CERPEN: SEPERTI DAUN GUGUR

oleh: Rahmadini
dimuat di Majalah Sekar edisi 103/13, 20 Februari- 6 Maret 2013

seperti daun gugur
Ada selembar daun gugur terbang di atas jalanan padat yang dilalui Mira sore ini. Daun kecoklatan itu melayang pelan dihembus angin yang tak terlalu kencang. Mira tersenyum. Semua akan baik-baik saja. 
 
Mira menghela napas perlahan dan menatap selembar daun kering lain yang sedang menari di atas kendaaraan di depannya. Sungguh pemandangan yang selalu disukainya. Daun-daun yang melepaskan diri dari ujung-ujung ranting. Mereka seakan sedang menarikan tarian yang begitu cantik. Tarian kebebasan.

Ya, semua akan baik-baik saja. 

Ada test-pack yang baru saja ia beli di dalam tasnya. Tak lama lagi ia segera akan tiba di rumah dan segala kekhawatirannya akan sirna.

Semua akan baik-baik saja.
----

Ketika Gun tiba, Mira masih terbaring di tempat tidurnya. Entah sudah berapa jam ia di sana, tergolek dengan mata menerawang dalam gelap. Kedua matanya sembab dan basah. Kenapa ini bisa terjadi?

Langkah kaki Gun terdengar mendekat. Lelaki yang dicintainya.


“Yang, aku pulang. Kamu sudah tidur, ya?”

Gun membuka pintu dan menyalakan lampu. Cahaya menerangi kamar itu dan Gun merasakan ada sesuatu yang tidak biasa.

“Sudah malam begini, kenapa jendela masih terbuka?” tanya Gun heran. Dilihatnya Mira masih mengenakan pakaian kerjanya, berbaring di atas tempat tidur dengan mata merah dan rambut yang kusut. “Mir, kamu kenapa?” Gun duduk di sisi tempat tidur dan mengulurkan tangannya ke wajah Mira. “Kamu sakit, Mir?”

Mira mengerjapkan matanya yang terasa perih. Ia menggeleng. Tangannya lemah mengulurkan sebuah strip kecil berwarna putih kepada Gun.

“Apa ini?”
Test-pack, Gun. Aku sudah terlambat dua minggu.”

Gun memandang strip putih itu. Ini adalah pertama kalinya ia melihat secara langsung benda yang dinamakan test-pack itu. Gun tidak mengerti. Ia tidak bisa mencerna apa yang telah terjadi.
“Positif, Gun. Aku hamil,” tangis Mira kembali meledak.
Gun terpana. “Bagaimana bisa, Mir?”
Mira menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu, Gun.”
----

Catatan Kecil dari Buku “The Road to Mecca”

Saya saat ini sedang membaca buku “The Road to Mecca”, yang ditulis oleh Muhammad Asad. Ia adalah seorang jurnalis dan diplomat berasal dari Eropa (lahir di Ukraine dari keluarga Yahudi). Diterbitkan pada tahun 1954, buku ini adalah oto-biografinya, menceritakan tentang hidupnya hingga usia 32 tahun, proses peralihan agamanya menjadi Islam, dan tentang perjalanannya ke Mekah.

Saya baru saja mulai membacanya malam ini. Masih jauh dari selesai. Jadi tulisan ini bukan review. Ini adalah sebuah catatan kecil karena ada sebuah cerita yang bagi saya sangat mengesankan. Begitu terkesannya, sampai-sampai saya merasa harus berhenti membaca dan menuliskannya di sini. Saat ini juga.

---

Ini kisah ketika Muhammad Asad (ketika itu belum memeluk Islam) tinggal sementara waktu di kediaman pamannya di Yerusalem. Tetangga sang paman, seorang Arab yang dipanggil Haji, kerap menjadi melakukan shalat berjamaah di pekarangan rumahnya. Muhammad Asad mengamati ibadah itu dengan takjub.

Several times a day he assembled them for prayer and, if it was not raining too hard, they prayed in the open: all the men in а single, long row and he as their imam in front of them. They were like soldiers in the precision of their movements -they would bow together in the direction of Месса, rise again, and then kneel down and touch the ground with their foreheads; they seemed to follow the inaudible words of their leader, who between the prostrations stood barefoot on his prayer carpet, eyes closed, arms folded over his chest, soundlessly moving his lips and obviously lost in deep absorption: you could see that he was praying with his whole soul.

Muhammad Asad terusik menyaksikan sebuah ibadah yang berupa gabungan doa dan gerakan tubuh, hingga akhirnya ia pun tergugah untuk bertanya pada orang tua itu tentang shalat.


It somehow disturbed me to see so real а prayer combined with almost mechanical body movements, and one day asked the hajji, who understood а little English:

“Do you really believe that God expects you to show Him your respect by repeated bowing and kneeling and prostration? Might it not better only to look into oneself and to pray to Him in the stillness of one’s hearth? Why all these movements of your body?”

As soon as I had uttered these words I felt remorse, for I had not intended to injure the old man's religious feelings. But the hajji did not appeal in the least offended. He smiled with his toothless mouth and replied:

“How else then should we worship God? Did He not create both, soul and body, together? And this being so, should man not pray with his body as well as with his soul?”

--

Muhammad Asad terusik ketika melihat ibadah shalat dan menanyakan mengapa muslim beribadah tidak dengan hanya ‘hati’ dan doa yang lirih, tapi juga gerakan badan yang menyeluruh.

Saya juga terusik: Mengapa saya, yang lahir sebagai muslim dan telah diajarkan shalat sejak kecil, tidak pernah menanyakan hal yang sangat mendasar dan penting dari ibadah yang saya lakukan itu. Lebih memalukan lagi, saya juga tidak tahu apa jawabannya.

Kisah Kursi Roda [Catatan Perjalanan Haji #2]

Masjidil Nabawi, Madinah. Akhir bulan September. Saat itu menjelang azan Zuhur. Seorang laki-laki asal Indonesia, usia mendekati paruh baya, sedang mendorong kursi roda seorang perempuan tua. Saya duga itu ibunya. Ia berjalan di pelataran Masjid Nabawi, mengarahkan kursi roda sang ibu ke area shalat bagi jemaah perempuan.

Sampai di sana, di pelataran masjid yang dinaungi payung-payung besar, si anak lelaki mencari tempat yang cocok bagi ibunya untuk melaksanakan shalat berjamaah. Diparkirkannya kursi roda di area yang masih agak kosong, namun dipastikan akan termasuk saf shalat perempuan. Lalu sang ibu ditinggalkannya, karena area shalat untuk laki-laki terpisah cukup jauh. Beberapa saat selepas shalat Zuhur, ketika kepadatan orang-orang yang keluar dari masjid mulai menyurut, si anak lelaki akan kembali menghampiri ibunya dan mendorongnya pulang.

---
Saat itu, barisan saya berada tak jauh dari kursi roda ibu itu. Waktu Zuhur dan Asar biasanya saya memang memilih untuk shalat di pelataran masjid. Area dalam masjid yang diperuntukkan bagi jamaah perempuan tidak begitu luas. Agar bisa shalat berjamaah di dalam masjid, kami harus datang berjam-jam sebelumnya. Padahal hotel tempat saya tinggal agak jauh dari masjid, dengan berjalan kaki perlu waktu sekitar 30 menit. Sementara pagi hingga siang hari biasanya kami para jamaah banyak yang memilih beristirahat di penginapan. Sedangkan setelah Zuhur adalah waktu makan siang. Jadi walaupun siang terasa sangat terik, saya memilih untuk shalat berjamaah di luar.

Berlindung di bawah bayang payung-payung besar Masjidil Nabawi yang dibuka saat matahari mulai tinggi, dan ditutup menjelang waktu Maghrib. Sedapat mungkin saya akan mencari posisi yang dapat terpapar hembusan uap air segar dari kipas angin yang terpasang di tiang-tiang payung.

---
Duduk menanti waktu shalat di pelataran masjid ini, membuat saya bisa memperhatikan ‘perilaku’ kursi roda tersebut. Ternyata bukan hanya satu atau dua yang saya temukan. Bahkan kadang kursi-kursi roda itu memang seperti sengaja berkumpul membentuk kelompok-kelompok di pelataran masjid. Mungkin berkelompok untuk kenyamanan mereka. Mungkin agar tidak terlalu mengganggu saf jemaah lain.

Adalah wajar mereka shalat di pelataran. Aksesibilitasnya termudah untuk pemakai kursi roda. Lagi pula pelataran masjid adalah wilayah netral, yang boleh dilalui baik jemaah perempuan dan laki-laki. Perempuan-perempuan pengguna kursi roda itu dari berbagai bangsa selain Indonesia; Turki, India, Bangladesh, dan lainnya. Umumnya usia mereka memang sudah lanjut. Ada yang ditemani oleh anak perempuan atau saudara perempuannya. Namun sering pula saya dapati yang sendiri tanpa pendamping perempuan. Ketika shalat selesai dan orang-orang mulai beranjak dari saf-nya, mereka tetap tinggal di situ. Duduk berzikir di atas kursi rodanya, menunggu penjemput , sementara di sekelilingnya orang-orang lain berlalu-lalang.

Menyaksikan mereka, otomatis membuat saya sangat bersyukur. Kami, saya dan suami, telah diberi kesempatan untuk melakukan ibadah haji di usia yang relatif muda. Ketika badan masih sehat dan kuat. Masih mampu berjalan sendiri tanpa harus dibantu oleh orang lain. Masih bisa melakukan seluruh rangkaian ibadah wajib maupun sunnah tanpa kendala jasmani yang berarti.

Rasa haru pun tak kuasa timbul. Terutama tatkala menjadi saksi bakti para anak pada orang-tuanya. Mereka menghajikan ibu bapaknya. Mendampingi mereka. Mendorongkan kursi rodanya dengan sabar. Memperbaiki letak kerudung ibunya yang mulai menampakkan helai-helai rambut. Mengambilkan air minum untuknya. Bahkan terkadang tanpa ragu menggendong orang-tuanya di punggung ketika harus menaiki tangga.

---
Beberapa hari kemudian. Masih di Masjidil Nabawi, Madinah. Awal Oktober. Kali ini menjelang shalat Asar. Suara azan sudah mulai berkumandang. Saya dan para jemaah lain yang masih berjalan menuju masjid, segera bergegas agar dapat tiba di barisan sebelum shalat dimulai.

Di pintu gerbang pekarangan masjid, mata saya tertumbuk kembali pada sebuah kursi roda. Seorang perempuan yang sudah lanjut usia duduk di kursi roda itu. Tapi kali ini yang mendorong adalah seorang laki-laki yang juga sudah tua: suaminya…

Lelaki tua itu berpeluh, berusaha mendorong kursi roda istrinya agar bergerak lebih cepat, mengejar waktu shalat. Melihat pasangan tua itu, tak tertahankan mata saya terasa basah. Kerongkongan medadak tercekat. Selarik doa pun terucap di hati:
Ya Robb, yang telah menganugerahkan kasih-sayang di antara pasangan tua itu, sayangilah mereka. Ya Rahman, yang telah memberikan mereka usia yang panjang dan kesempatan untuk mengunjungi-Mu, berilah mereka kemudahan. Ampuni dosa-dosa mereka. Kelak, perkenankanlah mereka untuk bertemu kembali. Selalu bersama, di surga-Mu…

(Kembali) Menghampiri-Nya [Catatan Perjalanan Haji #1]

25 September - 5 November 2012. Tanggal ini saya terakan di sini. Sebagai sebuah catatan dari perjalanan besar -- lahir dan batin  -- yang telah saya lalui tahun ini. Berhaji.

Manusia sungguh mudah lupa. Hari ini, baru saja perjalanan itu berlalu 40 hari, namun ramuan aneka rasa yang saat itu begitu tajam sudah mulai menghambar. Rekaman momen-momen yang dulu begitu jelas, mulai memudar. Dan yang paling saya takutkan, grafik iman balik jadi datar lagi -- bahkan menurun -- ketika hidup dihadapkan kembali pada remeh-temeh sehari-hari.

Perjalanan haji memang tak mudah. Tapi kini yang saya rasakan, jauh lebih sulit lagi adalah mengekalkan, mengabadikan semua yang telah dialami dalam perjalanan itu. Bukan hanya sebagai sebuah kenangan, tapi hingga melebur dalam diri, dalam setiap niat, pikiran, dan tindakan.

Karenanya, betapa pun sudah mulai memudar, saya mencoba menuliskan kembali rasa dan peristiwa itu. Jika haji, menurut Ali Shariati, adalah perjalanan menghampiri-Nya. Catatan ini adalah perjalanan saya untuk 'kembali' menghampiri-Nya. Sebagai salah satu cara saja (dari banyak cara lain yang mungkin akan saya lakukan). Agar tidak lupa.

---

I want to bottle up all the feelings, emotions, 
atmosphere, events, fragments, scenes, & faces... 
I wanna bottle up all & open it later.

Kembali













Ketika kamu hendak menulis kembali blog yang sudah kamu tinggalkan lamaaa sekali, apa yang kamu lakukan pertama kali?

Aku? Aku kembali membaca sekilas blog ini. Mencari remah-remah yang tercecer di sepanjang perjalanan hampir 9 tahun ngeblog punya blog. Mencari 'apa' dan 'mengapa'?

Kenapa dulu mulai menulis blog? Ah, itu mudah. Setiap blogger punya kisahnya sendiri. Aku pun punya cerita panjang sendiri (kalau mau dibikin panjang :p). Sebenarnya alasan mendasarnya sih gampang aja: Ini benda ajaib, mainan baru. Titik. Kenapa lalu pergi? Sibuk, bosan, dan sejuta alasan lain. Mungkin pada dasarnya: keajaibannya memudar (bagiku) :)

Ah, tapi lalu kenapa tetap dibiarkan ada? Ini karena sejujurnya aku masih menyimpan harapan, bahwa mungkin suatu waktu aku akan kembali. Setidaknya membacanya lagi. Untuk bercermin, agar tidak lupa raut diri. Atau sekedar menelusuri lorong waktu agar ingat asal mula apa yang ada kini.

Membaca remah-remah ini, membuatku juga tersadar bahwa blog ini juga tempat kembali, ketika aku butuh menulis untuk sejenak berjarak dari 'aku'.  Lihat 3 posting berturut-turut di bulan Juni 2010? Itu adalah saat-saat aku menetapkan hati, membuat salah satu keputusan yang tidak mudah dalam hidupku:  Berhenti mengarungi macetnya Jakarta tiap hari. Kembali ke rumah. Berhenti berkarir sebagai pekerja kantoran. Merekonstruksi lagi mimpi. ... into the air, dandelion fly. fly, fly away to anywhere but stay....

---

Sebenarnya aku tak pernah benar-benar pergi. (Ternyata) memang aku selalu kembali. Belum ada satu tahun pun terlewati: 2002 - 2010. Dan yang satu ini untuk 2011 :)

Dan, oh... Selamat #HariBlogger ! :)

blessed



the window. wide open. lying on bed. watching the pouring rain outside. tree branches are swinging. its leaves are dancing. under the water drops. with the musical of rain. on one fine day.

flying away



blow with a whisper and wishes
into the air, dandelion fly
fly, fly away
to anywhere but stay

foto: google image

the paper boat story


I once had a paper boat. The lil' girl in me used to sail with it through the river. It floated up and down along the stream.

Somehow it stopped, somewhere. I forgot it was just made from a piece of paper. Soon it's getting wet and drowned. The paper boat sank. The lil' girl wast lost. The dream faded away.

Oneday, two lil' boys brought some pieces of paper and said, "Mom, teach us how to make a paper boat and play it with us." The lil' girl in me suddenly woke up. But it took a courage to start dreaming and sailing again.

Hopefully the paper boat will float again, someday, somehow...

Her Story (3)

Apakah itu? Tembang, lagu, senandung? Mendengung di rongga kepalanya akhir-akhir ini. Menyelusup di bilik benaknya. Ketika senyap mengepung sendirinya di antara bising kota. Ketika riuh kepala mengalahkan heningnya kelam.

Itu semacam lagu. Ataukah mantra? Ah, tak penting nama. Itu penyerta dongeng kecilnya dulu. Ketika ibunya bercerita sebelum tidur. Ia tak ingat adakah elusan di kepala menyertainya? Mungkin itu usapan pelan di punggungnya. Tapi ia ingat sekilas cerita itu. Ia ingat tinggi rendah nada lagunya. Ia ingat sebait lirik asing yang dulu tak begitu dimengertinya.

Ingatkah kau? Itu kisah tentang seorang gadis kecil yang tersesat di dalam rimba. Dirindunya sang bunda. Gadis kecil pun bersenandung. Atau meratap? Memanggil seekor elang yang terbang. Meminta dibawa pulang ke pangkuan bunda.

Elang sikak, elang segonggong
Gonggong aku ke rumah induk
Kagek ku upah jago sikok

Elang sikak, elang segonggong
Gonggong aku ke rumah induk
Kagek ku upah jago sikok


Benarkah itu? Mungkin ia tak ingat kata-kata yang sebenarnya. Tapi gaung senandung kian kerap menyambangi. Menyisakan tanya. Apa dan mengapa.

Her Story (2)

Beruntunglah perempuan yang dapat mencintai ibunya dengan mudah. Yang tetap menyukai ibunya walaupun ia telah beranjak dewasa. Yang dapat menceritakan segala kisah pada ibunya tanpa harus merasa takut salah ucap. Yang dapat mencium pipi putih ibunya tanpa harus merasa rikuh. Yang tak harus menahan diri untuk tak berkata tajam, setiap kali sang ibu berbicara padanya. Yang dapat dengan mudahnya mengucap, “I love you, Bu!”

Beruntunglah mereka.

Di Ruang Tunggu

Duduk di sebuah rumah sakit. Menunggu. Hari ini Sabtu. Ramai sekali seperti sebuah pusat belanja di akhir minggu. Selalu seperti ini. Sejak bertahun-tahun yang lalu. Oh, sejak lebih dari tujuh tahun yang lalu. Ketika berkunjung ke tempat ini jadi sesuatu yang rutin.

Beberapa sudut sudah berubah. Berkali-kali. Dulu pojok itu adalah kantin kecil yang menjual risol kegemaran ibu. Lalu ia dilengkapi sebuah perosotan plastik, tempat Obin melewatkan waktu menunggu sambil belajar mengantri giliran dan mengalahkan rasa takut. Kini kantin dan perosotan sudah pindah. Entah ke bagian lain yang mana di bangunan ini. Sebuah ruang dengan pintu kaca yang berhias stiker bunga-bunga cantik berdiri di situ kini, menjelma sebuah klinik spesialis entah apa yang baru. Pojok itu tumbuh. Berkembang. Maju.

Duduk menunggu sendiri di sini. Di tengah keramaian. Tak disangka terasa sungguh menyenangkan. Seperti mendapatkan kesempatan yang sangat langka. Tersadar betapa waktu untuk menikmati kesendirian sudah sangat sulit didapatkan.

Di sini. Duduk sendiri. Di tempat yang tanpa kau sadari ternyata menyimpan banyak memori diri. Teringat tubuh dengan nyeri operasi berjalan melintasi ruang ini. Kunjungan unit gawat darurat di pagi hari ketika luka tak kunjung menutup. Teringat hati yang penuh bahagia ketika membawa bayi pertama pulang. Dan bayi ke dua. Teringat...

(Oh, si dokter gigi sudah datang. It's time for my root canal treatment. )

Her Story - 1

i hold a spoon and feed her
for the very first time

i hold her hand tight
for she makes a step with her trembling body
for the very first time

i kiss her white soft cheek
and wrinkle on her brow
not so for the very first time

you'll be fine, you'll beat them up

the unspoken words left unsaid
still not for the very first time
: i love you, mom

2004

Setahun Lebih

Wow, sudah setahun! Itu yang terlintas di kepala saya ketika melihat kupu-kupu berterbangan di jalan yang saya lewati pagi hari, sekitar satu atau dua bulan yang lalu. Gak kerasa, masa sudah bergulir setahun lebih sejak saya tulis posting Kupu-Kupu Pagi.

Kemana aja? Di sini aja. Di Jakarta. Masih tinggal di rumah yang sama. Masih kerja di tempat yang sama. Masih tiap pagi sore lewat jalan yang sama.

Kenapa lama gak ngeblog? Jawaban sok keren: lagi hibernasi. Hehehe... mungkin lagi masanya aja, ya. Waktu, energi, lagi terserap untuk hal-hal lain. Awalnya gak sempat ngeblog. Lama-lama merasa nyaman aja hidup tanpa blog. Kadang-kadang masih ingin menggoreskan cerita naik-turunnya hidup di jurnal maya ini. Sekedar catatan agar tak lupa. Atau kadang masih ingin berbagi kabar. Cuma seringnya terlambat lalu terasa jadi basi.

Yang ini sekedar catatan. Tahun lalu adalah roller coaster. Peristiwa-peristiwa mengaduk-aduk emosi. By pass. Ruang tunggu rumah sakit. Halusinasi. Kantor. Perubahan besar. Adek. Caesarian. Komplikasi. Varicella. Karantina. Baby blues. Namun hidup berlalu. Suka maupun duka tak ada yang abadi.

Yang ini berbagi kabar. Kenalkan, ini Radian Akhtar, satu lagi bintang di kehidupan kami. Kadang dipanggil Adek, kadang Radian. Sudah tujuh bulan usianya sekarang. Mirip sekali dengan Obin kecil, hanya tanpa ikal rambutnya. Alhamdulillah sehat, lucu, dan nggemesin.


Yang ini permintaan maaf. Atas kunjungan yang tak berbalas. Sapa yang tak bersambut. Ucapan selamat dan rasa terima kasih yang tak tersampaikan. Silaturahmi yang terputus. Saya sesungguhnya tak punya alasan yang layak. Namun sungguh mohon dimaafkan. Maaf...

Kupu-kupu Pagi

Pagi hari. Terang. Langit biru cerah, gak biasa. Di jalan, pemandangan yang biasa: Manusia yang (maunya) bergegas kerja. Wajah-wajah masih setengah mengantuk, membisu di balik kaca mobil. Motor-motor berdengung seperti sekawanan tawon. Suara klakson tak sabar. Biasa. Klise.

Tapi di suatu pagi yang terang dan tidak biasa, coba naikkan pandanganmu sejenak. Sekitar dua meter di atas barisan kendaraan di jalan. Agak ke tepi. Di antara hijau pepohonan. Ah, ya... mungkin dirimu tak seberuntung aku. Sepenggal jalan yang kulalui tiap pagi masih menyisakan deretan pepohonan yang ya... cukuplah. Ya, jadi jika dirimu masih cukup beruntung, cobalah mendongak sedikit pada ranting dan daun yang menaungi pingiran jalan. Berbahaya? Dalam gerak yang merayap seperti itu, rasanya sih cukup aman.

Nah, di suatu pagi dengan langit biru cerah, coba naikkan sudut matamu sejenak. Jika kau seberuntung aku, maka di sana kau akan melihat hal yang luar biasa. Ternyata ada keriuhan lain di atas sana. Kau akan melihat buanyaaak kupu-kupu berterbangan.

Sekawan kupu-kupu kecil bersayap kuning pucat terbang beriringan mengitari sebatang angsana. Dari pucuk yang satu ke pucuk yang lain. Dari ranting ke ranting. Dari pohon ke pohon. Kupu-kupu di hampir setiap batang pohon yang berbunga malu-malu tak pamer. Ada sepasang kupu-kupu bersayap hijau kebiruan yang cantik berkejaran di pucuk glodongan. Kupu-kupu kuning terang melayang merendah. Haha... kupu-kupu hitam terbang menyeberang jalan. Kupu-kupu kuning terang hinggap sejenak di helm kuning :)

Pagi yang menyenangkan. Bukan pagi yang biasa, pasti...

(catatan yang tertunda dari seminggu yang lalu)

:becoming dew



Ada pesan pendek dari Reda:
Neenoy, saya dan Ari akan melepas album musikalisasi puisi Sapardi :becoming dew pd hr Jumat, 26 Jan 07, pk 20.00, di Warung Apresiasi Bulungan. Datang & ajak teman2 ya.


Thanks, Mbak... Mudah-mudahan saya bisa datang ya.

Info lebih lanjut:

Hadiah Tahun Baru

Pergantian tahun biasanya jarang menjadi peristiwa yang istimewa buat saya. Tapi ternyata pergantian tahun kali ini, lain dari biasanya.

Tepat tanggal satu Januari yang lalu, saya membeli sesuatu untuk diri saya sendiri. Benda putih kecil. Esok paginya, it's confirmed. Tahun baru kali ini kami sekeluarga dapat hadiah yang istimewa. Ini juga hadiah buat Obin yang sudah hampir setahun minta adek :p. Insya Allah. Mohon doa, ya...

Dan sekarang saya jadi males ngapa-ngapain, termasuk ngeblog... hehehe alesan :p

Selamat 2007!

Migrasi

Judulnya, lagi pindahan ke New Blogger Beta , nih. Ah, segini dulu aja deh. Ntar kalo sempet diutak-atik lagi. Hehehe, tapi terus terang penasaran juga.

Btw, kalo dipikir-pikir, gw tuh setia banget sama Blogger. Dari pertama sampe sekarang, gak pernah pindah ke lain hati tools. Harusnya dapat penghargaan dari Blogger. Hahaha. Padahal sih faktor males aja dan juga gaptek. :p

Jarak Waktu

Kemana pun ia pergi dibawanya sebundel surat-surat yang masih tersimpan dalam sampul putihnya. Surat-surat yang tidak untuk dibaca saat ini. Karena di masing-masing sampul telah tertera tanggal-tanggal di masa depan. Momen-momen yang tepat untuk membukanya. Untuk membacanya. Kelak. Nanti.
Apa yang terlintas di pikiranmu ketika membaca sekelumit cerita di atas?

Lebih Ramah?

Beberapa waktu yang lalu, saya lagi keisengan, buka halaman haloscan.com – sistem komenting yang saya pakai duluuuu sekali (tahun 2003-2004 an) sebelum Blogger punya komsis-nya sendiri. Iseng-iseng keterusan, coba-coba log-in (duh takjub, username dan passwordnya ternyata benar, hahaha), dan lalu jadi kaget… “Haaah… komen-komen saya masih ada?!” Dulu aja, waktu masih pakai haloscan itu, komen-komen yang sudah lewat empat bulan otomatis hilang. Eh sekarang, setelah bertahun-tahun gak dipakai, malah terarsip dengan rapi.

Dan mulailah saya bernostalgia membaca sekilas komen-komen lawas itu. Hahaha, lucuuu! Itu adalah jaman ketika belum banyak orang menulis blog. Jaman ketika ngasih komen ke seluruh blog yang kita kenal masih terasa ringan (ya, seenggaknya saya saat itu ketagihan memberi dan menerima komen, hehehe). Jaman ketika komen-komen nge-junk -- seperti "Pertama!!! *jingkrak-jingkrak*" -- masih saya baca dengan senyum lebar (soalnya saya kadang juga suka nge-junk gituloh). Jaman ketika komen plesetan cerdas sangat ditunggu-tunggu, karena bisa bikin saya ketawa ngakak berguling-guling (hihihi ini hiperbola sih). Oh, btw, kalo mau tahu jenis-jenis komentar blog bisa baca di blognya Nita.

Tapiiii… ada satu hal lagi yang lebih bikin saya terpana: duluuuu saya terlihat jauh lebih ramah. Karena duluuu… hampir setiap komentar saya balas satu-persatu. Oops ntar dulu nih… TERLIHAT? Hmm… setidaknya begitu kelihatannya di mata saya (versi sekarang). Dan itu bisa berarti saya yang sekarang terlihat lebih tidak ramah… hehehe… Walaupun yang 'terlihat' itu belum tentu benar, sih -- baik yang dulu maupun yang sekarang (hehehe lagi…).

Btw, komen-komen jadul itu saya pasang lagi untuk posting-posting yang juga jadul itu. Kali-kali aja ada yang iseng pengen membandingkan. :p

Jalan Bercabang Dua

"Di dekat rumahku ada jalan yang lucu," katanya padaku tiba-tiba di tengah-tengah kebisuan kami. Lalu ia pun bercerita.

Ada persimpangan di jalur yang dilewatinya setiap pagi. Simpang jalan yang lucu. Sebuah jalur searah untuk tiga mobil kemudian memecah menjadi dua buah jalan yang lebih kecil, seperti huruf Y. Kita sebut saja kedua jalan yang lebih kecil itu, jalan baru dan jalan lama. Kedua jalan tersebut terbentang bersisian, berjarak sekitar seratus meter dan dipisahkan oleh deretan bangunan. Lucunya, setelah sekitar satu kilometer, ujung kedua jalan itu akan kembali bertemu. Dan di antara deretan-deretan bangunan yang memisahkan kedua jalan tersebut, kadang masih ada tanah lapang yang kosong, sehingga para pelaju di salah satu jalan bisa memandang ke jalan yang satunya lagi untuk membandingkan tingkat kemacetan. Hanya saja jarak masih terlalu jauh, sehingga sulit untuk bisa saling melambai tangan.

Tahun lalu, dan selama bertahun-tahun sebelumnya, ia selalu melewati jalan yang di sebelah kiri, yaitu jalan yang lama. Tentu saja, karena dulu jalan yang baru belum ada. Ketika itu, jalan yang lama selalu padat sewaktu ia melewatinya di pagi hari. Kendaraan harus lewat dengan tersendat-sendat. Kini, ia selalu memilih yang baru. Namanya juga baru, jalannya terasa lebih mulus untuk melaju. Padahal ia tahu, kedua jalan toh berakhir di satu ujung yang sama.

---

"Suatu hari, mendadak aku ingin mengambil jalan lama di sebelah kiri," jelasnya padaku.

Impulsif saja, katanya. Mungkin kangen suasananya, ia mencoba memberi penjelasan yang lebih rasional (atau malah gak rasional, ya?). Ia kangen orang-orang yang ada di sisi jalan yang itu. Di situ, katanya lagi, ada sebuah bangunan sekolah dasar. Ada bapak-bapak tua bertubuh kecil -- lengkap dengan papan rambu-rambu, topi, dan peluit -- bertugas tiap pagi menghentikan kendaraan sejenak untuk menyeberangkan anak-anak sekolah. Ada rumah sangat-sangat besar dengan pagar tinggi dan papan di gerbang bertuliskan: hati-hati banyak anak-anak. Ia bilang, kata orang-orang -- karena ia belum pernah melihat sendiri -- rumah itu adalah milik seorang kaya pemurah yang punya banyak sekali anak asuh. Lalu ada lagi sebuah rumah bergaya tahun tujuh puluhan berhalaman luas, dengan seekor anjing yang berlari-lari di sana. Yah, pokoknya ia mendadak kangen dengan semua itu. Terutama anak-anak sekolah dan bapak tua penyeberang jalan itu, tegasnya lagi.

"Tapi hidup itu lucu. Benar kata orang-orang itu. Hidup memang sungguh lucu," ia berkata sambil tersenyum samar dengan pandangan yang menerawang.

"Kau tahu apa yang lalu terjadi?" tanyanya kemudian yang tentu saja aku jawab dengan tatapan mana-aku-tahu-ya-kamu-kasih-tahu-dong.

Belum juga sampai separuh jalan, tiba-tiba ada pengendara motor yang melambai padanya dan memberi tahu bahwa ban mobilnya bocor. Yup, bocor blas, katanya. Ada dua buah paku menancap di ban kiri belakang kendaraannya. Paku yang sengaja disebar, terbuat dari jari-jari payung yang diruncingkan. Ranjau-ranjau yang sudah menemukan korbannya.

---

"Hidup itu lucu, kan?" Entah itu tanya atau pernyataaan yang minta dukungan.

Aku manggut-manggut. Iya. Hidup itu memang lucu. Selucu jalan bercabang dua di dekat rumahnya. Jalan yang, mau tak mau, harus dipilihnya jika ingin terus. Ia tak pernah tahu apa yang akan ditemuinya di cabang pilihannya. Pun ketika ia telah akrab dengan kedua jalan itu. Pun ketika ia tahu bahwa keduanya akan berujung pada satu muara yang tak beda.

"Kau tahu apa yang lebih lucu lagi?" tanyanya kembali yang -- sekali lagi -- tentu kujawab dengan tatapan mana-aku-tahu-ya-kamu-kasih-tahu-dong.

"Setelah ban gembos, aku baru sadar, kalau ternyata hari itu sekolah sudah libur. Tak ada anak-anak sekolah dan si bapak tua penyeberang jalan."