Di Ruang Tunggu

Duduk di sebuah rumah sakit. Menunggu. Hari ini Sabtu. Ramai sekali seperti sebuah pusat belanja di akhir minggu. Selalu seperti ini. Sejak bertahun-tahun yang lalu. Oh, sejak lebih dari tujuh tahun yang lalu. Ketika berkunjung ke tempat ini jadi sesuatu yang rutin.

Beberapa sudut sudah berubah. Berkali-kali. Dulu pojok itu adalah kantin kecil yang menjual risol kegemaran ibu. Lalu ia dilengkapi sebuah perosotan plastik, tempat Obin melewatkan waktu menunggu sambil belajar mengantri giliran dan mengalahkan rasa takut. Kini kantin dan perosotan sudah pindah. Entah ke bagian lain yang mana di bangunan ini. Sebuah ruang dengan pintu kaca yang berhias stiker bunga-bunga cantik berdiri di situ kini, menjelma sebuah klinik spesialis entah apa yang baru. Pojok itu tumbuh. Berkembang. Maju.

Duduk menunggu sendiri di sini. Di tengah keramaian. Tak disangka terasa sungguh menyenangkan. Seperti mendapatkan kesempatan yang sangat langka. Tersadar betapa waktu untuk menikmati kesendirian sudah sangat sulit didapatkan.

Di sini. Duduk sendiri. Di tempat yang tanpa kau sadari ternyata menyimpan banyak memori diri. Teringat tubuh dengan nyeri operasi berjalan melintasi ruang ini. Kunjungan unit gawat darurat di pagi hari ketika luka tak kunjung menutup. Teringat hati yang penuh bahagia ketika membawa bayi pertama pulang. Dan bayi ke dua. Teringat...

(Oh, si dokter gigi sudah datang. It's time for my root canal treatment. )

Her Story - 1

i hold a spoon and feed her
for the very first time

i hold her hand tight
for she makes a step with her trembling body
for the very first time

i kiss her white soft cheek
and wrinkle on her brow
not so for the very first time

you'll be fine, you'll beat them up

the unspoken words left unsaid
still not for the very first time
: i love you, mom

2004

Setahun Lebih

Wow, sudah setahun! Itu yang terlintas di kepala saya ketika melihat kupu-kupu berterbangan di jalan yang saya lewati pagi hari, sekitar satu atau dua bulan yang lalu. Gak kerasa, masa sudah bergulir setahun lebih sejak saya tulis posting Kupu-Kupu Pagi.

Kemana aja? Di sini aja. Di Jakarta. Masih tinggal di rumah yang sama. Masih kerja di tempat yang sama. Masih tiap pagi sore lewat jalan yang sama.

Kenapa lama gak ngeblog? Jawaban sok keren: lagi hibernasi. Hehehe... mungkin lagi masanya aja, ya. Waktu, energi, lagi terserap untuk hal-hal lain. Awalnya gak sempat ngeblog. Lama-lama merasa nyaman aja hidup tanpa blog. Kadang-kadang masih ingin menggoreskan cerita naik-turunnya hidup di jurnal maya ini. Sekedar catatan agar tak lupa. Atau kadang masih ingin berbagi kabar. Cuma seringnya terlambat lalu terasa jadi basi.

Yang ini sekedar catatan. Tahun lalu adalah roller coaster. Peristiwa-peristiwa mengaduk-aduk emosi. By pass. Ruang tunggu rumah sakit. Halusinasi. Kantor. Perubahan besar. Adek. Caesarian. Komplikasi. Varicella. Karantina. Baby blues. Namun hidup berlalu. Suka maupun duka tak ada yang abadi.

Yang ini berbagi kabar. Kenalkan, ini Radian Akhtar, satu lagi bintang di kehidupan kami. Kadang dipanggil Adek, kadang Radian. Sudah tujuh bulan usianya sekarang. Mirip sekali dengan Obin kecil, hanya tanpa ikal rambutnya. Alhamdulillah sehat, lucu, dan nggemesin.


Yang ini permintaan maaf. Atas kunjungan yang tak berbalas. Sapa yang tak bersambut. Ucapan selamat dan rasa terima kasih yang tak tersampaikan. Silaturahmi yang terputus. Saya sesungguhnya tak punya alasan yang layak. Namun sungguh mohon dimaafkan. Maaf...