Hadiah Tahun Baru
Tepat tanggal satu Januari yang lalu, saya membeli sesuatu untuk diri saya sendiri. Benda putih kecil. Esok paginya, it's confirmed. Tahun baru kali ini kami sekeluarga dapat hadiah yang istimewa. Ini juga hadiah buat Obin yang sudah hampir setahun minta adek :p. Insya Allah. Mohon doa, ya...
Dan sekarang saya jadi males ngapa-ngapain, termasuk ngeblog... hehehe alesan :p
Selamat 2007!
Kita
tangan tak menggenggam air
tanda tak kuasa ikatkan hati
tak perlu ucapkan janji
itu daun tua di ujung ranting
siap jatuh dihela angin
kita, bisikkan saja doa
selamat enam tahun
walau tanpa lingkar di jari
: kita
;)
Tanya
- Gak, Obin hari ini gak sekolah.
Bunda hari ini kerja?
- Iya, Bunda hari ini kerja.
Tapi kenapa Bunda kerja tiap hari?
*tanya di hampir setiap pagi
Hujan Dan Bahagia Pada Suatu Hari

Pada suatu hari, bahagia adalah mendengar suara tawa si kecil. Bahagia adalah mendengar nyanyi riangnya, tik… tik…tik… bunyi hujan di atas gentoongg… hahaha…. Bahagia adalah menyaksikan tatap matanya pada tetesan hujan. Langkah ragunya. Pupus sangsinya menyapa rintik air. Bahagia, pada suatu hari, adalah berlari tertawa berdua si kecil dalam curahan hujan yang tak begitu deras. Tertawa di bawah kucuran atap. Tertawa sambil bergantian menyemprotkan air dengan selang. Basah. Tertawa. Bahagia. Pada suatu hari.
Pada suatu hari, keesokan harinya, bahagia adalah menyaksikan ayah dan anak tertawa bersama. Bahagia adalah menyaksikan ayah dan anak berlari bersama di bawah derasnya hujan. Bahagia adalah menyaksikan keduanya dari teras. Duduk sambil sesekali bersin dan membersihkan hidung. Pilek. Tertawa. Bahagia. Pada suatu hari.
***
tik-tik-tik bunyi hujan di atas genting
airnya turun tidak terkira
cobalah tengok dahan dan ranting
pohon dan kebun basah semua
tik-tik-tik bunyi hujan bagai bernyanyi
saya dengarkan tidaklah jemu
kebun dan jalan semua sunyi
tidak seorang berani lalu
tik-tik-tik hujan turun dalam serokan
tempatnya itik berenang-renang
bersenda gurau meyelam-nyelam
karena hujan bersenang-senang
(Ibu Soed)
Mendengarkan lagu ini dari kasetnya Obin. Lagu ini ternyata panjang juga, ya... Waktu kecil, saya cuma kenal bait pertamanya saja. Kalo kamu?
“Yang, kunci pintunya dong…”

Aku merasa seperti si Bibi Tutup Pintu di majalah Bobo saja, yang selalu berteriak “Tutup pintu!” pada setiap anggota keluarga kelinci yang lupa menutup pintu. Setiap saat, suamiku harus lagi dan lagi diingatkan agar menekan tombol central lock untuk mengunci pintu mobil yang kami kendarai.
Setiap kali mobil melaju keluar dari pekarangan, aku harus selalu merapalkan mantra ini, “Kunci pintu dong…”. Pernah juga aku pura-pura lupa, sekedar ingin tahu apakah ia akan ingat sendiri bila tidak aku ingatkan. Ternyata tidak. Yang ada malah aku yang jadi ikutan lupa.
Tak jarang aku jadi merasa kesal. “Pintunya dong, sayang…! Kok mesti diingetin terus, sih!”, kataku sambil cemberut. Atau kalau lagi kumat mau mens, bisa jadi merepet lebih panjang, “Kunci pintu dong! Ini kan Jakarta. Bukan Bandung. Tiba-tiba bisa aja ada yang buka pintu pas kita di perempatan lampu merah! Kan bahaya!”
Tadinya aku berharap kebiasaan mengunci pintu ini akan tumbuh dengan sendirinya ketika kami sudah punya momongan. Ya, kan ceritanya sudah harus merasa lebih bertanggung-jawab. Tapi ternyata tidak tuh… tetap saja peran si Bibi Tutup Pintu harus terus aku jalani. Aku curiga juga, jangan-jangan ia sebenarnya ‘menikmati’ omelanku itu. Huh!
***
Anak kami kini sudah hampir tiga tahun usianya. Di mobil, kini ia senang duduk sendiri di kursi belakang. Mengunci pintu mobil kini jadi semakin penting. Karena, walaupun sudah mengerti bahayanya bermain-main dengan handle pintu mobil, terkadang tangannya masih terlalu ‘gatal’ untuk menarik-memencet-menekan segala sesuatu yang menurutnya bisa dimainkan. Lalu apakah hal ini membawa suatu perubahan?
Tidak. Tidak ada yang berubah. Suamiku tetap selalu lupa menekan tombol pengunci otomatis pintu mobil. Dan aku tetap selalu menjadi si Bibi Tutup Pintu yang bertugas mengingatkan.
Ah… tidak, aku salah. Ternyata ada kok yang berubah… Dulu aku mengatakan, “Kunci pintunya dong…” dengan hati kesal. Kini aku mengatakannya sambil mengulum senyum di hati…
Tentang Dirimu dan Kita

Aku ingin menulis sesuatu tentang dirimu. Tapi tentang apa? Bukan tak ada bahan. Justru terlalu banyak. Mulai dari mana? Ah, susah juga ternyata. Tapi aku ingin menulis sesuatu tentang dirimu. Tentang kita. Maka aku pun mulai mencari-cari lewat benang-benang maya ini: makna… ungkapan… dari sebuah kata…
Sister...Wah, ternyata banyak sekali ungkapan tentang saudara perempuan di internet. Adakah yang sesuai untuk kau dan aku? Hihihi…yang jelas bukan yang satu ini…
Sisters never quite forgive each other for what happened when they were five. ~Pam BrownBukan yang ini. Karena aku belum ada ketika kau berusia lima tahun. Dan kau sudah terlalu tua (walau menurutmu kau selalu ‘memudakan’ usiamu untukku) untuk berebut mainan denganku ketika aku lima tahun. Tapi, aku memang tidak pernah lupa (walau sudah sangat memaafkan), satu peristiwa itu. Ketika ejekan antara kita membuatku mengejarmu, hingga akhirnya lengan kananku koyak dalam parah oleh pecahan kaca, meninggalkan bekas torehan hingga saat ini. Aku tak pernah lupa peristiwa itu. Terutama aku tak pernah lupa bagaimana tiap hari sesudahnya, kau merawat lukaku, membubuhkan obat dan mengganti perbanku. Hihihi… aku bahkan masih ingat wajahmu yang merasa bersalah ketika itu. :p
~~~
Bagaimana kalau yang satu ini…
If your sister is in a tearing hurry to go out and cannot catch your eye, she's wearing your best sweater. ~Pam BrownHahaha… itu sepertinya lebih cocok untukku -- yang memakai dan memboyong baju-bajumu waktu aku pindah ke Bandung dulu… :D
~~~
It's hard to be responsible, adult and sensible all the time. How good it is to have a sister whose heart is as young as your own. ~Pam Brown
Hihihi… jadi begini ya perasaanmu? Senangnya punya adik perempuan ‘kecil’, karena jadi merasa muda selalu? ;-)
~~~
An older sister is a friend and defender - a listener, conspirator, a counsellor and a sharer of delights. And sorrows too. ~Pam BrownTak perlu berpanjang-panjang lagi. Kuakui, kau adalah orang yang paling mudah kuajak bicara yang paling mudah kutemukan… ;-)
~~~
She is your mirror, shining back at you with a world of possibilities. She is your witness, who sees you at your worst and best, and loves you anyway. She is your partner in crime, your midnight companion, someone who knows when you are smiling, even in the dark. She is your teacher, your defense attorney, your personal press agent, even your shrink. Some days, she's the reason you wish you were an only child. ~Barbara AlpertYa. Kau adalah cermin. Adalah saksi. Teman bersengkokol. Contoh. Pembela. Penilai. Komentator. Penyeimbang. Sandaran. Pegangan. Bahu. Keranjang sampah… Some days, she's the reason you wish you were an only child? Hahaha… no komen ah… :p
~~~
A sister is both your mirror - and your opposite. - Elizabeth Fishel
Banyak hal yang membuat kita berbeda. Menurutmu aku lebih feminin dan kau lebih maskulin. Menurutku, kau lebih bersemangat, meledak-ledak, sementara aku lebih kalem. Kau adalah pemberontak garis keras, aku lebih sering memilih diam. Aku lebih suka bentuk-bentuk yang geometris, kau lebih suka bentuk-bentuk abstrak (aha! :D). Itu semua (dan banyak lagi yang lain) adalah perbedaan yang wajar, karena kita memang cuma bersaudara saja, bukan kembar, apalagi kloning. Tapi mau tidak mau, suka tidak suka, harus kuakui (oh tidak!), kau banyak sekali mempengaruhiku. Yah… paling tidak selera musik, pilihan bingkai kacamata, dan potongan rambut (memang cuma ini kok kayaknya :p).
TAAAAPIIIIII…. Sekarang kau juga terpengaruh olehkuuuhhh! Hahahaha…! Kakak perempuanku tersayang, Itoy, sekarang ngeblog juga!!! Tapi tetep aja keukeuh ama cerita sekolah-alamnya. Lu banget deh Toy, selalu semangat dan total untuk hal-hal yang sedang di-semangati-nya :p
***
Teman-teman, selamat berkunjung ke Cerita Sekolah Alam
(…about a school that's so unique and so different from any other school i know. a school where my two lucky boys - Luthfi & Rafi - enjoy their days, collecting precious childhood memories as they learn about nature and life. - Itoy)
Sapa Kita
Dulu mereka saling menyapa dengan nama saja pasti. Mungkin dibubuhi dengan suatu panggilan kesayangan. Telingaku sendiri nyaris tak pernah mendengar sapa seperti itu antara mereka. Aku lebih terbiasa mendengar mereka saling menyapa: Ayah - Ibu. Hingga akhirnya sekitar sebelas tahun yang lalu, ketika cucu pertama hadir, sapa antara mereka pun mulai berubah. Kini Ibu lebih sering menyapanya Yayi. Ayah memanggilnya Nyai. Lucu juga ya, bagaimana suatu sapa bisa berubah seiring berjalannya waktu…
Kita pun dulu hanya saling menyapa dengan nama saja. Itu pasti :). Lalu mulai kerap dibubuhi dengan panggilan sayang, ‘Yang….’. Bahkan dengan sepatah kata itu kita nyaris tak perlu lagi menyebut nama. Aku sempat berusaha membiasakan diri menyapamu dengan kata ‘Mas’. Tapi panggilan itu selalu berhasil membuatku tertawa geli. Hihihi… Maaf, ya….
Lalu Obin lahir. Kita perlahan mulai merubah sapa menjadi Ayah dan Bunda. Sapa ini makin sering terdengar, terutama karena Obin kini sudah mulai pintar bicara. Memang sih, masih juga sering terselip nama dan sapa yang lain.
Lucu juga ya. Akhirnya kita alami juga apa yang telah lebih dulu dialami oleh orang-tua kita. Suatu sapa yang bisa berubah seiring berjalannya waktu. Walaupun kita baru menempuh sepersekian dari jalan yang telah mereka tempuh.
Eh, ngomong-ngomong kita akan dipanggil apa oleh cucu kita nanti? Hahaha… belum kepikiran sama sekali deh… :p
Tapi… semoga kita akan sampai ke titik itu juga, ya…. Insya Allah…
Selamat empat tahun, Ayah…
(Love, Bunda)
Menanam Rumput
---
Halaman rumah nyokap bokap memang lumayan luas. Dulu memang sengaja memilih untuk tinggal di daerah Jakarta coret supaya bisa punya halaman yang cukup besar. Di halaman depan rumah ada pohon mangga, rambutan, jambu air, dan alpukat. Lumayan, walaupun berbuahnya jarang-jarang dan lebih sering berulat. Permukaan tanah di halaman depan ini juga seharusnya ditutupi dengan rumput. Namun sudah beberapa bulan terakhir ini tanah tersebut telanjang alias rumputnya mati semua.
Mungkin salah satu penyebabnya adalah musim kemarau yang cukup panjang beberapa bulan yang lalu. Kalau menurut Nyokap, penyebabnya adalah ayam-ayam bokap yang jumlahnya sempat mencapai ..err.. berapa ya.. 20 ekor? Mungkin lebih sih kalau cucu-cucu ayamnya juga ikut dihitung. Kenapa ayam-ayam itu yang dipersalahkan? Karena menurut nyokap:
Pertama,
kalau rumputnya kering hanya karena musim kemarau,
seharusnya pas datang musim hujan rumput itu akan bersemi lagi.
Kedua,
rumput-rumput tetangga masih hijau tuh ternyata ^__^
Akhirnya hari Minggu kemarin diputuskan untuk menghijaukan kembali halaman depan rumah. Sebagai persiapan, bokap udah beli buku Teknik Menanam Rumput. Kok pake buku segala? Soalnya menanam rumput itu gampang-gampang susah, kata bokap. Satu atau dua bulan yang lalu, bokap udah nyoba menanam sebagian halaman dengan rumput, tapi kemudian rumput tersebut gagal hidup. Agar tidak mengulangi kegagalan itu, kali ini semuanya harus mengikuti teknik yang ada di buku.
Hari Minggu siang acara menanam rumput dimulai. Pesertanya seluruh orang yang ada di rumah hari itu: bokap, nyokap, gue dan suami, kakak gue yang cowok, sepupu gue, si mbak, bahkan Obin pun gak mau ketinggalan. Gue dan suami bertugas mengangkut rumput keluar dari mobil ke halaman. Yang lainnya menyiapkan lahan dan kemudian menanaminya dengan rumput. Menyiapkan lahan? Ya, menurut buku itu, sebelum ditanami, tanahnya harus dipersiapkan dulu agar rumputnya bisa tumbuh. Tanahnya harus digemburkan dulu, batu-batu harus disingkirkan, dan tanah yang kurang subur harus diberi pupuk dulu. Tahap menyiapkan lahan ini adalah tahap yang paling berat memang. Buat para petani dan tukang kebun, pasti ini merupakan pekerjaan yang kecil. Tapi buat orang-orang yang sudah terlalu lama tinggal di Jakarta seperti kami, yang jarang berkutat dengan kebun, jangan ditanya deh gimana ngos-ngosannya.
Tahap berikutnya, setelah tanahnya siap, adalah menanaminya dengan rumput. Tahap ini gampang. Keping-keping rumput yang masih ada tanahnya itu tinggal ditempelkan saja di lahan, dengan sedikit ditekan-tekan. Bokap memilih untuk menanam dengan sistem karpet bukan dengan sistem padi. Sistem karpet artinya seluruh permukaan tanah ditanami rumput dengan rapat. Berbeda dengan sistem padi (ini istilah kakak gue), rumput ditanam jarang-jarang, sehingga perlu waktu agak lama untuk mendapatkan hamparan rumput yang rapat.
Setelah sekitar tiga jam berkerja keras, gotong royong, dengan modal semangat, akhirnya semua rumput yang sudah dibeli tertanam juga. Akhirnya seperempat halaman depan rumah sudah dipenuhi dengan rumput. Seperempat? Ya, baru seperempat. Perjalanan masih panjang....
Esok harinya, Senin, pekerjaan dilajutkan, diawali kembali dengan membeli rumput lagi. Pada hari kedua ini, peserta banyak yang mengundurkan diri dengan alasannya masing-masing. Bokap pun akhirnya membayar seseorang untuk membantunya mengolah tanah. Pada hari ke-dua ini dengan jumlah peserta yang menurun drastis dan semangat yang mengendor, hasilnya hanyalah petak-petak tanah yang sudah digemburkan, namun belum ada rumput tertanam. Ternyata acara menanam rumput masih harus berlanjut, walaupun libur akhir pekan sudah berakhir. Selamat!!!
Bro: Lumayan juga nih keringetan (red: udah lama gak olahraga)
Nyokap: Ini ayam minta dipotong juga, ya! (ngomentarin 4 ekor ayam kampung yang tersisa, waktu mereka sedang pesta makan rumput yang baru ditanam)
Bokap: Ada betadine, gak? (tangan bokap sampai luka kena beling)
Hubby: Bunda kok tiba-tiba jadi sakit sih? (Ngomentarin gue yang Minggu malam mendadak kumat alergi bersin-bersin)
Obin: Da! Ta Da! (sambil lari mondar-mandir bawa sekeping rumput)
Nyokap: Udah dua hari kok gak hujan-hujan ya! Wahhh bakalan mati lagi nih rumputnya. (sambil berharap cemas)
After Mudik
Tapi semua itu gak membuat saya menyesali pergi mudik kemarin. Mudik kemarin berarti 10 hari penuh saya bersama Obin, mengurus sendiri segala keperluannya (tentu dibantu suami), sesuatu hal yang langka. Mudik buat saya juga berarti mengenali lingkungan yang membesarkan suami saya, tempat ia bermain dulu, sekolahnya, dsb. Mudik kemarin juga merupakan kesempatan memperkenalkan hal-hal baru pada Obin, yang mungkin tidak akan didapatkannya di Jakarta: berjalan telanjang kaki di halaman rumput, melihat sawah, melihat bebek sungguhan yang mencari cacing di sawah, melemparkan daun-daun ke aliran sungai, memegang domba, melihat ombak di pantai, bermain pasir, dan masih banyak yang lain lagi....
UPDATED on 3:30 pm
Jadi inget lagu ini deh:
kemarin paman datang
pamanku dari desa
dibawakannya rambutan pisang
dan sayur mayur segala rupa
bercrita paman tentang ternaknya
berkembang biak semua...
padaku paman berjanji
mengajak libur di desa
hatiku riang tidak terkira
terbayang sudah aku di sana
mandi di sungai
turun ke sawah
menggiring ternak ke kandang...
Dulu, setiap kali mendengar atau mendendangkan lagu ini, saya selalu bertanya-tanya, bagaimana rasanya 'libur di desa'... Saya bersyukur... akhirnya Obin punya 'desa' untuk dia kunjungi.
How do you want to be called by your children?
Premis sementara saya saat ini; Umumnya ada hubungan antara panggilan yang kita inginkan dengan panggilan yang kita pakai untuk ortu kita. Buat pasangan suami-istri yang punya background panggilan ortu yang sama, pasti cenderung untuk menerapkan panggilan itu juga kalau mereka nanti punya anak. Namun buat yang backgroundnya beda, baru deh timbul kompromi atau improvisasi.
My Sis, adalah contoh kompromi dan improvisasi yang bagus. Berlatar belakang pangilan ibu-ayah dan mami-papi, akhirnya dipilih jalan tengah: mama-papa.
Kalau saya lain lagi ceritanya. Saya memangil ortu dengan ibu dan ayah, sementara suami ber-ibu dan bapak. Tapi akhirnya kami (saya lebih tepatnya) memilih panggilan ayah dan bunda. Why? Because I like the sounds of 'ayah' and 'bunda'. The sounds? Yup... I don't like to be called "Ibu", it could be becomes "Buuuuu...!!! Boouuu...!!!" Kayak tukang abu yang suka lewat depan rumah dulu... hi..hi....
Tapi argumen saya yang lebih masuk akal buat Suami, yaitu: Saya tidak suka panggilan Ibu-Bapak karena panggilan ini tidak special. Ibu bisa untuk semua ibu-ibu: Ibu Guru, Ibu Lurah, Ibu Dosen, dan ibu-ibu PKK. Begitu juga Bapak. He..he.. Suami mengalah akhirnya. :-)
Lain lagi ceritanya dengan My Bro. Dia dan istrinya punya latar belakang panggilan yang sama: ibu-ayah, dan mereka memang berencana memakai panggilan ini untuk anak-anaknya. Tapi, ketika anak pertama mereka mulai belajar bicara, si anak keduluan memanggil ibunya dengan Mama. Akhirnya jadilah mereka Mama-Ayah... he..he...
So, how do you want to be called by your children? And what's your reason? Ada yang mau dipanggil dengan nama aja? Saya pernah juga kepikiran seperti ini. Tapi sepertinya culture di sekeliling saya sangat tidak mendukung, jadi saya lupakan ide ini.
Oya.. saya punya satu pesan. Kalau anda ingin menjadi orang pertama yang bisa dipanggil oleh anak anda nanti, sebaiknya anda memilih panggilan MAMA - PAPA. Atau BAPAK juga lumayan. Pengalaman saya sudah membuktikan... he..he.. Anak saya yang berumur 1 tahun, sudah bisa bilang mama papa bapak kaka gaga..... Saya masih harus banyak bersabar sampai akhirnya ia bisa bilang: Bunda!!!