Belajar Mencinta

Cinta, sedang naik daun, dibicarakan di sana-sini. Tapi cinta memang tema yang tidak pernah surut sepanjang sejarah peradaban manusia. Pertanyaan saya tentang cinta kali ini, terpancing setelah saya membaca beberapa cerita yang ditulis dengan begitu menarik oleh pemilik blog ini.

Tidak bisakah manusia belajar untuk mencinta?

Ngerti sih ini tidak ideal. Bukan juga seperti kamus cintanya Kahlil Gibran yang bilang bahwa jika cinta dari awal sudah tidak ada, maka ia tak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan abad.

Tapi bukankah kita manusia adalah mahluk yang belajar? Yang dianugerahi Tuhan kemampuan untuk beradaptasi yang menakjubkan? Kita manusia, meskipun tidak mudah, bukankah bahkan bisa belajar mencintai diri sendiri? Jadi tidakkah kita juga bisa belajar mencinta?

Witing tresna jalaran saka kulina, kata orang Jawa. Cinta datang karena terbiasa. Apakah hal ini hanya sekedar pepatah yang sedemikian tidak mungkin untuk diwujudkan?

(Hanya sebuah pertanyaan yang tiba-tiba begitu saja timbul dan tidak terbendung)

PENGALAMAN PRIBADI?

Saya belum lama ini membaca sebuah kata pengantar di sebuah buku:
Menulis adalah ibarat cermin. Menangkap bayangan sendiri di dalam cermin dan membiarkannya merefleksikan balik dengan sewajar-wajarnya, sejujur-jujurnya dan apa adanya. Marcel Proust, penulis Prancis ... pernah mengatakan, "semua bahan untuk karya sastra tidak lain adalah kehidupan masa lalu saya" (Clara Ng, Tujuh Musim Setahun)


Ini mengingatkan saya pada kata pengantar lain di buku yang lain:
Pengarang tak bisa bersandar hanya pada pengalaman diri sendiri, sebab alangkahnya terbatasnya pengalaman pribadi seseorang
(Ayu Utami, Saman)


Sebuah kontradiksi. Namun sebagai pembaca memang seringkali kita mempertanyakan hal itu: pengalaman pribadikah?
Sebenarnya... Adakah yang lebih baik?
Adakah yang lebih mudah?
Adakah yang lebih layak disebut maha karya?
Ah, tapi mungkin pula bukan sesuatu
yang perlu diperbandingkan dan dipertentangkan...

PELANGI

Sore hari, di sebuah jalanan padat di Jakarta, hujan turun rintik. Sementara matahari sore masih bersinar terang. Ah... bukankah di saat-saat seperti ini, alam menghadiahkan pemandangan indahnya buat kita? Saat butir-butir air membiaskan spektrum-spektrum cahaya, merangkai membentuk lengkungan warna-warni alam.

Pelangi? Di manakah pelangi? Ingin aku melihat pelangi lagi setelah entah kapan terakhir menyaksikannya. Di manakah pelanginya? Seharusnya ia ada di sebelah kiri jalan ini, karena matahari ada di kanan. Namun di mana bersembunyinya di antara gedung-gedung kaca ini?

***

Berbicara tentang pelangi, kuingat seseorang pernah meminta padaku:

Buatkan aku dua lukisan cat air. Satu lukisan warna-warni pelangi. Satu lagi lukisan kusamnya campuran seluruh warna. Akan kupajang keduanya berdampingan. Ini untuk selalu mengingatkanku bahwa hidup bagaikan warna-warni sekotak cat air. Kita yang menentukan bagaimana lukisan dari warna-warni itu. Kalau kita menata warna-warni tersebut dengan baik, akan tercipta indahnya pelangi. Kalau kita mengkacaukannya, mencampur-adukkan semua, yang ada hanyalah warna suram kecoklatan.


***

Ah, pelangi. Kuingin lihat pelangi...

Matahari mulai menghilang. Aku masih di jalanan yang sama, dengan kemacetan yang sama. (9 April 2003)