Catatan Kecil dari Buku “The Road to Mecca”

Saya saat ini sedang membaca buku “The Road to Mecca”, yang ditulis oleh Muhammad Asad. Ia adalah seorang jurnalis dan diplomat berasal dari Eropa (lahir di Ukraine dari keluarga Yahudi). Diterbitkan pada tahun 1954, buku ini adalah oto-biografinya, menceritakan tentang hidupnya hingga usia 32 tahun, proses peralihan agamanya menjadi Islam, dan tentang perjalanannya ke Mekah.

Saya baru saja mulai membacanya malam ini. Masih jauh dari selesai. Jadi tulisan ini bukan review. Ini adalah sebuah catatan kecil karena ada sebuah cerita yang bagi saya sangat mengesankan. Begitu terkesannya, sampai-sampai saya merasa harus berhenti membaca dan menuliskannya di sini. Saat ini juga.

---

Ini kisah ketika Muhammad Asad (ketika itu belum memeluk Islam) tinggal sementara waktu di kediaman pamannya di Yerusalem. Tetangga sang paman, seorang Arab yang dipanggil Haji, kerap menjadi melakukan shalat berjamaah di pekarangan rumahnya. Muhammad Asad mengamati ibadah itu dengan takjub.

Several times a day he assembled them for prayer and, if it was not raining too hard, they prayed in the open: all the men in а single, long row and he as their imam in front of them. They were like soldiers in the precision of their movements -they would bow together in the direction of Месса, rise again, and then kneel down and touch the ground with their foreheads; they seemed to follow the inaudible words of their leader, who between the prostrations stood barefoot on his prayer carpet, eyes closed, arms folded over his chest, soundlessly moving his lips and obviously lost in deep absorption: you could see that he was praying with his whole soul.

Muhammad Asad terusik menyaksikan sebuah ibadah yang berupa gabungan doa dan gerakan tubuh, hingga akhirnya ia pun tergugah untuk bertanya pada orang tua itu tentang shalat.


It somehow disturbed me to see so real а prayer combined with almost mechanical body movements, and one day asked the hajji, who understood а little English:

“Do you really believe that God expects you to show Him your respect by repeated bowing and kneeling and prostration? Might it not better only to look into oneself and to pray to Him in the stillness of one’s hearth? Why all these movements of your body?”

As soon as I had uttered these words I felt remorse, for I had not intended to injure the old man's religious feelings. But the hajji did not appeal in the least offended. He smiled with his toothless mouth and replied:

“How else then should we worship God? Did He not create both, soul and body, together? And this being so, should man not pray with his body as well as with his soul?”

--

Muhammad Asad terusik ketika melihat ibadah shalat dan menanyakan mengapa muslim beribadah tidak dengan hanya ‘hati’ dan doa yang lirih, tapi juga gerakan badan yang menyeluruh.

Saya juga terusik: Mengapa saya, yang lahir sebagai muslim dan telah diajarkan shalat sejak kecil, tidak pernah menanyakan hal yang sangat mendasar dan penting dari ibadah yang saya lakukan itu. Lebih memalukan lagi, saya juga tidak tahu apa jawabannya.

Kisah Kursi Roda [Catatan Perjalanan Haji #2]

Masjidil Nabawi, Madinah. Akhir bulan September. Saat itu menjelang azan Zuhur. Seorang laki-laki asal Indonesia, usia mendekati paruh baya, sedang mendorong kursi roda seorang perempuan tua. Saya duga itu ibunya. Ia berjalan di pelataran Masjid Nabawi, mengarahkan kursi roda sang ibu ke area shalat bagi jemaah perempuan.

Sampai di sana, di pelataran masjid yang dinaungi payung-payung besar, si anak lelaki mencari tempat yang cocok bagi ibunya untuk melaksanakan shalat berjamaah. Diparkirkannya kursi roda di area yang masih agak kosong, namun dipastikan akan termasuk saf shalat perempuan. Lalu sang ibu ditinggalkannya, karena area shalat untuk laki-laki terpisah cukup jauh. Beberapa saat selepas shalat Zuhur, ketika kepadatan orang-orang yang keluar dari masjid mulai menyurut, si anak lelaki akan kembali menghampiri ibunya dan mendorongnya pulang.

---
Saat itu, barisan saya berada tak jauh dari kursi roda ibu itu. Waktu Zuhur dan Asar biasanya saya memang memilih untuk shalat di pelataran masjid. Area dalam masjid yang diperuntukkan bagi jamaah perempuan tidak begitu luas. Agar bisa shalat berjamaah di dalam masjid, kami harus datang berjam-jam sebelumnya. Padahal hotel tempat saya tinggal agak jauh dari masjid, dengan berjalan kaki perlu waktu sekitar 30 menit. Sementara pagi hingga siang hari biasanya kami para jamaah banyak yang memilih beristirahat di penginapan. Sedangkan setelah Zuhur adalah waktu makan siang. Jadi walaupun siang terasa sangat terik, saya memilih untuk shalat berjamaah di luar.

Berlindung di bawah bayang payung-payung besar Masjidil Nabawi yang dibuka saat matahari mulai tinggi, dan ditutup menjelang waktu Maghrib. Sedapat mungkin saya akan mencari posisi yang dapat terpapar hembusan uap air segar dari kipas angin yang terpasang di tiang-tiang payung.

---
Duduk menanti waktu shalat di pelataran masjid ini, membuat saya bisa memperhatikan ‘perilaku’ kursi roda tersebut. Ternyata bukan hanya satu atau dua yang saya temukan. Bahkan kadang kursi-kursi roda itu memang seperti sengaja berkumpul membentuk kelompok-kelompok di pelataran masjid. Mungkin berkelompok untuk kenyamanan mereka. Mungkin agar tidak terlalu mengganggu saf jemaah lain.

Adalah wajar mereka shalat di pelataran. Aksesibilitasnya termudah untuk pemakai kursi roda. Lagi pula pelataran masjid adalah wilayah netral, yang boleh dilalui baik jemaah perempuan dan laki-laki. Perempuan-perempuan pengguna kursi roda itu dari berbagai bangsa selain Indonesia; Turki, India, Bangladesh, dan lainnya. Umumnya usia mereka memang sudah lanjut. Ada yang ditemani oleh anak perempuan atau saudara perempuannya. Namun sering pula saya dapati yang sendiri tanpa pendamping perempuan. Ketika shalat selesai dan orang-orang mulai beranjak dari saf-nya, mereka tetap tinggal di situ. Duduk berzikir di atas kursi rodanya, menunggu penjemput , sementara di sekelilingnya orang-orang lain berlalu-lalang.

Menyaksikan mereka, otomatis membuat saya sangat bersyukur. Kami, saya dan suami, telah diberi kesempatan untuk melakukan ibadah haji di usia yang relatif muda. Ketika badan masih sehat dan kuat. Masih mampu berjalan sendiri tanpa harus dibantu oleh orang lain. Masih bisa melakukan seluruh rangkaian ibadah wajib maupun sunnah tanpa kendala jasmani yang berarti.

Rasa haru pun tak kuasa timbul. Terutama tatkala menjadi saksi bakti para anak pada orang-tuanya. Mereka menghajikan ibu bapaknya. Mendampingi mereka. Mendorongkan kursi rodanya dengan sabar. Memperbaiki letak kerudung ibunya yang mulai menampakkan helai-helai rambut. Mengambilkan air minum untuknya. Bahkan terkadang tanpa ragu menggendong orang-tuanya di punggung ketika harus menaiki tangga.

---
Beberapa hari kemudian. Masih di Masjidil Nabawi, Madinah. Awal Oktober. Kali ini menjelang shalat Asar. Suara azan sudah mulai berkumandang. Saya dan para jemaah lain yang masih berjalan menuju masjid, segera bergegas agar dapat tiba di barisan sebelum shalat dimulai.

Di pintu gerbang pekarangan masjid, mata saya tertumbuk kembali pada sebuah kursi roda. Seorang perempuan yang sudah lanjut usia duduk di kursi roda itu. Tapi kali ini yang mendorong adalah seorang laki-laki yang juga sudah tua: suaminya…

Lelaki tua itu berpeluh, berusaha mendorong kursi roda istrinya agar bergerak lebih cepat, mengejar waktu shalat. Melihat pasangan tua itu, tak tertahankan mata saya terasa basah. Kerongkongan medadak tercekat. Selarik doa pun terucap di hati:
Ya Robb, yang telah menganugerahkan kasih-sayang di antara pasangan tua itu, sayangilah mereka. Ya Rahman, yang telah memberikan mereka usia yang panjang dan kesempatan untuk mengunjungi-Mu, berilah mereka kemudahan. Ampuni dosa-dosa mereka. Kelak, perkenankanlah mereka untuk bertemu kembali. Selalu bersama, di surga-Mu…

(Kembali) Menghampiri-Nya [Catatan Perjalanan Haji #1]

25 September - 5 November 2012. Tanggal ini saya terakan di sini. Sebagai sebuah catatan dari perjalanan besar -- lahir dan batin  -- yang telah saya lalui tahun ini. Berhaji.

Manusia sungguh mudah lupa. Hari ini, baru saja perjalanan itu berlalu 40 hari, namun ramuan aneka rasa yang saat itu begitu tajam sudah mulai menghambar. Rekaman momen-momen yang dulu begitu jelas, mulai memudar. Dan yang paling saya takutkan, grafik iman balik jadi datar lagi -- bahkan menurun -- ketika hidup dihadapkan kembali pada remeh-temeh sehari-hari.

Perjalanan haji memang tak mudah. Tapi kini yang saya rasakan, jauh lebih sulit lagi adalah mengekalkan, mengabadikan semua yang telah dialami dalam perjalanan itu. Bukan hanya sebagai sebuah kenangan, tapi hingga melebur dalam diri, dalam setiap niat, pikiran, dan tindakan.

Karenanya, betapa pun sudah mulai memudar, saya mencoba menuliskan kembali rasa dan peristiwa itu. Jika haji, menurut Ali Shariati, adalah perjalanan menghampiri-Nya. Catatan ini adalah perjalanan saya untuk 'kembali' menghampiri-Nya. Sebagai salah satu cara saja (dari banyak cara lain yang mungkin akan saya lakukan). Agar tidak lupa.

---

I want to bottle up all the feelings, emotions, 
atmosphere, events, fragments, scenes, & faces... 
I wanna bottle up all & open it later.