Her Story (3)

Apakah itu? Tembang, lagu, senandung? Mendengung di rongga kepalanya akhir-akhir ini. Menyelusup di bilik benaknya. Ketika senyap mengepung sendirinya di antara bising kota. Ketika riuh kepala mengalahkan heningnya kelam.

Itu semacam lagu. Ataukah mantra? Ah, tak penting nama. Itu penyerta dongeng kecilnya dulu. Ketika ibunya bercerita sebelum tidur. Ia tak ingat adakah elusan di kepala menyertainya? Mungkin itu usapan pelan di punggungnya. Tapi ia ingat sekilas cerita itu. Ia ingat tinggi rendah nada lagunya. Ia ingat sebait lirik asing yang dulu tak begitu dimengertinya.

Ingatkah kau? Itu kisah tentang seorang gadis kecil yang tersesat di dalam rimba. Dirindunya sang bunda. Gadis kecil pun bersenandung. Atau meratap? Memanggil seekor elang yang terbang. Meminta dibawa pulang ke pangkuan bunda.

Elang sikak, elang segonggong
Gonggong aku ke rumah induk
Kagek ku upah jago sikok

Elang sikak, elang segonggong
Gonggong aku ke rumah induk
Kagek ku upah jago sikok


Benarkah itu? Mungkin ia tak ingat kata-kata yang sebenarnya. Tapi gaung senandung kian kerap menyambangi. Menyisakan tanya. Apa dan mengapa.

Her Story (2)

Beruntunglah perempuan yang dapat mencintai ibunya dengan mudah. Yang tetap menyukai ibunya walaupun ia telah beranjak dewasa. Yang dapat menceritakan segala kisah pada ibunya tanpa harus merasa takut salah ucap. Yang dapat mencium pipi putih ibunya tanpa harus merasa rikuh. Yang tak harus menahan diri untuk tak berkata tajam, setiap kali sang ibu berbicara padanya. Yang dapat dengan mudahnya mengucap, “I love you, Bu!”

Beruntunglah mereka.

Di Ruang Tunggu

Duduk di sebuah rumah sakit. Menunggu. Hari ini Sabtu. Ramai sekali seperti sebuah pusat belanja di akhir minggu. Selalu seperti ini. Sejak bertahun-tahun yang lalu. Oh, sejak lebih dari tujuh tahun yang lalu. Ketika berkunjung ke tempat ini jadi sesuatu yang rutin.

Beberapa sudut sudah berubah. Berkali-kali. Dulu pojok itu adalah kantin kecil yang menjual risol kegemaran ibu. Lalu ia dilengkapi sebuah perosotan plastik, tempat Obin melewatkan waktu menunggu sambil belajar mengantri giliran dan mengalahkan rasa takut. Kini kantin dan perosotan sudah pindah. Entah ke bagian lain yang mana di bangunan ini. Sebuah ruang dengan pintu kaca yang berhias stiker bunga-bunga cantik berdiri di situ kini, menjelma sebuah klinik spesialis entah apa yang baru. Pojok itu tumbuh. Berkembang. Maju.

Duduk menunggu sendiri di sini. Di tengah keramaian. Tak disangka terasa sungguh menyenangkan. Seperti mendapatkan kesempatan yang sangat langka. Tersadar betapa waktu untuk menikmati kesendirian sudah sangat sulit didapatkan.

Di sini. Duduk sendiri. Di tempat yang tanpa kau sadari ternyata menyimpan banyak memori diri. Teringat tubuh dengan nyeri operasi berjalan melintasi ruang ini. Kunjungan unit gawat darurat di pagi hari ketika luka tak kunjung menutup. Teringat hati yang penuh bahagia ketika membawa bayi pertama pulang. Dan bayi ke dua. Teringat...

(Oh, si dokter gigi sudah datang. It's time for my root canal treatment. )

Her Story - 1

i hold a spoon and feed her
for the very first time

i hold her hand tight
for she makes a step with her trembling body
for the very first time

i kiss her white soft cheek
and wrinkle on her brow
not so for the very first time

you'll be fine, you'll beat them up

the unspoken words left unsaid
still not for the very first time
: i love you, mom

2004