Antara Pertanyaan dan Pernyataan



Apakah kita harus selalu mempertanyakan?

Begitu tanyaku. [Ironisnya dengan demikian aku pun telah mempertanyakan sesuatu]

Aku harus dan wajib bertanya, kunyatakan itu sebagai suatu pernyataan pada suatu hari. Itulah sebabnya aku mempunyai akal, untuk bertanya dan mempertanyakan.

Bertanya atau tidak bertanya itu suatu pilihan, kataku suatu waktu kemudian, membuat suatu pernyataan baru. Bila aku memilih untuk bertanya, janganlah aku berpuas diri pada suatu jawaban, begitu seorang bijak mengingatkanku dengan pernyataannya. Berhati-hatilah, katanya. Karena bukan tidak mungkin jawaban yang kupercayai sebagai kebenaran, sebenarnya hanya pecahan dari kebenaran yang utuh. Dan percaya pada kepingan itu saja adalah menyesatkan.

Maka kuterus bertanya. Ku tak puas untuk terus bertanya. Karena suatu pertanyaan ternyata melahirkan jawaban yang padanya kembali bermuara pertanyan-pertanyaan lain. Terus-menerus, tak putus juga. Maka kuterus bertanya. Seperti seorang anak yg haus melontarkan pertanyaan ketimbang mendapatkan jawaban.

Aku terus bertanya, hingga akhirnya aku lelah bertanya. Akankah tiba saatnya aku berdamai dengan pertanyaan dan menerima saja 'pernyataan' ? [ah, masih juga aku bertanya] :)

Memori Ciganjur – Bagian 3

Oleh : Bu Septri

Tentang Hendi. Tani ternak terpadu, … tani ternak terpadu … kata-kata itu yang memenuhi kepalaku. Aku harus mencari seseorang yang mau bantu aku di pertaniannya. Orang itu harus struggle dan harus betul-betul orang lapangan. Satu dari jurusan tanah atau hortikultur, satu lagi dari landscape. Aku nggak punya teman dengan kuallifikasi seperti itu. Tapi mungkin bisa dicari di pesantren ikhwan (laki-laki) Ulil Albab di Bogor.

Akhirnya aku nembak nelpon ke pesantren tersebut. Setelah bla-bla-bla … si penerima telpon menyebutkan dua nama untukku. Hendi dan Syafir. Yak! Langsung janjian bertemu untuk survei lahan. Di mana pertama kali bertemu? Di stasiun kereta super sumpek ekonomi saja, sekalian berangkat ke Ciganjur. Aku pakai baju merah hati biar mudah dikenali. Dia datang telat 15 menit karena nyari-nyari aku dulu. Kakinya beralas sendal jepit (itu pun gede sebelah), kan mau survei lahan, kilahnya.

Hasil survei sudah bisa diduga. Lahan mengandung besi, sangat miskin hara, drainase buruk. Yaa.. intinya harus kerja keraslah, he he he. Mempekerjakan orang sekitar untuk membantu pertanian sangat sulit, minta biayanya selangit. AKhirnya Pak Hendi membawa orang-orang dari Sukabumi untuk mengolah lahan (thok). Dia sendiri selalu ikut terjun dalam setiap gawe pertanian. Yang nyangkul, buat sumur., dll. Setelah ditanami kangkung barulah giliranku untuk merawatnya. Aku nggak pernah bertemu lagi dengan Bapak satu ini sejak kebagian jatah merawat.

Kangkung lama-lama tumbuh… tahu-tahu sudah saatnya panen (tahunya juga dari Kang Hamidin, “Kalau nggak dipanen sekarang sudah ketuaan, mbak.”) Kangkung ini harus dijual, batinku. Tapi dijual kemana? Murid belum punya, guru lagi nggak ada … siapa konsumennya? Waktu itu betul-betul aku lagi sendirian. Dengan mengeraskan hati aku pinjem sepeda tetangga. Kangkung yang sudah sangat buaanyak dan sudah menjulur-julur itu kuikat di sadel belakang (boncengan), lalu “Kangkung, kangkuuung!” Aku teriak-teriak ngider kampung. Rasa malu sudah kubuang jauh-jauh, tidak kudengarkan lagi jeritannya di hatiku. Untunglah 98% kebeli orang setelah seharian ngider. Pada kacian kali ya, sama aku. Masya Allaah…

Nah, tahu-tahu setelah itu datang lamaran dari Pak Hendi (ehm). Singkat cerita lamaran diterima. Sambil nunggu hari jadi kita nggarap lahan teruuuuss. Pembibitan, tanam polibag, nyiram, ndangir, etc. etc. selalu di lahan dan disiram matahari. Tidak ada kamus dipingit, walhasil saat hari jadi, kita berdua adalah pasangan pengantin tergosong sedunia. Hihik. Tapi anak-anak muridku bisa belajar apa saja dari kebun, itu yang paling penting.

Tentang Tri Puji Hindarsih. Siapa dia? Saat bertemu pertama kali kupikir aku bertemu dengan fresh graduate dari SMA. Sungguh! Subhanallah, mbak yang satu ini emang imut. Sholihah yang mantan menwa ini lulusan ITB Geodesi, teman Sujiwo Tedjo di karawitan dulu. Panggilannya Bu Cache. Kenangan yang paling indah adalah saat kita berdua bersiteguh bahwa sekolah siap dijalankan Juli 1998. Saat itu ada yang berkomentar pada Bu Loula, itu guru gilaaaaaaa!

Bayangkan saja. Saat itu saung sekolah belum sepenuhnya jadi, tapi setidaknya kebun sudah tersedia. Tanpa diduga ada petugas IMB memaku plat merah besar bertanda BELUM ADA IMB! Nah! Repot dan berbelit-belit masalah itu. Amit-amitlah….

Akhirnya kita berkucing-kucingan. Jika ada prospek calon orang tua siswa datang, papan itu kita cabut. Jika keadaan ‘aman’, papan ditempel kembali.

Sekolah harus dijalankan seberapapun muridnya. Kelas I ada 3 murid, bu Cache yang pegang. Kelas Playgroup ada 13 murid, aku dan Pak Iman yang pegang. Walaupun hanya ada 3 murid di kelas I, tapi ketiga-tiganya agak bermasalah saat itu. Yang satu suka melempar-lempar barang, yang satu suka memaki-maki dengan kata-kata kasar, dan yang perempuan satu-satunya sudah berkali-kali pindah sekolah, karena kerjanya di kelas hanya tidur menelungkup di meja sejak bel masuk sampai bel pulang. Tapi dengan besutan bu Cache, dalam 3 bulan permasalahan mereka finished! Rahasianya tentu saja … cinta! Cinta yang sangat meluap-luap kepada anak-anak.

Bu Cache juga yang mengenalkan kita semua pada Asih. Sungguh pilihan yang sangat jitu. Asih pegang administrasi dan Asih adalah orang teramanah sedunia!! I love you.

Saya sendiri sempat out dari Sekolah Alam mengikuti suami beragri keliling Jabar. Tapi seperti janji saya pada Iman, saya akan kembali (jika masih diterima…). Ternyata setelah saya kembali, mental-mental baja itu masih ada dan pasti akan terus ada di sini. Dan kekuatan cinta itu pun terus bersinar dan meluap-luap dari semua temanku di sini. Dari semua lini, dari pak kebun, administrasi, marketing, guru-gurunya. Kita tak akan pernah berhenti belajar untuk bisa memberikan yang terbaik yang bisa kita berikan kepada calon-calon khalifah Allah di muka bumi ini. BRAVO!!
---

Tulisan di atas sekaligus sebagai undangan kepada pengunjung blog ini, terutama yang pengen tahu Sekolah Alam itu kayak apa.

Silakan datang ke Open House Sekolah Alam, 27 Sept. 2003, pukul 09.00 pagi – selesai. Alamatnya: Jalan Anda 7X (Depan Kelurahan Ciganjur).

Acaranya macem-macem. Ada Market Day, ada Outbound, juga berbagai eksibisi sains, kebun & ternak, art & craft hasil karya anak-anak PG, TK, dan SD SA. Ada rumah pohonnya juga lho… *sambil melirik Neenoy*, malah di Green Lab-nya sekarang ada rumah parenya. Nggak pernah liat rumah pare kan? Makanya, dateng… ajak anak-anak, ponakan juga boleh. (Itoy)

Memori Ciganjur – Bagian 2

Oleh : Bu Septri

Tentang Kang Hamidin. Akang ini asli Bengkulu dan bertugas sebagai ahli bangunannya. Hasil kerja tangannya luar biasa sempurna. Terasa ada yang lain jika menginjakkan kaki ke saungnya. Indah, agung. Kerjanya rapi jali. Lantai kayu dipasang female dan male, jika salah di antara kayu langsung harus dibongkar dan diperbaiki.. Begitu halus. Aku merasa dia mengerjakannya dengan sepenuh pengabdian kepada Allah, dengan dzikir-dzikirnya. Did you notice? Kayu-kayu di lantai saung berjajar rapi menghadap kiblat. Sempurna!

Kang Hamidin membawa istrinya untuk proyek pembuatan saung sekolah. Mereka sendiri hidup di bawah atap jerami. I mean it. Mereka menyandarkan 2 atap jerami membetuk atap sederhana di tanah. Duduk pun sulit di situ, hanya cukup untuk tidur. Masuknya juga merayap.

Makanannya sederhana. Mungkin khas Bengkulu. O ya, aku pernah ditawari kolak pisang, ternyata ada bawang putih di situ sebagai bumbunya. Nah, suatu hari (hari perayaan) aku melihat sisa-sisa masak daging guling. Sisa-sisa api masih ada. Surprise juga, ada apa nih? Ternyata Kang Hamidin baru baru saja mendapat rejeki nomplok!

Ada rusa nyasar ke lokasi sekolah. Rusa siapa? Masa’ dari Ragunan? Atau memang masih ada rusa di daerah sini? Rusa ini ditangkap rame-rame dengan penduduk sekitar, dan dimasak rusa guling. Dua kali peristiwa seperti ini terjadi.

Tentang Pak Iman. Aku memandangi karikatur-karikatur di dinding masjid Al Hurriyah. Karikatur-karikatur itu, Pak Iman punya. Aku belum pernah bertemu langsung, cuma mendengarkan suaranya saat finishing touch album nasyid Nuansa-nya. Aku harus dapetin dia untuk gabung di Sekolah Alam. Aku agak pesimis, tapi setidaknya aku akan coba.

Akhirnya aku bertemu dengannya di masjid, berta’auf, omong-omong di balik hijab. Kukatakan sebisaku, kukatakan maksud, kita bisa jadi diri sendiri jika kita di Sekolah Alam. Hadiah terbesar untukku hari itu saat Pak Iman bilang: Yes!

Yes! Yes! Yes! Dan aku tidak salah pilih. Sesama bungsu, sesama Virgo (apa hubungannya?) aku sayang padanya. Aku ingat ketika kita ngirit biaya pelatihan outbound dengan memakai temanku untuk melatih mountenary. Pak Iman yang pertama turun. Saat descending ± 8 m, baru teringat sang instruktur. Halo, ada carabiner yang terlupa! Tidak berbahaya sih, sebab Pak Iman sudah lincah naik turun tebing tanpa webbing dan tali. Tempaan alam sejati.

Yang selalu terngiang-ngiang di benakku saat aku pamitan mau ngikut suamiku ke Puncak. “Kau tega ninggalin aku”. Maafkan aku. Semoga kau mendengar janjiku saat itu, bahwa aku akan kembali. Sungguh.

berlanjut lagi...
Sudah lama saya diminta Neenoy, adik saya, jadi blogger tamu di sini untuk menulis tentang Sekolah Alam-Ciganjur, tempat saya menyekolahkan kedua putra saya. Tapi saking banyaknya hal yang pengen saya ceritakan, jadi bingung sendiri mulainya dari mana.

Kebetulan dalam rangka Open House Sekolah Alam yang Insya Allah (moga-moga nggak mundur lagi) bakal dilaksanakan 27 September ini, saya diserahi tugas mengumpulkan tulisan para orangtua siswa untuk dijadikan buku.

Tulisan di bawah adalah salah satu dari tulisan yang masuk. Penulisnya Bu Septri, orang tua murid yang juga salah satu guru di sekolah itu. Dengan seizin Bu Septri, tulisan ini saya kirim ke Neenoy untu ditampilkan di blog ini. Tulisan ini bercerita mengenai para pendiri Sekolah Alam (dari penggagas, guru, hingga tukang kayu) dan seputar suka-duka usaha pendiriannya. Karena cukup panjang, sesuai saran Neenoy, tulisan ini dibagi menjadi tiga bagian. (Itoy)


Memori Ciganjur – Bagian 1
Oleh : Bu Septri

Tentang Bang Lendo. “Namanya siapa?” tanya teman-temanku memastikan sekali lagi. Yang ditanya cuma nyengir. Waktu itu kami sedang kumpul-kumpul santai setelah sholat berjamaah di tempat kost. Sebenarnya mereka cuma menggoda, sebab yang mengenalkan nama Lendo berikut recruitment Sekolah Alam bernama Linda. Linda yang adik ipar abang ini menawarkan pada teman-temanku untuk bergabung dengan abangnya membuat sekolah baru. Syaratnya cuma tiga. Cinta banget sama anak-anak, dari peternakan, dan hafal Qur’an.

“Mau nggak, Sep?” tanya Linda padaku

“Aku hafal juz 30, bukan 30 juz”, jawabku.

“Nggak pa-palah, kita semua juga begitu.”

“Tapi yang peternakan cuma kamu,” teman-teman se-kost kompakan menimpali.

Jadilah aku calon guru di sebuah calon sekolah juga. Baru ada lahan sewa, calon lansekap yang indah, saung setengah jadi dalam pembangunan, tapi calon penempa khalifah-khalifah Allah yang bermutu. Amin.

Bagaimana mewujudkannya? Mulai darimana? Mulai saja dari segala pintu… nyari ahli olah lahan untuk tani ternak terpadu dan lansekap, hunting satu guru handal yang jagoan seni, pelatihan & tular ilmu dengan Uni Loula, buru-buruin Kang Hamidin untuk segera selesaikan bangunan, mulai hunting calon murid door to door, ngurus ijin sekolah juga ijin bangunan (IMB), dll. dll. dll… Tak boleh lupa … nyampulin buku perpustakaan. Siapa lagi yang akan ngerjain? Bagi-bagi tugas.

Untuk beberapa hal tertentu, jika kecapekan pulang pergi Darmaga-Ciganjur jadilah aku seorang yang ‘tidak pernah never dan selalu always’ nginep di kontrakan keluarga abangku Lendo ini. Sebuah rumah kecil kontrakan sepetak yang sudah mau muntah karena diisi barang-barang calon sekolah. Empat ruang kecil di rumah itu jadi extra full booked.

Aku, Uning, dan Khalid kecil bobok bareng bersama buku-buku yang sedang disampul. Bang Lendo tidur di ruang tidur yang lumayan luas, tapi hanya tersisa space sebesar sajadah untuk tidur, selebihnya dipenuhi barang. Karena ruang tidur itu hakikatnya adalah gudang. Tinggal tersisa dapur mungil dan kamar mandi. Di situ pun sudah ada mbak Iyah di belakang lemari esnya sebagai penyekat.

Hihi… tapi ini satu kenangan indah di antara ribuan kenangan indah bersama orang-orang pertama di Sekolah Alam yang kusayangi. Juga Abang yang untuknya akan selalu kutaruh respek dan hormat yang tinggi untuk selamanya.

“Ya mumpung masih muda, harus idealis dan membuat perubahan. Ntar kalau kita sudah tua, barulah saatnya menjadi bijaksana dan pengamat”, kata Abang saat itu.

“Septri, tani ternak terpadunya seperti Sadagori. Dua bukit tandus di Sukabumi itu telah disulap dengan siklus tani ternak terpadu tanpa pestisida kimia sedikit pun.”

Limbah sapi digunakan untuk kebun jeruk, di bawahnya ayam-ayam kampung sedang bertelur… limbah mereka digunakan untuk kolam lele. Sebagian .faeces dialirkan untuk menyirami lapangan rumput tempat makanan .ruminansia. Aliran listrik diambil dari kincir air yang dipasang di sungai. No usseless waste. Nanti anak-anak yang melakukan semuanya…. Sampai ke kemasan dan penjualan.

“Yuk Hendi, Safri, Septri… kita ke Puncak cari ide, melihat lansekap Kota Bunga. Sekolah kita harus mendapat penghargaan Aga Khan untuk lansekapnya. Indah, orisinal, memelihara lingkungan.”

Harapan itu Bang, yang menguatkan kita semua… sampai nanti. Be our best, be our self…

berlanjut...

Andai tidak ada kendaraan bermotor...

Beberapa hari yang lalu seorang teman mengemail gw, menyampaikan woro-woro acara Car Free Day. Hi, you ;). Katanya, hari Minggu ini, 21 September 2003, sepanjang Jl. Sudirman – Thamrin – Jakarta, akan ditutup bagi kendaraan bermotor, kecuali kendaraan umum. Di ruas jalan itu, akan diadakan berbagai kegiatan: aerobik, sepeda santai, pentas musik, bazaar, lomba gambar & berbagai permainan untuk anak, sepak bola jalanan dan lain-lain. Menurut informasi, acara ini dalam rangka Hari Tanpa Kendaraan Bermotor Sedunia (World Car Free Day) dan tujuannya antara lain untuk menyadarkan masyarakat Jakarta bahwa kondisi udara di kotanya sudah sangat mengkhawatirkan -- terutama disebabkan oleh asap knalpot kendaraan bermotor.

Hm… jadi mikir. Udah berapa tahun gw hidup di kota ini? Sekitar dua pertiga dari hidup gw, bisa dibilang. Berarti sekitar 20 tahun. Dulu, waktu gw belum berani nyetir sendiri, kemana-mana gw naik kendaraan umum. Salah satu hal yang paling gw sebelin dari naik kendaraan umum ini, selain desak-desakkannya, adalah polusinya. Kalo gw naik kendaraan umum kan berarti gw harus nunggu dulu di halte, atau di pinggir jalan. Kadang harus jalan dulu, harus nyebrang jalan, dsb. Untuk itu, gw gak akan bisa menghindar dari yang namanya asap knalpot. Duh tuh asap knalpot… gak tahan banget deh gw…

Karena suatu hal yang bikin gw kepepet, akhirnya gw berani juga nyetir mobil. Sejak saat itu, good bye deh tuh bis, patas, dan kereta jabotabek. Bye-bye asap knalpot… Biar pun kaki pegel nginjek kopling-rem terus, gw lebih rela deh. Cuma ironisnya, dengan gw bawa mobil sendiri, berarti gw juga udah menjadi penyumbang asap knalpot seperti yang lainnya… Kok jadi lingkaran setan sih… *sigh*

Balik ke Hari Tanpa Kendaraan Bermotor ini, ya sepertinya kita memang harus terus diingatkan, bahwa kita perlu memperhatikan kualitas udara yang toh kita juga yang menghirupnya. Seandainya car free day ini tidak hanya terjadi satu hari saja, ah betapa senangnya…

---

Car Free Day. Meriahkan acaranya. Tinggalkan mobil dan motor anda di rumah! Gunakan kendaraan umum atau sepeda untuk bergabung ke Bundaran HI. Kapan lagi bisa bermain-main di jalan raya, bersepeda, bermain skateboard, bermain layangan, seperti halnya di masa kecil dulu, ketika jalan raya belum sepadat sekarang ini. Klik di sini untuk tahu detailnya.

Aku Tari adalah Penari



Tari adalah namaku. Tari saja. Titik. Pendek. Tanpa bunga-bunga penghias. Seperti sebuah kebetulan, namaku pun cerminan aku. Aku adalah penari. Tari adalah namaku, tari adalah cintaku, adalah nafasku, adalah degup jantungku, adalah hidupku. Aku adalah tari.

Aku bisa menarikan apa saja dan aku pun lalu menarikan apa saja. Menarikan angin, menarikan gelombang, menarikan bunga, menarikan malam, menarikan batu. Menarikan suka, menarikan cinta, menarikan hasrat, menarikan resah, menarikan duka.

Aku menari di setiap tempat di setiap waktu. Aku menari di atas panggung, menari di taman, menari di jalan, menari di kamar, menari ketika makan, menari ketika mandi, menari saat tidur, menari dalam mimpi.

Setiap bunyi yang terdengar adalah irama pengiring tari bagiku. Suara gitar, suara organ, suara pita kaset berputar, suara piringan cakram, suara burung, suara air mengalir, suara klakson mobil, suara derik kipas angin berputar, suara derit kapur di papan tulis, semuanya adalah musik bagi tarianku. Ketika tak ada suara lain terdengar, maka desah nafasku, degup jantungku menjelma irama untuk tarianku.

---

Namaku Tari. Aku diberi nama oleh ibu. Ibuku mungkin sepanjang hidupnya telah bermimpi jadi penari. Namun takdir bersabda lain, maka ia hanya dapat bermimpi saja. Lalu aku lahir. Aku lahir bersama mimpinya dan lahirku menghidupkan kembali mimpinya. Ketika nama adalah asa, maka ibu menamaiku Tari. Tari saja. Titik. Pendek. Tanpa bunga-bunga penghias.

Aku dikenalkannya pada tari sejak aku bisa melambaikan tanganku di udara. Menari, menarilah, katanya dalam senandung mengiri gerak tanganku. Maka mulailah aku menari. Ketika aku dapat berdiri sendiri, ia ajari aku bagaimana mengayunkan tubuh mengikuti irama. Menari, menarilah, katanya sambil bertepuk-tangan mengiringi lenggok badanku. Sebelum belajar membaca, aku sudah lebih dulu belajar menari. Menari, menarilah, katanya berseru menyemangatiku.

Ibuku pun giat bekerja demi aku, demi mimpinya. Setiap butir keringat di tubuhnya adalah bagi diriku, bagi mimpinya. Setiap penat di urat dan sendinya adalah untuk aku, untuk mimpinya. Bahkan semburan darah dari mulutnya dan desah nafas terakhirnya, adalah karena aku, karena mimpinya. Ibuku tiada, meninggalkan aku sendiri dengan mimpinya, sebelum aku cukup dewasa untuk menghidupkan mimpi itu...

---

Namaku Tari. Aku diberi nama oleh ibu, dan ibuku adalah seekor kupu-kupu malam, yang dalam tidur lelahnya di pagi hari, selalu bermimpi menjadi penari. Ibuku adalah kupu-kupu malam yang selalu berhasrat terbang tinggi meninggalkan tamannya sambil menari. Ibuku adalah kupu-kupu malam yang kalah oleh malam dan jatuh mati. Kini, di langit sana, ia pasti terbang dengan bangga memandangku.

Aku, mimpinya, bukanlah seekor kupu-kupu malam.
Aku, Tari, adalah penari.
Aku adalah kupu-kupu penari,
menarikan tarian kupu-kupu di malam hari.

Ah, mata kananku kenapa kedutan terus dua hari ini?



Kata nyokap, "Wah.. Noy, kata orang dulu itu berarti mau nangis."

"Loh, bukannya berarti mau dapet duit?" kata gw. Nyokap senyum-senyum doang.

"Eh, apa ada yang kangen kali, ya?" kata gw lagi.

***

Terganggu juga sih. Karena penasaran dan iseng, gw browsing cari info tentang penyebab mata kedutan ini. Eh, ada primbonnya ternyata. Kata itu primbon, arti mata kedutan itu berbeda-beda tergantung waktu berkedutnya dan mata yang mana yang berkedut. Misalnya nih, mata kanan berkedut di sekitar pukul 13-15, berarti akan dapat jodoh. Tapi kalau berkedut di sekitar pukul 09-11 berarti akan ada halangan.

Hahaha... lalu kalo mata gw berkedut terus sepanjang hari, malah sampe dua hari gini, artinya apa dong? Hm... itu berarti ada seorang teman yang kangen sama gw, mengundang gw makan, sehingga gw senang hatinya dan gw dapet jodoh, lalu di tengah jalan, gw akan mengalami halangan, ada seseorang yang mencurigakan akan memberi gw uang. Nah lo... :D

Lebih giat browsing, akhirnya gw dapet juga penjelasan yang lebih logis. Katanya, "Kedutan pada kelopak mata dapat terjadi pada kelelahan yang berat, kurang tidur, ada iritasi pada kornea, atau konjungtiva, anemia, ganguan elektrolit."

Wah... wah...

Finding 'Nemo'

klik di sini

Week-end kemarin, seperti yang udah gw ceritain sebelumnya, gw pergi ke Pantara Islands (note: pulaunya memang lebih dari satu: Pantara Barat dan Pantara Timur), di Kepulauan Seribu. Gw pergi bareng sekitar 30 orang teman se-departemen, dalam rangka pembubaran departemen. Gak bakal ada yang nyangka deh kalo kami berlibur dalam rangka 'farewell'. Soalnya semuanya terlihat ceriya-ceriya aja, seakan-akan memang udah gak sabar nunggu bubar (emberr :p).

Pulaunya lumayan cakep, gak rugi deh naik kapal sampai 2 jam. Yang paling asik, lautnya jernih banget. Ikan-ikan kelihatan gitu dari dermaganya. Coba deh klik foto di atas, untuk lihat image yang lebih jelas. Nah, persis kayak gitu yang kelihatan. Uhhh, pokoknya dari awal nyampe gw udah gak sabar untuk nyebur.

Yang paling berkesan buat gw ya acara snorklingnya. Ini pertama kali gw snorkling dan gw sukaaaa!!!! Wah pokoknya gak puas-puas deh gw nyebur dan 'main-main' sama ikan-ikan yang cantik itu. Juga pergi ke tempat yang lebih ke tengah dan agak lebih dalam buat ngelihat bunga-bunga karang. Di tempat ini, mungkin bunga karangnya gak terlalu banyak ragamnya. Tapi gitu aja gw udah demen banget. Apalagi pas nemu 'Nemo', si ikan badut, yang berenang-renang menyelip di antara anemon laut, dan bisa diraih tangan!!! Wiihh... serasa 'Finding Nemo' beneran deh....

Errr... sekarang rasanya gw jadi pengen snorkling lagi, pengen lihat taman laut-taman laut yang lain. Kayak apa ya???