnya...ia tetap juga dalam kepala.

Kata orang, biarla masa merawat segalanya.

Biar banyak kali perpisahan melanda, pastikan kita bersedia