Showing posts with label buku. Show all posts
Showing posts with label buku. Show all posts

Membaca Laskar Pelangi, Mengenang Sepenggal Masa Kecil

Tulisan ini sebenarnya sudah mulai saya tulis beberapa bulan yang lalu. Lama menggantung, baru sempat saya selesaikan dan posting sekarang. Bahasannya jauh lebih ringkas dari rencana semula.

cover
Judul buku : Laskar Pelangi
Pengarang : Andrea Hirata
Penerbit : Bentang (2005)

Saya terlambat. Setelah beberapa kali sekilas melihat judul ini di beberapa blog, saya jadi tergoda untuk membacanya.

Short comment for this book: I like it. Alot.

Belum banyak (atau belum ada?) penulis Indonesia yang mengangkat topik sejenis ini: pengalaman masa kecil dan pendidikan.

Bukan bermaksud menyamakannya dengan karya-karya seperti Totto Chan (Tetsuko Kuroyanagi), Dua Belas Pasang Mata (novel, Sakae Tsuboi), atau Not One Less (movie, Zhang Yimou). Tentu saja berbeda. Tapi saya akui, membaca Laskar Pelangi mengingatkan saya pada karya-karya di atas: sama-sama memotret kehidupan anak-anak yang terpinggirkan (karena miskin ataupun karena ‘ berbeda’) dalam usaha untuk mendapatkan pendidikan. Tentang masa kecil yang bahagia. Juga tentang sosok guru yang luar biasa, yang mencerahkan, penuh pengorbanan, dan selalu membekas dalam ingatan anak didiknya.

---

Mungkin pendapat saya tentang Laskar Pelangi juga dipengaruhi melankoli yang sangat subjektif. Novel ini membuat saya mengenang sepenggal masa kecil saya. Lebih dari dua puluh tahun yang lalu, saya melewati sekitar tiga setengah tahun masa sekolah dasar di sebuah kota di Pulau Bangka. Pulau itu bersebelahan dengan Pulau Belitung (Belitong) -- yang menjadi setting Laskar Pelangi -- dan juga merupakan pulau penghasil timah.

Sedikit banyak saya dapat memahami ketimpangan yang terjadi antara masyarakat miskin Melayu Belitong dengan kaum penguasa pertambangan timah, seperti yang dikisahkan dalam Laskar Pelangi. Walaupun tidak semegah dan seeksklusif Sekolah PN Timah Belitong dalam novel, sekolah saya dulu adalah SD Negeri yang kebetulan berada di tengah-tengah komplek perumahan karyawan timah. Walaupun bangunan sekolah saya dulu hanya semi permanen dengan dinding separuh bata dan separuh papan -- tapi tidak juga separah SD Muhammadiyah dalam kisah Laskar Pelangi yang nyaris rubuh -- sekolah saya memang cukup makmur. Banyak murid sekolah saya adalah anak petinggi pejabat timah. Tingkat kehidupan yang lebih makmur sebanding dengan prestasi sekolah. Sekolah saya saat itu adalah salah satu SD favorit, yang menghasilkan lulusan dengan rata-rata nilai ujian tertinggi, yang sering menang lomba kecerdasan, ketangkasan dan lain-lainnya. Hampir seperti --- walau tidak seekstrim -- yang terjadi di Sekolah PN Timah Belitong dalam Laskar Pelangi. Sementara SD Muhammadiyah dalam novel, adalah sekolah yang serba miskin, dengan jumlah guru hanya dua orang termasuk kepala sekolah, dan nyaris ditutup karena jumlah murid yang tidak memenuhi kuota.

---

Ada beberapa hal yang sedikit mengganggu ketika membaca Laskar Pelangi. Kisah ini mengambi rentang waktu yang cukup panjang. Masa sebelas anggota Laskar Pelangi mengenyam pendidikan di sekolah Muhammadiyah sendiri adalah sekitar 9 tahun. Fragmen-fragmen pengalaman mereka berada di kisaran waktu ini. Namun saya merasakan penulis kurang membantu pembaca untuk mengetahui penggal waktu yang tepat untuk masing-masing fragmen. Apakah peristiwa A terjadi ketika mereka masih berusia 10 tahun, ataukah 14 tahun? Saya harus benar-benar teliti membacanya untuk membayangkan usia dan sosok anggota Laskar Pelangi ketika suatu penggal peristiwa terjadi. Selain itu ada beberapa hal kecil lainnya yang juga mengganggu. Hey, tapi semua itu tidak mengurangi rasa salut saya terhadap karya ini.

Ulasan saya tentang buku ini, mungkin kurang memberikan gambaran yang jelas. Silakan baca berbagai ulasannya yang lain di berbagai tempat atau bisa berkunjung ke blog sang penulis.

Momo, Gadis Kecil dan Pencuri Waktu



Judul: Momo
Pengarang : Michael Ende
Penerjemah: Hendarto Setiadi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Juli 2004
Jumlah halaman: 320


Momo adalah seorang anak perempuan kecil, hidup di suatu kota di negeri yang tidak terikat waktu dan tempat, di masa kini yang abadi. Ia tinggal sendiri di reruntuhan amfiteater di kota tersebut. Semua orang, dewasa dan anak-anak, menyukainya. Momo sebenarnya hanya diam mendengarkan percakapan, kisah, pertengkaran, permainan yang dilakukan orang-orang di sekelilingnya. Namun entah kenapa, hanya dengan diam dan sabarnya itu, orang lain seakan mendapat pencerahan, inspirasi, bahkan penyelesaian masalah.

Hingga suatu ketika, kota itu mulai didatangi oleh Tuan Kelabu, pria-pria berpakaian kelabu, dengan topi dan tas kelabu, selalu menghisap cerutu yang juga kelabu. Kemunculan mereka tidak disadari, namun kehadirannya selalu membawa suasana dingin. Mereka adalah pencuri waktu. Perlahan tapi pasti, tuan-tuan kelabu ini mulai menghasut setiap orang untuk menghemat waktu. Semakin orang menghemat waktu, semakin mereka kekurangan waktu; karena tanpa disadari tuan-tuan kelabu ini menghisap waktu dari setiap orang.
Padahal waktu adalah kehidupan. Dan kehidupan itu berpusat dalam hati.

***

Novel yang ditulis oleh Michael Ende ini -- sudah diterjemahkan dalam 40 bahasa -- sebenarnya adalah sebuah dongeng. Cerita anak-anak, namun menggugat dunia orang dewasa dan dunia masa kini. Mempertanyakan hakikat dari kesuksesan dan kemajuan dalam definisi orang-orang modern. Semua orang kini berlomba-lomba mempergunakan waktu semaksimal mungkin, dengan jargon waktu adalah uang atau waktu sangat berharga hingga jangan disia-siakan. Karenanya semua serba terburu-buru hingga tidak ada lagi ruang untuk tegur-sapa, senda-gurau, kasih-sayang, bahkan untuk sekedar melamun sejenak.

Di kisah Momo ini, anak-anak -- yang paling tak peduli waktu -- adalah sosok yang paling terabaikan. Orang-tua tak lagi bermain bersama mereka, anak-anak dititipkan di 'Depot Anak-anak' dengan dalih untuk kepentingan mereka sendiri kelak. Anak-anak tak lagi bermain dengan kardus, kain taplak robek, atau gundukan tanah -- mainan sederhana yang bisa menjelma jadi apa saja dalam imajinasi kanak. Tapi anak diberi mainan-bagus-yang-hanya-bisa-melakukan-satu-hal-saja. Anak-anak diajarkan untuk menjadi orang dewasa yang kerap merasa bosan dan berkata, "Aku ingin lebih banyak barang lagi!"

Sebenarnya banyak lagi hal yang diungkapkan dalam roman dongeng ini. Setiap orang mungkin akan 'membaca'nya secara berbeda. Memang kisah hayal Momo ini sebenarnya adalah cermin kehidupan kita sehari-hari. Ditulis oleh Michael Ende pada tahun 1973, Momo sungguh tetap dapat menggambarkan dengan tepat situasi yang kita hadapi saat ini. Bahkan bisa jadi akan semakin relevan di masa-masa mendatang. Seperti yang dikatakan olah penumpang misterius di bagian penutup,
“Kisah tadi saya ceritakan seakan-akan telah terjadi. Sebenarnya, saya juga bisa menceritakannya seolah-olah baru akan terjadi di masa depan. Bagi saya tidak banyak bedanya.”

***

Ada buku yang sangat menarik atau menghibur, tapi kau rasa cukup satu kali saja membacanya. Ada buku yang kau tahu akan kau baca dan baca lagi kelak. Momo, bagi saya adalah tipe buku yang ke dua. Akan saya letakkan di rak buku, berdekatan dengan Little Prince, Totto Chan, dan beberapa buku lainnya. Suatu saat nanti pasti akan saya baca kembali, dan mungkin juga dengan suatu pengertian yang sama sekali baru...

Jakarta Kafe, Sebuah Paket

Sebuah paket sampai beberapa waktu yang lalu. Dari seseorang yang sebenarnya tak begitu saya kenal. Selama ini, saya dan dirinya, terhubung oleh beberapa email dan satu kali pertemuan saja. Ia yang saya panggil dengan sebutan Mbak. Email-emailnya mengesankan seseorang yang ramah. Satu kali pertemuan membuat dirinya terkesan sangat ekspresif. Kini sebuah paket, membuat kesan saya bertambah lagi: ia sangat senang membuat kejutan! :).

Paket itu, terbungkus dalam amplop berwarna coklat, sempat kembali ke atas mejanya beberapa minggu yang lalu dengan catatan ‘alamat tidak lengkap’. Akhirnya sampai juga di tangan saya yang -- karena penasaran ingin tahu apa isinya -- langsung merobek bungkusnya dengan tak sabar. Sebuah kalender meja 2005 dan sebuah buku kumpulan cerpen. Di halaman pertama buku itu tertulis… Pro: Neenoy, happy new-year 2005… dan sebuah paraf namanya.

Saya tidak langsung menyadari bahwa buku itu adalah karyanya. Selama ini saya mengenalnya dengan sebuah nama yang berbeda dari nama pengarang yang tertulis di sampul buku. Namun setelah membaca profil pengarang (tanpa foto), menemukan beberapa hal yang bisa dihubung-hubungkan, dan tentunya dengan pertanyaan yang kemudian dibenarkan olehnya; jelaslah semua: pengirim dan pengarang buku adalah orang yang sama.

Sekali lagi terima-kasih, Mbak (Tatyana)! Saya suka dua-duanya: kejutannya dan juga bukunya. Terima-kasih, ya…

***

Jakarta Kafe
– kumpulan cerita
Tatyana
Gramedia Pustaka Utama, 2004

Buku ini berisi lima belas cerita pendek yang mengambil tempat di – atau setidaknya berhubungan dengan – kafe.

Kenapa saya menyukainya? Mungkin karena tuturnya yang sederhana tapi seperti membuai. Mungkin karena banyak tokoh dalam cerita terasa dekat dengan diri saya, yaitu lelaki atau perempuan tiga puluh sekian tahun yang sudah berkeluarga. Atau karena kisah-kisahnya adalah fragmen nyata dari orang-orang yang mungkin saya kenal: pekerja kantor dalam bis kota, duduk sendiri di kafe sambil mendengar percakapan pengunjung lain, mantan suami-istri yang bergiliran mengasuh anak, mendengar kisah sahabat yang akan bercerai, dsb. Mungkin juga karena kekuatan deskripsi dari settingnya. Sebuah bis yang penuh padat berjalan di tengah kemacetan dan hujan deras, terasa begitu nyata. Sebuah kafe terasa utuh dengan aktifitas orang-orang yang ada di dalamnya, alunan musik yang tenang, lirik-lirik lagu yang sekali-kali tergumam.

Bagaimanapun, saya rasa komentar Reda Gaudiamo di sampul belakang, sangat tepat menggambarkan isi buku ini:

Seperti suasana kafe yang tenang, dengan alunan lagu samar terdengar, jauh dari kesan ramai. Tetapi justru di balik ketenangan itu tersimpan banyak hal. Tepatnya, segala faset yang sangat akrab dengan keseharian kita. Dengan gaya bercerita yang mengalir, bahkan terkadang seperti orang bergumam, Tatyana mengajak kita duduk. Mengobrol ringan dengan suara rendah, tentang perempuan, anak, kekasih, keluarga, kerja, juga tentang being single... Menengok hari silam, membayangkan hari esok. Tanpa luapan emosi berlebihan. Sesuatu yang sudah lama tak sempat dilakukan banyak orang. Terutama oleh perempuan kota...


update, on April 8, 2005

Review "Jakarta Kafe" lain , bisa di lihat di Sriti.com

Terapi Membaca

Dulu pada data diri di bagian kanan blog ini, saya menambahkan pernyataan bahwa saya suka membaca. Lalu saya hapus karena saya malu sendiri dengan pernyataan itu. Kenyataannya saya mengalami penurunan dalam minat dan kemampuan membaca. Setumpuk buku di atas rak, tebal dan juga tipis, hanya terbaca beberapa halaman pertamanya saja. Beberapa lagi malah nyaris belum pernah dibuka.

Seorang teman dulu sekali pernah berkata bahwa buku yang belum dibaca itu seperti hutang. Ia merasa bersalah setiap kali melihat buku-buku itu. Saya hanya tertawa mendengar pernyataannya. Ketika itu, buku yang tidak pernah saya baca sampai selesai hanya buku-buku kuliah saja, dan saya (hampir) sama sekali tidak merasa bersalah karenanya.

Sejak mengalami penurunan kemampuan membaca, saya jadi tahu bagaimana perasaan teman saya itu. Saya memandang buku-buku tak terbaca dengan perasaan bersalah, terutama sih karena telah mengeluarkan uang percuma untuk membelinya. Saya juga akhirnya berhenti membeli buku-buku baru, karena toh saya masih punya hutang untuk menuntaskan yang lama.

Itu terjadi sampai sekitar dua bulan yang lalu, ketika suatu hari membelikan buku untuk si kecil di toko buku yang tidak terlalu jauh dari rumah. Toko buku itu pasti sengaja ya, menempatkan rak buku anak-anak di bagian paling belakang, sehingga orang tua yang mengantar harus terlebih dulu melewati tumpukan buku-buku yang menggiurkan. Saya jadi tergoda…

Saya akhirnya mulai menjalankan terapi membaca. Tentunya saya memulai terapi ini dengan buku-buku yang ringan terlebih dulu. Saya masih trauma dengan buku tebal, bertempo lambat, apalagi bermuatan filsafat atau lain-lain yang terlalu sulit dicerna otak saya. Tak terasa dua bulan ini saya nyaris tenggelam lagi dalam lembar-lembar buku. Beberapa buku yang saya baca cukup menarik. Ada yang sangat bagus malah.

***

Sebenarnya saya sedang tidak tahu hendak menulis apa di blog ini. Tapi ternyata saya sudah menelantarkan blog ini terlalu lama. Mungkin, bila nanti saya masih belum menemukan hal-hal menarik (bagi saya) untuk ditulis di sini, saya akan menulis ulasan beberapa buku saja. Mungkin lho…

Tupai

Ada tupai di pohon kelapa
Tupai makan kelapa
Budi melihat tupai
Tupai itu lari


Ada yang tahu kalimat-kalimat di atas? Atau rasanya pernah mengenalnya dulu? Itu adalah rangkaian aksara pertama yang kusangka dapat kubaca. Kusangka dapat kubaca? Betul… Karena pada saat itu, aku benar-benar menyangka aku sudah dapat membaca.

Kemana-mana aku membawa buku itu, membuka halaman bergambar tupai, dan berkata, hey aku sudah bisa membaca. Mulailah aku ‘membaca’ bukunya .. tupai, ada tupai di pohon kelapa, budi melihat tupai, tupai itu lari…

Orang-orang besar tertawa, mereka bertepuk tangan juga. Lalu ada yang bertanya, kalau halaman yang berikutnya seperti apa bacanya? Awalnya aku tidak mengerti apa maksud mereka, kan aku sudah bisa membaca. Baru kemudian akhirnya aku tahu, aku ternyata baru bisa menghapal saja. :)

… sampai sekarang pun aku masih hapal ternyata…

Ngomong-ngomong, ada yang ingat tidak, dari buku apa cerita tupai itu ? Tolong beritahu ya kalau kalian ingat…

Pangeran Kecil

Entah apa yang tiba-tiba menggerakkan saya Sabtu siang kemarin, untuk tidak langsung pulang ke rumah. Sepulang dari kantor, tengah hari, tiba-tiba di jalan saya ingin pergi ke sebuah toko buku besar yang sudah lama tidak saya kunjungi. Akhir-akhir ini bila ingin beli buku, paling-paling saya membelinya di toko buku di belakang kantor, atau kadang-kadang iseng ke TIM. Tapi kemarin itu, tiba-tiba saya ingin ke sana.

Eh... tahunya di sana saya ketemu terjemahan Indonesia dari buku The Little Prince. Hore!!! Bukan yang terbitan jaman dulu itu sih (terbitan Pustaka Jaya, 1979). Tepatnya ini terbitan baru (September 2003). Setelah menerbitkan ulang Totto Chan, Gramedia sekarang menerbitkan juga buku Pangeran Kecil ini. Sip lah! Buku-buku bagus gini memang pantas (malah sudah seharusnya) diterbitkan kembali. ... Hm, belum sempat baca 'kembali' semuanya. Tapi saya suka banget, soalnya bukunya dilengkapi juga dengan ilustrasi-ilustrasi berwarnanya Antoine De Saint-Exupery (walau ada juga yg hitam putih) -- gak kayak paperback yang saya punya selama ini, yang hitam-putih aja.

UPDATE

Sedikit dari beberapa kutipan yang saya sukai, percakapan antara rubah dan Pangeran Kecil :


"Apa artinya 'menjinakkan'?" (tanya Pangeran Kecil)

"Sesuatu yang sering diabaikan," kata si rubah. "Artinya 'menciptakan ikatan'."

"Menciptakan ikatan?"

"Tepat," kata si rubah. "Bagiku, kau sekarang hanyalah seorang anak laki-laki kecil, sama seperti seratus ribu anak laki-laki lainnya. Dan aku tak membutuhkanmu. Dan kau juga tak membutuhkan aku. Aku hanyalah seekor rubah seperti seratus ribu rubah lainnya. Tetapi jika kau menjinakkanku, kita akan saling membutuhkan. Bagiku, kau akan unik di dunia ini. Bagimu, aku akan unik di dunia ini."

...

"Hidupku sangat datar. Aku memburu ayam-ayam, manusia memburuku. Semua ayam itu sama, semua manusia itu sama. Akibatnya aku agak bosan. Tetapi jika kau menjinakkan aku, hari-hariku akan jadi seperti dipenuhi sinar matahari. Aku akan mengenali bunyi langkah kaki yang berbeda daripada bunyi langkah kaki lainnya. Langkah-langkah kaki lain akan membuatku melarikan diri ke dalam lubangku di tanah. Langkah kakimu akan memangilku ke luar, seperti musik. Lagipula, lihat di sana itu. Kaulihat ladang jagung itu? Nah, aku tak makan roti. Jagung tak ada gunanya bagiku. Ladang jagung tak mengingatkanku pada apa pun. Itu menyedihkan. Sebaliknya, rambutmu berwarna emas. Jadi bayangkan, betapa menyenangkannya jika kau telah menjinakkanku. Jagung yang keemasan, akan mengingatku kepadamu. Dan aku akan menyukai desau angin di ladang jagung..."


Gajah Sirkus

Tahukah kamu bagaimana seorang pawang dapat mengendalikan dan menguasai seekor gajah yang tubuhnya berkali-lipat besarnya dari tubuh si pawang? Saya mengetahuinya dari sebuah buku novel. Sejak masih muda dan kecil, seekor calon gajah sirkus telah dibiasakan untuk diikat kakinya dengan sebuah rantai pada gelondongan kayu. Gajah kecil itu akan berusaha membebaskan diri, namun ia tidak akan mampu. Seiring berjalannya waktu, ketika gajah itu tumbuh menjadi sangat besar dan [harusnya] juga sangat kuat, kakinya hanya perlu diikat dan ditambatkan -- bahkan pada sekedar ranting -- agar tidak mencoba untuk berontak. ‘Pikiran’ gajah itu yang sudah dikendalikan, bahwa ia tidak akan bisa bebas manakala kakinya terikat.

---

Cerita tentang gajah inilah yang terlintas di benak saya ketika membaca cerita mengenai Tisa (Transisi Tisa) dari buku Sekolah Impian – sekolah yang membebaskan**. Gadis kecil ini telah duduk di kelas empat SD ketika dipindahkan dari sekolah ‘konvensional’ ke Sekolah Alam. Ia pindah bukan karena dianggap anak yang ‘bermasalah’ di sekolah lamanya, seperti kebanyakan cerita lain mengenai kepindahan ke sekolah alam di buku itu. Pada cerita tentang Tisa ini, sang adik dikisahkan telah lebih dulu mengecap SA. Tisa dipindahkan ke SA, karena orangtuanya merasa melihat hal positif pada sekolah adiknya tersebut.

Namun, orangtuanya mau tidak mau terkejut ketika kemudian melihat penolakan dari Tisa. Tiap sore orangtuanya dibombardir dengan keluhan, “Yah, mengapa Kakak harus sekolah di Sekolah Alam…? Kakak merasa tertekan, Ayah.” Di sekolah, menurut keterangan gurunya, Tisa selalu bolak-balik minta izin ke belakang, bahkan sering tidak balik ke saung-kelasnya untuk nongkrong di saung-kelas adiknya.

Rupanya waktu tiga tahun yang telah Tisa habiskan di sekolah dengan gedung, meja-kursi, dan seragam telah membuatnya justru tidak nyaman dengan segala kebebasan baru yang ada di SA -– sekolah yang menyenangkan menurut pengakuan murid dan orang tua murid umumnya. Padahal sekolah lamanya bukan sekedar ‘mengekang’ dalam pengertian atribut fisik itu saja, tapi juga mengekang ide, kreativitas, kebebasan berpikir seorang anak. Sekolah lamanya adalah sekolah konvensional yang menuntut ‘hanya satu jawaban benar, adalah salah jika kamu memilih semua jawaban’ dari pertanyaan seperti: “Budi menolong seorang ibu yang terjatuh di jalan, maka Budi adalah anak yang: a. Baik; b. Sopan; c. Suka menolong; d. Rajin”…

Bukan hanya orang tuanya yang terkejut. Saya pun terpana membaca ceritanya dan serta-merta teringat kisah gajah sirkus tersebut. Namun Tisa bukan lah ‘gajah’ pasti. Ia pun akhirnya berhasil melewati masa adaptasinya, dan menemukan kegembiraan pada hari-harinya di SA, seperti yang dirasakan adiknya.

---

Cerita Tisa tidak berkhir sama dengan cerita gajah sirkus. Mungkin juga karena belum terlalu lama ia ‘dirantai’ kebebasannya. Cuma saya jadi merinding membayangkan bagaimana jika belenggu itu berlangsung sepanjang 12 tahun dari hidup seseorang atau bahkan 17 tahun? Selama lima-ribu-seratus hari sekolah?

Menengok ke masa lalu saya, melihat diri saya kini -- yang bahkan masih juga tidak punya keberanian untuk membebaskan diri dari sistem yang saya rasa 'amat-tidak-menyenangkan'; tiba-tiba saya merasa bahwa saya lah ‘gajah sirkus’ itu.


**Buku “Sekolah Impian – sekolah yang membebaskan” adalah buku kumpulan kisah-kisah dari Sekolah Alam. Saya sebenarnya berniat terlebih dahulu menulis review buku ini, juga cerita mengenai acara open-house kemarin itu (eh … saya ketemu Shanty lo…). Tapi yang jadi duluan malah cerita yang ini. Review buku dan open-housenya menyusul deh. Tapi gak janji ya :p


UPDATE:

Bagi yang mau tahu lebih banyak tentang SA, bisa lihat brosur-brosur berikut ini:
(mohon klik kanan dan Save Target As)
- Brosur SA
- Brosur SA inside
- Green Lab SA
- Green Lab SA inside
- Peta Lokasi SA

Buku Masa Kecil

Bagian 1: Buku Petualangan

Waktu saya membaca list buku milik velas, saya langsung teringat buku koleksi masa kecil saya yang tersimpan di dalam kardus di atas lemari. Waktu saya membaca posting erly beberapa hari yang lalu tentang buku petualangan yang pernah saya baca dulu, saya jadi tergerak untuk membongkar kardus tersebut. Kini berbekal satu kardus kenangan dan puluhan buku yang tersisa dari masa kecil, saya coba menuliskan kembali keping-keping yang mengisi lebih dari separuh masa kecil saya.

Buku-buku di dalam kardus tersebut sebagian besar adalah buku petualangan atau cerita tentang anak-anak pintar dan berani yang rasa ingin-tahunya besar serta suka menyelidik.


LIMA SEKAWAN

Seri paling terkenal dari Enid Blyton ini adalah buku cerita yang cukup tebal pertama yang saya baca. Julian, Dick, Anne, George, dan Timmy; tuh kan saya masih hapal luar kepala nama-namanya. Yang saya suka dari seri ini adalah tempat petualangannya: gua-gua harta karun, lorong-lorong pencoleng, bilik-bilik rahasia... Wah... seru! Tapi yang lebih berkesan lagi adalah: makanan-nya! Kayaknya makanan enak ada di setiap halaman buku, di hampir setiap kesempatan: waktu piknik, bekal untuk bertualang, waktu minum teh. Ada limun jahe, roti selai stroberi, sosis, kue krim, puding, buah kaleng, dan sebagainya. Sekarang rasanya makanan itu biasa-biasa aja, tapi kok dulu sepertinya enaaaak banget. Kenapa ya?

Selain LIMA SEKAWAN ini, saya ingat dulu juga ada SAPTA SIAGA. Namun yang satu ini saya kurang suka, karena petulangannya saya rasa kurang seru dan agak cemen dibanding LIMA SEKAWAN.

TRIO DETEKTIF
Buku ini saya anggap buku certia serius yang pertama saya baca. Serius? Iya dong! Kan cerita nya lebih rumit dari LIMA SEKAWAN dan lebih tegang. Serial karya Alfred Hitchcock yang pertama kali saya baca kalau tidak salah judulnya "Misteri Puri Setan". Waahhh... waktu sampai di bagian ketika tiga detektif remaja ini masuk ke puri misteri itu, waktu tiba-tiba mereka melihat sesosok bayangan di cermin... wahhhh... saya ketakutan banget, sungguhan. Asli deh baca bukunya pakai deg-degan. Cemen ya? Tapi saya kan waktu itu masih kecil lho, baru juga kelas 2 atau 3 SD.

Salah satu yang paling berkesan dari buku ini adalah markasnya Trio Detektif. Itu lho, markas yang terbuat dari bekas karavan, yang letaknya tersembunyi di bawah timbunan barang bekas. Untuk masuk ke dalam markas ini ada beberapa jalan rahasia, hmm... ada berapa pintu ya? Ada yang masih ingat?

PASUKAN MAU TAHU

Seri ini juga merupakan karya Enid Blyton. Tokohnya saya tidak hapal semua, yang paling saya ingat cuma Fatty, si tokoh utama, yang paling pintar dan berbadan gemuk. Terus ada lagi polisi desa sok tahu yang sering dikerjain sama Pasukan Mau Tahu ini, namanya Mr. Goon. Yang membuat serial ini agak berbeda buat saya adalah bahwa di serial ini ada cerita tentang 'menyamar', karena Si Fatty itu dikisahkan sebagai penyamar yang ulung. Dari serial ini saya jadi tahu bahwa untuk menjadi penyamar ulung harus memperhatikan hal-hal secara detil. Misalnya kalau sedang menyamar jadi gelandangan, kuku-kuku tangan pun harus dibuat kotor, karena bisa-bisa penyamaran dapat terbongkar bila hal kecil ini diabaikan. Hebat, ya???!!! :-)

Oh ada lagi hal praktis yang saya peroleh dari serial ini, yaitu cara membuka pintu dari luar bila pintu terkunci dari dalam. Tapi ini cuma berlaku untuk pintu jaman dulu, itu tuh yang lubang kuncinya masih bisa dipakai untuk mengintip. Ilmu ini pernah berguna lho buat saya. Waktu itu anjing saya terkunci di dalam paviliun di samping rumah, sementara kunci pintu depan dibawa pergi oleh kakek saya. Di pintu belakang, saya lihat kunci ada di dalam, masih menempel di lubang kunci. Dan hopla! Ilmu itu saya praktekkan! Anjing saya pun bisa keluar dengan selamat dan menyambut saya bagai seorang pahlawan. "Guk-guk!!!" (terjemahannya: Oh, my hero!!). BTW... gimana sih cara buka pintunya??? RAHASIAAAA!!!!

SERI PETUALANGAN
Seri Petualangan ini juga punya Enid Blyton. Mungkin gak banyak yang tahu, karena sepertinya memang gak banyak judul yang terbit dari seri ini. Buku ini lebih seru dari LIMA SEKAWAN dan PASUKAN MAU TAHU, karena petualangannya lebih lama, bisa berminggu-minggu. Petualangannya juga terjadi jauh dari rumah, karena ceritanya bisa karena kapal terdampar atau pesawat yang ditumpangi terjatuh. Tokohnya (gak apal, nyontek nih) adalah Jack, Philip, Dinah, Lucy-Ann, dan Kiki si burung kakak tua. Buku yang paling saya suka dari seri ini adalah Petualangan di Lembah Maut. Sekali lagi saya suka karena settingnya. Salah satunya adalah gua di belakang air terjun!!! Kewl abis...

DETEKTIF CILIK
Hawkeye Collins dan Amy Adams, memecahkan misteri-misteri melalui sketsa. Serial karya M. Masters ini juga asik banget. Serasa jadi detektif juga, karena kita bisa ikutan memecahkan misteri dari petunjuk dan sketsa yang dibuat oleh si Hawkeye. Jawaban kita bisa dicocokkan dengan kunci jawaban yang ditulis dengan tulisan terbalik (cara membacanya adalah dengan cermin atau lewat balik halamannya dengan bantuan cahaya lampu).

Nah, buku-buku di atas itu yang menemani masa kecil saya. Ada juga sih buku-buku cerita petualangan yang lain, tapi kebanyakan ah kalau mau ditulis semua. Bagian ke-2 nanti (kalau gak males) saya mau cerita lagi tentang buku masa kecil, tapi kali ini bukan buku petualangan, tapi buku yang lebih 'girly'.

Still talking about Time

Einstein's Dreams by Alan Lightman, adalah sebuah buku yang mempesona saya. Buku ini bukan berisi mengenai teori-teori fisika Einstein... bukan. Buku ini lebih tepatnya merupakan sebuah kumpulan cerita imaginatif mengenai konsep waktu, terdiri dari kisah-kisah pendek, dan tokoh Einstein menjadi benang merah yang menjadikan 'mimpi-mimpi' ini berhubungan menjadi sebuah novel.

Buku ini merupakan kumpulan dari tiga puluh kisah, gagasan, dan imaginasi tentang waktu. Di suatu cerita, waktu bagaikan sebuah lingkaran yang mengelilingi dirinya sendiri. Semua peristiwa akan selalu berulang, setepat-tepatnya dan tiada berakhir. Di kisah yang lain, waktu adalah seperti aliran air, kadang terbelokkan oleh secuil puing dan tiupan angin. Bahkan terkadang, gangguan kosmis dapat menyebabkan aliran sungai waktu berbalik arah. Ada dunia yang manusia hanya hidup satu hari. Di dunia lain, waktu memiliki tiga dimensi seperti ruang, setiap peristiwa akan membawa tiga kejadan yang berbeda. Di kisah lain, waktu adalah indera. Seperti rasa bisa asin atau manis; maka suatu episode bisa berjalan lambat atau cepat, teratur atau acak, bersebab atau tanpa sebab; bergantung pada latar belakang sejarah dan pengalaman masing-masing.

Setiap konsep waktu menimbulkan konsekuensi yang berbeda pada kehidupan manusia yang menjalaninya. Pada suatu dunia, ada suatu tempat dimana waktu berhenti. Di dunia seperti ini, orang tua yang tidak ingin kehilangan anaknya, berjalan menuju tempat ini. Di sini pula sepasang kekasih berpelukan abadi, tak akan ada gairah yang hilang dan tak akan ada cinta yang pupus. Di dunia lain, waktu berlalu lebih lambat, bagi orang-orang yang bergerak, sehingga di dunia ini semua orang bergegas, semua orang berpergian dengan kecepatan yang tinggi untuk memperoleh waktu. Orang-orang bahkan tinggal di dalam rumah dan bangunan yang bergerak. Ada dunia lain yang waktunya berjalan semakin lambat pada tempat yang semakin tinggi. Di dunia ini semua orang tinggal di pegunungan, bahkan beberapa orang membuat bangunan-bangunan di atas tiang-tiang, untuk memaksimalkan efeknya. Di dunia ini, ketinggian akhirnya menjadi status.

Buku ini juga berkisah tentang karakter manusia, yang disederhanakan menjadi dua tipe yang bertolak belakang. Dalam menghadapi suatu konsep waktu, kedua tipe manusia ini selalu memiliki respon yang juga berbeda. Di suatu dunia, waktu adalah abadi, manusia hidup selamanya. Di dunia seperti ini, manusia terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok yang pertama berkeyakinan bahwa tidak ada alasan untuk terburu-buru, karena waktu tak terbatas, segala sesuatu dapat terpenuhi, hingga akhirnya mereka selalu hidup dalam kesantaian. Kelompok yang lain beranggapan bahwa dengan kehidupan yang abadi ini, mereka dapat melakukan apa saja yang mereka inginkan; ada tumpukan karir yang tidak terhingga, ada pernikahan dalam kesekian kali yang tak terbayangkan. Di dunia lain yang tidak berlaku hubungan sebab-akibat, para ilmuwan menjadi putus asa, karena ramalan mereka berubah menjadi pascadiksi, dan persamaan-persamaan berubah menjadi pembenaran. Sebaliknya di dunia seperti itu, seniman riang gembira, karena ketidakpastian menjadi jiwa dari lukisan, musik, serta novel mereka. Mereka dapat bertindak tanpa harus ada penjelasan, tanpa harus melihat masa silam.

A tale-like story selalu menyenangkan bagi saya. A poetic story hampir selalu dapat menggugah perasaan saya. Kedua hal ini menjadi darah dan daging dari buku ini, a poetic tale-like story, that's why this book amazed me so much. Imaginasi-imaginasi tentang waktu ini diceritakan bagai sebuah dongeng, dan dampak dari masing-masing waktu bagi kehidupan manusia diceritakan dengan puitisnya:

Bayangkan dunia tanpa waktu, hanya bayang-bayang...
seorang bocah di tepi laut, terpesona oleh samudera yang pertama kali dilihatnya...
Bekas telapak kaki di hamparan salju di pulau musim dingin...
Seorang lelaki dan perempuan berdekapan telanjang...
Debu beterbangan, terlihat dari cahaya yang melintasi jendela...
Ciuman pertama... Planet-planet terjerat di angkasa, samudra, keheningan...
Butir air di jendela... tali tergulung... kuas kuning...


atau seperti ini...

Andaikan waktu adalah soal kualitas dan bukan kuantitas,
seperti cahaya malam yang menaungi pepohonan, saat bulan naik dan menyisiri garis-garis pohon. Waktu hadir, tetapi tak bisa diukur...
Di dunia seperti ini, peristiwa-peristiwa dicatat berdasarkan warna langit, nada suara panggilan tukang perahu, perasaan bahagia atau cemas tatkala seseorang memasuki ruangan...
Panjang-pendek waktu antara dua peristiwa bergantung pada seberapa kontrasnya peristiwa-peristiwa itu, intensitas cahaya, sudut jatuh cahaya dan bayang-bayang, sudut pandang pelakunya.
Beberapa orang berusaha melakukan kuantifikasi terhadap waktu, demi mengurai waktu, membedah waktu.
Mereka berubah menjadi batu...

...

... what's time anyway?
Le Petit Prince


The Little Prince , by Antoine De Saint-Exupery (author and illustrator). Pasti sudah banyak yang tahu buku ini, soalnya termasuk buku klasik. Tapi kalau anda belum tahu, wajar aja, kan buku jaman lama ..grin. Saya sendiri, walau sudah lama pernah dengar, baru dapat kesempatan membaca dan mempunyai buku ini sekitar 3 tahun yang lalu.

Buku ini bagi saya seperti sebuah misteri (mudah-mudahan gak berlebih-lebihan). Sekilas dibaca dan dilihat ini buku anak-anak, buku dongeng, karena ya memang isinya absurd (but simple) seperti dongeng dan penuh ilustrasi seperti layaknya buku anak-anak. Namun menurut banyak orang (saya lebih dulu banyak membaca review-nya daripada bukunya, so I'm no longer objective), buku ini sangat penuh pemikiran. Tentang karakter manusia (dewasa): haus kekuasan, kerakusan, kesombongan, kepatuhan yang buta; semuanya disimbolkan oleh tokoh-tokoh (king, businessman, geographer, lamplighter) yang ditemui si Pangeran Kecil dalam petualangannya.

Little Prince juga mengajarkan tentang persahabatan (simbolized by fox) dan cinta (rose).


"Tame me." The little prince asked "What is it to tame?" The fox replies, "It is to establish ties. ..to me, you are nothing more than a little boy who is just like a hundred thousand other little boys and I have no need of you. ....But if you tame me , than we shall need each other. To me, you will be unique in all the world. To you, I shall be unique in all the world."

"It is only with the heart that one can see rightly; what is essential is invisible to the eye." "It is the time you have wasted for your rose that makes your rose so important." "You become responsible , forever, for what you have tamed. You are responsible for your rose..."

"You are beautiful, but you are empty. One could not die for you. To be sure, an ordinary passerby would think that my rose looked just like you--the rose that belongs to me. But in herself alone she is more important than all the hundreds of you other roses: because it is she that I have watered; because it is she that I have put under the glass globe; because it is she that I have sheltered behind the screen; because it is for her that I have killed the caterpillars (except the two or three that we saved to become butterflies); because it is she that I have listened to, when she grumbled, or boasted, or even sometimes when she said nothing. Because she is my rose."


Buku ini misteri buat saya. Begitu banyak yang bisa diungkapkan dalam sebuah buku yang kecil dan tipis ini. Begitu banyak orang yang membacanya, anak-anak dan orang dewasa, dari masa ke masa. Begitu banyak analisis dibuat untuk buku ini, bahkan konon buku ini juga dibahas di perkuliahan di fakultas psikologi. Begitu banyak orang yang terinspirasi.... What a little book?!!

Totto Chan

Salah satu buku yang selalu menjadi “all time favorite” saya adalah buku ini. Totto Chan - Gadis Kecil di tepi Jendala, begitu judulnya dalam terjemahan bahasa Indonesia. Buku ini pertama kali saya baca ketika saya masih berusia kurang lebih 14 tahun . Sejak pertama kali membaca saya sudah sangat menyukainya, lebih tepatnya saya senang memimpikan diri saya seberuntung si gadis kecil Totto Chan.

Totto Chan, sebuah kisah nyata, berkisah tentang seorang gadis kecil Jepang di masa menjelang perang dunia kedua, yang sangat beruntung. Totto Chan beruntung karena mempunyai seorang ibu yang percaya bahwa gadis kecilnya sebenarnya bukan anak nakal yang mengganggu pelajaran di kelas sehingga harus dikeluarkan dari sekolah. Totto Chan beruntung karena ibunya kemudian memasukkannya ke sebuah sekolah yang sangat unik.

Totto Chan akhirnya bersekolah di Tomoe, sebuah sekolah yang ruang kelasnya dibuat dari bekas gerbong kereta api. Di sekolah ini, murid-muridnya bisa mulai mengerjakan pelajarannya hari ini dengan apa yang disukainya terlebih dahulu. Di sekolah ini, seorang petani adalah guru, karena dialah yang paling tahu tentang tanaman dan cara berkebun. Di sekolah ini acara berjalan-jalan adalah hal yang selalu dilakukan apabila murid-murid bisa menyelesaikan seluruh pelajaran sebelum waktunya. Di sekolah ini syarat bekal makanan adalah satu macam “yang dari gunung “ dan satu macam lagi “yang dari laut”, dan murid-murid menikmati bertukar makanan sambil belajar apa yang dari gunung dan apa yang dari laut. Di sekolah ini, murid-murid dianjurkan memakai pakaian terjelek yang mereka punya, karena pakaian yang bagus akan segera menjadi kotor di sini. Di sekolah ini semua anak tidak sabar untuk kembali ke sekolah esok harinya. Hhmh.. benar-benar sebuah sekolah impian.

Totto Chan juga beruntung mempunyai seorang kepala sekolah, Bapak Kobayashi, yang sangat percaya bahwa setiap anak memiliki potensi dan bahwa cara mendidik anak yang terbaik yaitu dengan memberikan kebebasan dalam berekspresi. Ada sebuah cerita yang sangat bagus, yaitu ketika dompet kesayangan Totto terjatuh dalam sebuah septic tank. Totto kemudian memutuskan untuk mencari dompetnya itu dan menggali tumpukan kotoran di septic tank tersebut!! Pak Kobayashi, menyaksikan semua itu hanya berkomentar, “Nanti kalau sudah selesai, dirapikan kembali ya…”, tanpa memarahi atau menegur sama sekali. Totto walaupun akhirnya tidak dapat menemukan dompetnya, memenuhi janjinya untuk membereskan kotoran tersebut.

Totto Chan memang adalah anak yang unik. Dulu di sekolahnya yang lama, ia suka memanggil pengamen atau berbicara dengan burung dari balik jendela kelas ketika jam pelajaran sedang berlangsung. Dia sangat impulsive. Dia suka meloncat pada sesuatu yang dianggapnya menarik tanpa pertimbangan, bahkan ia pernah loncat ke dalam adukan semen di jalan. Namun Totto Chan anak yang baik, ia selalu membela dan membantu temannya yang lebih lemah. Sebuah pertanyaan pasti tersirat, bila ibunya dulu tidak memindahkannya ke Tomoe, akan jadi apa Totto Chan ketika dewasa? Yang jelas, Totto Chan kemudian tumbuh dewasa dengan berbekal kenangannya selama dua tahun di Tomoe – sekolah ini memang kemudian hancur oleh serangan pesawat pembom. Totto Chan dewasa adalah Tetsuko Kuroyanagi, seorang presenter televisi yang terkenal di Jepang.

*********
Buku Totto Chan ini pun pernah dibahas oleh Goenawan Mohamad, seorang penulis Indonesia yang sangat kaya dengan referensi. Saya kaget ketika membaca mengenai Totto Chan di salah satu buku kumpulan Catatan Pinggir-nya. Ketika itu saya mungkin sudah kuliah dan sudah agak melupakan cerita Totto Chan ini, karena bukunya juga sudah hilang dipinjam, tidak dikembalikan oleh entah siapa. Saya merasa sangat tersanjung buku yang sangat sukai, ternyata juga dibaca bahkan dibahas oleh penulis yang juga sangat saya kagumi.

Judul Buku: Totto Chan, Gadis Kecil di Tepi Jendela
(Totto Chan, The Little Girl at the Window)
Pengarang : Tetsuko Kuroyanagi

Anthony De Mello



Baru hari ini saya tahu pengarang dari sebuah cerita yang telah saya ketahui sejak saya duduk di bangku SMP. Boneka Garam, sebuah cerita pendek menyerupai dongeng, secara tidak sengaja saya dapatkan dari seorang kakak. Cerita ini langsung mengobsesi pikiran saya sebagai seorang anak SMP yang masih bingung dengan jati dirinya (sampai sekarang juga masih), dan langsung masuk buku harian tentunya.

Hari ini, thanks to internet technology, saya akhirnya tahu siapa pengarangnya. Adalah Anthony De Mello yang menuliskan cerita ini dalam bukunya Burung Berkicau (The Song of the Bird). Anthony De Mello adalah seorang biarawan Katolik dari India, meninggal pada tahun 1987.

Saya adalah seorang muslim, ternyata selama ini mengagumi sebuah karya seorang biarawan. "Wisdom" memang tidak mengenal batas agama.


Boneka Garam
Sebuah boneka garam berjalan beribu-ribu kilometer menjelajahi daratan, sampai akhirnya ia tiba di tepi laut.
Ia amat terpesona oleh pemandangan baru, massa yang bergerak-gerak, berbeda dengan segala sesuatu yang pernah ia lihat sebelumnya.
'Siapakah kau?' tanya boneka garam kepada laut.
Sambil tersenyum laut menjawab:
'Masuk dan lihatlah!'
Maka boneka garam itu menceburkan diri ke laut. Semakin jauh masuk ke dalam laut, ia semakin larut, sampai hanya tinggal segumpal kecil saja. Sebelum gumpalan terakhir larut, boneka itu berteriak bahagia: 'Sekarang aku tahu, siapakah aku!'


A link to another writings by Anthony de Mello in Bahasa Indonesia.