Showing posts with label reka-rupa. Show all posts
Showing posts with label reka-rupa. Show all posts

Majalah



Yay! Pernik Keramik Lempoeng saya masuk majalah!
Ada di rubrik Gaya - Prayojana Majalah Gatra, 2 Juli 2005.

:)

Pernik Keramik



Berapa banyak orang yang cukup beruntung, bisa memiliki hobi yang sekaligus menghasilkan uang? Itulah yang sekarang ingin saya lakukan. Ingin saya buktikan. Bahwa hobi baru sekaligus obsesi lama saya – keramik – bisa menghasilkan uang.

Setelah belajar keramik selama tiga bulan, maka saya pun memulainya. Saya belum mahir membuat peralatan makan. Cangkir dan mangkok yang saya buat belumlah cantik dan layak jual. Hanya cukup layak untuk dipakai sendiri. Apalagi pot dan guci keramik yang besar. Resikonya masih terlalu tinggi. Maka saya akhirnya memutuskan untuk membuat benda-benda kecil saja dulu. Pernak-pernik kecil yang sangat saya sukai sejak dulu. Yaitu perhiasan dari keramik, terutama kalung (pendant).

Satu bulan penuh saya habiskan untuk memproduksi sekitar 1500 keping pernik keramik ini. Ya, sedemikian banyak, untuk memenuhi satu oven untuk satu kali pembakaran. Hasilnya? Tidak seratus persen memuaskan. Maklum, bisa dibilang ini adalah proses produksi yang pertama. Walaupun begitu, setelah disortir, paling tidak sekitar 700 – 800 keping keramik layak untuk dijadikan perhiasan.

Setelah sibuk belanja segala rupa tali, kait kalung, peniti, dan plastik kemasan; mulai lah proses berikutnya. Yaitu mengubah keping-keping tersebut menjadi kalung, bros, dan jepit rambut. Lalu saya mengemasnya dalam kemasan plastik bening dan memberinya label serta keterangan, agar jadi cantik dan informatif. Siap untuk dijual!

Belum banyak usaha yang saya lakukan untuk menjualnya, sampai saat ini. Pembeli pertama adalah kakak saya sendiri, Itoy, bersama seorang temannya. Penglaris... penglaris…! Thanks, Sis! Selain itu saya juga sudah menitipkannya pada keponakan saya, Luthfi, untuk dijual oleh kelasnya pada acara Market Day Sekolah Alam, seminggu yang lalu. Hasilnya ternyata lumayan. Dalam beberapa jam saja, dengan pangsa pasar terbatas pada keluarga Sekolah Alam, telah laku sekitar 30 keping bros dan kalung. Makasih ya, Luthfi! Lalu seorang sepupu yang bertandang, menawarkan diri untuk membantu menjualkannya. Pagi ini ia menelepon, memberi tahu bahwa lima keping contoh kalung yang ia bawa laris manis. Ia berencana akan datang kembali segera, untuk mengambil lebih banyak lagi kalung. Ah… senangnya…!

Kamu benar, Dy. Proses membuatnya saja sudah menyenangkan. Membayangkannya dipakai oleh orang lain lebih menyenangkan lagi. Apalagi kalau dapat uangnya…. Hehehe… ;-)

***

Saya sudah upload beberapa foto pernik keramik yang saya buat. Senang sekali rasanya bila kalian menyempatkan untuk melihatnya di sini (atau link 'pernik keramik' pada sidebar). Karena ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan:

  • Saya membuat cukup banyak ragam pendant dan brooch. Karena saya masih dalam tahap menjajaki selera pasar juga. Target pasar saya sebenarnya adalah remaja perempuan, terutama anak sekolah dan kuliahan. Tapi tentu tidak menutup kemungkinan yang lain. Pertanyaannya sederhana, di antara sekian banyak foto yang ada, manakah yang kamu suka?
  • Mengenai ukuran pendant, saya pribadi menyukai yang mungil. Tapi ternyata ada juga yang menyukai pendant dengan ukuran yang agak besar. Kamu pilih yang mana? Yang kecil (1,5-2 cm), yang besar (2-3 cm), atau bahkan yang lebih kecil atau lebih besar lagi?
  • Adakah saran tempat atau jalur untuk menjualnya? Punya info tentang bazaar lingkungan, perumahan, kantor, sekolah, atau kampus? Atau cara untuk mendapatkan info-info ini? Semuanya akan sangat membantu.
  • Last but not least. Ada yang tertarik? Bisa menghubungi saya lewat email ini. :)

Trimakasih. Trimakasih. Trimakasih….

Sosok dalam Sketsa



Aku temukan sketsa ini di dalam sebuah amplop besar coklat berisikan coretan-coretan dari masa lampau. Sketsa diriku bersama dua orang teman kuliah dulu. Aku yang membuatnya berdasarkan selembar foto. Tidak bagus. Hanya iseng belajar membuat sketsa. Sedikit frustasi, karena sama sekali tidak mirip dengan aslinya. :)

Tertulis tanggal di lembar itu, 23.10.96. Kami bertiga sedang duduk di anak tangga lapangan basket dekat boulevard kampus. Entah untuk apa aku lupa.

Hingga delapan tahun berselang, aliran hidup masing-masing sosok dalam sketsa itu nyaris tak bersinggungan. Sesekali kabar bersilang, namun sangatlah jarang. Namun tak disangka, delapan tahun kemudian, jurnal maya ini dapat kembali menautkan kembali pertemanan. Setidaknya bagi dua dari tiga sosok di sketsa itu.

Selamat bergabung, Dy... :)

KERAMIK: Sebuah Mimpi Lama

Belajar membuat keramik, bergelut dengan tanah liat, lalu menjadikannya sebuah kegiatan sehari-hari atau sekedar hobi yang menyenangkan; itu adalah salah satu mimpi lama saya. Nyaris terlupakan, tapi ternyata tak pernah benar-benar terlupakan... Saya dulu pernah berhayal, di sudut pekarangan rumah saya kelak akan ada sebuah studio kecil tempat saya berkarya. Sebuah studio yang sederhana saja tapi dilengkapi dengan sebuah tungku pembakar. Saya akan mengisi hari-hari saya di sana. Saya akan pergi ke sana bila hati sedang senang. Saya juga akan pergi ke sana bila hati sedang gelisah.

Hmm… sebuah mimpi dari masa sekitar tiga belas tahun yang silam. Tak sepenuhnya terkubur memang. Saya ingat terkadang mimpi ini bersinggungan kembali dengan kehidupan saya. Kuliah bertetangga dengan fakultas yang memiliki jurusan keramik; sebenarnya waktu itu saya bisa saja mengambil mata kuliah pilihan keramik. Bertugas menjaga pembukaan sebuah galeri dan pameran keramik, berkenalan dengan seseorang yang bergelut dengan keramik, tetap tidak membuat saya bergerak untuk mencoba merealisasikan mimpi itu. Merasa-rasa diri terlalu sibuk, takut entah karena apa; mungkin itu semua ada di balik kemalasan dan keengganan saya.

***

Sekitar tiga tahun yang lalu mimpi itu seakan melambai lagi dari balik sebuah artikel di surat kabar. Adalah Rumah Tanah Baru milik keramikus F Widayanto, ternyata tak terlalu jauh letaknya dari kediaman saya. Tertulis di artikel tersebut, rumah galeri dan studio itu dibuka untuk umum setiap hari Sabtu dan Minggu. Katanya, bahkan kita bisa ikut bermain tanah liat di sana!!!

Maka saat itu, dengan perut besar mengandung Obin sekian bulan, saya ditemani sang suami ke sana. Kata suami, “Ada yang lagi ngidam main tanah liat nih. Bahaya kalo gak diturutin maunya.” Hehehe… Thanks a lot, yang!

Maka saya pun ikut bermain tanah liat di sana. Dengan membayar sekian rupiah, saya mendapat sebongkah tanah liat yang lebih besar sedikit dari bola tenis. Selama dua jam lebih, dengan teknik yang paling mudah – yaitu teknik cetak – saya menghasilkan sebuah cawan kecil berbentuk daun bunga kamboja dengan lebah mungil di sudutnya dan sekeping keramik persegi empat yang sedianya akan saya jadikan sebuah jam meja. Dua minggu kemudian ‘hasil karya’ saya sudah selesai diwarnai, dibakar, sudah bisa diambil dan dibawa pulang. Dan saya senang sekali…

Selama tiga tahun terakhir ini, Rumah Tanah Baru ini telah beberapa kali saya kunjungi kembali. Sekedar untuk menikmati suasananya yang nyaman, sudut-sudutnya yang teduh dan artistik, dan duduk-duduk ngobrol di sebuah jineng favorit. Atau untuk duduk di kedai kecilnya yang akrab, makan nasi campur istimewa dengan sambal tomat hijau yang segar dan tumis jantung pisang, dengan peralatan makan dari keramik yang artistik. Atau untuk sekedar mengajak Obin jalan-jalan, melihat kolam ikan dengan air yang memancur dari patung keramik berbentuk kura-kura dan kodok, melihat bebek di kandangnya, dan berkenalan dengan Aom, Asoy, dan Ndut -- anjing-anjing yang setia menjaga Rumah Tanah Baru. Atau untuk mengajak keponakan -- dan Shanty (hai!!!) -- bermain keramik di sana, sebagai alasan untuk ikutan main keramik lagi… :)

Saya benar-benar sungguh senaaang sekali… Tapi ternyata saya masih belum cukup puas :-)